Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Cerah Berawan hingga Sore, Waspadai Hujan Petir dan Angin Kencang di Batam
    11 jam lalu
    Batam Garap Investasi Digital Rp 88 Triliun untuk AI Data Centre
    11 jam lalu
    TNI AL Gagalkan Penyelundupan Mineral Ilegal di Batam
    12 jam lalu
    Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
    1 hari lalu
    BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
    1 hari lalu
    27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
    4 hari lalu
    Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
    4 hari lalu
    Cetak Hatrick, Persib Bandung Jawara Indonesia Super League 2025/2026
    5 hari lalu
    Cadangan Air Waduk Batam Turun Tajam
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Sultan Abdul Rahman I Muazzamshah (Sultan Riau Lingga Pertama)
    4 hari lalu
    Pulau Kasu, Batam
    2 minggu lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    3 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    4 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Budaya Kerja Paruh Waktu Bocah-bocah Singapura

Editor Admin 4 tahun lalu 1.2k disimak


Resep rahasia tahan banting itu

Oleh : Sulton Yohana


Saya dan bini sudah lama berdiskusi. Tentang pilihan pekerjaan paruh waktu apa yang cocok untuk Ken, anak sulung kami. Di liburan panjang 2021 ini. Apakah ia akan jadi pencuci piring di restoran seperti bapaknya? Atau jadi pramusaji di McDonal? Tukang tes temperatur di pintu masuk mall? Hmmm, banyak sekali pilihan pekerjaan untuk si Ken.

Saya mengusulkan Ken kerja di McDonald saja. Prosesnya mudah, dan dekat rumah. Juga agar bisa bekerja secara tim. Menghadapi manusia. Biar bisa lebih banyak terlibat komunikasi. Tidak ngetekur menghadapi mesin mati seperti komputer. Saya memang suka bekerja dengan manusia.

Sementara bini, maunya yang lebih personal. Biar jadwal kerja lebih fleksibel. Ia pingin Ken jadi kurir. Istri saya bahkan sudah mendaftarkannya ke Lalamove, perusahaan lokal. Rencananya, ia bersama Ken, akan bareng-bareng mengambil orderan barang yang akan diantar.

Dalam hati, saya ketawa! Memang mudah cari alamat, membaca map, sekaligus jalan kaki ke sana-sini mencari alamat si penerima barang. Saya yang nyaris saban hari mencari alamat orang, tahu betul repotnya mencari alamat orang. Tapi biarlah, hitung-hitung bini dan Ken bisa kian dekat, beraktivitas bersama-sama.

Akhirnya, bini menerima tawaran sebagai penyebar pamflet. Ke rumah-rumah. Seribu lembar, dibayar $40 dolar. Sangat murah memang. Tapi, bukan besar kecilnya yang penting. Sambil membantu mengantar pamflet, saya berkata pada Ken, “Sekarang kamu tahu kan, sulitnya cari uang!” Dia menggangguk-angguk sambil cengengesan.

*

Sejak pertengahan November lalu, para pelajar di Singapura libur. Full hingga 2 Januari tahun depan. Libur panjang ini harus diisi dengan banyak kegiatan. Biar tidak membosankan. Salah satunya bekerja paruh waktu. Untuk pelajar-pelajar yang libur. Ken yang tahun ini genap berusia 14 tahun, sudah boleh bekerja paruh waktu. Di mana-mana tempat, kini sedang gegap-gempita mencari karyawan. Berebut. Saling menawarkan gaji besar. Seiring kembali pulihnya perekonomian Singapura.

Maklum, sejak Covid-19, nyaris seperempat juta pekerja Malaysia yang saban hari keluar-masuk Singapura untuk bekerja; terpaksa distop. Pekerja dari Philipina, Myanmar, China, Indonesia, Thailand; juga banyak yang distop. Namun, setelah pandemi mereda, dan ekonomi menggeliat kembali, banyak perusahaan kelimpungan butuh karyawan. Sementara negara, masih terlalu lemot merespon kebutuhan itu, dengan tidak segera memudahkan orang asing datang. Alhasil, pelajar-pelajar yang sedang libur pun banyak diburu untuk dipekerjakan sebagai karyawan paruh waktu.

Beberapa anak-anak tetangga saya, liburan kali ini, banyak yang bekerja paruh waktu. Salah satu dari anggota keluarga J brother (tetangga yang punya lima anak dengan semua anak diberi nama awalan huruf J), bekerja di McDonald. Sama-sama dengan gadis di lantai empat kawan sekolah Ken, yang juga bekerja di tempat yang sama. Ken, juga kudu dibiasakan bekerja. Agar tahu susahnya cari uang. Agar bisa menghargai uang.

Di masyarakat Singapura, tradisi bekerja paruh waktu sebetulnya sudah terbangun sejak lama. Remaja-remaja di atas 14 tahun hingga mahasiswa, mereka terbiasa bekerja paruh waktu. Di restoran-restoran siap saji. Sebagai kurir. Data entri. Asisten ini-itu. Apa saja pekerjaan paruh waktu. Keluarga mana pun terbiasa melakukannya. Keluarga kaya, keluarga miskin, keluarga terpelajar; semuanya terbiasa “mempekerjakan” anak-anak mereka. Sejak sekolah menengah. Mereka tidak malu. Bahkan menyenangkan. Kadangkala, bersama kawan-kawan se-gank, para pelajar itu melamar dan bekerja di satu perusahaan. Bisa kerja sama-sama. Dapat uang lumayan. Menghabiskan bersama-sama.

Perusahaan-perusahaan di sini pun, memberi peluang seluas-luasnya bagi pelajar-pelajar yang hendak bekerja paruh waktu. Memudahkan prosesnya.

Bahkan untuk tingkatan mahasiswa, jarang sekali pelajar Singapura yang membiayai sekolah mereka dengan cuma menadah uang dari orangtua. Kecuali mungkin mereka-mereka yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Biaya kuliah di sini memang sangat besar. Biasanya mahasiswa di sini, terlebih dulu bekerja. Paruh waktu. Kuliah sambil kerja. Atau meminjam uang bank. Atau meminjam CPF (dana pensiun) orangtuanya dan itu harus dikembalikan ketika mereka kerja. Atau berburu beasiswa, juga kuliah dengan ikatan dinas. Tiga guru les privat bahasa China Ken yang tiap pekan datang ke rumah, semuanya berstatus mahasiswa. Nyaris semua kawan main bola saya yang berstatus mahasiswa, juga punya pekerjaan paruh waktu. Seorang bahkan kini sedang kuliah di Jepang, setelah diikat dinas oleh Angkatan Udara setempat.

Terbiasa bekerja sejak dini. Terbiasa menghargai uang. Terbiasa disiplin. Terbiasa melalui proses yang sulit. Ini mungkin, resep rahasia, kenapa orang Singapura bisa kerja tahan banting seperti sekarang ini. Seberapa tahan banting cara kerja orang Singapura? Saya yang pernah jadi kuli kasar di Indonesia saja, masih tak tahan bisa bekerja di sini! Jadi, bayangkan sendiri ya!

* Foto: Anak saya, sedang menyebarkan pamflet ke rumah warga.

(*)

Seperti ditulis Sulton Yohana di akun jejaring sosialnya.

Kaitan Catatan netizen, singapura
Admin 16 Desember 2021 16 Desember 2021
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Baru 3 Provinsi Dengan Capaian Vaksinasi di Atas 70 Persen, Salah Satunya Kepri
Artikel Selanjutnya Ganti Pesta Kembang Api, Tahun Baru di Batam Bisa Gelar Gala Dinner

APA YANG BARU?

Cerah Berawan hingga Sore, Waspadai Hujan Petir dan Angin Kencang di Batam
Artikel 11 jam lalu 163 disimak
Batam Garap Investasi Digital Rp 88 Triliun untuk AI Data Centre
Artikel 11 jam lalu 165 disimak
TNI AL Gagalkan Penyelundupan Mineral Ilegal di Batam
Artikel 12 jam lalu 184 disimak
“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 1 hari lalu 310 disimak
Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 1 hari lalu 292 disimak

POPULER PEKAN INI

Perbaikan Jalan Yos Sudarso (Underpass Pelita), Sementara Jalan Difungsikan Satu Lajur
Artikel 6 hari lalu 789 disimak
Cadangan Air Waduk Batam Turun Tajam
Lingkungan 5 hari lalu 631 disimak
Cetak Hatrick, Persib Bandung Jawara Indonesia Super League 2025/2026
Sports 5 hari lalu 577 disimak
Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
Sports 4 hari lalu 545 disimak
Dishub Tanjungpinang Tata Ulang Trayek Angkot karena Pergeseran Pusat Aktivitas Warga
Artikel 5 hari lalu 512 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?