Connect with us

Histori

Kisah Stephen Hawking yang Berbicara Lewat Komputer

Mike Wibisono

Dipublikasi

pada

Stephen Hawking : © newsweek

ILMUWAN Fisika Stephen Hawking, didiagnosa mengidap penyakit saraf langka bernama Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) sejak usia 21 tahun.

Penyakit ini telah mengubah hidupnya, karena dampaknya membuat tubuhnya tidak bisa bergerak.

Hawking juga kehilangan kemampuan berbicara pada 1985.

Saat itu, dalam sebuah perjalanan ke pusat riset CERN di Jenewa, Swiss, ia mengidap pneumonia. Hawking segera dilarikan ke rumah sakit. Ia dipakaikan ventilator lantaran kondisinya sangat kritis.

Istrinya, Jane, menolak permintaan dokter untuk mematikan alat dukungan hidup kepada Hawking. Jane ingin suaminya bertahan sebisa mungkin.

Hawking kemudian diterbangkan ke Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge, Inggris.

Di sana, dokter-dokter berjanji untuk menangani infeksi yang diderita Hawking. Untuk membantu Hawking bernapas, tim dokter melakukan trakeostomi, yang memaksa mereka harus membuat sebuah lubang di leher dan menempatkan pipa ke dalamnya. Sebagai konsekuensi dari tindakan ini, Hawking kehilangan kemampuan berbicara.

Untuk sementara, Hawking berkomunikasi menggunakan kartu ejaan, yang membuatnya harus bersabar dalam memilih huruf yang ingin dipakai dengan mengangkat alisnya untuk membentuk sebuah kalimat.

Hidup dengan Bantuan Komputer

Teman Hawking bernama Martin King, mengetahui kondisi buruk ini. Kebetulan dia juga sedang mengembangkan sebuah sistem komunikasi baru.

Stephen Hawking saat muda : © Dailymail

King menghubungi perusahaan asal California bernama Words Plus lantaran perusahaan ini memiliki program bernama Equalizer yang memungkinkan penggunanya untuk memilih kata dan memasukannya ke dalam komputer dengan cara mengklik sebuah alat di tangan.

King langsung berbicara dengan CEO Words Plus, Walter Woltosz, dan meminta bantuannya untuk menolong Hawking.

Woltosz sebelumnya telah menciptakan versi awal Equalizer yang telah digunakan untuk membantu ibu mertuanya, yang juga mengidap ALS dan kehilangan kemampuan berbicara serta menulis. Woltosz memenuhi permintaan King dalam membantu Hawking.

Equalizer mulanya berjalan di komputer Apple II yang terhubung ke suara sintesis buatan perusahaan Speech Plus. Sistem ini diadopsi oleh David Mason, seorang teknisi yang merupakan suami dari salah satu suster Hawking.

Mason mengintegrasikannya ke dalam sistem portabel yang bisa dipasang dalam lengan sebuah kursi roda. Dengan sistem baru ini, Hawking bisa berkomunikasi dalam rata-rata 15 kata per menit.

Kemampuan Saraf Terus Turun

Sayang, kemampuan saraf penggerak jempol Hawking, terus menurun. Padahal, saraf ini sebelumnya sangat diandalkan Hawking untuk memilih kata-kata. Pada 2008, tangan Hawking sudah terlalu lemah untuk menggunakan alat klik. Asistennya saat itu membuat perangkat baru yang disebut ‘cheek switch‘ yang dipasang pada kacamata Hawking.

Walau secara fisik adalah kacamata, alat itu dirancang agar bisa mendeteksi pergerakan otot pipi Hawking menggunakan sensor inframerah. Sejak saat itu, Hawking mulai memanfaatkan otot pipinya untuk menerima email, browsing internet, menulis buku, memilih kata, dan berbicara.

Tapi, hambatan kembali menghadangnya.

Pada 2011, kemampuannya dalam berkomunikasi terus menurun. Hawking hanya bisa membuat satu atau dua kata per menit dan membuatnya mengirim pesan ke salah satu pendiri Intel, Gordon Moore, yang berisi, “Input ucapan saya sangat, sangat lambat belakangan ini. Apakah Intel bisa membantu?”

