Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
    18 jam lalu
    KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
    18 jam lalu
    Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
    20 jam lalu
    Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
    1 hari lalu
    Tongkang Batu Granit Terbalik di Perairan Batu Ampar, Seluruh ABK Selamat
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
    16 jam lalu
    Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026, Banyak Partai Bigmatch
    23 jam lalu
    Piala Dunia 2026, Tuan Rumah Kanada Lolos ke Babak 16 Besar
    1 hari lalu
    32 Tim Lolos Babak Knok Out, Tim Eropa dan Afrika Dominasi
    2 hari lalu
    “Timah 55 Kaki di Bawah Singkep, Kebaikan Sultan Riau Lingga”
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    15 jam lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    3 hari lalu
    Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
    3 hari lalu
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    5 hari lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    6 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    7 hari lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Krisis di Industri Chipshet Makin Parah

Editor Admin 4 tahun lalu 632 disimak

SEJAK pandemi Covid-19 merebak, stok komponen chip semikonduktor global dilaporkan mengalami kelangkaan. Sehingga berimbas pada industri mobil listrik, peralatan rumah tangga, hingga bisnis smartphone

Daftar Isi
Komponen alat produksi chip langkaJadwal produksi massal chip terganggu

Krisis chip global ini diprediksi masih akan berlanjut pada tahun 2022, bahkan kemungkinan akan semakin parah karena kurangnya pasokan komponen alat untuk produksi chip.

Sebenarnya, untuk mengatasi krisis pasokan chip global ini, sejumlah vendor pembuat chip terkemuka seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC), United Microelectronics Corp (UMN), Intel, dan Samsung Electronics sudah berencana untuk mengoperasikan pabrik chip baru pada 2023 mendatang.

Tujuannya, dengan adanya tambahan pabrik baru, vendor diharapkan bisa menggenjot dan menambah kapasitas produksi chip buatannya untuk memenuhi permintaan pasar.

Namun, rencana yang disiapkan untuk keluar dari krisis chip itu juga tampaknya bakal terganggu gara-gara kurangnya pasokan komponen peralatan pembuat chip.

Komponen alat produksi chip langka

Ketika membangun pabrik chip baru, vendor otomatis ikut membutuhkan seluruh peralatan  pembuat chip yang baru untuk ditempatkan di lokasi pabrik anyarnya.

Menurut laporan outlet Nikkei Asia, kabar buruknya, permintaan untuk peralatan produksi chip juga tengah melonjak, sehingga kekurangan suku cadang pun tak terhindarkan.

Walhasil, sejumlah komponen alat produksi chip seperti lensa, katup, pompa, mikrokontroler, plastik rekayasa, hingga modul elektronik dilaporkan ikut langka.

Karena komponennya langka, pembuat alat produksi chip terkemuka seperti Applied Materials, KLA, Lam Research, dan ASML telah memperingatkan klien (vendor chip) bahwa mereka harus menunggu hingga 18 bulan atau 1,5 tahun untuk bisa mendapatkan peralatan untuk membuat chip.

Waktu tunggu sendiri dapat diartikan sebagai jeda waktu yang dihitung dari saat alat produksi chip dipesan hingga dikirimkan ke klien (vendor chip).

Untuk lebih jelasnya, data di bawah menunjukkan 11 komponen peralatan chip yang langka, dan estimasi waktu pengirimannya kepada klien.

Misalnya, valves (katup) diprediksi baru bisa dikirim ke klien dalam jangka waktu 13-15 bulan. Sementara pengiriman komponen alat chip seperti sensor dan mikrokontroler diestimasikan mencapai 9-10 bulan.

Padahal menurut data Nikkei Asia,sebelum pandemi Covid-19 merebak, waktu pengiriman komponen alat chip ke klien rata-rata hanya memakan waktu 3 bulan atau bahkan lebih cepat.

Daftar waktu pengiriman komponen peralatan chip yang langka. © Kompas

Sumber yang dekat dengan masalah ini juga mengatakan kepada Nikkei Asia, untuk beberapa peralatan pengujian chip yang dibuat oleh KLA, kini memiliki waktu tunggu lebih dari 20 bulan atau 1,8 tahun.

