Connect with us

Ini Batam

Semarak Ramadan Dengan Menghias Kampung di Belakang Padang

iqbal fadillah

Published

on

Ilustrasi

Usai buka puasa dan salat magrib, pemuda dan anak-anak Kampung Sekanak Raya Pulau Belakangpadang mulai berkumpul di depan Masjid An-Nahar untuk menyalakan gerbang lampu colok. Mereka mengisi minyak tanah ke botol-botol kaca, satu per satu. Botol bekas minuman ini kemudian disusun dalam rangka bambu.

Lampu colok berikat kawat ini disusun membentuk gapura dengan kubah masjid. Di sisi kiri terdapat deretan angka 2019 dan di sisi kanan 1440. Masing-masingnya menunjukkan tahun Masehi dan Hijriyah.

Selain gerbang, lampu colok juga terpasang di sisi kiri dan kanan jalan masuk Kampung Sekanak Raya. Nuansa Ramadan di perkampungan jaman dulu begitu terasa di jalan sepanjang 500 meter itu.

Di sisi lain Pulau Belakangpadang, tepatnya di Kampung Tempang lampu warna-warni hiasi jalan pemukiman. Rangkaian lampu dililitkan pada bilah bambu yang dipasang antar rumah berhadapan.

Lampu hias multiwarna juga meriahkan suasana malam Ramadan di Batu Gajah Kampung Bugis. Bedanya, pemuda Kampung Bugis membuat gerbang lampu dari bahan botol air mineral bekas.

“Di laut belakang Batu Gajah ini sering menumpuk sampah botol plastik. Terbawa arus dan sangkut di sini. Menimbulkan pemandangan yang tak sedap di mata. Jadi kami berpikir kenapa tidak dimanfaatkan, kalau bisa difungsikan kenapa tidak kan,” tutur Adam, Ketua Pemuda Kampung Bugis, Jumat (18/5).

Hampir 2.000 botol plastik bekas yang terpakai untuk membangun gerbang lampu hias ini. Pengumpulan bahan bahkan sudah dilakukan dua pekan sebelum Ramadan tiba.

Adam mengklaim, konsep pemasangan aliran listrik juga berbeda dari kampung lainnya. Karena mereka memasang kabel dalam paralon yang diletakkan di tanah. Sehingga lebih aman dibanding kabel yang tergantung di udara.

“Membangunnya ini kami bahu-membahu. Ini bentuk antusiasme warga Kampung Bugis menyambut Ramadan. Apalagi dilombakan, jadi lebih semarak. Setelah Ramadan ini tidak akan dibongkar, malah akan kami tambah gerbangnya ini dengan bentuk kubah masjid dan tulisan Allah-Muhammad. Sekarang belum ada karena tak sempat. Nanti kami renovasi lagi, jadi botolnya tak dibuang dan jadi sampah kembali,” tuturnya.

Camat Belakangpadang, Yudi Admaji mengaku senang melihat antusiasme warganya ikuti lomba hias kampung ini. Tradisi yang sudah berjalan sekian tahun tetap bisa dipertahankan bahkan dikembangkan.

“Warga menghias kampung saat Ramadan ini sebenarnya sudah setiap tahun. Tapi untuk dilombakan baru dua tahun terakhir. Ini tahun kedua. Lomba ini diadakan atas kerja sama unsur pimpinan kecamatan juga. Selain camat ada Kapolsek, Danramil, dan lainnya,” terang Yudi.

Lomba ini diadakan untum menyambut dan memeriahkan bulan suci Ramadan khususnya di Belakangpadang. Hadiah yang disiapkan menurut Yudi, tidaklah besar. Tapi ia bersyukur masyarakat tetap semangat mempercantik kampungnya.

“Selain itu juga memberdayakan anak muda. Mereka bisa mengisi Ramadan dengan kegiatan positif, satu di antaranya menghias kampung. Ide-ide kreativitas mereka tersalurkan, terlihat dari konsep yang berbeda tiap kampung,” sebut mantan Kabag Humas Setdako Batam ini.

Penilaian lomba hias kampung ini nantinya akan melibatkan juri dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pewarta Foto Indonesia, dan perwakilan Pertamina Sambu.

Tak hanya lomba hias kampung, pada malam Idul Fitri juga akan digelar lomba takbir dan lomba astaka. Astaka yang dimaksud adalah miniatur masjid tiap kampung. Miniatur masjid ini dibawa dengan cata dipanggul keliling saat pawai takbir.

“Hadiah yang kita siapkan tak hanya uang tunai tapi juga Piala Bergilir. Pemenang nanti akan diumumkan di malam takbiran. Kami berharap kegiatan ini juga bisa mendatangkan wisatawan,” ujarnya.

(*)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *