RS Badan Pengusahaan (RSBP) Batam mencatat tonggak sejarah dalam bidang kesehatan dengan memperkenalkan layanan intervensi penyakit jantung bawaan (PJB) non-invasif untuk pasien dewasa. Ini merupakan langkah revolusioner setelah lebih dari dua dekade Nurdiana, warga Tanjungpinang, hidup tanpa diagnosis yang tepat mengenai kondisi jantungnya.
Dilaksanakan pada tahun 2026, RSBP Batam menjadi fasilitas kesehatan pertama di Kepulauan Riau yang memungkinkan prosedur intervensi tanpa bedah terbuka bagi pasien dewasa. Sebelumnya, perawatan tersebut hanya tersedia untuk anak-anak dan biasanya dilakukan di luar daerah.
Dr. Muhammad Yanto, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, menekankan bahwa adanya layanan ini menjadi angin segar bagi masyarakat Kepri yang selama ini bergantung pada rumah sakit rujukan di Jakarta. “Kini, pasien dewasa sudah bisa mendapatkan penanganan di RSBP Batam,” ungkapnya pada hari Sabtu (7/2).
Prosedur pertama melibatkan enam pasien dewasa di fasilitas cathlab RSBP Batam, yang dilakukan dengan pendampingan tim dokter tamu dalam program proctorship. Setiap pasien melalui proses skrining medis yang ketat untuk memastikan keselamatan.
Keunggulan utama dari layanan ini terletak pada kemampuan tenaga medis yang tidak hanya menangani anak-anak, tetapi juga pasien dewasa. Dr. Muhammad Yanto menjelaskan bahwa kini dokter spesialis jantung dapat memberikan perawatan dengan cara non-invasif yang sebelumnya tidak ada di rumah sakit ini.
Salah satu dokter tamu, Radityo Prakoso, menyoroti tantangan yang masih dihadapi pusat-pusat rujukan nasional, di mana ribuan pasien, termasuk bayi, masih menunggu penanganan. “Layanan intervensi di Batam akan mengurangi ketergantungan pada rumah sakit besar di Jakarta,” jelasnya.
Berdasarkan data, Indonesia mencatat antara 8 hingga 10 kasus penyakit jantung bawaan per 1.000 kelahiran hidup, sementara jumlah dokter dan fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas. Afdalun Hakim, Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Kardiologi di RSBP Batam, menyatakan pentingnya penguatan layanan di rumah sakit daerah.
Salah satu pasien, Nurdiana, menyatakan rasa syukur atas perawatan yang didapatkan di Batam, termasuk jaminan dari BPJS Kesehatan. “Semoga lebih banyak orang yang mengetahui bahwa mereka bisa mendapatkan perawatan di sini dan tidak putus asa,” ujarnya.
Inisiatif ini juga berfungsi sebagai platform untuk transfer pengetahuan bagi tenaga medis di RSBP Batam, guna memastikan penyediaan layanan kardiologi yang berkelanjutan. Dengan demikian, RSBP Batam diharapkan dapat menjadi rumah sakit rujukan utama untuk penyakit jantung bawaan di kawasan Kepulauan Riau.
(dha)