Hawking telah mengenal Moore jauh-jauh hari. Keduanya bertemu pertama kali dalam sebuah konferensi di tahun 1997. Moore saat itu menyadari komputer Hawking menggunakan prosesor AMD.

Moore sempat membujuk Hawking untuk menggunakan ‘komputer sesungguhnya’ dengan prosesor mikro buatan Intel. Intel siap memberikan Hawking seperangkat komputer yang telah dikustomisasi dan mendapatkan dukungan teknis, juga akan terus dapat pembaruan setiap dua tahun sekali.

Dukungan dari Intel

Begitu menerima pesan dari Hawking di tahun 2011, Moore kemudian bertindak cepat dengan meminta Justin Rattner, yang kemudian menjadi CTO Intel, untuk menangani masalah itu. Rattner membentuk sebuah tim ahli di bidang interaksi manusia dan komputer dari Intel Labs.

Stephen Hawking : © cam.ac.uk

Semua anggota timnya itu dibawa Rattner ke dalam konferensi perayaan ulang tahun ke-70 Hawking di Cambridge untuk mempelajari dan menemukan solusi teknologi terhadap masalah sang fisikawan.

Kondisi kesehatan Hawking sangat buruk kala itu sehingga ia tidak dapat menghadiri acara tersebut. Ia baru bertemu tim Intel beberapa pekan setelahnya.

Cara Hawking Memilih Kata dan Berbicara

Diketahui, komputer Hawking menggunakan antarmuka dari program bernama EZ Keys, yang merupakan peningkatan dari peranti lunak versi sebelumnya dan juga dirancang oleh Words Plus. Program itu memberikannya sebuah keyboard pada layar dan algoritma prediksi kata dasar.

Kursor pada layar akan secara otomatis memindai keyboard per baris atau per kolom dan Hawking dapat memilih huruf yang diinginkan dengan cara menggerakkan pipinya untuk menghentikan kursor tersebut.

EZ Keys juga memungkinkan Hawking untuk mengendalikan mouse pada Windows dan mengoperasikan aplikasi lain dalam komputernya.

Untuk berselancar Internet, Hawking menggunakan aplikasi peramban Mozilla Firefox.

Sementara untuk menulis, dia memakai aplikasi Notepad. Bagaimana dengan webcam? Ia pakai Skype.

Setelah merancang apa saja yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi Hawking, tim Intel itu kemudian mengimplementasikan sebuah tampilan antarmuka baru pada komputer Hawking. Namun, Hawking mengaku tidak terbiasa dengan pembaruan itu.

Pada akhir 2012, tim Intel membuat sebuah sistem yang merekam bagaimana Hawking berinteraksi dengan komputernya. Berbagai situasi Hawking direkam, mulai dari bagaimana ia mengetik, menggunakan mouse, hingga membuka window baru pada layar.

Saat mereka mengeluarkan antarmuka baru dengan bantuan asisten Hawking, Jonathan Wood, nyatanya sang fisikawan masih sulit beradaptasi juga. Hingga akhirnya, Intel berhasil mengeluarkan versi antarmuka baru yang membuat Hawking puas dan terbiasa.

Antarmuka Baru dengan Suara Orisinal

Hawking menggunakan program prediksi kata adaptif dari sebuah startup London bernama SwiftKey, yang memungkinkan dirinya untuk memilih sebuah kata setelah mengetik satu huruf saja. SwiftKey sendiri adalah perusahaan yang memimpin untuk urusan aplikasi keyboard virtual di perangkat Android.

Sistem baru ini bekerja lebih cepat dan efisien, meski Hawking harus belajar terlebih dahulu untuk membiasakan diri.

Versi antarmuka baru dari komputer Hawking itu bernama ACAT (Assistive Contextually Aware Toolkit), termasuk menu kontekstual yang menyajikan sejumlah shortcut bagi Hawking untuk berbicara, mencari sesuatu, dan membuka email.

