SEPANJANG Januari 2026, terdapat 42 kasus kebakaran yang melalap puluhan hektar lahan di Kota Tanjungpinang, akibat musim panas atau kemarau berkepanjangan.
Dalam keterangannya, Kasi Pemadam Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Tanjungpinang, Derry Ambari menjelaskan, selain hutan dan lahan, kebakaran juga melanda tiga bangunan. Kebakaran tersebut paling banyak terjadi di kawasan Dompak dan Senggarang.
“Ada 45 kasus sejak 1 hingga 31 Januari, 42 kasus Karhutla, 3 kasus bangunan,” kata Kasi Pemadam Kebakaran DPKP Tanjungpinang, Derry Ambari, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, setidaknya terdapat 35 hektare lahan di wilayah ibu kota provinsi tersebut yang dilalap si jago merah. Kebanyakan, kebakaran lahan dipicu adanya pembakaran sampah yang dilakukan oleh warga sekitar.
“Ditambah lagi dengan cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat api meluas,” tambahnya.
Menurutnya, petugas DPKP mengalami sejumlah kendala untuk memadamkan api yang membakar pepohonan dan semak belukar. Mulai dari medan kebakaran yang sulit diakses armada, hingga sulitnya mendapatkan air di lokasi kejadian.
Sehingga, untuk satu titik kebakaran bisa menghabiskan waktu hingga setengah hari demi memastikan api benar-benar padam.
“Faktor angin kencang membuat proses pemadaman menjadi sulit dan memakan waktu hingga 5 sampai 6 jam,” sebutnya.
Selain Karhutla, 3 kasus kebakaran bangunan akibat korsleting listrik juga menjadi perhatian.
Saat ini, kata dia lima armada pemadam bersama bantuan suplai air dari BPBD Provinsi dan Kota disiagakan penuh untuk merespons laporan warga.
“Kami kerahkan 5 armada dengan dukungan supply air dari BPBD untuk menangani setiap kejadian di Tanjungpinang,” pungkasnya. (*)


