Connect with us

The World

Para Lansia Mengancam Singapura

Mike Wibisono

Published

pada

Foto ilustrasi : © babeyspaws.com

TAHUN 2018 nampak akan jadi tahun berbahaya bagi struktur populasi Singapura.

Menurut ekonom United Overseas Bank Ltd, Francis Tan, pada 2018, populasi warga di atas usia 65 tahun akan sama dengan populasi warga berusia di bawah 15 tahun, untuk pertama kalinya. Perubahan struktur populasi ini akan memaksa Singapura mengubah regulasi pajak, imigrasi, hingga layanan sosial.

”Singapura tengah menghadapi tantangan ekonomi dan sosial terberat seiring pertumbuhan populasi lansir yang makin besar,” kata Tan seperti dikutip Bloomberg, Rabu (6/12).

Pada tingkat ini, populasi lansia di Singapura akan dua kali lebih banyak dibanding populasi termuda pada 2030. Gambaran itu disebut mirip dengan kondisi populasi Jepang pada 2016.

Pengguaan data pertumbuhan tahunan oleh Tan membuat pemerintah Singapura masih punya harapan dalam satu dekade ke depan.

Selain harus akan ada penyesuaian regulasi, Tan menyatakan perubahan struktur populasi ini akan berdampak pada berkurangnya PDB karena produktivitas penduduk ikut menurun.

Maka, tak mengherankan bila pemerintah Singapura menyatakan kenaikan pajak adalah soal waktu. Singapura akan menaikkan pajak barang dan jasa menjadi delapan persen dari tujuh persen.

”Meski populasi manula jadi bom waktu yang mulai berdetak pada 2018, populasi produktif masih cukup menopang ekonomi. Tapi, kondisi itu tidak akan selamanya,” ungkap Tan.

Source : Republika

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

The World

OKI Sebut Langkah AS Perburuk Keamanan Kawasan

iqbal fadillah

Published

on

Kota Yerusalem : wallup

ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan langkah pemerintah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memperburuk kondisi keamanan wilayah.

“Pernyataan AS ini hanya akan membawa kondisi yang lebih buruk keamanan kawasan,” kata Ketua OKI yang juga Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat memimpin Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTTLB) OKI di Istanbul, Turki, Rabu. Turki pada sisi lain juga sekutu penting Amerika Serikat di NATO.

Ia menyebutkan keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan keputusan yang membakar sesuatu yang berdampak buruk.

“Saya mengajak semua menyatakan bahwa sikap AS ini tidak tepat,” katanya. Ia menyebutkan sejak 1947, peta Palestina semakin menyempit karena Israel terus melakukan ekspansi wilayahnya.

“Ini kondisi di lapangan hari ini. Apapun yang dilakukan Israel sejak 1947, terus terjadi sampai saat ini. Ini tidak bisa diterima sama sekali. Tentara teroris menangkap dan membunuh anak dan memukuli ibu yang mencoba menyelamatkan anaknya dari gagang senapan. Apa ini kalua bukan terorisme?” ujar Erdogan.

Ia menyebutkan Israel terus melakukan pendudukan, pembunuhan dan Israel mendapatkan penghargaan atas semua itu yang diteguhkan oleh Presiden AS.

“Ada sekian negara di bawah PBB yang harus bergerak bersama. Anda mungkin punya misil, jet tempur dan sebagainya untuk perang. Tetapi itu tidak diperlukan untuk menunjukkan bahwa anda benar,” ucapnya, menegaskan.

Menurut Erdogan, tanpa memberikan solusi dalam masalah Timur Tengah maka tidak akan membawa kestabilan perdamaian dan kesejahteraan di kawasan.

“Ini situasi di mana perlu perhatian besar bersama untuk masa depan bersama. Jelas sekali, bahwa apa yang dilakukan AS ini melanggar aturan internasional,” tuturnya.

Menurut dia, Yerusalem merupakan kota penting bagi orang Kristen juga. Keputusan yang dibuat AS sangat disesalkan.

“Kita tidak bisa lagi bersikap netral menghadapi perkembangan di Yerusalem ini. Atau kita akan menjadi pendukung aksi kekerasan terhadap rakyat Palestina. Kita harus membuat Palestina menjadi negara yang lebih kuat dalam diplomasi internasional,” ujarnya.

Menurut dia, semua harus memobilisasi seluruh kekuatan yang ada atas nama Yerusalem.

“Kita meminta AS menarik keputusannya yang provokatif dan tidak benar ini. Saya mengajak semua negara Islam mengambil tanggung jawab ini demi perdamaian dunia,” kata Erdogan.

 

 

Continue Reading

The World

Puluhan Artis Inggris Kutuk Trump

Mike Wibisono

Published

on

Foto Presiden AS Donald Trump : Reuters/Jonathan Ernst

TILDA Swinton, Mark Ruffalo, Roger Waters, Peter Gabriel dan Brian Eno menjadi di antara puluhan sastrawan, musisi dan aktor yang mengutuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Dalam surat kepada koran Inggris The Guardian, para seniman lintas dunia seni ini menyebut manuver Presiden AS itu akan mempercepat agenda Israel melenyapkan Palestina sebagai entitas politik dan budaya di kotanya sendiri.

Surat para seniman itu berisi tuduhan bahwa pemerintah Israel sengaja mendiskriminasi rakyat Palestina dalam semua tingkat, dan pembersihan etnis, yang akan makin lebih buruk lagi oleh adanya pengakuan Trump yang mengubah status Yerusalem itu.

“Kami menolak kolusi Trump dengan manipulasi rasis semacam itu dan ketidakhormatannya kepada hukum internasional,” kata para seniman dalam petisi itu, yang juga ditandatangani dramawan Caryl Churchill, sutradara Mike Leigh dan aktor-aktor seperti Maxine Peake, Julie Christie dan Juliette Stephenson.

“Kami menyesalkan kesediaan dia untuk memahkotai pendudukan militer Israel di Yerusalem Timur dan sikap berat sebelahnya terhadap hak-hak Palestina. Sebagai seniman dan masyarakat, kami menentang pengabaian dan dan ketidakmanusiaan dari kebijakan ini, dan sebaliknya menyanjung ketabahan bangsa Palestina untuk hidup di bawah penjajahan.”

Pekan lalu Trump mendeklarasikan pengakuan AS bahwa Yerusalam adalah ibu kota Israel, yang merupakan pelanggaran terhadap konsensus internasional menyangkut salah satu dari masalah-masalah paling sensitif dalam hubungan Israel-Palestina.

Palestina meyakini ibu kota negara mereka nanti adalah bagian timur dari kota Yerusalem. Banyak sekali negara di dunia ini menganggap Yerusalem Timur yang dicaplok Israel pada 1967, sebagai tanah Palestina yang diduduki Israel.

 

Continue Reading
Advertisement

Kami di Facebook

Trending