Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    DPRD Batam Mau Bangun Pagar Gedung, Total Anggaran Rp6 Miliar
    15 jam lalu
    Ratusan Pengajuan UWT Warga Puskopkar Batuaji Tertahan di BP Batam
    15 jam lalu
    Lakalantas Tunggal di Batam Tewaskan Seorang Pengendara Sepeda Motor
    1 hari lalu
    Polda Kepri Kembali Amankan Ribuan Liquid Vape Mengandung Zat Etomidate
    2 hari lalu
    Aksi Bersih Lingkungan Tandai Peringatan Hari Buruh di Kota Batam
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
    12 jam lalu
    Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
    14 jam lalu
    Waspada Penyakit Malaria di Tanjungpinang
    14 jam lalu
    Perluas Akses Pendidikan, SMP Negeri 65 Batam Resmi Berdiri
    3 hari lalu
    Marselino Ferdinan Dipanggil ke Timnas Lagi
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    10 jam lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    14 jam lalu
    Pulau Pecong, Batam
    1 minggu lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Artikel

Limbah Minyak Hitam Kotori Laut dan Ganggu Aktivitas Nelayan

Editor Redaksi 6 tahun lalu 1.1k disimak

ANGIN Utara yang berhembus cukup kencang membawa kesulitan tersendiri bagi aktivitas nelayan masyarakat di pesisir Batam. Kondisi tersebut diperparah dengan mulai munculnya limbah minyak hitam yang mengotori laut, bahkan sampai ke kampung-kampung yang ada di pesisir Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) ini.

Di perairan Kelurahan Rempang Cate sendiri, limbah dalam bentuk gumpalan minyak hitam yang mengapung dan menempel di alat tangkap nelayan hingga sampai ke bibir pantai di pemukiman ini mulai terlihat sejak tiga hari belakangan. Kondisi ini menghambat ruang gerak nelayan yang memang sudah kesulitan dengan kondisi cuaca di musim Utara yang kurang bersahabat.

“Sejak tiga hari sudah banyak minyak hitam, kita ke laut pasti kena minyak hitam, kotor semua pokoknya. Ikan tak ada karena laut banyak minyak, kelong (alat tangkap) rusak juga karena minyak hitam lekat di jaring,” kata Jupri, warga Kampung Monggak, Kelurahan Rempang Cate saat ditemui di kampungnya pada Selasa (4/2).

Minyak hitam yang menghantui nelayan dan masyarakat pesisir kali ini, diakui Jupri, terlihat cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dikhawatirkan akan lebih buruk lagi, mengingat hembusan angin Utara masih akan terus terjadi hingga akhir Februari 2020 mendatang.

Ia dan nelayan lain, hanya bisa pasrah dan membersihkan limbah ini seadanya. Sambil berharap tidak ada lagi limbah minyak susulan yang tentu akan sangat merugikan nelayan dan lingkungan laut, tempat masyarakat bergantung untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Berharap Dukungan Pemerintah

Afrizal, nelayan lain di Kelurahan Rempang Cate, berharap pemerintah bisa turun langsung untuk menghadirkan kemudahan bagi masyarakat, paling tidak bersama-sama masyarakat membersihkan limbah yang telah menghitamkan bagian-bagian pantai.

Ia juga berharap kondisi ini bisa mendapat perhatian lebih karena kejadian ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, walaupun memang intensitas limbah yang memberi dampak kepada masyarakat tidak sama setiap tahunnya. Akan tetapi, dampak hadirnya limbah ini tetap mengakibatkan kerugian yang waktu pemulihannya tidak sebentar.

“Kalau sudah sampai di dekat rumah begini, itu di laut pasti lebih banyak lagi, yang sudah lekat itu lama baru bisa hilang. Pertama keras, lama-lama jadi cair dan kotor, kalau kena baju tak bisa hilang,” kata Afrizal.

Pantauan di lapangan, limbah minyak hitam yang telah menggumpal, menyatu dengan dedaunan dan sampah lainnya terlihat di sepanjang bibir pantai di kampong Monggak ini. Gumpalan-gumpalan minyak yang mengental setebal sekitar 2 sampai 3 Centimeter ini tertahan di bebatuan, beberapa diantaranya ada yang mulai mencair karena terkena panas matahari. Limbah yang telah meleleh ini kemudian memenuhi bagian lain kawasan hingga menempel di bagian bebatuan yang lebih kecil dan padat.

Warga yang beraktivitas, tidak bisa menghindar. Bagian kaki, tangan, dan pakaian mereka pasti akan menjadi hitam ketika mereka melaut di saat limbah-limbah ini menghampar di wilayah kerja mereka tersebut.

“Mau macam mana lagi, tiap turun ke laut pasti kotorlah, pas pulang baru bersihkan pakai minyak (Solar),” kata Bakri, nelayan Kampung Monggak yang terpaksa tetap melaut meskipun kawasan laut di wilayahnya terdampak limbah minyak hitam.

*(bob/GoWestId)

Kaitan Laut Batam, Limbah minyak, nelayan, top
Redaksi 6 Februari 2020 6 Februari 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Warga Antusias Saksikan Dirgantara Expo di Hang Nadim
Artikel Selanjutnya Komisi III Minta Pemerintah Tegas Terkait Limbah Minyak Diperairan Kepri

APA YANG BARU?

Data Kemiskinan di Batam Terbaru
Statistik 10 jam lalu 108 disimak
“Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
Histori 12 jam lalu 149 disimak
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
Catatan Netizen 14 jam lalu 123 disimak
Waspada Penyakit Malaria di Tanjungpinang
Lingkungan 14 jam lalu 140 disimak
Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
Statistik 14 jam lalu 111 disimak

POPULER PEKAN INI

Polda Kepri Ungkap Jaringan Narkoba di Tanjungbalai Karimun
Artikel 6 hari lalu 446 disimak
Pemko Batam Berikan Perlindungan Jamsos Naker Kepada RT/ RW
Artikel 7 hari lalu 417 disimak
Uni Eropa Berikan Sanksi ke Terminal Minyak di Karimun
Artikel 6 hari lalu 408 disimak
Pencurian Listrik untuk Penambangan Bitcoin di Tanjungpinang: Denda Dibebankan ke Pemilik Ruko
Artikel 4 hari lalu 391 disimak
Pemerintah Ringankan Iuran BPU: Perluas Perlindungan JKK dan JKM
Artikel 4 hari lalu 383 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?