PASCA Pandemi Covid-19, Desa Wisata Pengudang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, terus berbenah dari segala keterpurukan.
Berawal dari inisiatif warga dengan segala keterbatasan, kampung pesisir ini kini menjelma menjadi destinasi yang dilirik wisatawan mancanegara, wisatawan nusantara, hingga peneliti dari berbagai universitas luar negeri dengan program mangrove nursery atau pembibitan mangrove.
Melansir Tempo.com, penggerak Kampung Wisata Desa Pengudang, Iwan Winarto, mengatakan kebangkitan desa wisata ini tidak dibangun dengan modal besar, melainkan dengan semangat gotong royong masyarakat.
Setelah pandemi mereda, Pengudang mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya PT PLN yang menawarkan program Desa Berdaya PLN berbasis lingkungan berkelanjutan.
“Melalui dukungan tersebut, infrastruktur desa seperti gerbang diperbaiki dan pelaku UMKM mendapat bantuan penguatan usaha. Termasuk bantuan pendanaan,” jelas Iwan Winarto, Sabtu (7/02/2026).
Meski demikian, Iwan mengakui proses perubahan tidaklah mudah. Tantangan terbesar justru mengubah pola pikir masyarakat agar kembali percaya diri membangun desa.
Ia menyebut upaya tersebut dilakukan perlahan dengan merangkul warga agar terlibat aktif dan mendapatkan tambahan penghasilan. Salah satu program yang berkembang adalah nursery mangrove yang dikelola ibu-ibu, sekaligus menjadi ruang usaha kecil bagi mereka.
Menurut Iwan, konservasi tidak akan berjalan tanpa dampak ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.
“Kalau konservasi tanpa ada efek ekonomi, susah mengajak orang,” katanya.
Seiring waktu, berbagai program kolaboratif mulai berdatangan. Kabid Humas Polri menetapkan Pengudang sebagai Kampung Pangan Laut.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga meluncurkan program planting tourism di desa tersebut. Selain itu, Pengudang bekerja sama dengan Yayasan Yakopi dalam pengembangan dan pelestarian mangrove serta lamun.
Dilirik Negara Tetangga
Gaung Pengudang bahkan terdengar hingga mancanegara. Sejumlah peneliti dan akademisi dari Singapore Management University, Nanyang Technological University, hingga Republic Polytechnic datang untuk belajar dan berbagi pengetahuan.
Iwan bahkan pernah diundang ke Singapura untuk berdiskusi dengan mahasiswa internasional tentang praktik pemberdayaan dan konservasi yang dilakukan di desanya.
“Beberapa tahun lalu saya diundang ke Singapura di kampus mereka, diskusi dengan mahasiswa internasional terkait apa yang saya lakukan di sini,” tuturnya.
Kunjungan yang terus meningkat turut mendorong geliat ekonomi warga. Sekitar 40 orang masyarakat kini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan wisata, termasuk event tahunan seperti Pengudang Seafood Festival.
Beragam paket wisata ditawarkan kepada pengunjung. Mulai dari tur mangrove, wisata berkarang, homestay, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional. Wisatawan juga diajak mengikuti pengalaman langsung, seperti belajar membuat kerajinan dan makanan khas setempat.
Konsep yang diusung bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan wisata yang memberi pengalaman bermakna, termasuk keterlibatan dalam kegiatan konservasi.
Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Pengudang tercatat sekitar 1.000 orang. Sebanyak 65 persen di antaranya merupakan wisatawan mancanegara, sementara 35 persen wisatawan domestik yang berasal dari Batam, Jakarta, Medan, dan Riau.
Bagi Iwan, kunci kemajuan desa adalah fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini. Ia menilai terlalu banyak mencari kelemahan hanya akan membuat langkah terhenti. “Sekarang yang penting apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Kalau ada kendala, kita cari solusi bersama,” katanya.
Penghargaan untuk Pemberdayaan
Upaya tersebut membuahkan pengakuan internasional. Pada akhir tahun lalu, Iwan mewakili Desa Pengudang meraih Humanity Flourishing Prize 2025.
Ia keluar sebagai pemenang karena dinilai mampu menghadirkan praktik pemberdayaan dan konservasi di tengah berbagai keterbatasan.
“Kami sebagai pemenang karena mereka tertarik apa yang kita lakukan di sini. Di tengah keterbatasan kita tetap berbuat,” ujar Iwan.
Memasuki 2026, Pengudang menargetkan penguatan koneksi dengan berbagai universitas untuk memperdalam fokus pada pengembangan konservasi. Segmentasi wisata berbasis alam dan edukasi menjadi arah utama yang ingin dikembangkan.
Namun demikian, Iwan berharap perhatian pemerintah terhadap potensi lokal semakin nyata. Ia menilai Pengudang adalah contoh inisiatif masyarakat yang tumbuh tanpa modal besar dan seharusnya mendapat dukungan lebih serius.
Ia mendorong konsep “one village, one destination, one product” agar setiap desa memiliki keunikan yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sektor perhotelan dan resor.
(*/Tempo)


