Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Warga Sempat Blokir Akses ke NDP, BP Batam: Krisis Air Akibat Elnino
    8 jam lalu
    Tiga Bulan Air Mati, Ratusan Warga Nongsa Turun ke Jalan; Singgung Proyek Data Center
    10 jam lalu
    Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
    21 jam lalu
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    1 hari lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
    19 jam lalu
    Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
    20 jam lalu
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    1 hari lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    2 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    5 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    7 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    7 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Ncing Sambo Maen Pukulan

Editor Admin 4 tahun lalu 973 disimak

MASYARAKAT Betawi umumnya menyebut seni bela diri sebagai maen pukulan. Sebutan lain yaitu silat, maen akal, maen taplekan, bhe si atau beksi, gisauw, dan kuntao atau kundao. Tiga istilah terakhir kental pengaruh Tionghoa.

Masyarakat Betawi mengartikan maen pukulan sebagai permainan yang melibatkan kontak fisik serang-bela dengan atau tanpa senjata. Di dalamnya terdapat unsur bela diri. Disebut maen pukulan karena gerakannya didominasi oleh pukulan yang disinyalir terpengaruh ilmu bela diri dari imigran Tionghoa Selatan. Maen pukulan juga menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau pun ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah.

Menurut Gusmanuddin Natawidjaja alias G.J. Nawi dalam Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi, konteks kata maen (dialek lokal untuk “main”) menandakan ada unsur kesenangan. Dengan kata lain, ilmu bela diri bagi masyarakat Betawi awalnya hanyalah permainan, bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik maupun sifat jago.

Sejarawan Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe menyebut para jago maen pukulan ditakuti bukan hanya karena kepandaiannya dalam ilmu bela diri, tetapi karena mereka membela kebenaran dan ahli ibadah yang tidak menonjolkan diri. Sebab, orang-orang Betawi dulu sebelum belajar maen pukulan harus lebih dulu mempelajari agama. Jadi, tidak heran kalau para jagoan Betawi banyak ditemui di masjid-masjid dan majelis-majelis taklim. Murid-muridnya juga belajar di masjid-masjid.

Untuk belajar maen pukulan para murid harus mematuhi peraturan yang disyaratkan oleh para gurunya. Mereka tidak bolah berjudi, berzina, mabuk-mabukan, dan jangan lupa salat. Dengan demikian, tujuan belajar maen pukulan bukan untuk mentang-mentang menjadi jagoan, tetapi untuk menjaga diri dan keluarga.

Dalam bukunya yang lain, Saudagar Baghdad dari Betawi, Alwi Shahab menyebutkan bahwa maen pukulan bagi masyarakat Betawi terdahulu sudah mendarah daging. Tidak ada orang Betawi yang sama sekali nihil dari maen pukulan. Bahkan, kaum perempuan pun mahir memperagakan jurus maen pukulan mulai jurus dasar sampai jurus pamungkas.

Karenanya tidak heran, dalam cerita rakyat Betawi, kerap muncul jago-jago dari kaum perempuan yang membela rakyat tertindas, menentang pimpinan yang zalim, dan menegakkan amar makruf nahi munkar.

“Sebut saja nama Mirah, yang memperoleh gelar ‘singa betina dari Marunda’ atau Nyi Mas Melati, tokoh pejuang revolusi fisik pada 1945 di Tangerang yang berada di medan perang dengan keberanian luar biasa,” tulis Alwi Shahab.

Menurut Nawi yang mengutip tuturan lisan masyarakat setempat, Marunda dulu menjadi tempat berkumpulnya jago-jago maen pukulan Betawi. Marunda merupakan kawah candradimuka bagi para jago dan jagoan. Kisah tentang Si Mirah, Si Ronda, sampai Si Pitung tertanam kuat dalam bentuk cerita rakyat.

“Setiap jago Betawi jika ingin menguji kemampuan maen pukulannya, akan menyambangi Kampung Marunda,” tulis Nawi.

Salah satu jago maen pukulan di Marunda adalah H. Muhammad Sambo Ishak yang biasa disapa Ncing Sambo. Menurut Ncing Sambo, zaman dulu ilmu agama dan ilmu maen pukulan merupakan kewajiban bagi setiap anak laki-laki. Bahkan, kemampuan dalam dua ilmu itu menentukan seorang lelaki Betawi diterima sebagai menantu atau tidak.

