Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    10 jam lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    11 jam lalu
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    14 jam lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    14 jam lalu
    Sepertiga Wilayah ‘Stress Area’ Batam Masih Tunggu Kepastian Air Bersih Hingga 2027
    14 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    11 jam lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    14 jam lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    3 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Laga Lawan Bangladesh Timnas Garuda Harus Menang Besar
    4 hari lalu
    Asian Games 2026, Panahan Sumbang Koleksi Emas untuk Indonesia
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    4 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    6 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Menggeruduk Rumah Penggede Orde Lama

Editor Admin 4 tahun lalu 1.6k disimak

SELAMA berkuasa, Presiden Sukarno ditopang oleh sejumlah pengusaha swasta yang loyal. Mereka andil dalam membiayai aneka proyek mercusuar gagasan Bung Karno. Sebagai imbal baliknya, para pengusaha ini menikmati fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan roda bisnis. Apakah itu dalam bentuk kredit lunak, proyek tender, hingga ekspor-impor komoditi.

Setelah terbit Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, beberapa pejabat negara dianggap sebagai biang kerok penggarong uang negara. Atas perintah Jenderal Soeharto, para pengusaha yang dekat dengan Sukarno turut jadi target penangkapan. Mereka yang paling menonjol jadi sasaran bulan-bulanan masyarakat.

Itulah yang terjadi salah satunya kepada eks Menteri Urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam (JMD). Sebelum menjabat menteri, JMD merupakan presiden direktur Bank Nasional Indonesia (BNI). Lama berkecimpung di sektor ekonomi, JMD bergaul akrab dengan pengusaha ternama masa itu. Ia berperan dalam mencairkan kredit luar negeri berjangka setahun (DPC) kepada beberapa pengusaha rekanan.

Dalam Supersemar, JMD masuk daftar penangkapan kategori ketiga. Kategori ini merujuk pada pejabat yang hidup amoral dan asosial; hidup dalam kemewahan di atas penderitaan rakyat.

Harian Berita Yudha edisi Minggu, 27 Maret 1966 menyebut rumah milik JMD di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jadi sasaran penggerebekan kesatuan aksi mahasiswa dan pelajar. Salah satu kompleks perumahan di atas tanah seluas 8000 meter persegi itu lebih mirip taman tempat raja-raja dulu bersenang-senang. Menurut koran yang berafiliasi dengan Angkatan Darat ini, salah satu rumah yang termewah oleh JMD ternyata dijadikan tempat bersuka ria bersama simpanan-simpanannya.

Dari jalan raya, rumah itu tampak seperti gedung biasa saja. Namun, ketika dimasuki, terdapat satu kompleks luas dengan tiga gedung yang dibatasi tembok tinggi. Di salah satu gedung itulah JMD biasa menghabiskan waktu dengan beberapa perempuan secara bergantian. Begitu masuk ke dalam, seisi rumah terlihat mewah lengkap dengan perabotan serba modern. Kisah “taman firdaus” duniawi JMD akhirnya tersingkap setelah seluk-beluk rumah tersebut digeruduk massa.

“Di dalam gedung itu didapati berbagai macam foto wanita telanjang, di antaranya terdapat bintang-bintang film Indonesia. Di samping ini juga terdapat alat-alat pemotret serta alat-alat kecantikan dan obat-obat hormone,” sebut Berita Yudha.

Menurut keterangan pelayan rumah, seperti dikutip Berita Yudha, JMD dalam seminggu empat kali mengunjungi rumah peristirahatannya itu. Setiap tuannya itu datang selalu disertai wanita. Kadang-kadang si wanita datang lebih dulu. Datangnya pun tak tentu. Kadang-kadang pukul 12 siang, terus menginap. Kira-kira pukul 6 sore kemudian wanitanya pulang. Lanjut lagi pukul 7 malam, datang lagi wanita lain. Ia mengaku, rumah tersebut baru digunakan selama 8 bulan terakhir.

“Wanita yang sering berkunjung ke sini umumnya berumur sekitar 18 sampai 23 tahun. Karena demikian banyak dan berlainan yang datang kemari, maka saya sangat sulit untuk mengenalnya satu-satu di antara mereka itu. Tapi yang sudah saya kenal benar ialah 2 orang wanita pegawai Bank Negara,” ujar si pelayan.

