Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pencurian Listrik untuk Penambangan Bitcoin di Tanjungpinang: Denda Dibebankan ke Pemilik Ruko
    4 jam lalu
    Pemerintah Ringankan Iuran BPU: Perluas Perlindungan JKK dan JKM
    4 jam lalu
    Produksi Sampah Capai 1.300 Ton Per Hari, Pemko Batam Janjikan Perbaikan Tata Kelola
    5 jam lalu
    Anggota DPR RI Randi Zulmariadi, Jaring Aspirasi di RW 20 Cipta Permata Sadai
    11 jam lalu
    Ditemukan Mayat Pria Tergantung di Bengkong Garama
    12 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Edukasi Tertib Berlalulintas Sejak Dini untuk Guru PAUD dan SD di Batam
    14 jam lalu
    Kemdiktisaintek Siapkan Penutupan Prodi yang Tak Relevan dengan 8 Industri Strategis
    14 jam lalu
    Italia Menolak Mentah-mentah Gagasan Pengganti Iran di Piala Dunia 2026
    3 hari lalu
    Komisi X DPR RI Minta Pemerintah Benahi Status Guru Honorer di Kab. Karimun
    4 hari lalu
    Peringati Hari Bumi, Satgas Gema Batam ASRI Lakukan Penghijauan di Tg Banon
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Pecong, Batam
    6 hari lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    2 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    3 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Agent Orange, Sisa Kebrutalan Senjata Biologis AS Di Vietnam

Editor Admin 5 tahun lalu 4.8k disimak

PADA hari ini di tahun 1962, militer AS memulai kampanye perang kimia selama 11 tahun melawan rakyat Vietnam dan Laos, menjatuhkan 19 juta galon Agen Orange ke lebih dari 20% dari kedua negara, meracuni setidaknya 3 juta orang.

Laman history.com bahkan menyebut 4,5 juta galon dan berlangsung sejak 1961. Tindakan ini menyebabkan lebih dari satu juta warga Vietnam cacat lahir.

On this day in 1962, the US military began its 11-year chemical warfare campaign against the people of Vietnam and Laos, dropping 19 million gallons of Agent Orange over 20% of both countries, poisoning at least 3 million people and causing over a million birth defects. pic.twitter.com/rEDskf52sI

— American Values (@Americas_Crimes) January 13, 2021

Gajah di seberang lautan tampak jelas ekornya. Namun kuman di pelupuk mata seakan tak terlihat sama sekali. Ungkapan itu tentu pas betul buat disandang pemerintah Amerika Serikat.

Negara Adidaya tersebut sibuk menuding sejumlah negara telah memproduksi senjata kimia dan biologi sebagai alat pemusnah massal. Termasuk terhadap Irak, yang akhirnya berhasil diduduki pasukan koalisi bersama para sekutu.

Padahal, bukan cuma Negeri 1001 Malam yang bersemangat memproduksi teknologi pencabut nyawa tersebut.

Selama Perang Vietnam, Amerika dilaporkan telah menggunakan sedikitnya tujuh juta liter senyawa kimia, yang dikenal dengan nama Agent Orange.

“Bagaimana mungkin Amerika mengklaim ingin melucuti senjata pemusnah massal Irak dengan menggelar perang, sementara mereka sendiri jelas-jelas menggunakannya dalam Perang Vietnam?” tutur Ketua Palang Merah Vietnam Nguyen Trong Nhan, mempertanyakan kembali kebijakan yang ditempuh Negeri Paman Sam di Hanoi pada 2003 silam, dikutip dari Liputan6.

Foto : © climateandcapitalism.com

Menurut Nhan saat itu, dampaknya terlihat jelas terhadap ribuan anak di Vietnam yang terlahir cacat dan tersebar di sejumlah rumah sakit di Kota Hanoi dan Kota Ho Chi Minh.

“Seorang kriminal [dalam kasus ini pemerintah Amerika] tentu tidak mudah mengakui perbuatannya. Karena itulah, masyarakat dunia akan mengutuk semua tindakannya,” kata Nhan, geram.

Kemarahan Nhan amat berdasar dan tak berjalan sendirian. 

Contohnya, bersamaan dengan agresi Amerika ke Irak, Universitas Columbia di New York malah mempublikasikan hasil analisa ulang terhadap catatan militer selama masa Perang Vietnam berlangsung (1961-1975).

Laporan itu membeberkan bahwa sedikitnya, militer Amerika sudah menggunakan tujuh juta liter senyawa kimia bernama Agent Orange. Senyawa kimia tersebut mempunyai kekuatan dua kali lebih berbahaya dari racun karsinogen. Akibat yang dihasilkan, sedikitnya 10 ribu bayi terlahir cacat, dan menjadi beban hidup dari generasi ke generasi. 

“Prioritas Amerika seharusnya bukan melucuti senjata pemusnah massal Irak, tapi justru harus menolong korban senjata kimia Agent Orange yang mereka ciptakan selama Perang Vietnam,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Phan Thuy Thanh.

Harapan pemerintah Vietnam yang dilontarkan Thanh patut disimak betul oleh para petinggi Amerika. Sebab selama invasi Amerika, pemerintah Vietnam memperkirakan sebanyak dua juta warganya telah menjadi korban penggunaan senjata kimia tersebut. 

Kala itu, pasukan Amerika memakai Agent Orange untuk menyemprot makanan dan mengasapi hutan-hutan yang diduga menjadi tempat persembunyian tentara Vietnam, dengan menggunakan “Patches”, pesawat angkatan udara Amerika jenis C-123.

Foto : © nationalinterest.org

Penggunaan Agent Orange dimulai sejak 1961 dan dihentikan pada 1971 lantaran diketahui kemudian mengandung kimia berbahaya dioxin karsinogen, zat pemicu kanker, kelainan saraf, dan mempengaruhi fungsi reproduksi.

Pada 1984, sebenarnya Amerika pernah menyetor dana sebesar US$ 180 juta untuk para korban. Namun sepuluh tahun kemudian, pemerintah Amerika di Washington D.C. memutuskan buat menghentikan bantuan kompensasi ini.

Padahal, generasi baru korban kebiadaban senjata jenis herbisida tersebut terus lahir di Vietnam.

Menurut hasil analisa Universitas Colombia tadi, nama senyawa kimia mematikan tersebut diambil dari garis kemasan zat kimia yang berwarna oranye. Senjata yang dibuat perusahaan Amerika Dow Chemical Company dan Monsanto Company ini mampu menyebabkan penyakit leukimia maupun kanker bagi para korban dan keturunannya di kemudian hari.

Agent Orange

AGENT Orange adalah kode untuk herbisida yang acap digunakan di kawasan beriklim tropis. Senyawa kimia tersebut terdiri dari campuran seimbang antara zat kimia yang diketahui berstruktur 2,4,D dan 2,4,5,T.

Selain dioxin, kontaminasi yang dihasilkan dari senyawa tersebut adalah TCDD, yang mengandung dibenzofurans dan pcb. Berdasarkan uji penelitian di laboratorium, TCDD mengakibatkan beragam penyakit, dan beberapa di antaranya berdampak fatal.

Namanya dari tong-tong bergaris-garis oranye berukuran 55 galon AS, tempat pengirimannya, kira-kira adalah campuran 1:1 dari dua herbisida fenoksi dalam bentuk ester, 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan 2,4,5-trichlorophenoxyacetic acid (2,4,5-T).

Ilustrasi, © lawelderlaw

Kedua herbisida ini dikembangkan pada tahun 1940-an oleh tim-tim independen di Inggris dan Amerika Serikat untuk mengendalikan tanaman-tanaman berdaun lebar.

Agen fenoksi bekerja dengan meniru hormon pertumbuhan tanaman, indoleacetic acid (IAA). Bila disemprotkan kepada tanaman-tanaman berdaun lebar, mereka merangsang pertumbuhan yang cepat dan tidak terkendali dan akhirnya merontokkan daun-daunnya. Bila disemprotkan pada tanaman-tanaman seperti gandum atau jagung, ia secara selektif akan mematikan hanya tanaman-tanaman yang berdaun lebar di ladang – ilalang – dan membiarkan tanaman lainnya relatif tidak terpengaruh.

Herbisida ini pertama kali diperkenalkan pada 1946 dan dipergunakan secara luas dalam pertanian pada pertengahan 1950-an dan pertama kali diperkenalkan di lading-ladang pertanian di Aguadilla, Puerto Rico.

Pada saat Agen Oranye dijual kepada pemerintah AS untuk digunakan di Vietnam, memo-memo intern pabrik-pabriknya mengungkapkan bahwa telah diketahui bahwa dioxin, 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-para-dioxin (TCDD), diproduksi sebagai produk sampingan dari pembuatan 2,4,5-T, dan karena itu terdapat dalam herbisida manapun yang menggunakannya. 

Program Toksikologi Nasional telah menggolongkan TCDD sebagai zat karsinogen (penyebab kanker) bagi manusia, yang sering kali dihubungkan dengan sarkoma jaringan lunak, limfoma non-Hodgkin, penyakit Hodgkin dan leukemia limfositis kronis (LLK). Sejak itu 2,4,5-T telah dilarang dipergunakan di AS maupun di banyak negara lainnya.

Meskipun herbisida 2,4-D tidak mengandung dioxin, dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan hidup belum secara tuntas dipelajari, dan tetap merupakan salah satu jenis herbisida yang paling luas dipergunakan di dunia sekarang.

Le Thi Mit bersama suaminya Nguyen Van Loc dan anak mereka Nguyen Van Truong di depan rumah mereka di Cam Nghia, provinsi Quang Tri. Photo © oleh Sonya Schoenberger via The Diplomat

Penyakit-penyakit yang dikaitkan dengan paparan dioxin – tidak harus dengan Agen Oranye, adalah sejenis jerawat yang disebut chloracne, sarkoma jaringan lembut, limfoma Hodgkin, dan limfoma non-Hodgkin. Juga telah ditemukan kaitannya dengan diabetes, menurut suatu penelitian oleh Institut kedokteran.

Penyakit-penyakit dengan bukti-bukti terbatas tentang hubungannya dengan Agen Oranye adalah kanker saluran napas, kanker prostat, myeloma ganda, Porphyria cutanea tarda (sejenis penyakit kulit), acute dan subacute transient peripheral neuropathy, spina bifida, diabetes tipe 2, dan leukemia myelogenous akut yang tedapat hanya dalam generasi kedua atau ketiga.

Diseases with inadequate or insufficient evidence of an association are hepatobiliary kankers, nasal or nasopharyngeal kankers, kanker ulang, kanker alat reproduksi perempuan, kanker ginjal, kanker testis, leukemia, aborsi spontan, cacat kelahiran, kematian neonatal atau bayi dan stillbirths, berat badan rendah di waktu lahir, kanker di masa kanak-kanak, parameter sperma yang abnormal, gangguan neuro-psikiatris kognitif, ataxia, gangguan sistem saraf periferi, gangguan peredaran, gangguan pernapasan, kanker kulit, kanker saluran kencing dan kandung kencing.

Penyakit-penyakit dengan bukt-bukti terbatas atau sugestif tentang tidak adanya hubungannya adalah tumor jaringan perut seperti kanker perut, kanker pankreas, kanker usus, dan kanker dubur, dan tumor otak.

(*)

Sumber : American Values / History / Liputan6

Kaitan Agen Oren, Amerika Serikat, histori, Laos, Senjata kimia, top, vietnam
Admin 13 Januari 2021 13 Januari 2021
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Reaksi Yang Mungkin Terjadi Usai Vaksinasi Covid-19
Artikel Selanjutnya Resmikan Lima Unit Pelayanan Baru | RSBP Batam Jadi Percontohan KEK Kesehatan

APA YANG BARU?

Pencurian Listrik untuk Penambangan Bitcoin di Tanjungpinang: Denda Dibebankan ke Pemilik Ruko
Artikel 4 jam lalu 135 disimak
Pemerintah Ringankan Iuran BPU: Perluas Perlindungan JKK dan JKM
Artikel 4 jam lalu 120 disimak
Produksi Sampah Capai 1.300 Ton Per Hari, Pemko Batam Janjikan Perbaikan Tata Kelola
Artikel 5 jam lalu 121 disimak
Anggota DPR RI Randi Zulmariadi, Jaring Aspirasi di RW 20 Cipta Permata Sadai
Artikel 11 jam lalu 139 disimak
Ditemukan Mayat Pria Tergantung di Bengkong Garama
Artikel 12 jam lalu 186 disimak

POPULER PEKAN INI

Peringati Hari Bumi, Satgas Gema Batam ASRI Lakukan Penghijauan di Tg Banon
Lingkungan 6 hari lalu 686 disimak
Mayat Pria Ditemukan Dalam Kolam Bekas Galian di Kawasan Imperium
Artikel 6 hari lalu 664 disimak
TBM Kepulauan Riau Lolos Kurasi Nasional
Budaya 6 hari lalu 620 disimak
Ditjen Imigrasi Amankan WNA Asal Tiongkok di Proyek Opus Bay Marina City
Artikel 6 hari lalu 578 disimak
Bersih Pantai dan Laut Dalam Rangka Hari Bumi di Nirwana Gardens Bintan
Lingkungan 6 hari lalu 569 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?