Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    BP Batam Gelar Rangkaian Buka Puasa Bersama Dengan Warga
    1 hari lalu
    10.285 Pekerja Rentan di Batam Sudah Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
    1 hari lalu
    BP Batam Tawarkan Stabilitas Regulasi kepada Investor Eropa dan Jepang
    2 hari lalu
    Komisi III DPR RI Soroti Tuntutan Hukuman Mati ABK Kapal Pembawa Sabu
    2 hari lalu
    Siaga Karhutla, BPBD Batam Terima Bantuan Dari BNPB
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    2 hari lalu
    Sambut Lebaran 2026, Bandara Hang Nadim Batam Berikan Potongan Tarif 50%
    4 hari lalu
    Kabupaten Karimun Siap Jadi Tuan Rumah Popda Kepri 2026
    5 hari lalu
    Progres Persiapan Pembangunan Sekolah Rakyat di Bintan Terus Berjalan
    6 hari lalu
    Pengaturan Jam Operasi Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan di Batam
    1 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    3 minggu lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    2 bulan lalu
    Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Batam 2025
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 minggu lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 minggu lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    1 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    2 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    7 bulan lalu
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Makyong Masih Ada

Editor Admin 7 tahun lalu 7.8k disimak

KESENIAN tradisional khas masyarakat Melayu, Makyong, memang tidak lagi terlalu bergema.

Tapi, di beberapa lokasi, kesenian khas dengan pertunjukan mengggunakan topeng di Kepulauan Riau tersebut masih ada.

Di Bintan, masyarakatnya masih bisa menyaksikan pagelaran kesenian Makyong yang digelar akhir pekan kemarin.

https://youtu.be/R2SIYpIxdj0

 

Apa itu Makyong?

MAKYONG adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih dimainkan di beberapa lokasi.

Merupakan seni dramatari.

Di zaman dulu, pertunjukan makyong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.

Selain di Kepulauan Riau, dramatari makyong juga dipertunjukkan di negara Malaysia. Seperti negara bagian Terengganu, Kelantan, dan Kedah. Juga di Thailand, terutama i Pattani.

Makyong di Kepulauan Riau dibawakan penari yang memakai topeng, berbeda dengan di Malaysia yang tanpa topeng.

Pertunjukan makyong dibawakan kelompok penari dan pemusik profesional yang menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan vokal atau instrumental serta naskah yang sederhana.

Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan mak yong diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tetawak.

 

Sejarah

ISTANA kerajaan Melayu menjadi pelindung seni tari makyong sejak paruh kedua abad ke-19 sampai tahun 1930-an.

Saat itu, jika raja mendengar ada penari yang pandai apalagi cantik sedang bermain di kampung-kampung, raja langsung memerintahkan penari tersebut untuk menari di dalam lingkungan istana.

Penari yang menari di istana akan ditanggung semua akomodasi serta kebutuhan hidup. Bahkan menerima pinjaman tanah sawah milik raja untuk dikerjakan.

Tarian Makyong di Malaysia, tanpa topeng : © University Malaysia Kelantan

Kemunduran ekonomi kesultanan akibat kedatangan Inggris di semenanjung Malaya menyebabkan pihak kesultanan tidak bisa lagi menjadi pelindung kelompok pertunjukan makyong.

Akibatnya, di awal abad ke-20, tari makyong mulai berkembang bebas di desa-desa.

Pertunjukan Mak yong tanpa patron pihak kerajaan menyebabkan mutu pertunjukan semakin merosot. Terutama setelah terjadi bencana banjir besar di Kelantan yang terkenal sebagai Banjir Merah tahun 1926 hingga tahun 1950-an.

Selain itu, nilai estetika tradisional mak yong mulai luntur akibat komersialiasi pertunjukan. Lama pertunjukan juga diperpendek dari pukul 8:30 malam hingga pukul 11:00 malam. Selesai pertunjukan makyong langsung diteruskan acara joget bersama.

Penonton naik ke atas panggung untuk menari bersama penari makyong. Alat musik untuk makyong juga diganti dengan biola dan akordion untuk memainkan lagu untuk berjoget.

Di laman wikipedia disebutkan, nilai moral penari juga mulai merosot. Tidak jarang terdengar kisah-kisah sumbang yang terjadi antara kalangan penari dengan penonton setelah pertunjukan.

Keluarga penari makyong juga menjadi berantakan, perceraian menyebabkan anak-anak menjadi telantar.

Penari makyong malah banyak yang bangga dengan jumlah suami yang dimiliki. Publik mempertanyakan nilai moral di kalangan penari sehingga citra penari makyong makin merosot. Keadaan ini membuat citra kesenian mak yong semakin hancur.

Di akhir tahun 1960-an, kelompok tari makyong sudah sangat jarang bisa dijumpai lagi.

Orang yang berniat mempelajari tari makyong juga tidak ada. Kebudayaan barat yang melanda masyarakat makin menenggelamkan kesenian makyong. Kalau ada pun pertunjukan Mak Yong yang diadakan pada peristiwa penting seperti Hari Keputeraan Sultan, pertunjukan hanya dikerumuni orang-orang tua.

Kelompok Seri Temenggung merupakan pelopor tari makyong generasi ketiga yang berusaha menghidupkan kembali tari dan nyanyian asli seperti pertunjukan makyong generasi pertama.

Pagelaran Makyong di Malaysia : © sejarahkelantan.wordpress.com

Kelompok tari Seri Temenggung masih relatif baru dengan guru-guru yang berasal dari generasi pertama penari Makyong.

 

Makyong di Kepulauan Riau

Ada beberapa pendapat tentang asal usul Makyong di Kepulauan Riau, antara lain pendapat hasil rumusan Direktorat Teater Tradisional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bersama Direktorat Pembinaan Kesenian pada tanggal 13 Desember 1975.

Dari pendapat itu tidak dapat diketahui pasti kapan Makyong sampai ke Riau, Makyong berkembang menurut situasi dan kondisi setempat, dan akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendarah daging bagi penduduk setempat.

Menurut kisah yang diceritakan Pak Abdul Rahman (Amanriza, 1993) di Manatang Arang, Kepulauan Riau tahun 1927 seperti dilsnsir dari blog wartasejarah,  seni pertunjukan Makyong berasal dari permainan yang dilakoni oleh harimau jadi-jadian.

Tetapi sampai saat ini tidak seorang pun mengetahui pasti arti kata Makyong.

Namun, masyarakat luas tahu bahwa Makyong merupakan nama sebuah pertunjukan atau teater yang dimana merupakan nama salah seorang tokoh dalam teater tersebut.

Topeng Makyong : © bayuwinata.wordpress.com

Makyong adalah salah satu jenis kesenian melayu yang menggabungkan unsur-unsur ritual, tari, nyanyi, dan music dalam pementasannya. Dalam pertunjukannya Makyong mempertemukan antara pemain dan penonton dalam ruang, waktu dan tempat yang sama.                                      (uun-halimah.blogspot.com. 2008)

Penilik Kebudayaan Depdikbud di Tanjung pinang tahun 1970-1980 masih mencatat tempat-tempat yang memiliki perkumpulan seni teater Makyong di Kabupaten Kepulauan Riau, yaitu di Mantang Arang, Rmpang/Sembulang, Dompak, Kasu, Pulau Buluh.

 

Pementasan Makyong

SEPERTI teater rakyat (tradisional) lainnya, teater Makyong tidak menuntut set properti, dekorasi, atau layar untuk pergantian babak.

Bila Makyong dipentaskan di lapangan terbuka, tempat pentas harus diberi atap yang menggunakan bubungan dengan enam buah tiang penyangga.

Pada kayu yang melintang dihiasi daun kelapa muda. Bila dimainkan di istana, Makyong dipentaskan di panggung beton berbentuk segi enam.

Setelah ketua panjak yang disebut Bomo mendapatkan tempat yang tepat untuk pementasan Makyong, ia harus melakukan serangkaian upacara sebelum pementasan dilakukan.

Mula-mula dilakukan upacara mengasap alat-alat yang terdiri dari sebuah gendang penganak, sebuah gendang pengibu, dua buah tawak-tawak/gong, dua buah mong/kromong, sebuah gedu-gedung, sebuah canang, sebuah serunai dan sebuah rebab.

Uacara mengasap dilanjutkan pada alat-alat bermain lainnya, termasuk canggai (kuku-kuku palsu panjang).

Acara selanjutnya disebut buang bahasa atau buka tanah dengan menanam sebutir telur ayam, segenggam beras basuh, segenggam beras kuning, brtih, sirih sekapur, dan sebatang rokok daun nipah.

Setelah sang Bomo memerintah pembantunya menanam benda-benda tersebut, ia mulai menaburkan betih dan beras basuh ke sekekliling tempat bermain, sambil membaca serapah dan mantra yang diiringi bunyi musik berirama magis. Serapah tersebut berbunyi :

Assalamu’alaikum

Wa’alaikumsalam

Tabik orang di laut

Tabik orang di darat

Aku nak membubiuh paras

dan tanda di sini

Aku minta tanh yang baik

Bismillahirrahmanirrahim

Bam tanah Jembalang tanah

Aku tahu asak engkau

Mulai menjadi bintang timur

Berundurlah engkau darii sini

Jangan engkau menghalang

Pekerjaan aku di sini

Huh!

Setelah itu menekankan ujung jarinya ke langit-langit mulutnya, kemudian menekankan jari itu pada tanah.

Selama upacara berlansung, pelakon/ pemain duduk berderet di depan pemain music.

Begitu Bomo selesai mengadakan upacara buka tanah/buang bahasa, para pemain segera mengambil satu atau dua butir bertih dan beras basuh yang ditanburkan sang Bomo untuk dikunyah, dengan maksud agar lakon mereka lancar.

Pertunjukan Makyong pun dimulai dengan diirngi musik. Seorang pemain wanita yang berpakain lelaki yang memerankan lakon Pakyong atau Cikwang berdiri.

Dia bertelekan pada kedua lutut dan perlahan-lahan berdiri sambil menyanyikan lagu “Betabik”. Nyanyian Pakyong disambut oleh para pemain wanita yang memerankan inang dan dayang. Mereka berdiri kemudian ikut bernynyi dan menari bersam Pakyong.

Setelah selesai membawakan lagu Betabik, para dayang dan inang duduk kembali. Pakyong yang masih berdiri di tengah area pertunjukkan segera memanggil Si Awang atau Peran menyahut panggilan Pakyong sambil memantrai topeng yang sedang dipegangnya.

Topeng dipakai dan dia pun mendekati Pakyong dengan gerakan teatral khas Makyong, yaitu melenggang dengan tangan bergetar. Awang/ Perang merupakan pemain yang amat penting.

Dia menjadi pelawak, pengiring raja, pengiring anak raja dan kadang-kadang juga disebut Pakyong Muda.

Pergantian babak/ adegan dalam teater makyong ditandai dengan nyanyian dan dialog yang diucapkan para pemain atau dengan duduk dan berdirinya para pemain di pinggir ruang pertunjukan.

Sedangkan pertukaran peran dilakukan dengan menukar topeng yang dikenakan pemain. Seorang pemain boleh membawakan lebih dari satu peran, bahkan tiga atau empat peran dengan cara menukar topengnya.

Jalan pertunjukan Makyong agak lamban. Cerita dapat bersambung terus selama lima malam, kadang-kadang sampai tujuh malam. Pertunjukan biasanya dimulai setelah Isya dan berakhir menjelang shubuh.

 

Cerita Makyong

CERITA Makyong disajikan dalam pementasan Makyong sebagian besar sudah dikenal secara luas, karena cerita dalam Makyong berasal dari warisan dati tukang cerita istana.

Tidak ada peninggalan tertulis tentang lakon Mayong. Semua cerita Makyong ditularkan melalui tradisi lisan.

Di antara cerita-cerita Makyong yang paling terkenal ialah Tuan Putri Ratna Emas, Nenek Gajah dan Daru, Cerita Gondang, Wak Pean Hutan, Gunung Intan, Dewa Muda, Dewa Indra Dewa, Megat Muda, Megat Sakti, Megat Kiwi, Bungsu Sakti, Putri Timun Muda, Raja Muda Laleng, Raja Tingkai Hati, Raja Dua Serupa, Raja Muda Lembek dan Gading Betimbang.

Terkadang Makyong juga dipentaskan cerita yang berasal dari Mahabarata, Ramayana, cerita Panji, dan Pagaruyung.

Cerita dan bahan yang disebut terakhir sudah beda jauh dari aslinya. Sehingga dapat dibingkai dari polanya saja.

Sebagai contoh adalah cerita Koripan yang berasal dati cerita Panji.

Jika dalam pewayangan (wayang purwa) dikenal cerita-cerita yang tabu dipentaskan tanpa sesaji atau semah dari upacara khusus. Makyong pun memiliki cerita seperti itu, yaitu lakon Nenek Gajah dan Daru.

Tokoh pertunjukan Makyong adalah Pakyong Tua/ Raja, Pakyong Muda/ Pangeran, Makyong/ Permaisuri/ Mak Senik, Putri Makyong, Awang Pengasuh/ Pelayan Raja yang berjumlah lebih dari satu orang,

Orang Tua, Jin dan Raksasa dan Para Pembatak. Peran-peran wanita yaitu Makyong, Putri, Inang, dan Dayang.Pakyong adalah tokoh pria yang dibawakan oleh wanita. Peran seperti Awang, Mak Prambun, Wak Petanda Raja, Wak Nujum, Dewa, Jin, Pembatak, dan Raksasa dibawakan oleh pria.

 

Disarikan dari beberapa sumber :  wikipedia / wartasejarahblogspot.co.id / Batam TV / alartemag.be

 

 

 

 

Kaitan kesenian, Makyong, melayu, top
Admin 9 Desember 2018 9 Desember 2018
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Taman Untuk Batam
Artikel Selanjutnya Pesona Batam International Culture Carnival 2018

APA YANG BARU?

BP Batam Gelar Rangkaian Buka Puasa Bersama Dengan Warga
Artikel 1 hari lalu 52 disimak
10.285 Pekerja Rentan di Batam Sudah Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Artikel 1 hari lalu 58 disimak
BP Batam Tawarkan Stabilitas Regulasi kepada Investor Eropa dan Jepang
Artikel 2 hari lalu 184 disimak
Komisi III DPR RI Soroti Tuntutan Hukuman Mati ABK Kapal Pembawa Sabu
Artikel 2 hari lalu 194 disimak
Siaga Karhutla, BPBD Batam Terima Bantuan Dari BNPB
Artikel 2 hari lalu 183 disimak

POPULER PEKAN INI

Setahun Memimpin, Amsakar-Li Claudia Wujudkan Komitmen Membangun Batam
Artikel 3 hari lalu 250 disimak
Sambut Lebaran 2026, Bandara Hang Nadim Batam Berikan Potongan Tarif 50%
Ramadan 4 hari lalu 237 disimak
Bupati Bintan Resmikan Dermaga di Pulau Mantang
Artikel 3 hari lalu 233 disimak
Pemuda Ditemukan Meninggal Dunia di Jembatan 3 Barelang
Artikel 4 hari lalu 232 disimak
Cuaca Kepulauan Riau: Berawan Hingga Hujan Ringan
Artikel 4 hari lalu 220 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?