Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Polisi Gencarkan Patroli Malam di Coastal Area
    5 jam lalu
    BPBD Tanjungpinang Imbau Warga Waspada Cuaca Hujan dan Kemunculan Buaya di Pesisir
    6 jam lalu
    Lakalantas Saat Hujan Deras, Seorang Pemotor Tewas Terjatuh dan Terlindas
    18 jam lalu
    Tumpukan Sampah di Botania Garden, DLH Batam Kekurangan Petugas
    18 jam lalu
    Dugaan Pencurian Meteran Air di Perumahan KDA Batam Kota
    19 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
    5 jam lalu
    10
    Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
    5 jam lalu
    Kepri Butuh 1.500 Guru Baru, Perekrutan Masih Dikaji Jelang Tahun Ajaran 2026
    6 jam lalu
    Nelayan Bintan Unjuk Rasa Tolak Sedimentasi Pasir Laut
    3 hari lalu
    Niat Baik, Jangan Sampai Bikin Bingung
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Kasu, Batam
    53 menit lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    2 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    2 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gesek; Kampung Pecinan di Masa Lalu

Editor Admin 3 tahun lalu 1.3k disimak
Ilustrasi, disediakan oleh GoWest.ID

DAHULU, penduduk kampung ini banyak yang berasal dari kalangan etnis Tionghoa. Mereka telah beranak-pinak di tanah Melayu sejak ratusan tahun lalu.

Daftar Isi
Asal Mula Nama GesekCerita Lain tentang Penamaan GesekGesek Masa Kini

Mereka datang secara bergelombang. Melansir dari laman kebudayaan Kemendikbud, orang-orang Tionghoa sengaja didatangkan dari Negeri Tirai Bambu ke pulau Bintan untuk mengurusi perkebunan dan mengolah gambir.

Saat itu gambir merupakan komoditas yang cukup besar. Terutama sebelum memasuki abad 20, Bintan dikenal sebagai penghasil gambir dengan kualitas bagus. Gambir olahan tersebut, diekspor ke Singapura hingga India sebagai bahan pewarna kain. Selain gambir komoditas lainnya adalah karet.

Pada paruh awal abad 20-an, banyak orang-orang Tionghoa mulai pindah ke kota-kota yang lebih ramai; Tanjungpinang atau Singapura.

Sebagian yang lain tetap tinggal di hutan-hutan; setia mengurusi gambir dan karet. Migrasi besar orang Tionghoa ke kota terjadi paska peristiwa Konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura pada dekade 2960-an. Pada saat itu gambir dan karet yang jumlahnya banyak, tidak bisa dijual ke Malaysia dan Singapura sehingga membuat mereka frustrasi secara ekonomi. Beberapa pihak bisa menjual dengan cara menyelundup dengan menggunakan perahu-perahu.

Asal Mula Nama Gesek

Gesek di wilayah kabupaten Bintan saat ini, disebut sudah menjadi kawasan tempat tinggal Pecinan sejak dulu. Bekas pemukiman Pecinan di sini, bisa dilihat dari banyaknya kedai-kedai kopi yang dikelola orang Tionghoa, juga keberadaan kelenteng/ topekong di bawah persimpangan Gesek.

Nama gesek, dinukil dari laman Kebudayaan Kemdikbud RI, berasal dari istilah yang sederhana; dua benda atau lebih yang bersentuhan secara berlawanan. Istilah gesek diambil dari sebuah aktivitas peng-gesek-kan kayu. Memotong kayu atau mengolah kayu pohon (logging) sehingga membentuk potongan-potongan bentuk papan atau yang lainnya.

Dulu, ada sebuah perusahaan pemotongan/pengolahan kayu yang dikerjakan secara manual. Perusahaan tersebut terletak di pinggir sungai di Batu 19 (KM 19), Bintan.

Menurut cerita, sungai tersebut dulunya digunakan warga untuk mengangkut kayu dengan cara menghanyutkannya di aliran sungainya atau diangkut dengan perahu-perahu besar yang dapat melintasi  sungai tersebut.

Dalam memotong atau membelah kayu gelondongan (logging) alat yang digunakan adalah gergaji tradisional yang membutuhkan dua orang untuk mengerjakannya.

Cara pemakaiannya, satu orang di atas dan satu orang lagi di bawah.

Atau satu orang di ujung gergaji kanan dan seorang lagi di ujung sebelah kiri: mereka saling mendorong dan menarik secara kompak. Aktivitas tersebut oleh warga sekitar disebut dengan menggesek.

Cerita Lain tentang Penamaan Gesek

Namun, pandangan orang yang menyebut nama Gesek berasal dari aktivitas pemotongan kayu, disangkal oleh beberapa orang yang lainnya. Menurut orang yang tidak sepakat dengan pendapat di atas, mengamini jika gesek berarti memotong, namun obyeknya bukan kayu, melainkan bagian tubuh manusia.

