“Ekon”. Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan Yew, menyebut, “ekon” adalah salah satu unsur terpenting dalam kemajuan Singapura yang panasnya bisa mencapai 34 derajat di siang hari.
Oleh: Sultan Yohana
Panas itu, bahkan tarasa 37 derajat, mengingat kelembaban udara Singapura yang sangat tinggi. Ekon, kata Tuan Lee, memungkinkan masyarakat Singapura giat bekerja, produktif, serta efisiensi dalam melayani masyarakat. Karena itu, salah satu kebijakan pentingnya, adalah memastikan “ekon” terpasang di semua gedung-gedung layanan sipil di Singapura.
Bagi saya sendiri, “ekon” justru jadi musuh bebuyutan. Beberapa jam saja berada di bawah ruang ber-“ekon”, kulit saya kering, gatal-gatal. Jika hal itu berlangsung beberapa hari, kulit menjadi bentol-bentol merah. Seperti alergi. Karena masalah itu, di rumah, tak ada “ekon”.
Padahal dulu, di usia-usia di bawah 35an, saya tak masalah dengan “ekon”.
Kian tua, seolah kian banyak masalah yang menghinggapi saya. Ironisnya, masalah itu justru menjadi paradoks dari kebiasaan saya sebelumnya. Selain “ekon”, saya kini tidak bisa berada di udara dingin. Ketika pelesir ke Jepang atau Taiwan dalam cuaca dingin lalu, kulit saya memerah dan bentol-bentol hebat. Hal yang sama juga terjadi Ketika saya pulang kampung ke Malang yang berudara dingin. Padahal saya lahir, besar, minum, makan, jadi nakal; semua dari bumi Malang.
Atau ketika kulit saya yang kini tak bisa tersentuh rumput. Padahal, seumur bocah dan remaja; rumput dan damen (jerami padi kering) adalah kawan terbaik saya. Saat kecil, saya bisa main bola sejak pukul 1 siang, hingga maghrib datang. Di lapangan rumput kecamatan.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


