Terhubung Dengan Kami

Khas

Evakuasi Berhenti, CVR Tetap Dicari

iqbal fadillah

Dipublikasi

pada

© Basarnas RI

HARI Sabtu (10/11) kemarin menjadi hari terakhir operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 oleh tim SAR gabungan di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsyda Muhammad Syaugi menjelaskan, operasi ini ditutup karena tim sudah tak lagi menemukan korban setelah melakukan pencarian selama 13 hari di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Syaugi memastikan, keputusan mengakhiri pencarian korban telah melalui pertimbangan dan masukan dari banyak pihak yang didukung dengan data-data faktual di lapangan.

“Tolak ukur operasi SAR adalah korban. Sejak siang kemarin (Jumat, 9/11/2018) hingga siang ini, tim SAR sudah tidak menemukan korban lagi. Karena itu, operasi SAR secara terpusat saya nyatakan ditutup,” sebut Syaugi, dikutip dari situs resmi Basarnas, Sabtu sore.

Kendati tim Basarnas pusat tak lagi melakukan pencarian, Syaugi memastikan tim SAR dari kantor cabang Jakarta dan Bandung akan tetap bersiaga di sekitar lokasi kejadian.

Hal ini untuk berjaga-jaga apabila ada informasi dari nelayan atau warga sekitar terkait temuan korban atau benda-benda lain yang menjadi bagian dari pesawat Lion Air PK-LQP.

Selain itu, Basarnas juga tetap menugaskan sepuluh penyelamnya untuk membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang masih melakukan pencarian cockpit voice recorder (VCR) pada bagian lain kotak hitam.

Pada Kamis (1/11/2018), tim penyelam KNKT telah menemukan kotak hitam yang berisi flight data recorder (FDR) atau perekam data penerbangan. Dari penemuan itu, beberapa temuan berhasil dihimpun, seperti misalnya kerusakan pada indikator kecepatan udara (airspeed indicator) dan juga sensor posisi angle of attack (AOA).

Meski begitu, penyebab kecelakaan seutuhnya masih belum dapat disimpulkan. Tanpa didukung data faktual yang termuat oleh CVR, kesimpulan yang dibuat berdasarkan temuan pada FDR akan tetap mengganjal.

“Kita sudah bentuk tim khusus untuk pencarian CVR-nya. Penyelidikan masih dilakukan KNKT untuk analisis lengkapnya,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi seperti dilansir dari Okezone.com.

Di sisi lain, tim peneliti kebencanaan pesawat dari Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN meyakini bahwa cuaca bukanlah penyebab jatuhnya pesawat.

Di laman tempo.co, anggota tim peneliti Erma Yulihastin menyampaikan simpulan tersebut berdasarkan penelitian terhadap tiga fenomena cuaca yang biasanya mengganggu pesawat sehingga menimbulkan kecelakaan.

Penelitian dilakukan melalui pengolahan data dari beberapa peralatan, pengamatan, termasuk konfirmasi data model atmosfer dari Satellite-base Disaster Early Warning System (Sadewa), dan eksperimen khusus dengan resolusi 1 kilometer.

Terkait pencarian VCR, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan pihaknya telah menurunkan dua unit alat pencari tambahan, per Jumat (9/11/2018). Alat yang berfungsi sebagai pencari sinyal atau ping locator finder itu diklaim sebagai salah satu yang paling canggih di dunia.

“Kemarin sudah empat. Tadi pagi kami berangkatkan dua alat, boleh dikatakan tercanggih di dunia,” sebut Soerjanto di KOMPAS.com.

Kecanggihan alat yang berasal dari Amerika Serikat (AS) itu salah satunya lantaran sensitivitasnya yang tinggi dalam menemukan sinyal di dasar laut. Apalagi dalam perkembangan pencarian, sinyal CVR yang lokasinya belum bisa dipastikan itu disebut-sebut semakin melemah.

