Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Sekolah Negeri Bisa Tolak MBG
    19 jam lalu
    Batam Dominan Berawan, BMKG Imbau Waspada Asap Karhutla
    23 jam lalu
    Tim Gabungan Batam Tertibkan Delapan Bangunan Ilegal di Sagulung
    23 jam lalu
    Kualitas Udara Batam Membaik, Kasus ISPA Akibat Kabut Asap Turun Drastis 50 Persen
    24 jam lalu
    BP Batam Alokasikan Rp665,11 Miliar untuk Infrastruktur dari Pagu Rp2,44 Triliun di 2027
    24 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Assiamkang; Jejak Komunitas Teochew di Belantara Batam
    4 jam lalu
    143 Siswa SMAN 5 Tanjungpinang Ikut Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan
    20 jam lalu
    Grup Musik No Na Buka Era Album Island Girl Lewat Lagu Star
    20 jam lalu
    Langsing dengan Tiga Cara Nyantai: Murah, Tanpa Ribet, Tanpa Siksaan
    23 jam lalu
    Udara Membaik, Disdik Batam Kembalikan Aktifitas Pembelajaran Tatap Muka
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 hari lalu
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    2 minggu lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    2 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    2 minggu lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
VOA Indonesia

Jelas Langgar Etika dan Hukum, Joki Skripsi Makin Dianggap Wajar

Editor Admin 2 tahun lalu 727 disimak
Sejumlah wisudawan mengikuti upacara wisuda sekolah vokasi farmasi di Banda Aceh (foto: ilustrasi/ Chaidir Mahyuddin-AFP). Dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan maraknya kasus joki skripsi yang justru semakin dianggap wajar.Disediakan oleh GoWest.ID

SEPEKAN terakhir, topik joki skripsi ramai diperbincangkan di jagat maya usai seorang warganet mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui banyaknya orang yang menganggap wajar praktik tersebut. Kegagalan pendidikan karakter disebut pengamat jadi biang kerok normalisasi perjokian.


“Satu hal yang belakangan ini gue syok banget dan jujur baru tahu, itu betapa dinormalisasinya joki.”

Video ungkapan rasa frustrasi Abigail Limuria terhadap praktik joki skripsi yang disebutnya semakin dinormalisasi masyarakat telah disaksikan sedikitnya 10,9 juta kali di X yang sebelumnya bernama Twitter, TikTok dan Instagram, sejak diunggah pertengahan Juli lalu.

Abigail Limuria tidak menyangka video keluh-kesahnya mengenai joki skripsi yang semakin dinormalisasi mendapat perhatian dari banyak warganet (dok. pribadi).

“Jadi aku syok banget, ternyata mereka tuh yang pakai jasa joki atau yang kasih jasa joki nggak sadar bahwa itu salah, nipu, bohong,” ungkap Abigail saat dihubungi VOA, Rabu (24/7).

Ia terkejut melihat orang-orang yang terlibat dalam praktik joki secara terang-terangan menceritakan pengalaman mereka di media sosial. “Udah kayak bisnis normal aja,” kata salah satu pendiri platform kurasi berita berbahasa Inggris What Is Up Indonesia? (WIUI) itu.

Joki 🫦 pic.twitter.com/BmFRyOHBC9

— Abigail (@abigailimuriaa) July 20, 2024

Definisi joki menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya dan menerima imbalan uang.

“Apakah kita mau hidup di negara, di mana dokter-dokter kita, insinyur-insinyur kita yang bangun bangunan, pembuat kebijakan publik kita, semuanya tuh sebenarnya pakai joki? Kan nggak mau dong,” imbuh Abigail.

Para Pembela Joki

Dalam kolom komentar Abigail di TikTok, salah satu warganet menulis, “Ini cuma bisnis, ada permintaan, ya gue pasok. Motif dia pakai jasa gue [buat] apa, ya bukan ranah gue lagi.”

Pengguna TikTok lain mengatakan, “Emang Mbaknya mengerjakan murni 100% sendiri? Nggak dibantu teman? Nggak dibantu dosen? Nggak dibantu Google? Sama aja itu joki, bedanya ada yang bayar, ada yang gratis.”

Sementara itu, seorang warganet lain menanggapi, “Memang kenapa kalau joki? Joki itu kan penjual jasa aja, nggak ada bedanya sama penjual jasa lain,” yang kemudian direspons warganet lainnya, “Setuju, Kakak.”

VOA pada Selasa (23/7) menghubungi enam akun Instagram yang menawarkan jasa joki skripsi, yaitu @jokiskripsionline, @joki_skripsiku, @jokitugas.gazz, @pembimbingskripsi.id, @jokiskripsi.nya, dan @jokitugas_jogja, dengan akumulasi jumlah pengikut mencapai sedikitnya 103.100 akun, untuk memahami lebih jauh bisnis yang mereka jalankan. Hanya tiga yang menanggapi pesan VOA, meski tak satu pun yang bersedia diwawancara.

