Hubungi kami di

Catatan Netizen

“Pengalaman Mengajar yang Lebih Banyak Belajar”

Terbit

|

Persiapan penulis saat akan pulang ke rumah di Natuna. Ist.

Refleksi perjalanan sebagai seorang Pengajar Muda di Pulau Batu Berian, Kabupaten Kepulauan Natuna.

Oleh : Yuni Ermaliza

MASIH teringat jelas ekspresi wajah Ibuk satu tahun lalu kala aku meminta izin untuk ikut Indonesia Mengajar — melongok beberapa detik.

Kemudian Ibuk baru merespon

“Aduh, Mama gak kebayang deh, ke pedalaman, nanti kamu di hutan, makannya gimana, aman atau enggak”.

Baginya, keinginan pergi kali ini sungguh tidak wajar. Sangat bisa dipahami, mungkin karena ekspektasi Ibuk adalah setelah lulus kuliah aku akan bekerja seperti orang kota pada umumnya. Bekerja di gedung perkantoran, berangkat pagi, dan pulang di sore hari.

Tapi bukan Uni namanya kalau tidak keras kepala dan menemukan cara untuk meyakinkan Mama dan Papa kalau ini adalah yang ia inginkan (dan butuhkan).

Tepat hari ini, ketika mengemas barang-barang, rasanya tak ada sedikit pun hal yang ku sesali dari sikap keras kepalaku. Bahkan mungkin ketakutan Ibuk satu tahun lalu pun akan berubah menjadi rasa haru. Melepasku untuk berlatih menjadi pribadi yang lebih mandiri dan berhasil belajar tentang hidup dari konteks yang sungguh berbeda dengan ‘9 to 5 job’ yang umumnya dilakukan.

Malam tadi sebelum tidur, aku banyak berpikir tentang satu tahun perjalanan ini. Rasanya, perasaan yang patut mewakilinya adalah rasa syukur. Aku bersyukur karena telah memberikan kesempatan selama satu tahun masa muda hidup sebagai seorang perantau, pergi ke tempat yang minim sekali akses.

Jauh dari orang tua, mengalokasikan satu tahun selama hidup untuk melakukan pelayanan dan hal baik kepada orang lain. Dan selama setahun pula mendapat bertubi-tubi balasan kebaikan yang tak terduga.

Melakukan ini seperti mendapat kebahagiaan yang lebih tahan lama dibandingkan dengan membeli barang-barang baru atau pencapaian lainnya. Ya… rasanya seperti belajar bahwa hidup bukan tentang pencapaian diri kita saja, tapi juga tentang apa yang kita lakukan untuk orang lain.

Menjadi seorang perantau ke tempat yang tak pernah diketahui sebelumnya dan tanpa ada seorang pun yang ku kenal bukanlah hal yang mudah. Satu tahun rasanya seperti ada banyak mata yang mengawasi. Orang kota, bergelar sarjana, datang untuk mengajar, tahu caranya mengoperasikan teknologi — wow dianggapnya aku serba tahu dan serba bisa.

Ditambah lagi nama institusi yang dibawa dan tokoh-tokoh terkenal yang terlibat di dalamnya. Sungguh begitu tinggi ekspektasi orang-orang. Aku bukan hanya harus menjadi contoh yang baik sebagai seorang pengajar, tetapi juga anak angkat dan anggota masyarakat yang teladan.

Aku datang bukan dengan segala hal yang serba pandai, tetapi aku juga belajar. Selama satu tahun ini, rasanya seperti berevolusi menjadi ‘aku’ yang baru. Kalau ditanya tentang apa yang paling banyak dipelajari, jawabannya adalah sikap dan cara pandang dalam melihat sesuatu. Ini juga tak lepas dari pengaruh interaksi dengan orang-orang yang ku temui selama satu tahun ini.

BACA JUGA :  "20 TAHUN LEBIH BERKUBANG TEROR"

Anak-anak dan Ketulusan

Dari anak-anak aku banyak belajar tentang ketulusan dan menepati janji. Seringkali mereka membuatku geram. Bagaimana tidak, saat guru lain yang mengajar, mereka mampu duduk, diam, dan mendengarkan instruksi. Sementara giliranku mengajar, mereka bisa berlari-larian, loncat-loncat, teriak-teriak, dan tak jarang pula mengeluh.

Sempat saking geramnya, aku tak mau mengucap sepatah kata pun saat mengajar. Kemudian, mereka penuh dengan protes ‘Ibuk nih ah, kami cakap ibuk ndok nak dengor’ (Ibuk nih ah, kami ngomong, ibuk gak mau dengar) dengan wajah cemberut dan ikut kesal.

Seringkali juga aku memarahi mereka secara verbal karena sikapnya yang menjengkelkan sampai mereka merajuk. Tapi, penyebab anak-anak merajuk tak selalu karena tingkah mereka. Kadang aku pun membuat kesalahan, seperti telat bangun di Minggu pagi, padahal sudah janji untuk berjalan pagi dan mandi masin di laut.

