Connect with us

The World

Rumah Pohon untuk Karyawan Microsoft

UNTUK semakin memacu kreatifitas karyawannya, Microsoft memberi fasilitas baru, yakni rumah pohon sebagai ruang kerja.

Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates menciptakan tiga ruang meeting baru yang berada di puncak pohon di lingkungan Microsoft.

Rumah pohon untuk karyawan Microsoft ini dibangun oleh Pete Nelson, pembawa acara dari acara Animal Planet ‘Treehouse Masters‘.

Dari akun Youtube, Tech Inside, Ketiga rumah pohon tersebut dijelaskan sudah dilengkapi dengan Wi-Fi dan gerai untuk pengisian baterai. Salah satunya bahkan memiliki kafetaria di dalam ruangan.

BretBoulter orang yang mengepalai proyek ini mengatakan, tujuan dibangunnya rumah pohon ini untuk menenangkan pikiran para karyawan yang sedang bekerja.

Menarik, ya?

(yur)

 

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

The World

Pembuat Lingkaran-Lingkaran Misterius di Gurun Namibia

RIBUAN lingkaran misterius tersebar di kawasan gurun Namibia. Namun, apa atau siapa pembuat pola polka-dot di area yang begitu luas tersebut, membuat para ilmuwan bertanya tanya.

Manusia telah lama mencari jawaban atas hal-hal aneh yang terjadi di bumi, baik yang geologis, lingkungan hidup, maupun cuaca. Keterbatasan ilmu pengetahuan di masa lalu, membuat manusia seringkali percaya pada kisah-kisah mistis.

Masyarakat lokal percaya, lingkaran-lingkaran tersebut adalah jejak atau tapak kaki para dewa, yang berhenti sebentar di tanah itu di masa lalu. Ada juga legenda yang menyatakan lingkaran tersebut merupakan bekas luka bakar yang disebabkan oleh napas naga api.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan belum mencapai kata sepakat tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana terbentuknya lingkaran-lingkaran misterius di gurun Namibia itu. Lingkaran-lingkaran tersebut ‘menempel’ di tanah kosong yang dikeliling tumbuhan-tumbuhan kecil. Jumlahnya ribuan.

Para ilmuwan telah banyak mengemukakan teori, dari yang menyatakan bahwa lingkaran tersebut dibentuk oleh burung unta yang berputar di tanah, hingga kontaminasi bahan radioaktif.

Kini, setidaknya ada dua penjelasan utama mengenai fenomena tersebut sebagaimana dilansir dari allAfrica.com. Satu hipotesis meyatakan bahwa bentuk-bentuk melingkar tersebut disebabkan oleh rayap bawah tanah yang membersihkan vegetasi di daerah sekitar sarang mereka.

Hipotesa yang lain menyatakan bahwa tanaman-tanaman bersaing untuk mendapatkan air, dan menyebabkan terbentuknya pola lingkaran. Kedua hipotesa itu sama-sama didukung dan dipertahankan oleh para pendukungnya.

Foto: Jen Guyton, Department of Ecology and Evolutionary Biology, Princeton University

Awal tahun ini, sebuah tim ilmuwan menerbitkan temuan tersebut di Jurnal Nature19 January 2017yang menyatakan bahwa kedua hipotesis itu benar. Munculnya lingkaran “tidak bisa dijelaskan dengan mekanisme terpisah.” Model komputer tim peneliti menemukan bahwa pola tersebut dapat dijelaskan sebagai interaksi antara rayap dan tanaman sebagaimana dijelaskan di tulisan berjudul “A theoretical foundation for multi-scale regular vegetation patterns.”

Awal tahun ini, beberapa ahli ekologi dari Universitas Princeton, Amerika, menyimpulkan jika lingkaran-lingkaran yang berdiameter, dari beberapa sentimeter hingga 25 meter, ini adalah hasil dari konflik permanen yang terjadi pada rayap yang hidup di bagian bawah gurun Namibia.

Rayap-rayap ini bersaing antara satu koloni dengan yang lain untuk  menjamin kelangsungan hidup koloninya. Karena kelangkaan sumber makanan, mereka menemukan tempat-tempat yang dianggap aman menyimpan nutrisi dan bersembunyi di bawahnya.

“Rayap-rayap bersaing mempertahankan wilayahnya terus menerus. Jika mereka menemukan koloni lain yang lemah, mereka mencoba membunuhnya dan memperluas wilayah mereka,” kata Corina E. Tarnita, seorang peneliti. “Tapi jika koloni-koloni itu adalah lawan yang seimbang, mereka tidak akan melakukan perlawanan dan berakhir dengan membagi batas wilayah masing-masing,” lanjutnya.

Seorang peneliti, Michael Byrne, membenarkan alasan tersebut. Kondisi lingkaran-lingaran itu memungkinkan mengumpulkan air hujan sebanyak-banyaknya. Sebab, air bisa memasok nutrisi lebih banyak jika terkena sinar matahari. “Ini jelas menguntungkan rayap,” ungkap Michael.

Meski begitu, tidak semua orang setuju dengan penemuan ini. Dr Stephan Getzin dari Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz di Jerman, mengatakan bahwa ada juga lingkarang-lingkaran tersebut di tempat-tempat lain. Masalahnya, penelitian tersebut tidak membahas adanya lingkaran semacam itu di daerah lain yang tidak memiliki populasi rayap.

(*/dha)

 

 

Continue Reading

The World

Nama Pesawat yang Digunakan Tiongkok untuk Jelajahi Mars

TIONGKOK telah menetapkan delapan nominasi nama bagi pesawat antariksanya untuk melaksanakan misi ke Mars pada 2020, demikian Badan Antariksa Tiongkok.

Delapan nama tersebut, disaring dari 14.500 nama yang diajukan sekitar 35.900 peserta sayembara baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari delapan nama tersebut ditetapkan satu nama sebagai pemenang.

Ke delapan nama tersebut adalah Fenghuang (phoenix), Tianwen (astronomi), Huoxing (Mars), Tenglong (Soaring Dragon), Qilin (kylin), Zhuque (rose finch), Zhuimeng (chasing dream), dan Fengxiang (flying phoenix).

Pemerintah Tiongkok membuktikan ambisi untuk menjelajahi Planet Mars bukan sekadar wacana. Setelah pada April lalu mengumumkan rencana pengiriman kendaraan robotik (rover) dan satelit riset (probe) ke Mars pada 2020, pada Agustus 2016 mereka memperlihatkan foto pertama kedua wahana tersebut.

Lembaga Sains, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional Tiongkok (SASTIND) merilis tiga foto rancangan probe dan rover yang bakal digunakan untuk menjelajahi permukaan Planet Merah itu selama tiga bulan pada pertengahan 2020.

Mengutip Antara, Tiongkok memang tengah memacu program-program luar angkasa mereka, terutama setelah berhasil mendaratkan rover Jade Rabbit ke Bulan pada Desember 2013.

Rencana menjelajahi Mars pun langsung dibahas dan tahun 2020 dipilih sebagai waktu yang tepat untuk misi tersebut, karena itulah waktu paling tepat bagi sebuah probe untuk bisa mendarat di Planet Merah.

Jendela untuk meluncurkan pesawat luar angkasa (ke Mars) terbuka setiap 26 bulan. Jadi para ahli di Tiongkok merencanakan misi ini dengan sangat hati-hati agar jendela tersebut tak terlewat.

Probe tersebut akan melakukan riset ilmiah mengenai permukaan tanah, lingkungan, atmosfer, dan air di Mars.

Probe dan rover yang akan menjelajahi Mars itu dijadwalkan bakal terbang pada Juli atau Agustus 2020 dari pusat peluncuran satelit Wenchang menggunakan roket Long March-5.

Mereka kemudian akan terbang selama tujuh bulan untuk mencapai orbit planet keempat dalam sistem tata surya tersebut.

Setelah memasuki orbit, kendaraan robotik itu akan memisahkan diri dari satelit untuk kemudian mendarat di daerah bagian utara planet tersebut.

Memiliki bobot 200 kilogram dan enam roda, rover ini akan ditenagai empat panel surya dan dilengkapi dengan 13 perangkat riset termasuk radar penembus tanah untuk mempelajari tanah, lingkungan, suasana, dan mencari kemungkinan adanya mata air dan es selama 92 hari.

Salah satu tantangannya bagaimana mendapatkan tenaga surya yang cukup untuk mendarat di Mars di tengah lingkungan atmosfer penuh gas yang menghalangi sinar Matahari sampai ke permukaan planet itu.

Peneliti Tiongkok berharap bisa menyelesaikan problem tantangan teknis saat pendarat memasuki atmosfer Mars sebelum akhirnya mendarat di permukaan. Tantangan lainnya yaitu komunikasi jarak jauh antara Mars dan Bumi.

Continue Reading

The World

Penjual Nasi Padang yang Jadi Presiden Singapura

HALIMAH Yacob, 62 tahun, dilantik menjadi Presiden Singapura untuk masa jabatan enam tahun ke depan, rabu (13/9). Politikus senior itu menjadi presiden perempuan pertama Singapura.

Tak cuma itu, istri pengusaha Mohammed Abdullah Alhabshee itu rupanya pernah berjualan nasi padang.

Sang ayah meninggal saat Halimah berusia 8 tahun. Sejak itu sang Ibulah yang membesarkan Halimah dengan keempat saudara laki-lakinya. Mereka tinggal di satu petak kamar di sebuah apartemen di jalan Hindu, Singapura.

Saat usia 8 tahun Halimah harus bangun sebelum matahari terbit. Sebelum berangkat sekolah, dia membantu ibunya berjualan nasi padang di sebuah gerobak dorong di Shenton Way.

Dikutip dari Straitstimes edisi 7 Agustus 2017, masa-masa dia sekolah di Singapore Chinese Girls ‘School dan Tanjong Katong Girls’ sangat menegangkan. Terkadang Halimah harus mengerjakan tugas di sela mengelap meja dan mencuci piring. Musabab keterbatasan ekonomi tak jarang dia harus nunggak membayar biaya sekolah.

Semangat Halimah untuk meneruskan pendidikan tak kendur. Selepas SMA dia mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum Universitas Singapura. Lagi-lagi dia tak tahu dari mana biaya kuliahnya nanti. Namun kecerdasannya membuat Halimah mendapatkan beasiswa dari Islamic Religious Council of Singapore sebesar 1.000 dolar Singapura.

Sang kakak yang saat itu juga sudah bekerja juga membantu 50 dolar Singapura per bulan. Halimah menyelesaikan kuliah pada 1978 dan kemudian bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) sebagai divisi hukum. Dia aktif memperjuangkan hak-hak pekerja.

Pada 1999 – 2001, Halimah tercatat sebagai orang Singapura pertama yang duduk di lembaga buruh internasional (International Labour Organisation/ILO). Tahun 2001 dia terjun ke dunia politik dan terpilih sebagai anggota parlemen Singapura dari Partai Aksi Rakyat (People’s Action Party/PAP).

Pada 2013, Halimah menjadi perempuan pertama yang menjabat Ketua Parlemen (Group Representation Constituency) Singapura. Dan di hari Minggu, 6 Agustus 2017 lalu dia mengumumkan maju di pemilihan Presiden Singapura.

Halimah Yacob tidak perlu menjalani proses pemungutan suara secara nasional untuk bisa menjabat Presiden Singapura yang baru, setelah kandidat lainnya gugur. Setelah terpilih sebagai Presiden Singapura, Halimah berjanji akan melakukan yang terbaik bagi rakyat di negeri Singa itu.

“Saya berjanji untuk melakukan sebaik mungkin yang saya mampu untuk mengabdi pada rakyat Singapura dan itu tidak akan berubah apakah ada pemilu atau tidak ada pemilu,” tegas Halimah saat ditemui wartawan setempat, seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (12/9/2017).

(*)

 

Continue Reading

Trending