Connect with us

Artikel Khas

“Manusia Takut Berpisah Dengan Ponsel”

Zilfia Sarah

Published

pada

PERNAHKAH merasa panik ketika menyadari Anda tidak membawa ponsel?

Perasaan panik itu bukan hanya karena merasa tidak dapat berhubungan dengan kantor atau pekerjaan. Karena jika memang itu yang terjadi, Anda dapat mencari tempat rental komputer atau wartel dan memberitahukan bahwa ponsel Anda tertinggal. Ada banyak cara untuk dapat memberitahukan teman-teman bahwa Anda tidak membawa telepon.

Panik yang dirasakan karena tidak membawa ponsel adalah karena Anda merasa seolah terputus dari dunia. Seperti berada di sebuah pulau terpencil di tengah laut.

Situs berita Independent menuliskan bahwa ‘nomophobia‘, istilah untuk menggambarkan perasaan cemas, stres atau panik karena berpisah dengan ponsel, saat ini merupakan masalah yang terjadi pada banyak orang.

Padahal, berdasarkan sebuah penelitian baru, perasaan panik tersebut tidak ada hubungannya dengan tidak dapat dihubungi atau menghubungi melalui telepon.

Beberapa waktu lalu, para ilmuwan dari City University of Hong Kong dan Sungkyunkwan University di Seoul mengatakan bahwa ponsel sudah sedemikian maju dan merupakan sesuatu yang sifatnya personal, sehingga menjadi bagian dari hidup kita.

Bukan hanya sebagai penyimpan pesan-pesan ataupun foto-foto penting, ponsel juga bertindak sebagai pintu gerbang ke sejumlah besar aplikasi, situs-situs web dan berbagai layanan yang memungkinkan kita mengakses konten-konten yang penting, dan seperti berhubungan dengan dunia.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior and Social Networking ini menyebutkan bahwa orang-orang menggunakan ponsel mereka untuk menyimpan, berbagi dan mengakses kenangan pribadi mereka.

Dr. Kim Ki Joon, salah seorang peneliti, mengatakan pada The Guardian bahwa temuan dalam penelitian ini menunjukkan para pengguna ponsel menganggap ponsel sebagai perangkat tambahan bagi diri mereka, dan mereka sangat terikat pada perangkat itu.

“Oleh karenanya, orang akan mengalami perasaan cemas dan tidak enak saat berpisah dari ponsel mereka,” tambahnya.

Penelitian ini melibatkan sekitar 300 orang pelajar di Korea Selatan. Kendati para peneliti mengakui bahwa jumlah relawan ini relatif kecil dan tidak dapat sepenuhnya dianggap mewakili semua pengguna ponsel, namun mereka percaya bahwa kecemasan berpisah dari ponsel akan menjadi masalah besar dan lebih besar bagi orang-orang pada masa yang akan datang.

Teknologi menjadi lebih personal, dan kita semakin bergantung padanya.

Pada kesempatan lain, sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam situs Research Gate menunjukkan bahwa perpisahan dengan ponsel dapat mengakibatkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah,

Profesor Mark Griffiths, direktur International Gaming Research Unit di Nottingham Trent University mengatakan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah jejaring sosial yang menciptakan kondisi Fomo atau fear of missing out.

“Orang-orang tidak menggunakan ponsel mereka untuk berbicara dengan orang lain – kita bicara tentang perangkat yang terhubung dengan internet dan memungkinkan orang untuk terlibat dalam banyak aspek kehidupan mereka,” ungkap Griffiths.

Akan tetapi, sekalipun Griffith menganggap bahwa keterikatan dan ketergantungan terhadap ponsel menyebabkan kecemasan dan ketakutan tidak terhubung dengan dunia, hal ini bukanlah tanpa jalan keluar. “Kita sebenarnya dapat beradaptasi dengan cepat. Pergilah berlibur ke tempat yang tidak ada internet,” ungkapnya.

Cara lainnya adalah dengan sengaja memisahkan diri dari ponsel, dengan mematikannya atau membiarkannya di rumah, serta menguatkan tekad untuk menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dengan keluarga atau pekerjaan saja.

“Para pengguna juga harus menyadari untuk tidak terlalu tergantung pada ponsel, sambil terus memanfaatkan kemajuan teknologi,” tambah Dr. Kim Ki Joon. (*)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Artikel Khas

Agar Arus Barang Tak Terhambat Waktu

iqbal fadillah

Published

on

Ilustrasi Tol Laut : Istimewa

MENTERI Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, salah satu dibukanya tol laut, adalah untuk memperlancar arus perdagangan lewat laut. Sehingga, barang yang dikirim tak harus mesti transit di Jakarta sebelum dikirim ke daerah lain. Sehingga terjadi penumpukan barang yang membuat waktu pengiriman menjadi lama.

“Nah sekarang nanti barang mau ke Sumatera tidak harus lewat Jakarta, lewat pelabuhan Cirebon ini. Mau masuk ke Palembang, ke Sumut, Sumbar itu lewat cirebon. Jadi tidak merusak barang, tidak memperlambat jalur selat Merak,” kata Tjahjo usai membuka acara Hari Nusantara, di Cirebon, Rabu (13/12).

Menurut Tjahjo, fungsi pelabuhan dalam memperlancar arus perdagangan sangat penting.  Apalagi Indonesia punya banyak potensi bahan mentah yang bisa di oleh menjadi barang punya nilai ekonomis tinggi dan yang siap ekspor. Karena itu perlu didorong agar setiap daerah punya program yang bisa menampilkan potensi unggulan. Tentu, ini perlu didukung kemudahan-kemudahan dari instansi lain, misal bea cukai.