Tapi, begitu mudah bagi mereka untuk melupakan melupakannya dan menyapa ku kembali dengan gembira. Sampai kadang surat permintaan maaf juga berdatangan di mejaku. Begini lah ketulusan mereka yang ku rasakan. Kadang malu rasanya bila memendam kesal begitu lama.

Anak Muda dan Pilihan Hidup

Dari para anak muda di desa, aku belajar bahwa hidup adalah pilihan. Soal memilih apa yang ingin dilakukan selama masa mudaku. Banyak sekali ragam anak muda yang ku temui di desa dan dari setiap ragamnya, selalu meninggalkan pertanyaan di kepala.

Pertanyaan tentang apa yang ingin ku lakukan lebih banyak selama masa muda. Apakah akan mengalokasikan masa muda untuk melakukan pelayanan, membantu perekonomian keluarga, atau lebih cepat mengabdikan diri untuk kehidupan berumah tangga.

Hah… tapi pertanyaan ‘pilihan’ untuk diriku ini terasa sangat bias. Aku mungkin bisa saja ‘memilih’ atau melakukan semua dalam waktu bersamaan sambil menikmatinya.

Namun mereka yang ku temui, mungkin melakukannya bukan karena pilihan pribadi, tetapi karena tak ada pilihan lain. Terlalu banyak variabel yang perlu dijelaskan pada bagian ini. Dari perekonomian keluarga, ketimpangan akses, hingga waktu senggang yang digunakan untuk melakukan kegiatan yang tidak dipertimbangkan resikonya.

Kesetiaan dan Pengorbanan Para Emak

Dari para Emak aku belajar artinya kesetiaan dan pengorbanan. Selama satu tahun aku mengamati kebiasaan sehari-hari para Emak di Batu Berian. Mereka bangun di tengah gelapnya malam (benar-benar gelap, karena tak ada listrik), dari pulasnya tidur untuk memasak dan menyiapkan ransum ke laut.

Kemudian bangun di pagi hari untuk mengurus keperluan rumah tangga dan membantu perekonomian keluarga. Dari mulai berdagang keliling desa menjual makanan, memanjat batang cengkeh, menjemur kopra, memecah batu, menjadi kuli proyek, hingga pergi melaut pada saat air kering untuk mencari bahan makanan.

BACA JUGA :  "Menyampaikan Gagasan Lewat Cerita"

Kemudian setiap sore dengan setia dan cerianya duduk di pelabuhan, menanti satu per satu mutur (perahu) yang masuk untuk menjemput Ayah di pelabuhan. Memang tergambar indah, tapi sangat menyakitkan bila ada berita tidak menyenangkan yang datang saat Ayah pergi melaut — mutur bocor, Nelayan yang kram saat menyelam, terkena gelombang besar, dan lain sebagainya. Sungguh dari mereka aku belajar tentang apa itu kesetiaan dan pengorbanan.

Ayah di Batu Berian

Juga dari para Ayah aku belajar artinya pengorbanan. Berangkat ke laut di tengah gelap dan dinginnya malam hingga panasnya matahari yang menusuk kulit.

Pernah sekali aku ikut Nelayan melaut, dari subuh hingga sore hari. Merasakan berkantor di atas mutur seharian, terguncang gelombang sesekali sambil membantu memegangi selang oksigen kala Nelayan sedang menyelam ke bawah laut.

Terasa menyenangkan untuk dilakukan sekali dua kali, tapi untuk setiap hari? Wow. Rasanya tak sanggup. Apalagi kalau melakukannya untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Belum lagi ada kondisi-kondisi di mana angin kencang, musim paceklik, dan para Ayah tetap harus pergi melaut demi dapur yang terisi penuh.

Selain Nelayan, ada juga para pegawai yang bekerja di kantor desa maupun sekolah. Bukan berarti juga kondisi mereka lebih nyaman dibandingkan para Nelayan yang setiap hari melaut.

Penghasilan pekerja kantoran pun tak cukup untuk menghidupi sehari-hari. Sepulangnya para Ayah dari kantor, mereka terus mencari penghasilan tambahan. Baik dari berkebun, kerja proyek, atau pun melaut sesekali.

Bila dibayangkan, mungkin tergambar sulit sekali. Tapi jangan salah, Batu Berian selalu sesak dengan tawa dan senda gurau masyarakatnya. Hal ini ditemukan dengan mudah di setiap sudut desa.

Di bawah pohon sambil mencari uban dan kutu, di tungku kayu depan rumah sambil membakar ikan, di lapangan voli dengan sorak riang, di laut kering belakang rumah sambil membersihkan mutur, di warung-warung kopi sembari bermain gaple’ dan catur, di tengah kebun, dan banyak tempat lainnya.

Terima kasih yang tak terhingga aku ucapkan untuk orang-orang yang ku temui selama satu tahun ini karena sudah memberikan pelajaran yang begitu berharga tentang kehidupan dan terus mengingatkan untuk menikmatinya.

Terima kasih juga telah membantu mengingatkan untuk menjadi anak yang lebih baik ketika berjumpa dengan Ayah dan Ibuk di rumah.

Salam hormat dan selalu rindu dari ku untuk masyarakat Batu Berian.

* Seperti yang ditulis oleh Yuni Ermaliza di situs : medium.com

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook