Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    KJRI Johor Bahru Pulangkan 232 WNI dan PMI via Batam
    16 jam lalu
    Pengendara Motor Tewas Ditabrak Fortuner Yang Dikendarai WNA
    16 jam lalu
    Pemprov Kepri Bentuk BLUD Konservasi Perairan Bintan
    19 jam lalu
    Tiga Kendaraan Terlibat Tabrakan Beruntun di Batam
    2 hari lalu
    Kembali Menuai Sorotan Terkait Keluhan WNA, Imigrasi Batam Berikan Penjelasan
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Bus Sekolah Gratis di Tanjungpinang Masih Sepi Peminat
    16 jam lalu
    PSG Tantang Arsenal di Partai Puncak Liga Champions Eropa
    2 hari lalu
    Inter Milan Raih Scudetto ke 21, Pesta Biru Hitam di Kota Milano
    5 hari lalu
    Disdik Batam Himbau Keluarga Mampu Pilih Sekolah Swasta
    5 hari lalu
    “Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    3 hari lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    6 hari lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    6 hari lalu
    Pulau Pecong, Batam
    2 minggu lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Dardanella Menembus Panggung Dunia

Editor Admin 4 tahun lalu 568 disimak

SORAK-sorai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan pertunjukkan di gedung Munchener Kunstlerhaus, Munich, Jerman, pada 1939, setelah rombongan Dardanella selesai mementaskan “Si Bongkok”, salah satu lakon paling populer dari rombongan sandiwara ini.

The Malay Opera Dardanella merupakan salah satu rombongan teater paling bersinar di pertengahan pertama abad ke-20. Dardanella disebut sebagai perintis teater Indonesia modern karena menampilkan pertunjukan dengan pendekatan baru yang dinilai lebih sesuai dengan selera zaman. Rombongan sandiwara ini dimotori oleh Andjar Asmara, Astaman, Ferry Kok, Miss Dja, Miss Riboet II, dan Tan Tjeng Bok yang dijuluki “Java’s Big Five” atau “Dardanella’s Big Five”.

Sejarawan Jaap Erkelens membahas tuntas sejarah Dardanella dan perkembangan kesenian teater Indonesia yang diawali dengan kehadiran lakon stambul di Hindia Belanda dalam buku Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana yang baru terbit oleh Penerbit Buku Kompas (2022). Buku berukuran besar ini diperkaya dengan foto-foto pemeran dan pertunjukan, berita koran, guntingan iklan, dan dilengkapi CD berisi lagu-lagu Dardanella. Buku setebal 500 halaman ini menjadi rujukan utama sejarah Dardanella.

Dardanella berawal dari kesukaannya mengoleksi piringan hitam yang berisi lagu-lagu dari masa sebelum Perang Dunia II. Saat berburu piringan hitam di pasar-pasar loak Jakarta, ia menemukan beberapa lagu dalam bahasa Melayu yang kebanyakan lagu-lagu keroncong dan stambul. Beberapa lagu tersebut dinyanyikan oleh penyanyi Miss Riboet yang tergabung dalam rombongan Maleisch Operette Gezelschap Orion dan sejumlah kecil dinyanyikan penyanyi rombongan Dardanella.

Penemuan itu mendorong Erkelens menggali lebih dalam mengenai sejarah perkembangan sandiwara di Indonesia, khusunya rombongan Dardanella. Ia mengumpulkan berbagai berita, resensi, dan iklan di media massa, untuk menguraikan sejarah Dardanella dan perjalanannya selama tur keliling Indonesia dan dunia.

Dardanella didirikan oleh Vladimir Klimanoff alias A. Piedro pada 21 Juni 1926. Sebelum Dardanella dan Orion milik Tio Tek Djien Jr. berdiri tahun 1925, hiburan masyarakat Hindia Belanda adalah pertunjukan lakon stambul yang mementaskan beragam kisah dari cerita-cerita Timur Tengah dan seputar dongeng 1001 malam. Dalam pementasannya, para aktor dan aktris dibolehkan menyusun lirik pantun sendiri tetapi terikat pada lagu tertentu yang mereka gunakan sepanjang cerita dipentaskan. Selain itu, mereka juga diizinkan melakukan improvisasi saat tampil di atas panggung.

Berbeda dengan lakon stambul, Dardanella dan Orion mencoba menampilkan pertunjukan dengan gaya baru. Bila pementasan stambul biasanya terdiri atas sejumlah babak yang berlipat ganda, Piedro mengurangi jumlah babak yang dipentaskan rombongannya menjadi tidak lebih dari delapan.

Piedro juga menerapkan sejumlah aturan secara ketat bagi aktor dan aktris dalam rombongan Dardanella. Misalnya, mereka diwajibkan menghafal skrip karena tak diizinkan melakukan improvisasi di atas panggung. Kisah yang dipentaskan Dardanella juga tak melulu dari dongeng 1001 malam. Mereka juga turut mengadaptasi cerita film bisu untuk dipentaskan di panggung pertunjukan. Bahkan, Piedro memberanikan diri mementaskan lakon baru yang merupakan saduran dari apa yang kala itu disebut “Indische roman” yang membahas mengenai masalah-masalah sosial dan peristiwa yang benar terjadi.

Selain itu, dalam pementasan Dardanella, kata-kata tak lagi dinyanyikan seperti halnya dilakukan para pemain lakon stambul. Piedro memindahkan nyanyian lagu-lagu dan aksi badut ke jeda di antara babak yang kemudian disebut “ekstra”. Meski bahasa yang digunakan dalam pementasan lakon-lakon Dardanella menggunakan bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar, para pemeran yang tampil dalam adegan-adegan ekstra juga piawai bernyanyi dalam bahasa Inggris dan Belanda, sehingga penonton seolah-olah sedang menonton film bersuara di bioskop.

