Hubungi kami di

Khas

“Mengharap Energi Listrik Terbarukan dari DAM Duriangkang”

Terbit

|

Waduk Duriangkang di pulau Batam. Ist.

MENURUT Badan Energi Internasional, tenaga Surya dewasa ini menjadi harapan sebagai sumber energi listrik termurah dalam sejarah yang bisa diproduksi secara besar di banyak tempat. Tapi, ada sesuatu yang menahan pembangkit energi bersih ini untuk bisa terus dikembangkan yakni : ruang.

Tidak seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil, pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan banyak ruang untuk menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi permintaan. Kendala lain adalah durasi produksi energi yang terbatas.

Sebagian besar ‘perkebunan’ energi surya yang dibangun dewasa ini terdiri dari panel yang dipasang di tanah yang mengambil lahan yang besar. Luasnya bisa setara lahan yang dapat digunakan untuk menanam makanan atau menyediakan habitat bagi satwa liar.

Lokasi lainnya adalah di laut atau danau besar. Saat ini makin banyak pembangkit listrik tenaga surya terapung dibangun di seluruh dunia. Kota Batam melalui investasi Sunseap Group Singapura yang berencana membangun panel Surya mengambang di DAM Duriangkang, menjadi salah satunya. Dengan investasi mencapai Rp. 29 triliun, proyek panel Surya di sana, diharap bisa memproduksi hingga 2 Giga Watt listrik.

Menukil sebuah artikel di weforum.org, seorang peneliti energi terbarukan dari Lancaster University, Inggris, Giles Exley menyebut, panel surya mengambang di danau atau waduk, diprediksi bisa menghasilkan lebih banyak listrik dibandingkan dengan instalasi surya di atap atau di tanah. Ini berkat efek pendinginan air di bawah panel, yang dapat meningkatkan efisiensi sistem yang akan menghasilkan menghasilkan listrik sebanyak 12,5%.

Dalam penelitian barunya disebutkan bahwa pembangkit listrik tenaga surya terapung yang dirancang dengan hati-hati, sebenarnya dapat mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap danau dan waduk.

Ia menggunakan model komputer untuk mensimulasikan bagaimana pembangkit listrik tenaga surya terapung cenderung mempengaruhi suhu air danau menjadi lebih dingin sehingga menghambat penguapan.

Simulasi dilakukan di Windermere, danau terbesar di Inggris dan salah satu danau yang paling banyak dipelajari di dunia.

“‘Pertanian’ panel surya terapung bisa mengurangi seberapa banyak angin dan sinar matahari mencapai permukaan danau, mengubah banyak proses yang terjadi di dalamnya”, kata Giles.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perubahan suhu air yang disebabkan oleh pembangkit listrik tenaga surya terapung bisa sebesar perubahan iklim itu sendiri, hanya dalam arah yang berlawanan.

Sebuah lokasi panel surya terapung bisa mengurangi kecepatan angin dan radiasi matahari sebesar 10% di seluruh danau. Itu artinya dapat mengimbangi satu dekade pemanasan akibat perubahan iklim.

BACA JUGA :  Penerimaan CPNS 2021 Segera Dibuka

Bagaimana di Batam?

DAM Duriangkang di Batam yang merupakan danau buatan terluas di kota pulau ini, direncanakan bakal digunakan juga untuk menjadi lokasi ‘peternakan’ panel-panel Surya yang akan menghasilkan energi listrik.

BP Batam baru saja menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sunseap Group untuk proyek ini, Senin (18/7/2021) kemarin.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan secara virtual oleh Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, dengan Co-founder and CEO, Sunseap Group Pte. Ltd., Frank Phuan.

Sunseap Group adalah sebuah perusahaan penyedia energi bersih terbesar di Singapura yang didirikan pada tahun 2011. Solusi surya Sunseap dinilai telah terbukti untuk mendiversifikasi portofolio energi melalui model dan strategi biaya yang kompetitif. Mereka juga mengerjakan proyek serupa di selat Johor, perbatasan Singapura – Malaysia dekat Woodland.

Dalam MoU ini, diketahui bahwa Sunseap akan menyediakan layanan satu atap untuk solusi energi bersih, yang mencakup elemen-elemen seperti pendanaan, pengembangan, perancangan, teknik dan konstruksi tenaga surya dan pasokan listrik bersih. Total investasi mencapai 29 Triliun rupiah.

Sunseap Group akan memasang panel surya di genangan waduk dengan cara mengambang (floating) dengan target energi yang bisa dihasilkan mencapai 2 Giga Watt. Hasil energinya nanti akan diekspor ke Singapura dan sebagian untuk Batam. Ini akan menjadi salah satu yang terluas di Asia Tenggara dan pertama di Batam.

