Hubungi kami di

Khas

“Petaka dari India, WN Jepang & Taiwan Mulai Eksodus, China Masuk Terus”

Terbit

|

Ilustrasi. Virus Covid-19.

KIAN tak menentunya situasi dan kondisi Indonesia dalam fase kedua masa pandemi Covid-19 sejak awal 2021 ini, mengakibatkan beberapa negara mulai khawatir akan nasib warganya yang tinggal di Indonesia. Begitupun halnya dengan pemerintah Jepang.

Warga Jepang ramai-ramai meninggalkan Indonesia di tengah lonjakan jumlah kasus Corona untuk menjalani vaksinasi di negeri asalnya.

Kedubes Jepang di Jakarta sedang mengupayakan penerbangan tambahan untuk memulangkan warganya.

“Pemerintah Jepang bersama pihak swasta Jepang akan mengambil tindakan untuk mengantisipasi kesulitan mendapatkan penerbangan yang dialami warga Jepang di Indonesia dan sedapat mungkin melindungi keinginan warganya yang ingin kembali ke Jepang dalam waktu dekat,” demikian keterangan Kedubes Jepang di Jakarta dikutip dari detikcom, Kamis (15/7).

Kedubes Jepang menjelaskan pihaknya sudah mengupayakan penambahan armada penerbangan di luar jadwal reguler Bandara Soekarno-Hatta.

“Saat ini dua maskapai penerbangan Jepang sedang mengupayakan penerbangan tambahan di luar jadwal reguler dari Bandara Soekarno-Hatta ke Narita Airport. Kantor Kedutaan Besar Jepang di Indonesia akan memberikan dukungan yang diperlukan untuk upaya ini,” lanjut keterangan tersebut.

Untuk saat ini jadwal penerbangan tersebut belum dapat ditentukan. Namun pihak Kedubes Jepang sedang mengadakan survei untuk warganya yang ingin pulang.

“Walau jadwal untuk penerbangan tambahan ini belum dapat ditentukan, saat ini kantor kami sedang mengadakan survei untuk mengetahui jumlah warga negara Jepang yang ingin pulang agar dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada kedua maskapai serta mempersiapkan kedatangan mereka di Jepang,” tuturnya.

Sebelumnya sebanyak 50 warga negara (WN) Jepang yang bekerja di Indonesia memutuskan untuk kembali ke negara asalnya, Rabu (14/7). Hal ini dilakukan akibat kasus corona (Covid-19) yang terus melonjak di RI.

Dikutip Nikkei Asia, dalam proses pemulangan ini para WN Jepang menggunakan pesawat charter All Nippon Airways (ANA). Pesawat itu dijadwalkan mendarat di Bandara Narita, Prefektur Chiba, yang berlokasi di timur laut ibukota Tokyo.

Perusahaan yang memboyong karyawan WN Jepang tersebut diketahui bernama Shimizu Corp. Perusahaan disebut juga berencana menyediakan vaksin Covid-19 ke mereka yang menginginkan vaksinasi saat tiba di Negeri Sakura.

Warga Taiwan Siap-siap Pulang

SETELAH Jepang, warga Taiwan juga dilaporkan akan pergi meninggalkan Indonesia.

BACA JUGA :  Saat Jilbab Tampil di "Playboy"

Setidaknya 90 lebih pebisnis dan ekspatriat Taiwan memesan kursi pada penerbangan charter 28 Juli yang akan datang. Mereka akan terbang dengan pesawat Batik Air untuk kembali ke Taiwan.

“Jumlah penumpang yang memesan layanan mencapai 100,” kata kepala pusat layanan yang didirikan Kamar Dagang Indonesia Taiwan (ITCC) untuk membantu warga Taiwan di RI guna mengatasi Covid-19, Kuo Chang-hsin, sebagaimana dilaporkan Focus Taiwan, dikutip Kamis (15/7).

“Mempertimbangkan situasi di Indonesia, kamar dagang Taiwan di Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Surabaya Jawa Timur, semuanya menyarankan anggota senior mereka kembali ke Taiwan” tambahnya.

Berdasarkan data ITCC dari 6 hingga 12 Juli, ada 72 warga Taiwan terinfeksi Covid-19 di Indonesia. Sebanyak 10 orang telah pulih sementara empat meninggal dunia.

