Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pemko Batam Gelar Safari Ramadhan di Masjid Al-Ishlaah, Berikan Bantuan Rp40 Jt
    11 jam lalu
    Tanpa Surat, Saat Sidak Tiga Anggota Komisi III DPRD Batam Tak Diizinkan Masuk ke PT Nanindah Mutiara Shipyard
    14 jam lalu
    Mudik Gratis Batam-Belawan 2026, Kuota 250 Kursi
    14 jam lalu
    Produksi Udang Vaname Batam Jadi Andalan Ekspor ke Singapura
    14 jam lalu
    Jatanras Polda Kepri Bekuk Sindikat Curanmor, Hasil Curian Dijual ke Karimun
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    4 hari lalu
    Sambut Lebaran 2026, Bandara Hang Nadim Batam Berikan Potongan Tarif 50%
    5 hari lalu
    Kabupaten Karimun Siap Jadi Tuan Rumah Popda Kepri 2026
    6 hari lalu
    Progres Persiapan Pembangunan Sekolah Rakyat di Bintan Terus Berjalan
    1 minggu lalu
    Pengaturan Jam Operasi Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan di Batam
    1 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    14 jam lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    3 minggu lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    2 bulan lalu
    Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Batam 2025
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 minggu lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 minggu lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    1 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    2 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    7 bulan lalu
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Serial

Kisah Kampung Pereh dan Kampung Sebong

Sebong Pereh, Dari Batin ke Kepala Desa (bagian 2 – selesai)

Editor Admin 11 bulan lalu 1.2k disimak
Pantai di kampung Sebong saat air laut sedang surut. © F. Pardomuan.

SEBONG dan Pereh, dua kampung yang sekarang disatukan, punya cerita masa lalu yang lumayan panjang. Dua kelompok warga dengan dua kebiasaan hidup berbeda itu, mulai berinteraksi dan berbaur setahun setelah Indonesia merdeka.

Oleh : Bintoro Suryo


Sebelumnya, sekitar tahun 1897, sebuah pemukiman baru dibangun di sekitar hulu sungai Pereh di kawasan ini. Pemerintah kolonial Belanda saat itu, memindahkan warga yang tinggal di sebuah kampung bernama Buluan ke wilayah itu. Kampung Buluan merupakan kampung lama, lokasinya berada di sisi sungai antara desa Kuala Sempang dan Desa Sebong Pereh saat ini. Kampung baru yang dibangun ini disebut kampung Pereh, disesuaikan dengan nama sungai yang ada di sana. Sebagian warganya hidup dari ladang-ladang dan berdagang. Mereka dikenal dengan cara hidup yang lebih agraris.

Ada sekitar 40 KK awal yang mendiami kampung baru itu. Rata-rata merupakan suku Melayu dan kaum Tionghoa pendatang. Seorang tetua bernama Kundang, kemudian didaulat untuk menjadi Batin di kampung tersebut. Orang biasa memanggilnya dengan sebutan Batin Kundang.

Sepuluh kilometer agak ke utara, Sebuah perkampungan kecil lainnya juga sudah berdiri di sekitar wilayah ini. Di kampung pesisir pantai dengan kehidupan yang bergantung dari laut, konon dibuka oleh seorang warga dari suku laut bernama Sebong. Kampung di pinggir pantai itu, kelak disebut sebagai kampung Sebong.

Syamsul Kamal, mantan Sekdes Sebong Pereh. © F. Bintoro Suryo

“Yang datang ke sini pertama kali itu, Sebong, seorang suku laut. Dia yang membuka kampung di pinggir pantai ini. Beberapa tahun kemudian, datang lah Sudin bin Jamaluddin yang ikut membuka kampung ini”, ujar Syamsul Kamal.

“Itu Datok saye, die lari dari Daik, tak tahan dengan kehidupan istane, lalu mendarat di sini,” cerita Atan, pria berusia hampir 60 tahun yang duduk di samping saya dan Syamsul. Ia keturunan Sudin bin Jamaluddin yang diceritakan ikut membuka kampung Sebong seratusan tahun silam.

Atan, keturunan ketiga Udin bin Syamsuddin, orang yang ikut membuka kawasan kampung Sebong seratusan tahun lalu. © F. Bintoro Suryo

Saat itu menurut Atan, pesisir Utara Bintan ini belum bernama. Namun sudah ada beberapa kelompok orang yang mendiaminya. Mereka terdiri dari suku laut yang terbiasa hidup dalam nuansa bahari. Rata-rata berasal dari perairan Senayang yang datang secara musiman. Apabila musim utara, mereka kembali ke daerah asalnya dan jika musim angin timur, selatan dan barat, mereka datang lagi ke pesisir wilayah itu.

Di pinggir pantai ini terdapat juga beberapa Kepala Keluarga suku Cina dan pendatang suku melayu dari semenanjung Malaya (Malaysia).

Namun secara umum, budaya Tionghoa mendominasi di wilayah pesisir tersebut.

“Atok saye, Tok Nurdin tu, tak tahan dengan kehidupan di lingkungan istane yang sebenarnya di bawah kuasa Belanda, melarikan diri dan tibe lah di sini”, lanjut pak Atan.

Sementara warga bernama Sebong yang pertama kali membuka kampung ini, kemudian didaulat menjadi ‘Tok Juru’, julukan pemimpin kelompok atau ketua suku bagi warga yang mendiami kawasan pesisir tersebut sejak tahun 1909.

“Pada tahun 1918 Tok Juru Sebong meninggal dunia. Berturut-turut kemudian menurut pak Atan, tampuk kepemimpinan ketua suku di wilayah ini dipercayakan pada Tok Juru Wahid sampai dengan tahun 1924, terang Syamsul.