Total, ada 201 personel Basarnas yang dikerahkan untuk mencari korban dan bagian pesawat. Ratusan personel itu termasuk 41 penyelam Basarnas Special Group yang melakukan pencarian di area seluas 900 meter persegi.

Di luar personel, tim SAR gabungan juga mengerahkan 12 unit kapal yang bergerak di area pencarian sejauh 25 kilometer (km). Kapal yang bertugas mencari VCR adalah Kapal Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sampai Sabtu malam, tim Disaster Victim Identification (DVI) telah berhasil melakukan identifikasi dua jenazah lain korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Hingga saat ini sudah ada 79 jenazah yang berhasil terkonfirmasi identitasnya, dengan perincian 59 pria dan 20 wanita.

Data antemortem yang sudah diterima RS Polri Kramat Jati sebanyak 256, dengan jumlah yang telah diverifikasi sebanyak 189. Sementara data post-mortem yang telah diterima dari Basarnas berjumlah 196 kantung jenazah dengan data post-mortem DNA sebanayk 626 sampel.

Pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) pagi. Pesawat mengangkut 181 penumpang dan delapan awak.

Sumber : Basarnas / Okezone / Beritagar / Tempo / Kompas

Advertisement
Klik untuk memberi komentar

Advertisement

Kami di Facebook

Rupa Rupa

Otto Keren!2 hari lalu

Menyulap Corolla KE-30 1977 Jadi Mulus Banget

SALAH satu produk otomotif andalan Toyota yang melegenda adalah Corolla. Varian ini sudah mulai dikembangkan sejak 1968/ 1969. Sampai kini,...

Pilihan gowest.id2 hari lalu

Telaga Bidadari Yang Tersembunyi

ADA sebuah telaga yang terletak di sebuah hutan di kawasan Batam. Masyarakat sekitarnya menamainya sebagai Telaga Bidadari. Lokasinya masih perawan...

Jalan-Jalan Plesir2 hari lalu

Kampung Terih, Kampung Wisata Kekinian!

KAMPUNG tua yang satu ini kini telah menjadi desa wisata, yaitu Desa Wisata Kampung Terih. Kini, Kampung Terih menjadi salah...

Histori2 hari lalu

The Story of Engku Puteri

DATARAN Engku Puteri atau alun-alun Engku Puteri merupakan ruang terbuka umum yang ada di kota Batam. Lokasinya strategis karena berada...

Gaptek? Gak Lah!2 hari lalu

Apple Patenkan Sensor Biometrik Untuk Mobil

MEMBUKA ponsel menggunakan pemindai wajah sepertinya sudah sangat umum. Lalu bagaimana jika membuka kunci mobil menggunakan pemindai wajah? Apakah ada...

Pilihan gowest.id2 hari lalu

Kenapa Kita Dilarang Lepas Sepatu Saat di Pesawat?

Kamu mungkin tergoda untuk melepas sepatu dan bersantai selama di pesawat. Namun untuk alasan kesehatan, kamu sebaiknya tetap memakai alas...

Pop & Roll2 minggu lalu

Tangisan Dul di Konser Dewa 19

DEWA 19 jadi manggung di Malaysia. Dul Jaelani akhirnya menggantikan posisi Ahmad Dhani di Keyboard. Ia menggantikan posisi ayahnya yang...

Hidup Sehat2 minggu lalu

Sarapan Teratur Malah Bikin Berat Badan Naik

Sebuah studi terkini menemukan bahwa orang yang sarapan secara teratur akan mengalami peningkatan berat badan. Ya, menurut peneliti di Monash...

Pilihan gowest.id2 minggu lalu

Kenapa Orang Selingkuh?

APAPUN alasannya, orang yang berselingkuh dalam suatu hubungan monogami cenderung disalahkan. Melalui sebuah riset, para peneliti mengajak kita menelaah lebih...

Jalan-Jalan Plesir2 minggu lalu

Mencoba Pijat di Woda Villa & Spa!

MASIH di kawasan Golden View Hotel, tim Beplus Indonesia mengunjungi salah satu tempat yang kerap dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun...