Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Bakrie Group Tertarik Berinvestasi di Batam
    11 jam lalu
    Timbul Kekhawatiran Pencemaran Laut Terjadi Akibat Tenggelamnya Kapal MV Golden Star 1
    17 jam lalu
    Prakiraan Cuaca Batam, Selasa dan Rabu Waspadai Hujan dan Petir
    19 jam lalu
    Ombudsman Kepri:”Batam Perlu Jalur Khusus Busway”
    1 hari lalu
    Anggaran Belum Turun, Puluhan Dapur SPPG di Batam Hentikan Operasional
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Piala Dunia 2026, Berikut Jadwal Lengkap Babak Penyisihan Grup
    15 jam lalu
    Tiket Semifinal Dramatis: Eksekusi Penalti Evandra Florasta Singkirkan Vietnam
    2 hari lalu
    Bagaimana Kota Pesisir Pengaruhi Kesehatan Terumbu Karang: Kisah dari Batam dan Natuna
    2 hari lalu
    Anakronisme Gambar Raja Ali Haji
    3 hari lalu
    Bungkam Timor Leste 0-3, Garuda Muda Buka Peluang ke Semifinal
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
    2 jam lalu
    Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
    3 hari lalu
    Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
    3 hari lalu
    Data, Kuota dan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam
    4 hari lalu
    Raja Haji Ali (Tengku Selat)
    5 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
VOA Indonesia

Menkes: Kasus Cacar Monyet Varian 1B Belum Terdeteksi di Indonesia

Editor Admin 2 tahun lalu 505 disimak
Seorang penumpang berjalan melewati spanduk yang menginformasikan tentang Cacar Monyet (MPOX) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, 26 Agustus 2024. (YASUYOSHI CHIBA / AFP)Disediakan oleh GoWest.ID

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejauh ini kasus cacar monyet (monkey pox/mpox) yang terdeteksi di Indonesia adalah varian 2B; dan Indonesia tidak akan menutup pintu bagi pendatang.


MENTERI Kesehatan Budi Gunadi menjelaskan, varian baru cacar monyet yang menyebabkan WHO menaikkan status penyakit tersebut menjadi public health emergency of international concern adalah varian baru yang disebut varian 1B, yang memiliki tingkat fatalitas 10 persen. Sedangkan tingkat fatalitas untuk varian 2B mencapai 0,1 persen.

“Varian 1B ini belum menyebar ke mana-mana kecuali dua negara yaitu Swedia dan Thailand yang lainnya di Afrika. Kenapa? Karena mereka juga datang dari Afrika,” ungkap Menkes Budi, usai mengikuti Rapat Terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/8).

Masyarakat diminta Budi untuk selalu waspada, namun juga tidak panik. Mengingat penularan cacar monyet ini tidak semudah COVID-19. Penularan cacar monyet ini katanya 95 persen disebabkan oleh kontak seksual dan umumnya terjadi di kelompok tertentu saja.

Untuk kondisi dan situasi di tanah air sendiri, cacar monyet sudah mulai terdeteksi sejak tahun 2022. Hingga 2024, kata Budi sudah terdeteksi sebanyak 88 kasus dengan varian 2B yang terdapat di Pulau Jawa dan Kepulauan Riau.

“Tapi paling banyak terjadi di tahun 2023 ada sekitar 73 kasus. Di tahun 2024 sendiri itu ada 14 kasus yang kita sudah konfirmasi positif dari awal tahun. Daerahnya semuanya di Jawa plus Kepulauan Riau. Tapi sejak WHO menaikkan kembali statusnya di Agustus 2024, kita ada 11 suspect tapi semuanya negatif. Jadi sesudah di tes PCR, negatif. Dari 88 kasus ini 100 persen sembuh, karena 100 persen mereka adalah variannya 2B, kita sudah genome sequencing semuanya,” jelasnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah akan meningkatkan surveilance d iberbagai pintu masuk di Indonesia untuk mencegah penyebaran cacar monyet dari luar negeri. (Biro Setpres)

Khusus untuk tahun ini, pemerintah akan mendatangkan 1.600 dosis vaksin cacar monyet yang didatangkan dari Denmark. Tidak seperti vaksin COVID-19, vaksin cacar monyet memang tidak diperuntukkan bagi masyarakat umum, namun bagi kelompok yang berisiko tinggi dan membutuhkannya seperti petugas laboratorium, petugas kesehatan dan lain-lain.

“Memang vaksin ini bukan untuk masyarakat umum, karena penularannya bukan seperti ini (lewat udara) penularannya benar-benar harus ada kontak seksual 95 persen, sama seperti HIV/AIDS. Dan saya rasa tidak akan sebanyak COVID-19 karena penularannya harus ada kontak fisik. Semua yang kita temukan, di Indonesia itu disebabkan adanya kontak fisik,” tuturnya.

Pemerintah pun, katanya belum berencana melakukan pembatasan pengunjung dari negara tertentu meskipun varian 1B sudah menyebar ke Swedia dan Thailand.

“Tidak ada (pembatasan), karena memang WHO juga tidak menganjurkan adanya diskriminasi dari orang-orang yang datang, dan benar pengalaman kita kalau ditutup masuknya bisa dari titik lain juga. Lebih baik adalah surveilansnya ditingkatkan saja,” tambahnya.

Sementara itu, Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengungkapkan berkembangnya penyakit cacar monyet dari endemik di Afrika menjadi epidemi disebabkan adanya pengabaian terutama dari negara maju yang seakan tidak terlalu peduli dengan penyakit tersebut. Menurutnya, hal ini harus dijadikan pelajaran oleh semua pihak.

Meski begitu, Dicky meyakini sampai saat ini potensi cacar monyet untuk bisa menjadi pandemi sangat kecil kemungkinannya.

“Tentu, kalau bicara potensi pandemi kecil karena apa? Karena ini bukan penyakit baru, vaksin pun yang efektif ada dan penularannya tidak mudah, harus ada kontak erat langsung. Berbeda dengan COVID-19 yang umumnya kalau bicara pandemi sebetulnya dalam sejarahnya kalau pandemi selain penyakitnya baru, ditularkan juga cenderung utamanya melalui udara. Selain itu ada juga yang lewat air, seperti kolera yang menjadi wabah besar,” ungkap Dicky.

Mengingat pergerakan masyarakat secara global sudah sangat masif, masuknya varian cacar monyet 1B ini tinggal menunggu waktu saja. Maka dari itu, pemerintah menurut Dicky harus melakukan berbagai langkah penting untuk mengantisipasi ini seperti menyiapkan alat deteksi, diagnosis serta penangannya dengan baik dan meresponnya dengan cepat agar tidak mudah menyebar di tanah air dan menjadi ancaman bagi kelompok yang paling rawan seperti anak dan ibu hamil.

“Meningkatkan deteksinya, meningkatkan penguatan di pintu masuk, tidak harus ditutup, tetapi juga skriningnya terutama untuk orang-orang yang datang dari negara terdampak dan tentu ini juga harus ditingkatkan dengan penguatan sistem deteksi di dalam negeri terutama pada kelompok yang masuk ke dalam kategori berisiko tinggi seperti laki-laki suka laki-laki, dan penjual dan pembeli seks termasuk ya. Supaya ini bisa menjangkau mereka sehingga tidak makin meluas dan penerapan strategi vaksinasi cincin ini juga penting,” tutupnya. 

[gi/ka]

Kaitan kepri, Mpox, singapura, virus
Admin 28 Agustus 2024 28 Agustus 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Menjawab Mengapa Amerika Serikat Hanya Punya Dua Partai Politik
Artikel Selanjutnya Kelompok Hak Asasi Minta Polisi Bebaskan Lebih 200 Demonstran Tolak Revisi UU Pilkada

APA YANG BARU?

Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
Statistik 2 jam lalu 84 disimak
Bakrie Group Tertarik Berinvestasi di Batam
Artikel 11 jam lalu 105 disimak
Piala Dunia 2026, Berikut Jadwal Lengkap Babak Penyisihan Grup
Sports 15 jam lalu 215 disimak
Timbul Kekhawatiran Pencemaran Laut Terjadi Akibat Tenggelamnya Kapal MV Golden Star 1
Artikel 17 jam lalu 175 disimak
Prakiraan Cuaca Batam, Selasa dan Rabu Waspadai Hujan dan Petir
Artikel 19 jam lalu 209 disimak

POPULER PEKAN INI

8Th Anniversary CAF Batam, Ceria Dalam Pesona Nusantara
Artikel 6 hari lalu 1.1k disimak
Disdukcapil Batam Sederhanakan Layanan, Perubahan Data Bisa di Kecamatan
Artikel 6 hari lalu 699 disimak
USD Terus Menguat Terhadap Rupiah, Picu Kekhawatiran Pengusaha Batam
Artikel 5 hari lalu 680 disimak
Pendidikan Keselamatan Berlalu Lintas untuk Siswa SD/ SMP Negeri di Batam
Pendidikan 5 hari lalu 637 disimak
Ada Posko di Tiap Sekolah untuk Bantu Pendaftaran SPMB Batam
Pendidikan 6 hari lalu 630 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?