Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Lahan Tiga Hektar Di Lagoi Hangus Dilalap Si Jago Merah
    8 jam lalu
    4 Penerbangan RHF Tanjungpinang Batal dan 469 Penumpang Terdampak
    18 jam lalu
    Respon Aduan Warga, Polda Kepri Amankan 108 Pengguna Narkoba di Batam
    18 jam lalu
    Batam Belum Terdampak Abu Vulkanik Krakatau
    19 jam lalu
    Ribuan Penumpang di Bandara Hang Nadim Batam Terdampak
    19 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
    12 jam lalu
    Dari Letnan Asworth ke Brandes; Inkripsi Prasasti Budha di Karimun
    4 hari lalu
    Pembaca Lansia
    4 hari lalu
    Pasokan Anggur Lokal di Bintan Jadi Peluang Petani
    7 hari lalu
    Lomba Jong di Pantai Wan Seri Beni Bintan
    7 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    10 jam lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    18 jam lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    2 hari lalu
    Gunung Kijang, Bintan
    2 hari lalu
    Gedung Beringin, Batam
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Ragam

Deklarasi Majelis Rakyat Global, Dorong Perdamaian di Laut Natuna Utara

Editor Admin 5 tahun lalu 508 disimak

MAJELIS Rakyat Global Indonesia tengah menginisiasi rencana deklarasi sebagai upaya melahirkan dan mendorong perdamaian terkait kisruh di kawasan Natuna.

Majelis Rakyat Global Indonesia merupakan gabungan sejumlah organisasi masyarakat sipil. Menurut Yudi Syamhudi Suyuti, Koordinator Eksekutif Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional (JAKI) selaku salah satu inisiator deklarasi mendorong pemerintah China untuk tunduk pada hukum internasional.

“Kami meminta China menghormati kedaulatan laut negara-negara berdaulat yang telah ditetapkan melalui UNCLOS. Jika China tunduk pada hukum internasional, maka perdamaian akan dapat dicapai dengan kesepakatan-kesepakatan baru,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (31/1/2022).

Dia menuturkan, rencana deklarasi tersebut dilakukan guna mencegah potensi letupan perang di wilayah Indo Pasifik. Oleh karena itu, pihaknya telah menggalang berbagai organisasi sipil untuk terlibat.

Sejumlah organisasi yang siap bergabung di antaranya adalah Front Nelayan Indonesia (FNI), Front Pelaut Pelayar Nasional (FPPN), Front Kekuatan Rakyat Indonesia, ISMAHI, dan APDESI, serta Aliansi Aktivis Indonesia.

Yudi menjelaskan salah satu misi dari Deklarasi Majelis Rakyat Global Indonesia adalah membentuk Pakta Perdamaian Pasifik dengan menggalang sebanyak-banyak organisasi masyarakat sipil global dan bekerja sama dengan negara-negara di dunia.

Beberapa negara yang menjadi sasaran kerja sama, antara lain Amerika Serikat, Eropa, Inggris, Australia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, beserta negara-negara ASEAN lainnya termasuk negara-negara yang berada di wilayah perairan Pasifik. Atau negara-negara yang berkepentingan di wilayah Perairan Pasifik.

Menurutnya, dalam menyikapi persoalan politik kelautan di wilayah Pasifik tersebut, pihaknya sepakat untuk tidak lagi menggunakan nama Laut China Selatan.

“Untuk wilayah kelautan Indonesia, kami menyebut Laut Natuna Utara, sedang untuk internasional, kami menyebut perairan Indo Pasifik,” ungkapnya.

Yudi menjelaskan, pihaknya mencatat tiga persoalan berkaitan dengan konflik kelautan pasifik tersebut, yakni persoalan nasional, regional, dan global.

Ketiga persoalan tersebut, kata dia, menyangkut masalah kedaulatan lautan nasional Indonesia dan wilayah regional negara-negara yang telah ditetapkan oleh hukum kelautan internasional melalui UNCLOS.

Sebagai contoh, masalah kedaulatan nasional Indonesia yang telah ditetapkan UNCLOS 1982 sebagai hukum kelautan Nasional Indonesia dan pada 2016 terjadi perubahan nama dari Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara saat terjadinya Arbitrase Internasional di Den Haag.