“Ke depannya lapangan pekerjaan akan tercipta sekitar 3.000 pekerja lokal tidak hanya Batam, tetapi juga Indonesia,” ujar Muhammad Rudi, Senin (19/7/2021).

Seberapa Visible Proyek Tenaga Surya di DAM Duriangkang?

WADUK Duriangkang merupakan waduk terbesar yang dimiliki Kota Batam,. Luas muka air normal mencapai 2.340 hektare dan luas daerah tangkapan air 79 kilometer persegi. 

Infrastruktur Waduk Duriangkang telah dibangun pada 1995, dan beroperasi pada 2001 di bawah pengelolaan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Waduk Duriangkang dibangun dengan membendung sungai Duriangkang pada muaranya yang berbatasan langsung dengan laut.  Tujuan pembangunan waduk untuk mengatasi meningkatnya kebutuhan air baku seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri di Kota Batam.  

Saat ini waduk Duriangkang menjadi penyuplai utama air bersih di Batam. Sebanyak 80 persen kebutuhan air di Batam dipenuhi dari Waduk Duriangkang. 

Lantas, seberapa visibel dan efektif jika panel-panel Surya untuk menghasilkan energi listrik terbarukan mengapung dipasang di waduk tersebut?

BACA JUGA :  Waspada Resiko Microsleep!

Seorang peneliti energi terbarukan di Indonesia, Edo Raihan Irawadi menyampaikan beberapa kemungkinannya kepada GoWest Indonesia, Rabu (21/7/2021) kemarin.

Menurut pria yang biasa disapa Edo tersebut, jika menggunakan luas area waduk sebesar 1.200 hektar untuk dipasangi panel-panel Surya, energi listrik yang dihasilkannya berkisar 1,2 Giga Watt.

“Ya, nggak sampai 2 Giga Watt jika yang digunakan sekitar 1.200 hektar luas area waduk. Tipis-tipis dapat sekitar 1,2 Giga Watt. Itu jika seluruh area di-cover panel Surya”, kata Edo.

Untuk mencapai target 2 Giga Watt produksi listrik di waduk tersebut, bisa saja pihak pengelola juga manfaatkan area di sekitar waduk. Untuk diketahui luas daerah tangkapan air di waduk Duriangkang sekitar 79 km2.

Untuk target 2 Giga Watt menurut Edo, juga perlu penjelasan lanjutan. Apakah ini 2 Giga Watt hour (GWH) atau 2 Giga Watt peak (GWP). Menurutnya, produksi listrik menggunakan panel Surya jauh berbeda dibanding produksi listrik dengan cara lain misalnya di PLTU yang menggunakan batubara atau PLTG dengan suplai energi gas.

“Efektif produksi listrik untuk tenaga Surya di kota Batam sekitar 4 jam per hari untuk penggunaan selama 24 jam”, jelasnya.

Ia membandingkan hasil produksi listrik sebesar 2 Giga Watt dari gas turbin di PLTG, akan equivalen dengan sepertiga nilai yang sama jika memanfaatkan panel-panel Surya untuk menghasilkan listrik.

Hasil produksi dari panel Photo Voltaic/ PV (panel Surya, pen) bisa disimpan dalam panel-panel batere yang kemudian bisa digunakan untuk energi listrik. Namun Edo mengingatkan bahwa penyimpanan energi Surya dalam batere membutuhkan investasi yang sangat besar.

“Batere untuk menyimpan energi listriknya sangat mahal, lebih mahal dari panel-panel PV-nya”, lanjutnya.

Jadi alternatifnya menurut pria itu adalah dengan menyalurkannya secara langsung untuk penggunaan umum. Dengan kapasitas produksi 2 Giga Watt tersebut, hasil akhirnya bisa untuk memenuhi 2,5 kali kebutuhan listrik riil di kota ini. Artinya, akan ada surplus listrik besar di kota ini ke depannya.

“Makanya lebih baik disalurkan. Mungkin itu, mengapa sebagiannya langsung diekspor ke Singapura”, katanya.

Sejalan dengan Giles Exley dari Lancaster University, Edo menilai pemasangan panel-panel Surya di DAM Duriangkang, bisa bermanfaat juga terhadap tingkat penguapan air di waduk yang menjadi lebih berkurang, selain membuka lapangan kerja yang besar untuk proyek tersebut.

Wawancara lebih detail >>>

(nes/dam/GoWestID)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook