Connect with us

Histori

Daoed Joesoef dan NKK/BKK

nien bagaskara

Dipublikasi

pada

Daud Joesoef : © Repro

BAMBANG Pharmasetiawan masih ingat betul perjumpaan tak sengaja itu. Di salah sudut Pasar Raya Jakarta itu, seorang mantan tokoh mahasiswa menghampirinya.

”Dia tahu saya menantu Pak Daoed (Joesoef). Kepada saya dia bilang, kebijakan bapak puluhan tahun silam itu benar,” kata Bambang kepada Jawa Pos (24/1/2018).

Mata Bambang tiba-tiba merah selepas menceritakan peristiwa di Pasar Raya sekian tahun silam tersebut. Suaranya pun parau. Air matanya mengumpul meski dia berusaha keras tidak menangis.

Ingatan itu kembali menghampiri Bambang pada hari ketika mertuanya dimakamkan.

Menteri pendidikan dan kebudayaan era 1978-1982 itu meninggal di usia 91 tahun pada Selasa (23/1) pukul 23.55 di RS Medistra, Jakarta, karena penyakit jantung.

Pria kelahiran Brastagi, Sumatera Utara, tersebut memang telah lama menderita penyakit jantung Keluarga menyatakan, sejak Daoed berusia 73 tahun, sudah dipasang ring di jantungnya.

Kebijakan yang dimaksud Bambang tadi adalah NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Banyak pihak yang menuding kebijakan itu dimaksudkan mengebiri kebebasan mahasiswa karena dilarang berpolitik.

Ketika itu, bara peristiwa Malari memang masih terasa. Empat tahun sebelum penerapan NKK/BKK, persisnya 15 Januari 1974, terjadi demonstrasi mahasiswa yang diakhiri kerusuhan sosial. Mundur delapan tahun sebelumnya, mahasiswa juga turut berperan dalam runtuhnya Orde Lama.

Tapi, dalam banyak kesempatan, Daoed membantah tudingan tersebut. Sebagaimana diulangi Bambang kemarin, NKK/BKK sejatinya merupakan kebijakan yang menempatkan kampus sebagai pusat keilmuan. “Mempelajari politik sebagai ilmu boleh, tapi bukan sebagai politik praktis.”

Bambang dulu pun tidak mengerti apa yang dimaksud mertuanya yang pernah menjadi kepala Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1962-1965) tersebut. Hingga akhirnya dia pun kerap berdiskusi dengan Daoed.

“Dari diskusi itu, saya menyimpulkan sosialisasi NKK/BKK ini belum dalam. Sehingga yang dipahami hanya itu sa­ja,” jelasnya.

Jadi, lanjut Bambang, selama ini ada salah pengertian mengenai NKK/BKK. Seolah-olah politik sama sekali tidak boleh dipelajari di lingkungan kampus. Padahal, menurut Daoed, hanya politik praktis yang tidak boleh dicampuradukkan dengan keilmuan.

Sebab, dikhawatirkan, dinamika akademisi kampus akan cenderung memihak sesuai dengan ideologi politik yang dianut.

Di luar soal kebijakannya sebagai menteri, Daoed merupakan sosok yang penuh “warna”. Dia pernah duduk di birokrasi, tapi juga akademisi sekaligus penulis. Pada usia 77 tahun, direktur CSIS (Center for Strategic and International Studies) 1970-1973 itu sempat menelurkan novel setebal 408 halaman bertajuk Emak. Juga, terus aktif menulis di berbagai surat kabar nasional.

Kendati pernah menjabat menteri pada era Orde Baru, Daoed pernah pula menolak jabatan di kabinet sebagai gubernur Bank Indonesia. Di sisi lain, ISIS, lembaga yang pernah dipimpin mantan anggota DPA dan MPR itu, dikenal sebagai think thank berpengaruh pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Sri Edi Swasono, salah seorang mantan mahasiswanya di Universitas Indonesia, memuji Daoed sebagai sosok yang terbuka dan bersahabat. “Waktu saya selesai menempuh doktor di Amerika dan main ke Prancis, Pak Daoed ini malah senang saya dapat doktor dulu, sedangkan dia belum,” ungkapnya.

Hubungan baik itu terus berlanjut. Hampir setiap tahun Edi datang menyambangi gurunya tersebut. “Semalam (Selasa malam) saat di rumah sakit, saya sudah merasa. Sekitar pukul 21.00, dokter sudah angkat tangan,” katanya.

Menurut cerita Bambang, 1,5 jam sebelum meninggal, sang cicit sempat membisikkan bahwa keluarga sudah ikhlas. Tak lama berselang, doktor lulusan Universite de Paris I, Sorbonne, Prancis, tersebut berpulang.