Sumber media itu menyebut, jika angka kematian sebelumnya ditambah, sebenarnya sudah ada delapan warga Taiwan meninggal di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Taiwan di Jakarta Chen Chung mengatakan akan mempertimbangkan mengevakuasi warga negaranya dari Indonesia jika negara lain menilai perlu.

Berbanding Terbalik dengan Warga China

SIKAP warga Jepang dan Taiwan terkait tidak menentunya situasi di Indonesia ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh warga dari negeri tirai bambu, China.

Sebagaimana yang diketahui, pada dua pekan lalu saat pemberlakuan kebijakan PPKM Darurat di tanah air, sejumlah pekerja asing asal China masuk ke Indonesia tepatnya Bantaen, Sulawesi Selatan pada Sabtu (3/7) lalu malam lewat Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Kedatangan para pekerja dari China ini, tak pelak mengundang kritik dari masyarakat. Soalnya, mereka datang di tengah kebijakan PPKM Darurat akibat lonjakan kasus Covid-19 di dalam negeri.

Perusahaan yang mempekerjakan 20 TKA China tersebut, yaitu PT Huadi Nickel Alloy beralasan kedatangan mereka untuk mempercepat pembangunan pabrik smelter yang akan beroperasi pada November 2021 nanti.

Menurut Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Alexander K Ginting menyebutkan, ke 20 TKA asal China itu merupakan pekerja sektor esensial industri. Pertimbangan lainnya adalah faktor keuangan, diplomasi, serta keadaan darurat.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy, setiap investasi dari perusahaan asal China atau negara lain pasti ada perjanjian bisnis. Salah satu poinnya memuat soal tenaga kerja.

BACA JUGA :  Candy Crush Dilarang Tawarkan Fitur Berbayar Untuk Anak - Anak

Beberapa investor asing kerap membawa tenaga kerja dari negara mereka untuk bekerja di Indonesia.

Namun, apapun alasannya, pemerintah seharusnya mampu mengambil langkah tegas di tengah penanganan pandemi covid-19.

“Betul bahwa ini perjanjian lama, jauh dari sebelum kenaikan kasus covid-19 dan penerapan PPKM darurat. Tetapi, saya kira pemerintah perlu ada pertimbangan tutup pintu dulu,” ungkap Yusuf dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (6/7) lalu.

“Pemerintah bisa memberikan argumen bahwa daerah yang ingin dimasuki ini kasusnya sedang naik. Kalau pun kasus tidak naik, pemerintah tetap harus berikan contoh tegas ke masyarakat dalam menanggulangi covid-19,” terang Yusuf.

“Ironisnya, 20 TKA China masuk ketika jumlah pengangguran di Indonesia meningkat. Sederhananya, masyarakat kesulitan mencari pekerjaan, sedangkan pekerja asing diberikan ‘karpet merah’ ” kata Yusuf.

Petaka dari India

JIKA ditarik mundur, Reboundnya situasi buruk Indonesia ini dipicu pada saat akhir April 2021, banyak orang India kabur ke luar negeri, termasuk ke Indonesia, guna menghindari tsunami virus corona di negaranya.

Tercatat ada 132 WN India yang masuk ke Indonesia dengan pesawat carter melalui Bandara Soekarno-Hatta. Belasan orang di antaranya, saat itu, menurut Kementerian Kesehatan, mengalami positif Covid-19.

Ratusan WNA asal India tersebut sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan anak-anak yang memiliki kartu izin tinggal terbatas (Kitas).

Setelah peristiwa itu, diketahui bahwa virus corona varian Delta mulai tercatat hadir di Indonesia. Sebagaimana diketahui, varian Delta atau B.1.617.2 awalnya ditemukan di India.

Masuknya ratusan WN India itu seperti menjadi penanda bahwa Indonesia belum benar-benar memperhatikan pintu masuk, terutama memantau warga negara asing yang masuk dari wilayah yang menjadi perhatian dunia seperti India.

Sebab, penularan varian Delta di Indonesia terjadi dari mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri dan sebagian kasus akibat transmisi lokal.

Awalnya virus ini terdeteksi di Jakarta. Saat itu ditemukan dua kasus.

Lalu, varian Delta menyebar ke Kabupaten Kudus, Kabupaten Bangkalan, hingga mendominasi di sejumlah wilayah di Indonesia saat ini.

(*/zhr)

Sumber : CNBC | NIKEI ASIA | KOMPAS | CNN INDONESIA | DETIK

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook