Hubungi kami di

Catatan Netizen

Budaya Kerja Paruh Waktu Bocah-bocah Singapura

Terbit

|


Resep rahasia tahan banting itu

Oleh : Sulton Yohana


Saya dan bini sudah lama berdiskusi. Tentang pilihan pekerjaan paruh waktu apa yang cocok untuk Ken, anak sulung kami. Di liburan panjang 2021 ini. Apakah ia akan jadi pencuci piring di restoran seperti bapaknya? Atau jadi pramusaji di McDonal? Tukang tes temperatur di pintu masuk mall? Hmmm, banyak sekali pilihan pekerjaan untuk si Ken.

Saya mengusulkan Ken kerja di McDonald saja. Prosesnya mudah, dan dekat rumah. Juga agar bisa bekerja secara tim. Menghadapi manusia. Biar bisa lebih banyak terlibat komunikasi. Tidak ngetekur menghadapi mesin mati seperti komputer. Saya memang suka bekerja dengan manusia.

Sementara bini, maunya yang lebih personal. Biar jadwal kerja lebih fleksibel. Ia pingin Ken jadi kurir. Istri saya bahkan sudah mendaftarkannya ke Lalamove, perusahaan lokal. Rencananya, ia bersama Ken, akan bareng-bareng mengambil orderan barang yang akan diantar.

Dalam hati, saya ketawa! Memang mudah cari alamat, membaca map, sekaligus jalan kaki ke sana-sini mencari alamat si penerima barang. Saya yang nyaris saban hari mencari alamat orang, tahu betul repotnya mencari alamat orang. Tapi biarlah, hitung-hitung bini dan Ken bisa kian dekat, beraktivitas bersama-sama.

Akhirnya, bini menerima tawaran sebagai penyebar pamflet. Ke rumah-rumah. Seribu lembar, dibayar $40 dolar. Sangat murah memang. Tapi, bukan besar kecilnya yang penting. Sambil membantu mengantar pamflet, saya berkata pada Ken, “Sekarang kamu tahu kan, sulitnya cari uang!” Dia menggangguk-angguk sambil cengengesan.

*

Sejak pertengahan November lalu, para pelajar di Singapura libur. Full hingga 2 Januari tahun depan. Libur panjang ini harus diisi dengan banyak kegiatan. Biar tidak membosankan. Salah satunya bekerja paruh waktu. Untuk pelajar-pelajar yang libur. Ken yang tahun ini genap berusia 14 tahun, sudah boleh bekerja paruh waktu. Di mana-mana tempat, kini sedang gegap-gempita mencari karyawan. Berebut. Saling menawarkan gaji besar. Seiring kembali pulihnya perekonomian Singapura.

BACA JUGA :  Kasus Covid 19 di Singapura Kembali Tinggi, RS Mulai Padat

Maklum, sejak Covid-19, nyaris seperempat juta pekerja Malaysia yang saban hari keluar-masuk Singapura untuk bekerja; terpaksa distop. Pekerja dari Philipina, Myanmar, China, Indonesia, Thailand; juga banyak yang distop. Namun, setelah pandemi mereda, dan ekonomi menggeliat kembali, banyak perusahaan kelimpungan butuh karyawan. Sementara negara, masih terlalu lemot merespon kebutuhan itu, dengan tidak segera memudahkan orang asing datang. Alhasil, pelajar-pelajar yang sedang libur pun banyak diburu untuk dipekerjakan sebagai karyawan paruh waktu.

Beberapa anak-anak tetangga saya, liburan kali ini, banyak yang bekerja paruh waktu. Salah satu dari anggota keluarga J brother (tetangga yang punya lima anak dengan semua anak diberi nama awalan huruf J), bekerja di McDonald. Sama-sama dengan gadis di lantai empat kawan sekolah Ken, yang juga bekerja di tempat yang sama. Ken, juga kudu dibiasakan bekerja. Agar tahu susahnya cari uang. Agar bisa menghargai uang.

Di masyarakat Singapura, tradisi bekerja paruh waktu sebetulnya sudah terbangun sejak lama. Remaja-remaja di atas 14 tahun hingga mahasiswa, mereka terbiasa bekerja paruh waktu. Di restoran-restoran siap saji. Sebagai kurir. Data entri. Asisten ini-itu. Apa saja pekerjaan paruh waktu. Keluarga mana pun terbiasa melakukannya. Keluarga kaya, keluarga miskin, keluarga terpelajar; semuanya terbiasa “mempekerjakan” anak-anak mereka. Sejak sekolah menengah. Mereka tidak malu. Bahkan menyenangkan. Kadangkala, bersama kawan-kawan se-gank, para pelajar itu melamar dan bekerja di satu perusahaan. Bisa kerja sama-sama. Dapat uang lumayan. Menghabiskan bersama-sama.

BACA JUGA :  Kasus Covid-19 Naik Lagi, Singapura Terjebak di 'Hidup Berdampingan dengan Virus"?

Perusahaan-perusahaan di sini pun, memberi peluang seluas-luasnya bagi pelajar-pelajar yang hendak bekerja paruh waktu. Memudahkan prosesnya.

Bahkan untuk tingkatan mahasiswa, jarang sekali pelajar Singapura yang membiayai sekolah mereka dengan cuma menadah uang dari orangtua. Kecuali mungkin mereka-mereka yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Biaya kuliah di sini memang sangat besar. Biasanya mahasiswa di sini, terlebih dulu bekerja. Paruh waktu. Kuliah sambil kerja. Atau meminjam uang bank. Atau meminjam CPF (dana pensiun) orangtuanya dan itu harus dikembalikan ketika mereka kerja. Atau berburu beasiswa, juga kuliah dengan ikatan dinas. Tiga guru les privat bahasa China Ken yang tiap pekan datang ke rumah, semuanya berstatus mahasiswa. Nyaris semua kawan main bola saya yang berstatus mahasiswa, juga punya pekerjaan paruh waktu. Seorang bahkan kini sedang kuliah di Jepang, setelah diikat dinas oleh Angkatan Udara setempat.

Terbiasa bekerja sejak dini. Terbiasa menghargai uang. Terbiasa disiplin. Terbiasa melalui proses yang sulit. Ini mungkin, resep rahasia, kenapa orang Singapura bisa kerja tahan banting seperti sekarang ini. Seberapa tahan banting cara kerja orang Singapura? Saya yang pernah jadi kuli kasar di Indonesia saja, masih tak tahan bisa bekerja di sini! Jadi, bayangkan sendiri ya!

* Foto: Anak saya, sedang menyebarkan pamflet ke rumah warga.

(*)

Seperti ditulis Sulton Yohana di akun jejaring sosialnya.
Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook