Connect with us

The World

VIDEO : Wang De Shun, Kakek Paling Keren Sedunia

Mike Wibisono

Published

pada

TAK pernah ada kata terlambat untuk bekerja keras demi meraih kesuksesan. Inilah Wang de Shun, kakek 80 tahun yang sukses di usia 80 tahun berkat kerja kerasnya sejak muda.

Wang De Shun adalah seorang pria asal Shen Yang, Tiongkok. Ia mulai mendapat perhatian dari dunia luas sejak menjadi model di sebuah pergelaran busana. Orang-orang menganggapnya sebagai kakek yang sudah tua namun ‘gaul’ atau kakek tua yang berhasil terkenal hanya dalam waktu satu malam.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa hanya untuk mempersiapkan pegelaran busana itu, Wang sudah melakukan begitu banyak hal selama 60 tahun. Bagaimana bisa?

Pada saat usianya masih 24, Wang sudah menjadi seorang aktor teater. Saat berusia 44 tahun, ia mulai belajar Bahasa Inggris. Ketika hampir mencapai usia 50 tahun, ia pergi mengembara ke Beijing dan menjadi gelandangan yang sama sekali tak punya uang serta rumah untuk tinggal. Ia benar-benar tak punya apapun dan memulai segala hal dari awal.

Mulai usia 50, Wang pergi ke gym dan membentuk badannya. Baru pada umur 70 ia secara sadar bermaksud untuk membentuk otot-ototnya. Baru di usia 79 lah ia mulai menjadi model dan berjalan di runway. Tahun ini usia Wang sudah 80 namun ia masih punya mimpi.

Bagi Wang, semua potensi manusia bisa ditemukan dan tak pernah ada kata terlambat. Tak pernah ada batasan dan hambatan kecuali diri kita sendiri. Tak ada orang yang bisa mencegah kita sukses kecuali keraguan dari diri kita sendiri. ***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

The World

OKI Sebut Langkah AS Perburuk Keamanan Kawasan

iqbal fadillah

Published

on

Kota Yerusalem : wallup

ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan langkah pemerintah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memperburuk kondisi keamanan wilayah.

“Pernyataan AS ini hanya akan membawa kondisi yang lebih buruk keamanan kawasan,” kata Ketua OKI yang juga Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat memimpin Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTTLB) OKI di Istanbul, Turki, Rabu. Turki pada sisi lain juga sekutu penting Amerika Serikat di NATO.

Ia menyebutkan keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan keputusan yang membakar sesuatu yang berdampak buruk.

“Saya mengajak semua menyatakan bahwa sikap AS ini tidak tepat,” katanya. Ia menyebutkan sejak 1947, peta Palestina semakin menyempit karena Israel terus melakukan ekspansi wilayahnya.

“Ini kondisi di lapangan hari ini. Apapun yang dilakukan Israel sejak 1947, terus terjadi sampai saat ini. Ini tidak bisa diterima sama sekali. Tentara teroris menangkap dan membunuh anak dan memukuli ibu yang mencoba menyelamatkan anaknya dari gagang senapan. Apa ini kalua bukan terorisme?” ujar Erdogan.

Ia menyebutkan Israel terus melakukan pendudukan, pembunuhan dan Israel mendapatkan penghargaan atas semua itu yang diteguhkan oleh Presiden AS.

“Ada sekian negara di bawah PBB yang harus bergerak bersama. Anda mungkin punya misil, jet tempur dan sebagainya untuk perang. Tetapi itu tidak diperlukan untuk menunjukkan bahwa anda benar,” ucapnya, menegaskan.

Menurut Erdogan, tanpa memberikan solusi dalam masalah Timur Tengah maka tidak akan membawa kestabilan perdamaian dan kesejahteraan di kawasan.

“Ini situasi di mana perlu perhatian besar bersama untuk masa depan bersama. Jelas sekali, bahwa apa yang dilakukan AS ini melanggar aturan internasional,” tuturnya.

Menurut dia, Yerusalem merupakan kota penting bagi orang Kristen juga. Keputusan yang dibuat AS sangat disesalkan.

“Kita tidak bisa lagi bersikap netral menghadapi perkembangan di Yerusalem ini. Atau kita akan menjadi pendukung aksi kekerasan terhadap rakyat Palestina. Kita harus membuat Palestina menjadi negara yang lebih kuat dalam diplomasi internasional,” ujarnya.

Menurut dia, semua harus memobilisasi seluruh kekuatan yang ada atas nama Yerusalem.

“Kita meminta AS menarik keputusannya yang provokatif dan tidak benar ini. Saya mengajak semua negara Islam mengambil tanggung jawab ini demi perdamaian dunia,” kata Erdogan.

 

 

Continue Reading

The World

Puluhan Artis Inggris Kutuk Trump

Mike Wibisono

Published

on

Foto Presiden AS Donald Trump : Reuters/Jonathan Ernst

TILDA Swinton, Mark Ruffalo, Roger Waters, Peter Gabriel dan Brian Eno menjadi di antara puluhan sastrawan, musisi dan aktor yang mengutuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Dalam surat kepada koran Inggris The Guardian, para seniman lintas dunia seni ini menyebut manuver Presiden AS itu akan mempercepat agenda Israel melenyapkan Palestina sebagai entitas politik dan budaya di kotanya sendiri.

Surat para seniman itu berisi tuduhan bahwa pemerintah Israel sengaja mendiskriminasi rakyat Palestina dalam semua tingkat, dan pembersihan etnis, yang akan makin lebih buruk lagi oleh adanya pengakuan Trump yang mengubah status Yerusalem itu.

“Kami menolak kolusi Trump dengan manipulasi rasis semacam itu dan ketidakhormatannya kepada hukum internasional,” kata para seniman dalam petisi itu, yang juga ditandatangani dramawan Caryl Churchill, sutradara Mike Leigh dan aktor-aktor seperti Maxine Peake, Julie Christie dan Juliette Stephenson.

“Kami menyesalkan kesediaan dia untuk memahkotai pendudukan militer Israel di Yerusalem Timur dan sikap berat sebelahnya terhadap hak-hak Palestina. Sebagai seniman dan masyarakat, kami menentang pengabaian dan dan ketidakmanusiaan dari kebijakan ini, dan sebaliknya menyanjung ketabahan bangsa Palestina untuk hidup di bawah penjajahan.”

Pekan lalu Trump mendeklarasikan pengakuan AS bahwa Yerusalam adalah ibu kota Israel, yang merupakan pelanggaran terhadap konsensus internasional menyangkut salah satu dari masalah-masalah paling sensitif dalam hubungan Israel-Palestina.

Palestina meyakini ibu kota negara mereka nanti adalah bagian timur dari kota Yerusalem. Banyak sekali negara di dunia ini menganggap Yerusalem Timur yang dicaplok Israel pada 1967, sebagai tanah Palestina yang diduduki Israel.

 

Continue Reading
Advertisement

Kami di Facebook

Trending