“Kemudian Tok Juru Wahid meninggal dunia diganti dengan Tok Juru Munsang”, cerita pak Atan bersemangat.

Di masa kepemimpinan Tok Juru Munsang lah, wilayah pesisir ini kemudian diberi nama kampung Sebong, diambil dari nama Tok Sebong yang didaulat pertama kali sebagai pemimpin warga di wilayah pesisir Utara Bintan itu.

Sementara itu di bagian dataran yang lebih tinggi, di kampung Pereh, kepemimpinan Batin Kundang berlangsung hingga tahun 1944.

“Penggantinya adalah Batin Paw sampai tahun 1946. Kemudian, Batin Paw diganti dengan Batin Gagak yang berasal dari kampung Sebong ni lah”, tutur pak Atan.

Di era Batin Gagak menurut pak Atan, mulai terbuka hubungan sosial dan interaksi yang lebih dalam di antara warga di kampung Pereh yang berada di bagian atas dengan warga yang mendiami kampung Sebong di bagian pesisir pantainya.

Warga Kampung Pereh mulai turun ke laut untuk membuka kebun baru, diantaranya kebun kelapa dan karet di sekitar wilayah kampung Sebong. Penyebutan nama kampung juga mulai disatukan menjadi kampung Sebong Pereh.

Kampung Pereh di perbukitan, diambil dari nama sebuah sungai yang mengalir di sana, sungai Pereh. © F. Pardomuan

Karena yang berkuasa adalah Batin Gagak yang berasal dari kampung Sebong, pusat pengelolaan kampung juga berpindah ke pantai.

“Berturut kemudian, batin Gagak diganti oleh Batin Tembek tahun 1957, kemudian batin Tembek diganti oleh Batin Kepal. Mase batin Kepal, sebutan tak batin lagi, tapi sudah penghulu”, ujar pak Atan.

Pada tahun 1968, Penghulu Kepal diganti dengan Muhammad Sulung  yang diberi gelar Kepala Kampung hingga tahun 1971. Muhammad Sulung kemudian diganti dengan Abdul Djalil yang mengelola kampung Sebong Pereh dengan status desa. Jabatannya bukan lagi penghulu, tapi Kepala desa. Ia memerintah hingga tahun 2010.

“Wah, pak Atan masih hapal cerita dan urutan dari awalnya ya”, kata Sania takjub mendengar cerita pak Atan.

“Ya lah, siape lagi yang nak mengingat ni, takutnya hilang tertelan zaman”, kata pak Atan sambil tertawa.

Akses jalan yang sudah beraspal di kampung Sebong, membuka isolasi wilayah ini. © F. Pardomuan

Walau terletak tidak terlalu jauh dari lokasi Tanjung Uban, akses darat dari Sebong Pereh ke kota tua itu masih ditempuh menggunakan jalur laut hingga dekade 70 menjelang 80-an.

Menurut Syamsul Kamal yang lahir di kampung ini, akses darat berupa jalan setapak, baru mulai dirintis pada dekade 80-an menuju kota Tanjung Uban.

“Itu jalan kaki kalau mau ke Tanjung Uban. Baru pada era 90-an, warga ke Tanjung Uban ada yang pakai sepeda. Belum sepeda motor, masih sepeda kayuh”, kata Syamsul mengenang masa-masa lalunya.

“Tahun 1995-an, baru mulai ada yang pakai motor untuk dipakai ke Tanjung Uban. Itu rata-rata yang orang China karena mereka lebih mampu”, lanjut Syamsul.

Saat ini ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk menuju ke desanya. Selain jalur tengah yang merupakan jalur lama yang menghubungkan Tanjung Uban dan Tanjung Pinang, akses ke desa ini juga bisa ditempuh melalui jalur lintas barat dan di bagian pesisir Utara yang langsung bersisian dengan pantainya yang indah.

(*)

Selesai

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com

Kaitan bintan, cerita, Sebong Pereh, Serial
Admin 23 Maret 2025 23 Maret 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya OJK Blokir Ribuan Rekening, Pinjol Ilegal dan Judi Online Makin Meresahkan
Artikel Selanjutnya Hunian Baru Warga Rempang; Rumah Tipe 45

APA YANG BARU?

Pemko Batam Gelar Safari Ramadhan di Masjid Al-Ishlaah, Berikan Bantuan Rp40 Jt
Artikel 11 jam lalu 186 disimak
Tanpa Surat, Saat Sidak Tiga Anggota Komisi III DPRD Batam Tak Diizinkan Masuk ke PT Nanindah Mutiara Shipyard
Artikel 14 jam lalu 101 disimak
Mudik Gratis Batam-Belawan 2026, Kuota 250 Kursi
Artikel 14 jam lalu 112 disimak
Produksi Udang Vaname Batam Jadi Andalan Ekspor ke Singapura
Artikel 14 jam lalu 107 disimak
Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
Statistik 14 jam lalu 108 disimak

POPULER PEKAN INI

Komisi III DPR RI Soroti Tuntutan Hukuman Mati ABK Kapal Pembawa Sabu
Artikel 3 hari lalu 303 disimak
Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
Pendidikan 4 hari lalu 283 disimak
BP Batam Tawarkan Stabilitas Regulasi kepada Investor Eropa dan Jepang
Artikel 3 hari lalu 282 disimak
MBG Ramadan di Batam ; 1 Biskuit-Setengah Jagung, SPPG Ditegur
Artikel 4 hari lalu 275 disimak
KTP Luar Daerah Tidak Bisa Urus Kartu Kuning di Batam per 1 Maret 2026
Artikel 4 hari lalu 273 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?