Berbeda dari penggerudukan rumah JMD, dalam proses penangkapan Teuku Markam terjadi perlawanan. Markam adalah Direktur PT Kulit Aceh Raya Kapten Markam (Karkam). Dialah raja karet dari Sumatra yang tajir melintir. Selain itu, Markam merupakan salah satu pengusaha Istana yang menikmati fasilitas DPC. Markam dikenal dekat dengan Presiden Sukarno dan kawan dari JMD.

Markam ditangkap pada 23 Maret 1966. Tentara menjemput Markam di kediamannya di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Namun, penangkapan itu, menurut koran Malaysia Berita Harian, 1 April 1966, didahului baku-tembak antara anak buah Markam dan tentara yang hendak menciduknya.

“Tentara berjaya menangkap Tuan Markam dan pengikut-pengikutnya,” kata Berita Harian.

Markam kemudian dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan. Pada masa Orde Baru, semua harta Markam maupun aset PT Karkam disita oleh negara. Tapi, setelah bebas pada 1974, Markam bangkit lagi dengan merintis PT Marjaya yang bergerak di bidang kontraktor.

Kisah mirip JMD juga melanda Potan Harahap. Ia merupakan tangan kanan JMD yang menjabat sebagai gubernur pengganti BNI Unit III. Menurut Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno, Potan salah satu pengusaha asal Sumatra yang termasuk jajaran tim penasihat ekonomi presiden. Dalam kedudukannya itu, Potan bertugas menghimpun dana revolusi dari sejumlah pengusaha.

Pada akhir Maret 1966, rumah Potan di Jl. Adityawarman No.21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diserbu serombongan massa. Sejumlah satpam penjaga rumah Potan tak berdaya menghadapi jibunan orang yang menggeruduk sejak pukul 5.30 pagi. Kebanyakan massa ini berasal dari kesatuan aksi mahasiswa. Pintu rumah Potan yang memakai kunci luar negeri, dikampak oleh mereka sampai ringsek.

Setiba mereka di depan pintu kamar, Potan tak kunjung keluar. Ketika pintu kamar dibobol, Potan ditemukan sembunyi di dalam lemari pakaian dalam keadaan meringkuk ketakutan.

“Dia berjongkok di atas tumpukan uang rupiah baru, menggigil pucat melihat para mahasiswa itu,” kata Berita Yudha, 24 April 1966.

Menurut Berita Yudha, sejumlah besar dokumen penting ditemukan dalam kamar rumah Potan Harahap. Pada tas koper merek Samsonite tersua surat-surat katebelece dari Menteri Kehakiman Astrawinata maupun JMD. Sementara itu, di meja kerja Potan didapati dokumen-dokumen yang menyangkut perkara moneter. Terselip pula setumpuk buku travelling cheque yang siap diuangkan senilai ratusan ribu dolar Amerika. Yang lebih menyilaukan mata, ditemukan satu sak besar berisi penuh dengan butiran-butiran permata, berlian, dan perhiasan berharga lainnya.

Demikianlah sekelumit cerita penggerebekan kediaman Potan Harahap. Setelah itu, tak banyak lagi informasi yang tercatat mengenai tindak lanjut kasus hukum Potan Harahap. Namun yang jelas, mayoritas pejabat dan pengusaha loyalis Sukarno mengalami nasib nelangsa di zaman Orde Baru.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan G30spki, Jusuf muda, orde lama, pengusaha, sukarno, Teuku Markam
Admin 18 Oktober 2022 18 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Karim Benzema Raih Ballon d’Or 2022
Artikel Selanjutnya Sekda: Batam Butuh Ide-Ide dari Kalangan Milenial

APA YANG BARU?

Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 10 jam lalu 123 disimak
Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
Artikel 11 jam lalu 156 disimak
Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
Sports 11 jam lalu 129 disimak
Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
Artikel 14 jam lalu 271 disimak
Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
Pendidikan 14 jam lalu 180 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 4 hari lalu 731 disimak
Penyelundupan 11,31 Kg Emas ke Singapura Gagal
Artikel 6 hari lalu 586 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 5 hari lalu 576 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 4 hari lalu 556 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 4 hari lalu 478 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?