“Akan tetapi justru saat ini wilayah kelautan yang disebut dunia global Laut China Selatan justru diklaim 90 persen wilayahnya sebagai wilayah Laut Yurisdiksi oleh China dengan didasari oleh hukum nasional mereka,” paparnya.

Yudi mengatakan di Laut Natuna Utara, China melarang Indonesia melakukan pemanfaatan sumber daya alam, seperti pengeboran minyak dan gas yang menjadi hak negara.

Kedaulatan RI di Natuna

Sementara itu, Direktur Indonesian Club yang juga Pendiri UNWCI (UN World Citizen Initiative) Indonesia Campaign, Harsta Mashirul, mendukung upaya perdamaian atas kisruh yang terjadi di Natuna.

Dia mengatakan posisi Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara di Samudra Pasifik masuk dalam arus konflik perairan Indo-Pasifik berhadapan dengan klaim sepihak Nine Dash Line oleh Republik Rakyat China.

Menurutnya, Indonesia adalah negara merdeka yang berdaulat yang ikut serta dalam mewujudkan dan menjunjung tinggi perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Sehingga politik luar negeri Indonesia, adalah bebas aktif untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka dalam penghapusan segala bentuk penjajahan diatas dunia,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong Indonesia memposisikan diri sebagai negara berdaulat yang bermartabat dan sejajar di antara negara-negara di dunia.

Dia mengatakan negara tetangga tidak boleh semena-mena wilayah kedaulatan Indonesia sebagai bagian dari wilayahnya. Hal tersebut juga berlaku pada seluruh wilayah kedaulatan perairan Indonesia.

“Dengan berpegang teguh pada mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, seluruh rakyat Indonesia wajib bergerak bersama-sama menjaga dan mempertahankan kedaulatan NKRI,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Hubungan Internasional dan Guru Besar Fakultas Hukum Indonesia, Hikmahanto Juwana, menuturkan pemerintah Indonesia harus memiliki keberpihakan untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara terkait persoalan di Natuna Utara.

Menurutnya, pemerintah dan juga para nelayan boleh mengabaikan klaim-klaim sepihak atas China yang mengaku-ngaku memiliki kawasan di Natuna yang secara data peta merupakan kawasan milik Indonesia.

“Seperti pada 2016, Presiden Jokowi pernah memerintahkan agar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dibanjiri oleh para nelayan Indonesia dan juga perbanyak pengeboran untuk produksi minyak,” ujarnya.

Dia menambahkan sikap China terkait klaim atas kepemilikan kawasan di Natuna Utara tak lain adalah persoalan ekonomi untuk menghidupi populasi penduduk China yang mencapai sekitar 1,4 miliar.

(*)

sumber: CNNIndonesia.com

Admin 31 Januari 2022 31 Januari 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Keluarga Menunggu Kedatangan Jenazah Korban Kapal Tenggelam di Malaysia
Artikel Selanjutnya Tahun 2022 Jadi Shio Macan Air, Ini Filosofi Shio Macan

APA YANG BARU?

Lahan Tiga Hektar Di Lagoi Hangus Dilalap Si Jago Merah
Artikel 8 jam lalu 124 disimak
Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
Situs Sejarah 10 jam lalu 163 disimak
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
Catatan Netizen 12 jam lalu 217 disimak
Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
Statistik 18 jam lalu 143 disimak
4 Penerbangan RHF Tanjungpinang Batal dan 469 Penumpang Terdampak
Artikel 18 jam lalu 194 disimak

POPULER PEKAN INI

Diduga Dampak Karhutla, Langit Batam Mulai Diselimuti Kabut Asap
Artikel 6 hari lalu 451 disimak
BMKG Batam: “Cuaca Kota Batam Awal Bulan September Cerah Berawan”
Artikel 5 hari lalu 347 disimak
Kantor Bea Cukai Batam Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Artikel 4 hari lalu 280 disimak
Akibat Sakit Hati, ART Baru 10 Hari Kerja Bunuh Majikan
Artikel 6 hari lalu 280 disimak
Dari Letnan Asworth ke Brandes; Inkripsi Prasasti Budha di Karimun
Histori 4 hari lalu 258 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?