Menurut Erkelens, upaya-upaya yang dilakukan Piedro lambat laun berhasil meyakinkan pemain maupun penonton bahwa waktu telah berubah. Hal senada juga diungkapkan Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950 Bikin Film di Jawa, bahwa pembaruan yang dilakukan kelompok Orion dan Dardanella menjadi penanda peralihan era lakon stambul ke era toneel, istilah Belanda untuk kata sandiwara.

Popularitas Dardanella kian menanjak semenjak tampil perdana di Theater Orient, Surabaya pada 8 Agustus 1927. Iklannya dimuat koran Pewarta Soerabaia, 1 Agustus 1927. Lakon pertama yang dipentaskan berjudul “The Sheik of Araby”. Tak berselang lama, Dardanella mengadakan tur keliling: Makassar, Ternate, Ambon, Manado, Balikpapan, Samarinda, Semarang, Yogyakarta, Batavia, dan Sumatra.

Dardanella kemudian memulai tur mancanegara pertama pada 1935. Dalam tur ini, Dardanella terbagi dua kelompok, yakni kelompok teater dan kelompok tari. Kelompok tari yang bernama The Royal Balinese Dancers memulai “Tour d’Orient” di Singapura. Setelah itu, rombongan mengadakan pertunjukan di Hong Kong selama empat hari, 6–9 Maret 1935 pukul 17.00 dan 21.30.

Setelah Hong Kong dan Canton, Dardanella meneruskan perjalanannya ke Shanghai. Pada akhir 1935, kelompok tari dan teater Dardanella kembali bertemu di Singapura. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan keliling Asia melalui Malaya, Birma (kini Myanmar), dan India.

Popularitas Dardanella membuat perusahaan film India, Radha Film, tertarik mengangkat menjadi film salah satu lakon populer, “Dr. Samsi”. Erkelens menyebut proses rekaman film itu dimulai pada awal Februari 1936 di Calcutta.

Sayangnya, sukses pembuatan film tak cukup untuk menutupi segala ongkos yang diperlukan untuk membiayai rombongan sebesar The Royal Balinese Dancers. Rasa tidak puas itu membuat sejumlah anggota rombongan memilih kembali ke Tanah Air. Piedro bersama sisa rombongannya memutuskan kembali ke Singapura. Di Negeri Singa, Dardanella mengumpulkan uang untuk berangkat ke Eropa melalui Asia Selatan dan Timur Tengah.

Dardanella memulai tur Eropa pada 1 Oktober 1938. Selama satu tahun, mereka berkeliling negara dan kota-kota besar seperti Zurich (Swiss), Strasbourg (Prancis), Brussels (Belgia), Amsterdam (Belanda), hingga Berlin (Jerman).

Dalam pertunjukan di Budapest, Berlin, dan Wiesbaden, Dardanella tak hanya mementaskan tarian tetapi juga drama, yakni lakon “Si Bongkok”. Pementasan lakon tersebut mendapat respons positif dari publik. Menurut Ferry Kok, salah satu anggota Dardanella, perusahaan film Jerman, UFA (Universum Film Aktiengesellschaft) bahkan menawarkan kontrak untuk pembuatan film “Si Bongkok”.

Perang berdampak pada tur Eropa Dardanella. Saat Perang Dunia II meletus pada September 1939, Piedro bersama rombongan melarikan diri ke Amerika Serikat. Setelah sempat menggelar tur keliling Amerika Serikat selama dua bulan dengan mengunjungi New York, Chicago, Denver, Cleveland, San Fransisco, dan Los Angeles, sejumlah anggota Dardanella memilih kembali ke Tanah Air.

Seusai Perang Dunia II, Dardanella tercerai-berai sehingga berakhirlah riwayatnya. Meski begitu pertunjukkan Dardanella pada masa jaya telah menjadi acuan bagi banyak rombongan sandiwara lainnya.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan buku, Dardanella, Teater
Admin 14 Oktober 2022 14 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Hasil Liga Europa: Man United dan Arsenal Menang, Roma Diimbangi Real Betis
Artikel Selanjutnya Kadis Kominfo Kepri Sharing Pengelolaan SP4N-LAPOR! ke 73 Pejabat dari Wilayah Indonesia Barat

APA YANG BARU?

KJRI Johor Bahru Pulangkan 232 WNI dan PMI via Batam
Artikel 16 jam lalu 180 disimak
Bus Sekolah Gratis di Tanjungpinang Masih Sepi Peminat
Pendidikan 16 jam lalu 190 disimak
Pengendara Motor Tewas Ditabrak Fortuner Yang Dikendarai WNA
Artikel 16 jam lalu 192 disimak
Pemprov Kepri Bentuk BLUD Konservasi Perairan Bintan
Artikel 19 jam lalu 184 disimak
Tiga Kendaraan Terlibat Tabrakan Beruntun di Batam
Artikel 2 hari lalu 257 disimak

POPULER PEKAN INI

“Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
Histori 6 hari lalu 691 disimak
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
Catatan Netizen 6 hari lalu 600 disimak
Prakiraan Cuaca, Potensi Hujan Masih Terjadi di Batam dan Sekitarnya
Artikel 5 hari lalu 583 disimak
Ratusan Pengajuan UWT Warga Puskopkar Batuaji Tertahan di BP Batam
Artikel 6 hari lalu 555 disimak
Polsek Bengkong Amankan Pelaku Pelecehan Seksual Kepada Anak Di Bawah Umur
Artikel 5 hari lalu 553 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?