Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Lajur Prioritas Trans Batam Diterapkan Bertahap, Mulai Batam Center
    5 jam lalu
    Cegah Aset Kabur, Buruh PT Ghim Li Batam Bersiaga 24 Jam di Depan Pabrik
    5 jam lalu
    Hujan Ringan Diprakirakan Basahi Batam Siang Hingga Sore
    5 jam lalu
    Lion Air Jakarta-Pekanbaru Dialihkan ke Batam
    5 jam lalu
    Kendala Data Hambat Penelusuran Lima Warga Batam di Penampungan Kamboja
    5 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kebakaran Lahan Berulang di Desa Sebong Pereh; Diduga Sengaja Dibakar
    2 hari lalu
    Ekspedisi Dokumentasi Prasasti Pasir Panjang 1955
    6 hari lalu
    “Absensi Digital Langsung ke WhatsApp Orang Tua’
    6 hari lalu
    Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
    1 minggu lalu
    Dari Letnan Asworth ke Brandes; Inkripsi Prasasti Budha di Karimun
    2 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    5 hari lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    1 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    1 minggu lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    1 minggu lalu
    Gunung Kijang, Bintan
    1 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Benarkah Corona Makin Parah di Negara Yang Dipimpin Populis Kanan ?

Editor Redaksi 6 tahun lalu 1k disimak

BEBERAPA negara yang dipimpin populis kanan gagal menangani krisis kesehatan selama pandemi COVID-19. Mereka adalah pemimpin yang cenderung mengabaikan sains.

Dikutip dari laman tirto.id, hingga Agustus 2020, jumlah kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 800 ribu jiwa. Angkanya belum menunjukkan tanda penurunan.

Negara besar seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris berada di urutan atas memimpin jumlah korban jiwa terbanyak.

Hal ini menjadi pembahasan hangat di kalangan ilmuwan politik ketika mendapati bahwa negara-negara tersebut punya satu kesamaan yaitu dinakhodai oleh pemimpin populis kanan.

Amerika Serikat adalah negara dengan jumlah kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia yang mencapai hampir 180 ribu jiwa. Kendati demikian, Donald Trump masih saja tak menunjukkan gelagat serius menyikapi COVID-19.

Pada 11 Juli 2020 untuk pertama kalinya Trump tampil dengan mengenakan masker berwarna biru tua ketika mengunjungi Walter Reed Medical Center di Bethesda, Maryland.

Sebelumnya ia enggan memakai masker yang tampaknya terkait dengan keyakinan bahwa menggunakan masker adalah tanda kekalahannya dengan virus.

Selama hampir dua bulan pertama pandemi, Trump menyepelekan bahwa virus akan hilang sendiri dengan keajaiban. Tentu saja omongannya tak pernah terbukti dan jumlah kasus positif serta kematian warga AS terus meroket sampai sekarang.

Sambil kerap memunggungi para ahli, ia memfasilitasi penyebaran kabar bohong seputar COVID-19, alih-alih bekerja dengan otoritas negara untuk menyelesaikan krisis.

Di Brasil, Jair Bolsonaro memilih memecat menteri kesehatannya yang kerap vokal menganjurkan warga untuk tinggal di rumah guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19 serta berulang kali mempertanyakan saran dari para ilmuwan.

Ia menganggap COVID-19 sekadar flu biasa dan hanya fantasi. Media Brasil yang menyoroti krisis corona dituduh cuma akal-akalan untuk melengserkannya.

Ketika massa berdemonstrasi menentang lockdown, Bolsonaro ikut bergabung dan, sama seperti Trump, ia tak suka memakai masker.

Dari total 27 gubernur di Brasil, 25 di antaranya menandatangani surat bersama menuntut Bolsonaro untuk mengambil kebijakan konkret menangani pandemi, tetapi mereka malah dituduh sebagai pemusnah lapangan pekerjaan. Kini jumlah kematian akibat COVID-19 mencapai lebih dari 91 ribu jiwa.

Ketika Eropa dihantam COVID-19 dan sejumlah negara melakukan karantina atau tindakan pencegahan lainnya, Boris Johnson memilih tetap bersantai dan tidak mengambil tindakan preventif.

Hasilnya sesuai dengan apa yang dikhawatirkan para ahli: Inggris mengalami jumlah kematian tertinggi di Eropa dengan lebih dari 36 ribu jiwa dan kerap masuk lima besar dunia. Hanya baru-baru ini saja Johnson lebih mawas diri ketimbang dua sekutu populisnya.

Ia mulai serius mendengarkan suara para ilmuwan dan mengakui pihaknya tak mampu memahami virus corona di bulan-bulan pertama.

Perubahan sikapnya itu terjadi terutama setelah dirinya divonis positif COVID-19 dan tampaknya juga respons atas popularitasnya yang menurun seiring dengan gagalnya menangani pandemi.

Populisme dan Kecenderungan Antisains

Baik Donald Trump, Jair Bolsonaro, maupun Boris Johnson adalah tiga pemimpin populis yang naik ke tampuk kekuasaan dengan memobilisasi dukungan rakyat lewat sentimen identitas, xenofobia, dan bentuk-bentuk eksklusivisme lainnya.

Ciri-ciri tersebut cukup untuk memasukkan jalan populisme yang mereka pilih ke spektrum politik kanan.

Cas Mudde, profesor di University of Georgia yang berfokus pada kajian politik ekstremis serta populisme di Eropa dan Australia, mendefinisikan populisme sebagai posisi politik yang menempatkan rakyat umum dan elite yang korup dalam posisi antagonistik dan melihat politik sebagai ekspresi keinginan rakyat pada umumnya. Populisme dapat ditemui di spektrum politik kiri dan kanan.

Skeptis kepada ahli dan sains adalah ciri yang paling menonjol dari kepemimpinan populis kanan seperti yang juga terjadi di India dan Meksiko.

Maximilian Högl dan kawan-kawannya dalam paparan untuk German Development Institute menjelaskan anti-elitisme adalah jantung dari pandangan dunia populis. Ini berangkat dari elite yang dituduh korup dan mengabaikan kehendak rakyat.

Di mata populis, para ahli atau ilmuwan adalah bagian dari kaum elite dan ikut bertanggung jawab dalam mengkhianati masyarakat mayoritas. Alhasil, temuan ilmiah kerap ditanggapi dengan kecurigaan terlebih jika berlanjut ke rekomendasi yang menjadi aturan.

Bandingkan dengan negara-negara yang kerap dirujuk sukses menangani COVID-19 seperti Jerman, Taiwan, dan Selandia Baru. Selain semuanya dipimpin perempuan yang bertindak cepat dan kompeten merujuk pada kajian saintifik, mereka juga tak sedang menjalankan praktik populisme kanan.

Para pemimpin populis kanan menjadi mudah untuk “mengklaim memiliki semacam akal sehat yang tidak dimiliki para ahli,” ujar Steven Levitsky, profesor ilmu pemerintahan di Harvard University, seperti dilansir New York Times. Ini melahirkan sikap meremehkan dan bias optimisme.

Di Indonesia kondisinya tidak jauh berbeda. Jonatan A. Lassa dan Miranda Booth, pengajar senior Humanitarian Emergency and Disaster Management di Charles Darwin University, dalam paparan untuk Conversation menyebut sejak awal Jokowi menangani krisis corona dengan menganggap remeh dan berpikir naif bahwa wabah tidak akan menghantam Indonesia. Suara dari para ahli tak dihiraukan dengan tujuan melindungi agenda ekonomi dan politik.

Lebih lanjut Lassa dan Booth menyoroti bagaimana AS yang jatuh di tangan pemimpin populis kanan macam Trump turut berkontribusi secara global dalam membuat situasi penanganan pandemi semakin buruk.

AS diketahui adalah rumah dari berbagai institusi kesehatan penting seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang sebenarnya mampu menginspirasi kepemimpinan global dalam menangani pandemi.

Kendati baru-baru ini AS mengucurkan dana untuk menangani krisis akibat pandemi, alokasi dana terbesar hingga dua triliun dolar adalah untuk menyelamatkan ekonomi.

Sedangkan pendanaan global untuk COVID-19 melalui Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) jauh lebih rendah dengan hanya mendapat jatah 37 juta dolar.

Dalam beberapa kasus, kepemimpinan populis kanan memang tidak selalu berkorelasi dengan buruknya penanganan krisis kesehatan di masa pandemi.

Filipina dan Hungaria adalah dua negara yang cukup cepat merespons penyebaran virus. Namun, di saat yang sama, baik Viktor Orban di Hungaria dan Rodrigo Duterte di Filipina menunggangi aksi cepat tanggap itu untuk menindak lawan politik demi memperluas kekuasaan.

Berbeda lagi di Serbia dan Turki. Kedua kepala negara populis dari partai sayap kanan ini dinilai terlambat menangani corona, tetapi ketika belakangan bertindak serius menangani krisis, justru diiringi dengan cara-cara yang otoriter dan berorientasi memperkuat kekuasaan.

*(Zhr/GoWestId)

Sumber : tirto.id

Kaitan Corona, negara, Populis, top
Redaksi 26 Agustus 2020 26 Agustus 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pencairan Subsidi Tertunda, BPJS Ketenagakerjaan Batam Masih Kumpulkan Data Penerima Subsidi
Artikel Selanjutnya Jelena Ostapenko yang Mundur dari US Open

APA YANG BARU?

Lajur Prioritas Trans Batam Diterapkan Bertahap, Mulai Batam Center
Artikel 5 jam lalu 88 disimak
Cegah Aset Kabur, Buruh PT Ghim Li Batam Bersiaga 24 Jam di Depan Pabrik
Artikel 5 jam lalu 101 disimak
Hujan Ringan Diprakirakan Basahi Batam Siang Hingga Sore
Artikel 5 jam lalu 88 disimak
Lion Air Jakarta-Pekanbaru Dialihkan ke Batam
Artikel 5 jam lalu 95 disimak
Kendala Data Hambat Penelusuran Lima Warga Batam di Penampungan Kamboja
Artikel 5 jam lalu 87 disimak

POPULER PEKAN INI

Pertama Kali Digelar! Lomba Karaoke RW 20 “Cipta Permata Idol” Sukses Hibur Warga
Artikel 4 hari lalu 846 disimak
19 Penerbangan Batam–Jakarta Batal Akibat Abu Krakatau, Penumpang Beralih ke Rute Transit
Artikel 6 hari lalu 348 disimak
Ekspedisi Dokumentasi Prasasti Pasir Panjang 1955
Histori 6 hari lalu 303 disimak
Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
Tokoh 5 hari lalu 288 disimak
Akses Udara Terganggu, Agenda MICE dan Wisata Batam Ikut Terdampak
Artikel 6 hari lalu 287 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?