Bahkan, peralatan yang digunakan untuk membuat substrat (bahan dasar yang membawa chip sebelum dipasang pada papan sirkuit tercetak) saat ini memiliki waktu tunggu hingga 30 bulan atau 2,5 tahun.

Padahal tahun lalu, waktu tunggu alat untuk membuat substrat itu hanya berkisar 12-18 bulan saja.

Sebagai perbandingan, waktu tunggu alat produksi chip pada 2019, rata-rata jauh lebih cepat, yakni hanya sekitar 3-4 bulan saja.

Tak heran, bila saat ini, orang-orang yang dekat dengan isu ini mengatakan bahwa krisis peralatan produksi chip yang terjadi sekarang adalah yang “terburuk dalam beberapa dekade terakhir”.

Jadwal produksi massal chip terganggu

Dengan masa tunggu diprediksi 1,5-2,5 tahun, vendor chip TSMC, United Microelectronics Corp., Intel, dan Samsung Electronics kemungkinan besar akan ikut terlambat mendapatkan mesin pembuat chip untuk pabrik barunya, yang mana rencananya akan dioperasikan pada 2023 mendatang.

Menurut salah satu sumber, TSMC dilaporkan prihatin dengan keterlambatan pengiriman dari pembuat alat chip kepada perusahaannya. TSMC juga mengonfirmasi bahwa hal itu sudah mempengaruhi jadwal produksi massal chip bikinannya di Amerika Serikat, Taiwan, hingga Jepang.

United Microelectronics Corp juga mengonfirmasi bahwa rencana ekspansi perusahaan dengan mengoperasikan pabrik chip baru tahun depan, juga terganggu karena adanya kelangkaan komponen untuk alat produksi chip.

“Menurut kunjungan kami ke pemasok alat chip, kekurangan komponen yang dialami mereka masih memburuk dan baru akan mulai membaik pada paruh kedua tahun 2022,” kata CFO United Microelectronics Corp, Liu Chi-tung.

Meski waktu tunggu pengiriman alat produksi chip menjadi sangat lama, vendor chip tampaknya tidak bisa melakukan banyak hal. Dengan kata lain, vendor chip harus bersabar hingga peralatatan produksi chip yang dipesannya itu dikirimkan ke perusahaannya.

Pasalnya, menurut beberapa eksekutif di industri semikonduktor, mengganti komponen atau bahan peralatan chip yang langka saat ini dengan komponen alternatif yang lain, bukanlah solusi jangka pendek yang tepat.

(*)

Sumber : Nikkei | Kompas 

Kaitan Chipshet, industri, khas
Admin 12 April 2022 12 April 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Serunya Menunggu Berbuka Puasa di Pulau Belakang Padang
Artikel Selanjutnya Satgas IDI soal Kasus Covid-19 Turun: Masyarakat Jangan Sepelekan Protkes

APA YANG BARU?

Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
Statistik 15 jam lalu 132 disimak
Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
Sports 16 jam lalu 144 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 18 jam lalu 174 disimak
KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
Artikel 18 jam lalu 157 disimak
Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
Artikel 20 jam lalu 173 disimak

POPULER PEKAN INI

Walikota Batam Enggan Jawab Saat Ditanya Ada Orasi Politik di Pawai MBG Siswa
Artikel 6 hari lalu 433 disimak
Akomodasi Keluhan Warga, Pemko Batam Alihkan Proyek TPS ke 140 Bin Kontainer
Lingkungan 3 hari lalu 429 disimak
Ikan Lepu (Lion Fish)
Rupa 6 hari lalu 375 disimak
Sah! Batam Punya Perda PSU, Pengembang Wajib Sediakan Jalan hingga TPS
Artikel 5 hari lalu 349 disimak
KPAI Sesalkan Pawai Dukungan MBG Melibatkan Anak Sekolah di Batam
Pendidikan 7 hari lalu 342 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?