Orang-orang tua Betawi zaman dulu sebelum mungut mantu laki selalu mempunyai harapan dengan bertanya kepada lelaki yang hendak melamar anak gadisnya mengenai dua perkara, yaitu ilmu agama dan ilmu maen pukulan. “Tradisi menjatuhkan harapan kepada calon mantu laki ini disebut kekudangan,” tulis Nawi.

Kalau calon mantu tidak mampu menguasai ilmu agama dan ilmu maen pukulan, maka calon mertua biasanya akan mengatakan dalam bahasa Betawi, “Kalau elu kagak bisa ngaji atawe maen pukulan lebih baek kagak usah jadi mantu gue!”

Namun, jika calon mantu menguasai kedua ilmu itu, dia harus mempraktikannya di hadapan keluarga mempelai perempuan. Ujian ilmu agama yaitu mengaji Al-Qur’an. Sedangkan maen pukulan diuji oleh calon mertua atau wakilnya. Ujian dilakukan di tempat tertutup untuk menjaga harga diri keduanya. Kalau calon mantu menang, maka dia diterima, dan mertuanya akan belajar kepada calon mantu atau gurunya.

“Tradisi kekudangan diakhiri acara makan bersama sebagai cerminan jalinan keluarga baru. Sayangnya, tradisi kekudangan kini sudah tidak terdengar lagi,” tulis Nawi. Kini, maen pukulan biasanya diperagakan dalam prosesi palang pintu di acara perkawinan.

Ncing Sambo sendiri seorang guru maen pukulan terkenal di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Dia belajar maen pukulan tahun 1972 dari Abdul Ghani atau Ra Kaucin yang konon berasal dari Cirebon. Sebelumnya, dia sudah menguasai maen pukulan aliran lain yang didapatnya dari mengembara.

“Dari ilmu itu dia membuat formulasi jurus maen pukulan Marunda Pulo yang disebut Pamor Kurung,” tulis Nawi.

Menurut Ncing Sambo, gerakan maen pukulan Marunda Pulo terbilang jelek, sehingga tidak bisa untuk atraksi panggung. Namun, untuk menguasainya, seseorang harus memiliki dasar ilmu bela diri lebih dulu, karena butuh fisik kuat dan wawasan luas dalam menerima pelajaran.

Maen pukulan Marunda Pulo memiliki 20 jurus. Jurus pamungkasnya Pamor Kurung yang merupakan gabungan dari semua gerak jurus dan langkah. Itu sebabnya maen pukulan ini sering disebut maen pukulan Pamor Kurung.

Maen pukulan Marunda Pulo memiliki gerakan yang rumit. Kuda-kuda umumnya sedang dan hentakan pukulannya bertenaga. Yang paling khas adalah gerak jurusnya atraktif, bisa secara tiba-tiba berubah dari kuda-kuda rendah setengah rebahan menjadi kuda-kuda tinggi. Pada jurus Bangke Ngamuk misalnya, gerakannya bagai orang mabuk.

Nawi menyebut maen pukulan Marunda Pulo tidak hanya memiliki gerak dan jurus secara fisik, tetapi juga “ilmu dalam” kebatinan Islam yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an seperti babuna wa kholiquna wa subatulillahita’ala yang digunakan sebagai amalan ilmu kebal.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan betawi, Silat
Admin 30 Agustus 2022 30 Agustus 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Marak Pencatutan Nama Oleh Parpol, Bawaslu Kepri Bentuk Posko Aduan di Kabupaten/Kota
Artikel Selanjutnya Disperdagin: Produksi Telur Ayam di Tanjungpinang Surplus

APA YANG BARU?

Warga Sempat Blokir Akses ke NDP, BP Batam: Krisis Air Akibat Elnino
Artikel 8 jam lalu 107 disimak
Tiga Bulan Air Mati, Ratusan Warga Nongsa Turun ke Jalan; Singgung Proyek Data Center
Artikel 10 jam lalu 288 disimak
Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
Histori 19 jam lalu 419 disimak
Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Catatan Netizen 20 jam lalu 278 disimak
Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
Artikel 21 jam lalu 135 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 5 hari lalu 760 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 6 hari lalu 618 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 5 hari lalu 583 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 5 hari lalu 510 disimak
Siswa di Tanjungpinang Diliburkan, Belajar Online
Pendidikan 6 hari lalu 501 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?