Hubungi kami di

Hidup Sehat

Jangan Selalu Minum Obat Saat Sakit Kepala

Zilfia Sarah

Terbit

|

TIAP orang pernah mengalami sakit kepala. Jika gejalanya ringan, minum obat yang dibeli di warung, sering jadi pilihan.

Bimo Putra, misalnya. Mahasiswa Sastra Belanda di salah satu universitas negeri ini kerap membeli parasetamol untuk mengobati keluhan migrain yang ia rasakan.

Enggak perlu ke dokter-lah kalau enggak parah. Minum parasetamol saja terus dibawa tidur juga sembuh,” kata remaja berusia 20 tahun itu, Kamis (18/10) dikutip dari uzone.id.

Sementara Yana, 30 tahun, juga melakukan hal serupa. Malah, frekuensinya lebih banyak karena wanita yang bekerja sebagai freelancer majalah di Jakarta ini kerap didera sakit kepala hampir tiap hari.

“Bisa sekali minum tuh dua tablet karena satu sudah enggak mempan,” ujarnya di uzone.id. 

Sebuah studi yang dilakukan The National Institute for Health and Clinical Excellence (Nice) mungkin akan membuat Anda berpikir dua kali untuk minum obat pereda sakit terlalu sering.

Pasalnya, hasil studi menyebutkan bahwa obat pereda sakit seperti aspirin, parasetamol, dan triptans justru menyebabkan sakit kepala yang lebih parah.

Anggota peneliti dari Warwick Medical School Profesor Martin Underwood mengatakan setiap keluhan di kepala memiliki jenis yang berbeda dimana perawatannya pun tidak bisa disamakan.

Obat migrain adalah yang paling berkurang efektivitasnya jika diminum lebih dari 15 hari. Jika gejala tidak berkurang dalam maksimal tiga hari, sebaiknya segera pergi ke dokter.

“Orang yang sakit kepala seperti dalam lingkaran setan dimana sakit mereka makin parah dengan dosis obat berlebihan dan diagnosa yang salah,” kata Underwood seperti dikutip Huffington Post.

Riset yang dilakukan Nice memaparkan bahwa satu dari 50 orang yang menderita sakit kepala mengaku minum obat lebih dari 10 hari. Obat tersebut seperti ‘kebal’ dan berbalik menyerang tubuh seseorang.

“Obat pereda sakit akan efektif bila diminum sesekali,” ujarnya.

Wakil Kepala Eksekutif Nice Dr Gillian Leng menuturkan, meskipun sakit kepala adalah masalah neurologis yang paling umum dilihat oleh dokter dan ahli saraf, banyak orang yang tidak menerima diagnosis yang benar dan tepat.

“Kami berharap penelitian ini akan membantu dokter dan profesional kesehatan lainnya untuk melakukan diagnosa yang tepat terhadap jenis gangguan sakit kepala,” kata Dr Leng.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sejauh mana obat pereda sakit efektif melakukan fungsinya pada manusia.

(*)

 

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook