Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
    7 jam lalu
    Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
    7 jam lalu
    Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
    11 jam lalu
    Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
    14 jam lalu
    Hadiri Halal Bihalal di Bengkong, Wako Batam Janjikan Pelebaran Jembatan
    18 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
    5 jam lalu
    Bosnia Herzegovina Gagalkan Italia ke Piala Dunia 2026
    2 hari lalu
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    4 hari lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    4 hari lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga

Editor Admin 3 tahun lalu 841 disimak

ULAR naga yang selama ini dianggap mitos, ternyata benar-benar ada di Pulau Jawa. Ular bernama Latin Xenodermus javanicus itu ditemukan tim gabungan Sanggabuana Wildlife Ranger (SWR), mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta, dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru pada 29 Oktober lalu.

“Ular naga ini kami temukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak pada malam hari saat herping (mencari amfibi atau reptil). Siangnya kami melakukan analisis vegetasi dibantu oleh teman-teman dari Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru,” kata Deby Sugiri, perwakilan Divisi Konservasi Keanekaragaman Hayati SWR, sebagaimana diberitakan kompas.com, 1 November 2022.

Pencarian ular naga sejatinya telah dilakukan SWR sejak kurang-lebih setahun belakangan. Saat menemukan ular tersebut, tim sebetulnya sedang melakukan analisis vegetasi di lokasi. Lokasi penemuan sendiri berada di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.

Gunung Sanggabuana merupakan “pagar” sisi tenggara Karawang. Selain kaya fauna, wilayah gunung setinggi 1500-an meter itu juga kaya vegetasi. Kekayaan flora-fauna itulah yang agaknya menyebabkan tempat itu dipilih jadi tempat tinggal sejak lama. Di masa Tarumanegara, pohon gaharu (Aquilaria) –termasuk family Thymelaeaceae– dari Sanggabuana menjadi salah satu komoditas andalan yang diekspor hingga ke Mesir.

“Tumbuhan dari keluarga Thymelaeaceae terutama genus Aquilaria mungkin merupakan komoditas perdagangan saat itu. Thymelaeaceae adalah jenis tumbuhan gaharu-gaharuan dan di Pegunungan Sanggabuana tumbuh habitat dari genus Aquilaria yang resin atau getahnya sangat bagus untuk dijadikan dupa dan pewangi. Gaharu bagian kayu maupun resin atau getahnya telah menjadi komoditas perdagangan internasional sejak 2000 tahun silam. Komoditas ini dijual mulai dari Cina sampai ke Mesir dan Eropa Timur, dan Kerajaan Tarumanegara dengan pelabuhannya merupakan persinggahan dari para pedagang internasional,” tulis Yuda F. Silitonga, Willy Firdaus, dan Dharma Putra Gotama dari Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang dalam Rengasdengklok Undercover.

Namun, kehidupan di Sanggabuana telah ada sebelum Tarumanegara. Berbagai peninggalan zaman batu, seperti Situs Kebonjambe, menjadi buktinya.

“Berdasarkan periodisasinya, tinggalan-tinggalan tersebut mencirikan corak budaya prasejarah, Hindu-Buddha, Islam, dan Kolonial. Tinggalan prasejarah tersebar tidak hanya di lingkungan dataran tinggi, tetapi juga di dataran rendah. Tinggalan di dataran tinggi umumnya merupakan bangunan megalitik, sarana pemujaan terhadap arwah leluhur. Di dataran rendah, tinggalan prasejarah terdapat di wilayah Batujaya berupa kubur-kubur manusia di bawah percandian Hindu-Buddha. Salah satu di antaranya di bawah Candi Blandongan, berupa kubur dengan batu datar pada tubuh candi dan di bagian bawah candi,” demikian diungkap buku yang dieditori Retno Handidi dan Sugeng Riyanto, Karawang dalam Lintasan Peradaban: Seri Pertama Monografi Workshop-Penelitian 2015.

Sanggabuana pula yang dijadikan basis gerilya oleh badan perjuangan bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) –kemudian berkembang menjadi Laskar Rakyat Jawa Barat, sering disebut sebagai Laskar Rakyat saja– ketika para pejuang di Jakarta menyingkir ke timur akibat kondisi kota semakin tidak kondusif pada akhir 1945. Mereka berhasil menguasai Karawang hingga terus membesar. Namun usai penculikan Suroto Kunto, komandan Resimen Cikampek, dan adanya upaya penertiban organisasi militer oleh Komandan Divisi Siliwangi Kolonel Nasution, Laskar Rakyat “dibereskan” pasukan Siliwangi. Mereka yang tersisa lalu berpencar.

“Jatuhnya Karawang benar-benar menghancurkan hegemoni LRJR di dataran Karawang. Struktur komando organisasi terlalu rapuh dengan dasar ekonomi terlalu lemah dan reputasinya terlalu buruk bila digabungkan. Tidak semua komponen LRJR dihilangkan ataupun diterima tentara. Lemah dan kehilangan semangat, unit-unit yang tercerai-berai ke wilayah-wilayah terpencil untuk melanjutkan perjuangan. banyak juga yang menuju lereng Gunung Sanggabuana di selatan Karawang,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.

Ketika para pejuang Kiblik mesti keluar dari wilayah dalam Garis Van Mook usai Perjanjian Renville (1947), sebagian anggota Laskar Rakyat tetap tinggal di Sanggabuana untuk melancarkan gerilya. Maka begitu ibukota Yogyakarta diduduki Belanda dalam Agresi Militer Belanda II (1949), Chairul Saleh –tokoh pemuda yang berperan mendesak Sukarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan, ikut mengungsi ke Yogyakarta bersamaan dengan pindahnya pusat pemerintahan pada 1946– memilih kembali ke Jawa Barat untuk bergabung bersama rekan-rekannya di Sanggabuana guna melancarkan perang gerilya.

“Kita harus kembali ke pos kita masing-masing. Pos perjuangan kita adalah Krawang, Jawa Barat. kumpulkan dan siapkan pasukan, kita harus secepatnya berangkat. Kumpulkan kawan-kawan, kumpulkan senjata yang ada. Hari ini juga kita meninggalkan Yogya lewat Krawang, Purwakarta menuju Sanggabuana,” kata Chairul, dikutip Irna HN Soewito dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial.

Rombongan Chairul akhirnya mencapai Desa Sirna di Sanggabuana setelah berhari-hari jalan kaki dari Yogyakarta. Chairul berhasil bergabung kembali dengan Laskar Rakyat, yang oleh Mabes Tentara RI ditetapkan sebagai TNI Brigade Bambu Runcing. Di Sanggabuana pula badan perjuangan itu mengadakan rapat kepemimpinan.

“Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa pimpinan lama, yaitu Wahidin Nasution, Samsudin Can, Sidik Samsi dan Mangilap, menyerahkan jabatan mereka kepada Chairul Saleh. Adapun susunan jabatan pimpinannya dilengkapi serta dibagi dalam beberapa batalyon,” sambung Irna.

Di tangan Chairul, organisasi laskar dan taktik gerilya dibenahi. Antara lain dengan pembagian ke dalam beberapa batalyon.

“Para gerilyawan disebar meluas, supaya dapat bergerak lincah dan efektif. Kursus kader politik diadakan, PD (Pertahanan Desa) digalakkan kembali. Pemantauan perkembangan politik diadakan sebagai bahan informasi pimpinan di Sanggabuana dan kemudian dikembangkan mendasari strategi dan taktik perjuangan selanjutnya,” sambung Irna.

Dari Sanggabuana, personel-personel Laskar Rakyat menyusup ke wilayah-wilayah sekitar seperti Bogor dan Jakarta. Guna mengkoordinir serikat buruh-serikat buruh, Laskar Rakyat mengirim Kusnandar menyusup ke Jakarta. Komunikasi dilakukan Kusnandar dengan Chairul lewat tiga kurir yang –mayoritas perempuan dengan bekal berupa surat nikah palsu untuk menyiasati pemeriksaan– rutin dikirim saban tiga hari.

Lawan yang dihadapi Laskar Rakyat namun bukan hanya pasukan NICA. Para kombatan DI/TII juga kerap clash dengan kombatan Laskar Rakyat. Usai Perjanjian Roem-Royen, lawan Laskar Rakyat bertambah dengan Batalyon Kian Santang di bawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata dari Divisi Siliwangi yang sudah pulang dari “hijrah”.

Perselisihan dengan Batalyon Sambas dipicu oleh beda pandangan Laskar Rakyat dan Batalyon Sambas dalam merespon ketentuan cease fire yang dihasilkan dalam Perjanjian Roem-Royen. Chairul dan Laskar Rakyat, yang Murbais, tak sedikit pun mengindahkan cease fire lantaran perjanjian itu dibuat tidak adil.

Dalam pandangan Tan Malaka, yang dianut Chairul, Indonesia baru mau berunding setelah merdeka 100 persen. Artinya, Belanda mesti angkat kaki terlebih dulu dari Indonesia baru perundingan bisa dilaksanakan. Padahal faktanya, perundingan diadakan saat Belanda masih mengagresi Indonesia.

Sementara, Sambas sebagai kesatuan di Siliwangi hanya bisa menjalankan perintah dari pusat. Sebagai tentara republik, Siliwangi harus mengikuti keputusan politik yang diambil pemerintah.

Maka kendati telah ada kesepakatan “main mata” antara Chairul dan Sambas untuk menghadapi NICA, clash-clash akibat kesalahpahaman di kalangan prajurit membuat Chairul mesti mengambil sikap. Ia akhirnya membawa pasukannya pindah ke Banten Selatan. Tamatlah cerita gerilya di Sanggabuana.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Chairul Saleh, Divisi siliwangi, Laskar rakyat, Perang kemerdekaan, Tan Malaka, Ular naga
Admin 15 November 2022 15 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Batam Masih Punya Stok Vaksin Covid-19 Booster Jenis Pfizer 1.596 Dosis
Artikel Selanjutnya 623 Honorer di Pemkab Natuna Diajukan Diangkat Jadi PPPK

APA YANG BARU?

Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
Budaya 5 jam lalu 86 disimak
Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
Artikel 7 jam lalu 72 disimak
Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
Artikel 7 jam lalu 76 disimak
Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
Artikel 11 jam lalu 69 disimak
Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
Artikel 14 jam lalu 73 disimak

POPULER PEKAN INI

Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
Artikel 4 hari lalu 268 disimak
Mulai Hari Jum’at (3/04/2026) Jalan Gajah Mada (Area Hotel Vista) Ditutup Sementara
Artikel 1 hari lalu 262 disimak
Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
Artikel 4 hari lalu 253 disimak
Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
Artikel 4 hari lalu 244 disimak
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 4 hari lalu 241 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?