Setelah itu, sang asisten Wood berupaya menggunakan suara komputer pertamanya dalam versi antarmuka baru itu. Untuk melakukannya, Wood harus melacak keberadaan tim orisinal Speech Plus, yang membuat model suara komputer Hawking pertama pada tahun 1988.

Suara komputer Hawking sendiri diciptakan pada awal tahun 1980-an oleh teknisi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) bernama Dennis Klatt, yang dikenal sebagai pionir algoritma text-to-speech.

Hawking sangat terikat dengan suaranya. Pada 1988, Hawking menolak suara baru dari Speech Plus dan memintanya untuk menggantinya dengan yang orisinal.

Kini, sang fisikawan yang terkenal dengan teori alam semesta itu telah tiada. Perjuangannya dalam melawan penyakit ALS telah berakhir. Ia meninggal dunia di usia 76 tahun di rumahnya, Cambridge, Inggris, pada Kamis, 14 Maret 2018.

Meski telah tiada, teori dan inspirasi Hawking akan terus melekat sepanjang masa.

 

Sumber : Cambridge / Newsweek / Kumparan / Wikipedia

 

 

Lanjutkan
Advertisement
Klik untuk memberi komentar

Advertisement

Kami di Facebook

Rupa Rupa

Jalan-Jalan Plesir3 hari lalu

9 Jam Trip Batam ke Dabo Singkep

SIAPA bilang perjalanan ke kabupaten Lingga dari Batam menggunakan kapal Roro KMP Sembilang tidak mengasyikkan? Bagi kalian para traveller, perjalanan...

Pilihan gowest.id3 hari lalu

Lihat Kepribadian dari Jabat Tangan

KEPRIBADIAN seseorang bisa terlihat dari berbagai hal, salah satunya caranya saat berjabat tangan. Sebuah penelitian terkini yang dilakukan University of Manchester menemukan...

Gaptek? Gak Lah!1 minggu lalu

Mobil Terbang Pertama di Dunia Siap Dipasarkan

SEKARANG, tidak hanya  pesawat atau helikopter yang dapat terbang, karena belum lama ini  sebuah mobil terbang komersial pertama di dunia, dipamerkan di  sebuah...

Pilihan gowest.id1 minggu lalu

Beda Bos dan Pemimpin

DI berbagai organisasi, institusi hingga perusahaan, lumrah kita temukan kepala yang mengelola sistem kerjanya. Tapi, kamu harus tahu. Tidak semuanya...

Ide2 minggu lalu

Barang yang Seharusnya Rutin Diganti, Tapi Jarang Kita Lakukan

MENJAGA rumah agar tetap bersih dan higienis butuh lebih dari sapu dan pel. Ada banyak barang rumah tangga yang harus diganti secara...

Gaptek? Gak Lah!2 minggu lalu

WhatsApp Palsu Bisa Curi Data

APLIKASI yang populer digunakan banyak orang kerap menjadi sasaran para pelaku kejahatan cyber untuk memalsukannya. Salah satunya WhatsApp. Para pengguna...

Gaptek? Gak Lah!3 minggu lalu

Google Tahu Rahasia Kamu!

Di tengah hingar-bingar soal privasi digital pasca skandal kebocoran data Facebook, kini warganet mulai perhatian dengan apa saja indivasi yang mereka...

Pop & Roll3 minggu lalu

Mereka Tidak Lulus SMA

KARIR bisa jadi penting. Tapi seyogyanya jangan sampai meninggalkan bangku sekolah. Beberapa nama besar selebritas Hollywood ternyata drop out atau tidak sanggup...

Pilihan gowest.id3 minggu lalu

Beda Masalah Antara Kulit Orang Asia, Kaukasia dan Afrika

ADA enam macam pembagian warna kulit berdasarkan pigmen melanin. Mulai dari kulit putih yang dimiliki orang Kaukasia hingga kulit hitam...

Jalan-Jalan Plesir3 minggu lalu

Kebiasaan Orang Indonesia Saat Sedang Berwisata

INDONESIA merupakan salah satu negara yang penduduknya gemar melancong. Baik untuk urusan bisnis, rekreasi keluarga, atau liburan untuk melepas lelah...