Kemarin rumah duka di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, penuh dihadiri petakziah. Karangan bunga memenuhi gang rumah Daoed di Jalan Bangka VII Dalam Nomor 14 itu.

Di antara salah satu rombongan petakziah, tampak Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswe­dan. Keduanya datang setelah mengantar Presiden Joko Widodo terbang ke Sri Lanka untuk menyerahkan bantuan bagi pengungsi Rohingnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat dihubungi Jawa Pos juga mengucapkan belasungkawa.

“Saya kenal Pak Daoed, walaupun tidak kenal dekat. Saat beliau masih menjabat menteri, saya bersama beberapa ak­tivis pers mahasiswa menjadi anggota redaksi koran Warta Mahasiswa terbitan Depdiknas,” ujarnya.

Daoed pun ketika itu turun gunung langsung dalam beberapa kali kesempatan. Memberikan pengarahan saat rapat redaksi. “Pandangannya luas, pikirannya mendasar, visinya kuat. Beliau juga tidak enggan makan nasi bungkus bersama sebelum rapat redaksi dimulai,” ungkap Muhadjir.

Walaupun selama menjabat menteri Muhajir belum pernah bertemu Daoed, hubungan mereka tidak putus. “Beliau sering memberi saran melalui orang dekat beliau. Beliau telah memberi andil besar terhadap arah perjalanan pendidikan Indonesia,” katanya.

Sebelum meninggal, kenang Bambang, Daoed juga sempat bilang bahwa bakal ada NKK jilid kedua. Namun, sayang, Bambang belum mengerti betul yang dimaksud ayah mertuanya itu. “Mungkin ada di perpustakaannya,” tuturnya.

Daoed pun sempat berucap kritik untuk Indonesia. “Beliau sebenarnya ingin pembangunan itu berbasis kebudayaan, nge­wongke. Kalau mau membangun itu ditanya, perlu atau tidak,” ujarnya.

 

Sumber : Jawa Pos

Lanjutkan
Advertisement
Klik untuk memberi komentar

Advertisement

Kami di Facebook

Rupa Rupa

Inspirasi2 minggu lalu

Online Shop, Cara Bertahan di Era Digital

USAHA Online shop merupakan alternatif pilihan yang ada bagi pelaku usaha konvensional agar tetap dapat bertahan di era digital seperti...

Pop & Roll2 minggu lalu

“Beautiful Girls” di Piala Dunia 2018

MAGNET perhelatan piala dunia menarik banyak orang untuk menyimaknya. Bukan hanya melalui layar kaca televisi atau perangkat telepon pintar! Tapi...

Pilihan gowest.id2 minggu lalu

Menghasilkan Uang dari Waktu Luang

KAMU punya waktu luang? Selain bisa dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak, nggak ada salahnya jika mencoba peluang-peluang bisnis berikut ini. Waktu...

Bincang3 minggu lalu

Angka Perceraian di Batam Melonjak

ANGKA Perceraian di Kota Batam kembali menunjukkan angka yang fantastis. Pelemahan ekonomi yang saat ini sedang dialami di Kota Batam...

Otto Keren!3 minggu lalu

Sensasi Berkendara di Mobil Listrik BMW

MOBIL listrik hadir menjanjikan pengalaman berkendara yang baru dan berbeda dibanding kendaraan konvensional (berbahan bakar bensin atau Diesel) seperti yang...

Pop & Roll3 minggu lalu

5 Emoji yang Sering Disalah Arti

SAAT ini warganet pasti sudah tidak asing lagi dengan aplikasi perpesanan WhatApp. Setiap hari, aplikasi ini digunakan oleh banyak orang...

Hidup Sehat3 minggu lalu

Seruput Kopi untuk Turunkan Resiko Penyakit Jantung

SEBUAH penelitian menyebut resiko penyakit jantung bisa turun bila minum kopi tanpa pemanis atau gula. Baru-baru ini sebuah penelitian mengaitkan...

Pilihan gowest.id3 minggu lalu

Mengapa Anak ada yang Cadel?

APAKAH di keluarga kamu ada yang sulit mengucapkan huruf R? Di Indonesia hal ini biasa disebut cadel. Sebenarnya apa penyebabnya?...

Pop & Roll3 minggu lalu

Cewek Pilih Sneaker atau High Heels?

SEPATU model high heels atau sepatu hak tinggi sering diidentikkan dengan para cewek. Alasannya, karena alas kaki tersebut sering dipakai para...

Pop & Roll4 minggu lalu

Gaya Rambut Para Bintang di Piala Dunia

AJANG Piala Dunia sudah berlangsung beberapa hari ini. Akan terus berlangsung hingga berakhir pada 15 Juli 2018 mendatang. Seperti lazimnya,...