Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Belanja Pegawai Pemko Batam Capai 39%, Perlu Langkah Penyesuaian
    9 jam lalu
    Sanksi Petugas Pungli Imigrasi Batam Belum Diterapkan
    9 jam lalu
    Penuhi Kebutuhan Warga, Perumda Tirta Mulia Unit Kundur Tambah Jam Operasional
    17 jam lalu
    Pungli di Pelabuhan Batam Center, Oknum Petugas Imigrasi Batam Resmi Ditahan
    18 jam lalu
    Soroti Layanan Keimigrasian, Kepala BP Batam Sidak Pelabuhan Internasional
    20 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    2 hari lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    2 hari lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    4 hari lalu
    Debut Manis Herdman, Timnas Menang 4-0 Atas Saint Kitts
    5 hari lalu
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    3 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Serial

Menyisir Teluk Belian dengan Ketinting

Kumbang Menteduh di Tepi Zaman (Bagian 2)

Editor Admin 1 tahun lalu 980 disimak
Gedung-gedung tinggi di Batam Centre, dilihat dari perairan Belian. © F. Bintoro Suryo

BANYAK perkembangan seiring kemajuan zaman. Tapi, sebagian warga di sini ada yang masih mempertahankan cara hidup tradisional yang bergantung dari laut. Mereka jadi nelayan jaring di laut, menebar bubu (perangkap, pen), juga menggunakan keramba untuk kegiatan budidaya ikan.

Oleh : Bintoro Suryo


PENGGUNAAN keramba, jadi cara lain yang efektif untuk menangkap ikan. Jenis Keramba apung yang dibuat warga, memudahkan mereka berpindah – pindah lokasi. Keramba menjadi simbol kearifan lokal, menawarkan cara yang berkelanjutan untuk menjaga ekosistem laut sambil mencari nafkah.

“Tunggu di sini dulu, saya ambil perahunya”, kata pak Basri begitu kami tiba di pinggir muara sungai Kelembak.

Ia kemudian menarik sebuah perahu kecil berbahan fiberglass dari deretan perahu-perahu nelayan yang kebanyak dari bahan kayu di sana. Setelah menaikinya, pak Basri menggunakan kayu panjang seperti galah untuk mengarahkannya ke lokasi kami berempat berdiri.

Pak Basri sedang mengarahkan perahunya di muara sungai Kelembak. © F. Bintoro Suryo

“Ini mesinnya masih handal, tak kalah lah dengan mesin-mesin yang baru,” kata pak Basri sambil menunjuk mesin perahu ketinting yang dipasang di perahu fiberglass-nya.

Ketinting adalah istilah yang populer untuk menyebut sampan atau perahu kecil yang biasa digunakan para nelayan di perairan pesisir laut hingga sungai di berbagai wilayah di Indonesia. Perahu ini biasanya digunakan untuk menangkap ikan atau sebagai sarana transportasi harian di sekitar perairan. 

Pada umumnya, ketinting memiliki desain yang khas dengan bentuk badan perahu yang pipih dan lancip pada kedua ujungnya. Ukuran perahu ini bervariasi. Umumnya memiliki panjang sekitar 6-8 meter dengan lebar sekitar 1-2 meter. 

Di bagian tengah perahu terdapat tempat duduk untuk penumpang atau nelayan. Selain itu, perahu ketinting juga dilengkapi dengan tiang dan layar yang digunakan untuk mengarahkan arah perahu saat berlayar. Tapi yang dibawa pak Basri ini polos saja, hanya mesin yang menempel di bagian belakang perahu.

Perahu nelayan di kampung Kelembak, Nongsa. © F. Pardomuan

Selain sebagai sarana transportasi harian  untuk berpindah tempat atau menangkap ikan, ketinting juga kerap kali digunakan sebagai tempat beristirahat atau tempat tinggal sementara nelayan. 

Ketinting sendiri merupakan salah satu jenis perahu tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat nelayan di Indonesia, khususnya di pesisir perairan laut.

Saat digunakan sebagai sarana transportasi, perahu ketinting dapat membawa penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan ketika digunakan untuk menangkap ikan, perahu ini dilengkapi dengan alat tangkap seperti jaring atau pancing.

Perahu atau sampan model ini, menggunakan motor luar dengan poros panjang, dipasang di sisinya dan dapat dibenamkan ke dalam air atau diangkat ke permukaan air.

“Nah, ayolah naik. Mumpung masih pagi, air masih pasang”, ajak pak Basri pada kami.

Sania naik terlebih dulu, disusul Yodha, Domu dan saya yang terakhir. Untuk keseimbangan perahu, kami membagi beban sama rata : Sania di depan buritan perahu, Domu di posisi agak ke tengah, saya dan Yodha yang berada persis di depan pak Basri yang akan mengemudikan ketinting dari bagian belakangnya.

Dengan kayu galah, pak Basri kemudian mengarahkan lagi ketinting kecilnya agak lebih ke tengah muara sungai, sekitar 10-an meter, kemudian mulai menghidupkan mesin.

Mesin yang menempel di perahu pak Basri bermerk Honda. Sepertinya itu mesin yang sudah lama sekali. Suaranya keras saat dihidupkan dengan cara diputar di bagian rotor mesin.

Perlahan, perahu mulai membelah muara sungai, mengarah ke perairan yang berhadapan dengan pusat pemerintahan Batam di Batam Centre.

Gedung-gedung tinggi di Batam Centre, dilihat dari perairan Belian. © F. Bintoro Suryo

“Kalau pakai perahu begini, sampai kemana saja biasanya pak Basri?” tanya saya separuh berteriak, berusaha mengimbangi suara mesin ketintingnya yang begitu keras.

“Ke dapur arang sana, kadang ke Nongsa, Ocarina juga, cari kerang Kupang”, jawab pak Basri sambil terus mengemudi.

Ada beberapa Kelong dan keramba apung yang kami temui di sekitar teluk Belian ini. Rata-rata dikelola mandiri oleh warga. Kelong dan keramba itu bisa dipindahkan fleksibel, menyesuaikan musim, cuaca dan kebiasaan migrasi ikan-ikan di sekitar perairan ini.

Ikan – ikan hasil tangkapan di sekitar perairan Belian. © F. Bintoro Suryo

Teluk Belian sejatinya teluk tenang. Gelombang laut pasti ada, tapi warga yang beraktifitas di sini, relatif terlindung dalam bentang alam yang menjorok ke darat itu. Tak heran, banyak pemukiman lama warga pesisir di sekitar sini, saat mereka masih begitu bergantung pada kehidupan laut tempo dulu. Selain kampung Nongsa, ada Bakauserip, Senggunung yang kini sepi, kampung Terih, Kelembak hingga kampung Belian yang terletak di seberangnya. Kampung lain yang sudah ditinggalkan karena zaman yang berganti adalah Kumbang Menteduh.

Sementara dapur arang yang disebut pak Basri, adalah sebuah lokasi kecil di ujung sungai kecil lain di wilayah ini. Beberapa orang lama di Batam biasa menyebutnya Ulu Relai, hulu sungai Relai. Ada beberapa kepala keluarga yang masih mendiaminya hingga sekarang. Mereka beraktifitas sebagai nelayan di sekitar perairan Teluk Belian hingga mengupayakan pembuatan arang dari beberapa kubah tungku yang disebut dapur arang itu.

Pak Basri dan Sania di lokasi Dapur Arang Ulu Relai, Nongsa. © F. Pardomuan

Saya mengenal salah satu di antaranya. Pak Jumali, warga asal Selayar, Sulawesi Selatan. Ia sudah mendiami wilayah itu sejak tahun 1978. Pak Jumali tinggal bersama isterinya yang merupakan orang asli Kepulauan Riau dari suku laut.

Beberapa tahun lalu, saya, Domu dan rekan saya Usvim Varadilla menyinggahinya. Ia tinggal di rumah kayu yang sederhana, persis di sisi muara sungai Relai. Ada dua tungku arang yang dikelola. Yang satu berukuran besar dan yang lain lebih kecil. Ia biasa mendapatkan bahan baku untuk pembuatan arangnya dari hutan bakau yang ada di sekitarnya.

“Tapi tak bisa seperti dulu lagi, kita harus benar-benar pilih kayu yang bisa kita pakai untuk arang, yang tidak menyebabkan penggundulan. Sudah ada larangannya, paling setahun dua kali saja bakarnya (di dapur arang yang dikelolanya, pen)”, kata pak Jumali suatu ketika ke kami.

Usaha pembuatan arang melalui tungku-tungku arang seperti itu, marak dilakukan warga yang mendiami wilayah kepulauan seperti Batam, tempo dulu. Itu jadi seperti industri tradisional. Mereka mengolah bahan baku kayu bakau menjadi lebih bernilai ekonomi, sebagai arang. Hasilnya diekspor ke Singapura. Ini hilirisasi tempo dulu dan benar-benar dilakukan kaum tempatan, bukan asing.

“Ke Singapur, dulu masih gampang. Bawa dari sini, ada tauke yang menampung. Sekarang susah”, kata pak Jumali.

Aturan batas negara, keimigrasian hingga lingkungan hidup, perlahan membuat industri dapur-dapur arang di Kepulauan Riau, termasuk Batam makin mati suri. Termasuk yang dikelola pak Jumali ini.