“Kita punya potensi barang mentah yang siap diolah. Kalau bisa di semua daerah,  semua provinsi, ada beberapa program yang tidak hanya di pasarkan lokal tapi juga luar. Bagaimana sekarang ini Bea Cukai banyak memberikan kemudahan-kemudahan yang ada,” tutur Tjahjo.

Ia contohkan Cirebon. Kata Tjahjo, Cirebon punya potensi rotan yang bisa dikembangkan tak hanya untuk dipasarkan di dalam negeri, tapi juga bisa di ekspor ke luar negeri. Pemerintahan Jokowi sendiri, menaruh perhatian besar terhadap kelancaran arus perdagangan. Terutama lewat laut. Karena itu, peran pelabuhan jadi fokus pemerintah untuk ditingkatkan. Lebih khusus lagi, pelabuhan-pelabuhan kecil. Keberadaan pelabuhan kecil ini tak boleh diabaikan. Sebab faktanya, selama ini peran pelabuhan kurang diperhatikan, terutama dari sisi fasilitasnya. Ini yang sedang diperbaiki oleh pemerintah.

“Di awali dari pemerintahan Pak Jokowi ini kalau kita mau jujur 90% pelabuhan-pelabuhan kecil dan besar itu ditingkatkan. Yang tadi saya sebut dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, pelabuhannya ada,” ujarnya.

Intinya, pemerintah kata Tjahjo ingin mempercepat pembangunan di semua wilayah. Laut, menjadi pemersatu. Karena itu laut harus dijaga kedaulatan. Di rawat. Infrastruktur pendukungnya harus dibangun. Misalnya, dukungan kepada TNI AL untuk menjaga laut Nusantara.

“Tahun depan sudah punya 4 kapal selam. Dari 151 kapal perang mau ditingkatkan, ini untuk mempercepat pembangunan wilayah kepulauan kita ini,” kata dia.

Pembangunan tol laut juga, kata Tjahjo, adalah untuk mempercepat arus perdagangan barang agar tak terhambat waktu. Kota Cirebon misalnya bisa dikembangkan jadi kota transit. Dan memang, kalau melihat sejarah, Cirebon telah lama jadi wilayah transit perdagangan dari berbagai wilayah.

“Potensi kedepan harus barang dari Timur berhentinya ke Cirebon, masuk ke Medan,  masuk ke Kalimantan. Itu kan tol laut yang diinginkan Pak Jokowi. Cirebon itu kota transit, kereta api saja mau kemana pemberhentiannya Cirebon. Kapal juga sama termasuk kontainer-kontainer juga kalau mau ke Surabaya ke Cirebon dulu,” tutur Tjahjo.

 

Sumber : kemendagri

 

Continue Reading

Artikel Khas

Janji Adil Pemerintah Dalam Terapkan Pajak E-Commerce

Mike Wibisono

Published

on

Ilustrasi E Commerce : Media India Group

PEMERINTAH berjanji akan adil menerapkan pajak terhadap transaksi elektronik (e-commerce) sehingga tidak ada gap antara pelaku usaha konvensional maupun digital.

“Kalau yang cross border misalnya bea masuknya juga dikenakan, juga PPN, PPh-nya. Yang penting asas netralitasnya terpenuhi, jadi intinya pada asas netralitas dan treatment-nya. Kalau offline dikenakan pajak, yang online juga dikenakan,” kata Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo di Jakarta, Selasa.

Mardiasmo menuturkan, kementerian keuangan masih merumuskan tata cara pengenaan pajak terhadap transaksi elektronik tersebut untuk menciptakan level kesetaraan (same level of playing field) antara konvesional dan digital.

“E-commerce ini kan cukup luas, ada yang tangible dan intangible. Ini sedang kita godok ya, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa keluar,” ujarnya.

Pemerintah sendiri menegaskan, pengenaan pajak terhadap transaksi elektronik akan lebih berkaitan dengan tata cara, bukan kepada pengenaan pajak jenis baru. Pemungutan pajak diberlakukan kepada pelaku e-commerce yang memiliki aplikasi, dan bukan merupakan objek pajak baru karena hanya cara transaksinya saja yang berubah dari konvensional ke elektronik.

Untuk metode pengenaan pajaknya sendiri, hingga kini masih dalam proses kajian dan penyusunan, karena WP yang terlibat dalam transaksi elektronik tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Pengaturan pajak yang dikenakan juga disebut tidak akan jauh berbeda dengan transaksi yang berlaku pada jual beli secara konvensional.

Melalui pengenaan pajak terhadap transaksi tersebut, diharapkan seluruh kegiatan ekonomi melalui daring dapat terekam dan bisa meningkatkan ketaatan WP kepada pembayaran pajak.

Sementara itu, terkait dengan bea masuk untuk barang-barang yang tak berwujud (intangible goods), juga diharapkan bisa diimplementasikan pada 2018 mendatang. Ada pun contoh barang tak berwujud tersebut yaitu buku elektronik (e-book), software, dan barang lainnya yang tak memiliki wujud.

Kemenkeu sendiri masih terus mengkaji rencana pengenaan bea masuk terhadap barang tak berwujud tersebut, salah satunya terkait tata kelola pengenaan pungutan terhadap intangible goods yang hingga kini belum ditetapkan oleh World Customs Organisation (WCO) dan juga mendeteksi transaksinya.

“Barang-barang misalnya dulu buku, kaset, atau majalah, kena bea masuk. Sekarang kan modelnya download seperti e-book, CD, ini kan harusnya kena bea masuk juga. Fair treatment lah,” ujar Mardiasmo.

 

Continue Reading
Advertisement

Kami di Facebook

Trending