Kapan tepatnya peristiwa tersebut terjadi? Mungkin sekitar abad 18 atau 19 Masehi atau beberapa abad sebelumnya.

Saat itu banyak etnis Tionghoa yang menguasai lahan-lahan perkebunan yang ditanami gambir dan sebagian tanaman karet. Banyak orang Tionghoa didatangkan langsung dari negeri asalnya untuk mengurusi perkebunan gambir dan karet serta mengolahnya (mangsang). Hal ini karena melimpah dan banyaknya tanaman gambir dan karet yang harus dipelihara/diurusi.

Saat itu dapat dikata yang banyak bekerja adalah orang-orang Tionghoa; baik itu yang menjadi mandor maupun yang menjadi buruhnya. Banyak juga buruh-buruh berasal dari Jawa, Sumatera, dan daerah-daerah lainnya.

Sisi lain kehidupan para mandor atau orang Tionghoa kaya adalah bahwa mereka mempunyai samsing (bodyguard, tukang pukul, centeng, pendekar) yang bertugas untuk mengawal dan menjaga rumah dan harta benda tuannya.

Para samsing tersebut juga mengerjakan semua perintah majikannya, misalnya melenyapkan para buruh yang dianggap kurang ajar ataupun melakukan perlawanan terhadap majikannya.

Menurut cerita lisan, kebanyakan yang dilenyapkan adalah para pekerjanya. Karena alasan tertentu seorang pekerja dapat dengan mudah dibunuh oleh para samsing.

Cara melenyapkan nyawanya dengan cara lehernya digesek (dipotong). Dengan kata lain para samsing bertugas sebagai algojo. Kemudian tubuh orang-orang yang telah mati tersebut, dibuang ke sungai (sungai itu kini juga disebut sungai Gesek) sehingga airnya berwarna merah.

Dahulu, di kalangan mereka ada dua pilihan cara menghukum orang yang dianggap membangkang atau karena alasan tidak disenangi majikan, yaitu basah atau kering.

Cara hukuman yang kering adalah dengan potong leher, sedang cara basah dengan cara diceburkan ke dalam sumur yang cukup besar dan dalam. Menurut warga, sekarang sumur tersebut telah tiada akibat tertutupi oleh rimbun semak dan pohon-pohon.

Gesek Masa Kini

Gesek masa kini adalah sebuah kampung biasa dengan penduduk yang lebih heterogen.

“Sekarang Gesek hanya nama sebuah kampung di Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya. Dulu Gesek pernah menjadi tempat hunian yang cukup ramai dan berkembang”, tulis seorang peneliti Pertama BPNB Kepri, Jauhar Mubarok.

Gesek mungkin pernah menjadi pusat ekonomi besar melalui perkebunan gambir, karet dan perkayuan di masa silam. Atau, pernah jadi pangkalan Jepang saat membangun jalan raya ke Tanjunguban.

Kini, Gesek hanya sebuah kampung kecil. Meski terletak di persimpangan jalan yang strategis.

Kampung ini masuk dalam wilayah pemerintahan desa Toapaya Selatan, kecamatan Toapaya, kabupaten Bintan.

(nes)

Kaitan bintan, Gesek, histori, kepulauan riau, sejarah, tionghoa
Admin 23 September 2023 23 September 2023
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Sekolah
Artikel Selanjutnya LAM Kepri Keluarkan Maklumat Soal Masyarakat Melayu di Rempang dan Galang

APA YANG BARU?

Pulau Kasu, Batam
Wilayah 53 menit lalu 40 disimak
“Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
Histori 5 jam lalu 150 disimak
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
Catatan Netizen 5 jam lalu 134 disimak
Polisi Gencarkan Patroli Malam di Coastal Area
Artikel 5 jam lalu 124 disimak
BPBD Tanjungpinang Imbau Warga Waspada Cuaca Hujan dan Kemunculan Buaya di Pesisir
Artikel 6 jam lalu 137 disimak

POPULER PEKAN INI

FLS3N dan O2SN untuk Bakat Non-Akademik Siswa Digelar di Batam
Pendidikan 5 hari lalu 591 disimak
Niat Baik, Jangan Sampai Bikin Bingung
Catatan Netizen 3 hari lalu 496 disimak
5.120 Pelajar Batam Tampilkan Tari Zapin Massal
Pendidikan 5 hari lalu 485 disimak
Nelayan Bintan Unjuk Rasa Tolak Sedimentasi Pasir Laut
Lingkungan 3 hari lalu 483 disimak
Mendikdasmen Tinjau Pelaksanaan Digitalisasi Pendidikan dan MBG di Batam
Pendidikan 5 hari lalu 464 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?