“Kalau sekarang, paling bawa ke Jodoh atau kapling (Nongsa, pen). Tak banyak lagi lah bakarnya. Harian saya melaut”, lanjut pria yang memiliki postur kekar walau usia sudah memasuki 70-an tahun.

Dapur arang yang digunakan berbentuk seperti kubah, terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa. Berukuran tinggi sekitar 5 meter dengan luas mencapai 25 meter persegi, bahkan ada yang lebih besar lagi. Dapur Arang seperti itu bisa digunakan untuk membakar kayu bakau hingga kapasitas 30 ton dan diubah menjadi arang. Hutan bakau yang tumbuh sumbur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk tempatan di masa lalu.

Pada masa lampau penduduk Batam biasa mencukupi kebutuhan mereka dengan menangkap ikan. Selain itu mereka berdagang, mencari kayu, membuat tembikar, dan sebagainya. Transaksi ekonomi dan hubungan sosial terjalin melalui jalur laut. Daratan Batam yang lebih menjorok ke dalam, masih belantara. Tak heran, pak Habibie, ketua Otorita Batam kedua yang punya pengaruh besar terhadap perubahan pulau ini hingga sekarang menjelma jadi pulau industri yang metropolis, menyebut Batam dulu cuma hutan.

“Hutan semua, itu ular (sanca, pen) sebesar-besar ini (sambil memegang lengan dan betisnya),” kata pak Habibie dalam satu obrolan kenangan di Harris Hotel Batam, beberapa tahun sebelum kepergiannya.

Sementara orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan nama Cina Kebun sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok yang menetap di pedalaman hutan dan membuka perkebunan karet, gambir, hingga merica.

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan kayu bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. Akhirnya kayu arang tersebut menjadi salah satu komoditas yang dijual ke Singapura. Penjualan arang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda.

Oleh warga Singapura, arang digunakan untuk bahan bakar saat memasak. Biasanya arang yang dibuat oleh warga Batam dibawa oleh tauke arang dengan menggunakan kapal kayu. Bahkan karena laris, dalam sehari tauke arang bisa bolak-balik Batam-Singapura.

Interaksi dan hubungan dagang antara masyarakat pesisir di sekitar teluk Belian Batam dengan Singapura, juga bisa dilihat dari temuan batu-batu Bata tempo dulu produksi Singapura di sekitar dapur arang di Ulu Relai.

Sania dan Yodha di Ulu Relai. © F. Pardomuan.

“Nah, yang itu Kumbang Menteduh, kita ke sana”, ujar pak Basri sambil kemudian mengarahkan ketintingnya ke sebuah lokasi di seberang Ulu Relai.

(*)

Bersambung, Selanjutnya : "Ketam, Kupang dan Keramba Apung yang Jadi Tumpuan"
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com

Kaitan batam, cerita, History, Kelembak, nongsa, sejarah, Ulu relai
Admin 23 Maret 2025 23 Maret 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Rumah Susun Mukakuning Batam
Artikel Selanjutnya Migrant Care Temukan 3.238 Nama Ganda di DPT Johor Bahru

APA YANG BARU?

Belanja Pegawai Pemko Batam Capai 39%, Perlu Langkah Penyesuaian
Artikel 9 jam lalu 85 disimak
Sanksi Petugas Pungli Imigrasi Batam Belum Diterapkan
Artikel 9 jam lalu 77 disimak
Penuhi Kebutuhan Warga, Perumda Tirta Mulia Unit Kundur Tambah Jam Operasional
Artikel 17 jam lalu 103 disimak
Pungli di Pelabuhan Batam Center, Oknum Petugas Imigrasi Batam Resmi Ditahan
Artikel 18 jam lalu 113 disimak
Soroti Layanan Keimigrasian, Kepala BP Batam Sidak Pelabuhan Internasional
Artikel 20 jam lalu 97 disimak

POPULER PEKAN INI

Akhir Maret ini SPPG Batam Mulai Distribusikan Kembali MBG ke Sekolah
Artikel 6 hari lalu 324 disimak
Kantor Imigrasi Batam Tindak Lanjuti Keluhan Pemerasan Kepada WNA di Pelabuhan
Artikel 6 hari lalu 322 disimak
Diskominfo Batam Sosialiasikan Larangan Penggunaan Medsos Anak Dibawah 16 Tahun
Artikel 6 hari lalu 315 disimak
Volume Air Waduk Menurun, BP Batam Pastikan Layanan Air Bersih Tetap Terjaga
Artikel 5 hari lalu 258 disimak
Sempat Hilang, Nelayan Karimun Berhasil Ditemukan Tim SAR Gabungan
Artikel 5 hari lalu 250 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?