Jasa joki skripsi ditawarkan secara gamblang di media sosial, lengkap dengan tarif masing-masing paket pengerjaan (Rivan Dwiastono/VOA)

Akun @jokiskripsionline sempat mengatakan, “Kita kasih pendampingan lewat Zoom atau datang langsung ke rumah.” Setelah itu, admin akun tersebut tidak responsif. Akunnya tidak dapat ditemukan per hari Minggu (28/7).

Akun @jokitugas.gazz, yang poster “Melayani Joki Tugas Kedokteran”-nya ditampilkan Abigail untuk dikritisi di Instagram story-nya, sempat berinteraksi dengan VOA untuk menanyakan kritik yang disampaikan warganet terhadap jasa yang ditawarkannya, sebelum berhenti menanggapi pertanyaan VOA. Poster itu, serta beberapa postingan lain di akunnya, tidak dapat ditemukan lagi saat berita ini diturunkan.

Sementara akun @jokitugas_jogja langsung menolak diwawancara, “Maaf belum bisa ya.”

Sedangkan tiga akun lainnya sama sekali tidak menanggapi pesan VOA, dan salah satunya, @pembimbingskripsi.id, sudah tidak dapat ditemukan di Instagram saat berita ini terbit.

Tidak Berintegritas

Praktik joki tugas atau skripsi sudah menjadi rahasia umum, tapi dulu aksi itu masih kental dianggap aib, kata pemerhati sekaligus konsultan pendidikan Ina Liem.

“Paling nggak bedanya dulu itu orang yang pakai joki pasti malu, disembunyi-sembunyikan, karena tahu sebetulnya tidak berintegritas,” ungkap Ina kepada VOA melalui sambungan telepon (24/7).

Pembiaran dan kegagalan pendidikan karakter menjadi penyebab utama merajalelanya joki skripsi, katanya. Mental menerabas, di mana untuk mendapatkan sesuatu seseorang menggunakan jalan pintas, masih sering ia temukan, termasuk dalam praktik “jual-beli kursi” di sekolah favorit, tutur Ina. Keterpaparan secara terus-menerus terhadap praktik curang dapat membuat aksi culas lama-kelamaan terasa lumrah.

Instagram menjadi tempat para joki tugas dan skripsi memasarkan jasa mereka. Dengan kata kunci “joki skripsi”, berbagai akun joki langsung bermunculan. (Rivan Dwiastono/VOA)

Selain itu, sistem pendidikan yang berorientasi pada capaian nilai alih-alih penguasaan ilmu turut memperburuk masalah.

“Pada prinsipnya kan di dunia kerja itu pemberi kerja tidak peduli apa yang kamu ketahui, mereka hanya peduli pada apa yang bisa kamu lakukan. Jadi, percuma hanya nilainya tinggi, tapi begitu diterapkan di dunia kerja dia nggak paham,” lanjut Ina.

Skripsi atau tugas akhir pada esensinya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk membuktikan kompetensinya atas bidang yang ia tekuni, dengan mendesmonstrasikan kecakapan menganalisis masalah, menguji teori yang dipelajari, berpikir kreatif, hingga menyusun dan mengomunikasikan gagasan serta solusi, kata pakar pendidikan Totok Soefijanto.

“Nilai yang lebih penting menurut saya adalah etos untuk menghargai kerja keras dan kejujuran, itu sebenarnya,” ungkap Totok kepada VOA, Jumat (26/7). “Kalau nilai kejujuran ini diterabas, misalnya dengan joki tadi, itu kan seperti dia tidak menampilkan dirinya sesuai dengan apa yang ada, kan? […] Memalsukan kompetensi dirinya, memalsukan kemampuan dirinya.”

Langgar Etika dan Hukum

Abigail “mencolek” akun X Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi setelah videonya viral. Akun @Kemdikbud_RI pun lantas membalasnya dengan menyatakan bahwa “Civitas academica dilarang menggunakan joki (jasa orang lain) untuk menyelesaikan tugas dan karya ilmiah karena melanggar etika dan hukum.”

Kementerian mengatakan, penggunaan joki tergolong sebagai plagiarisme, yang dilarang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketika plagiarisme dilakukan untuk memperoleh gelar akademik, selain pencabutan gelar, pengguna jasa joki juga terancam pidana penjara paling lama dua tahun dan atau denda paling banyak Rp200 juta.

Halo, Kak. Civitas academica dilarang menggunakan joki (jasa orang lain) untuk menyelesaikan tugas dan karya ilmiah karena melanggar etika dan hukum. Hal tersebut merupakan bentuk plagiarisme yang dilarang dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (1/2)

— #MerdekaBelajar (@Kemdikbud_RI) July 23, 2024

“Civitas academica harus menggunakan daya kemampuannya sendiri dalam menunjukkan kapasitas akademiknya,” lanjut akun Kemdikbudristek pada postingan berikutnya. “Bagi warganet yang menemukan praktik plagiarisme/kecurangan akademik, laporkan ke ult.kemdikbud.go.id atau posko-pengaduan.itjen.kemdikbud.go.id @Itjen_Kemdikbud.”

Akun itu menambahkan bahwa beberapa laporan dan aduan terkait praktik perjokian sudah ditangani dan sedang diselidiki Inspektorat Jenderal Kemdikbudristek.

Sementara itu, dalam artikel HukumOnline Februari lalu, pakar pidana Universitas Brawijaya Fachrizal Afandi menyebut pemberi jasa joki skripsi dapat dijerat Pasal 263 KUHP lama tentang pemalsuan surat, atau Pasal 391 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP baru yang mulai berlaku tahun 2026, karena skripsi dianggap sebagai surat yang memiliki nilai dan menimbulkan hak baru.

Opsi Selain Skripsi

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktiristek Sri Suning Kusumawardani mengatakan fenomena joki skripsi harus dicegah dan tidak dinormalisasi.

“Kita perlu kembali kepada asas penyelenggaraan pendidikan tinggi yang ada pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, bahwa pendidikan tinggi berasaskan kebenaran ilmiah, penalaran, kejujuran, keadilan, manfaat, kebajikan, tanggung jawab, kebhinekaan dan keterjangkauan,” ungkap Sri kepada VOA, Sabtu (27/7).

Selain memperkuat penghayatan integritas akademik dalam proses pembelajaran, bentuk evaluasi belajar selain skripsi juga disarankan, kata Sri. Hal itu sesuai dengan Pasal 18 Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 53 Tahun 2023, yang berbunyi, “(a) pemberian tugas akhir yang dapat berbentuk skripsi, prototipe, proyek, atau bentuk tugas akhir lainnya yang sejenis baik secara individu maupun berkelompok; atau (b) penerapan kurikulum berbasis proyek atau bentuk pembelajaran lainnya yang sejenis dan asesmen yang dapat menunjukkan ketercapaian kompetensi lulusan.”

“Kita perlu menguatkan inovasi terhadap tugas akhir dan metode asesmennya,” tambah Sri.

Totok Soefijanto, rektor Akademi Televisi Indonesia yang mengantongi gelar doktor dalam bidang pendidikan dari Boston University, berpandangan serupa. Menurutnya, seiring perkembangan teknologi, mahasiswa mengalami pergeseran karakteristik, seperti pola pikir yang tidak lagi linear, daya konsentrasi yang semakin singkat, sehingga penyesuaian pola pembelajaran seharusnya dilakukan pendidik, bukan pelajar. Harapannya, mahasiswa lebih siap menjalani proses evaluasi belajar apa pun bentuknya.

“Jadi, dari sisi akademia, saya pikir adalah para dosen, profesor itu perlu unlearn dan relearn. Jadi, unlearn praktik-praktik lama, dibuang, nggak belajar itu lagi, tapi relearn, atau [pelajari] nilai-nilai baru, cara-cara baru, teknologi baru, untuk mendeteksi ataupun mengukur kompetensi anak didik,” ungkap Toto.

Sementara langkah-langkah itu dijalankan, Abigail meminta semua pihak agar tidak ragu menegur orang-orang yang terlibat dalam perjokian.

“Soalnya, menurut aku, ketika orang-orang yang waras diam dan ‘ya udah deh,’ itu tuh yang menyebabkan praktik ini jadi semakin dianggap wajar,” pungkasnya. 

[rd/ab]

Kaitan Joki, mahasiswa, perguruan tinggi, Skripsi
Admin 30 Juli 2024 30 Juli 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Semester 1 Tahun 2024, Kunjungan Kapal Barang di Pelabuhan Batam Meningkat 14%
Artikel Selanjutnya “Deadpool & Wolverine” Pecahkan Rekor Box Office Minggu Pertama

APA YANG BARU?

Assiamkang; Jejak Komunitas Teochew di Belantara Batam
Histori 4 jam lalu 109 disimak
Sekolah Negeri Bisa Tolak MBG
Artikel 19 jam lalu 151 disimak
143 Siswa SMAN 5 Tanjungpinang Ikut Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan
Pendidikan 20 jam lalu 135 disimak
Grup Musik No Na Buka Era Album Island Girl Lewat Lagu Star
Ragam 20 jam lalu 133 disimak
Langsing dengan Tiga Cara Nyantai: Murah, Tanpa Ribet, Tanpa Siksaan
Catatan Netizen 23 jam lalu 161 disimak

POPULER PEKAN INI

Kabut Asap Selimuti Wilayah Batam, Disdik Berlakukan Belajar Dari Rumah
Pendidikan 5 hari lalu 449 disimak
Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Lingkungan 6 hari lalu 403 disimak
Dua Warga Dilaporkan Meninggal Dalam Bentrokan di Setokok
Artikel 6 hari lalu 348 disimak
Jeritan Hati dan Ketidakpastian 1.025 Buruh PT Ghim Li Batam
In Depth 4 hari lalu 343 disimak
Siswa Tanjungpinang Dialihkan Belajar Daring hingga 18 September 2026
Pendidikan 6 hari lalu 337 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?