Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
    14 jam lalu
    KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
    14 jam lalu
    Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
    15 jam lalu
    Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
    20 jam lalu
    Tongkang Batu Granit Terbalik di Perairan Batu Ampar, Seluruh ABK Selamat
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
    11 jam lalu
    Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026, Banyak Partai Bigmatch
    19 jam lalu
    Piala Dunia 2026, Tuan Rumah Kanada Lolos ke Babak 16 Besar
    22 jam lalu
    32 Tim Lolos Babak Knok Out, Tim Eropa dan Afrika Dominasi
    2 hari lalu
    “Timah 55 Kaki di Bawah Singkep, Kebaikan Sultan Riau Lingga”
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    11 jam lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    3 hari lalu
    Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
    3 hari lalu
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    4 hari lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    6 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    7 hari lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Menguji kesaktian Pancasila di Era Digital

Editor Admin 10 tahun lalu 4.1k disimak

KESAKTIAN Pancasila bisa jadi saat ini tengah menghadapi ujian dari ancaman paham radikalisasi, terorisme, dan intoleran yang kini marak tersebar melalui berbagai saluran, termasuk media komunikasi digital.

Peringatan Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober terkait dengan peristiwa yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965.

Sebuah peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira angkatan darat dari Tentara Nasional Indonesia yang berujung pada pelarangan ajaran komunis, kemudian pembubaran Partai Komunis Indonesia beserta organisasi lainnya yang terkait.

Sejak 1967 hingga reformasi 1998, kesaktian Pancasila dalam setiap peringatannya selalu terkait dengan kemampuan Pancasila bertahan dari upaya penggantian ideologi bangsa menjadi komunisme.


Selama dekade 1960 hingga dekade 1990, arsitektur politik internasional diwarnai dengan pertentangan pandangan komunisme dan liberalisme.


PRAKTIK pemerintahan berdasarkan paham-paham komunisme saat itu dijalankan oleh sejumlah negara di Eropa Timur dengan Uni Soviet serta Republik Rakyat Tiongkok yang menjadi kiblatnya.

Sementara itu, paham liberalisme dipraktikkan oleh Amerika Serikat dan sebagian besar negara-negara di Eropa Barat dan benua lainnya.

Perebutan pengaruh itu kemudian menjalar ke negara-negara di benua lainnya.

Kondisi berubah ketika pada dekade 1990-an, Uni Soviet sebagai salah satu penjuru paham komunis bubar menjadi negara-negara kecil.

Perpecahan Uni Soviet ini kemudian memberikan pengaruh di kawasan Balkan dan menyisakan Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara berkekuatan besar yang masih mempraktikkan paham komunisme.

Dengan perubahan arsitektur politik internasional itu, tantangan dan permasalahan global juga berubah.

Ancaman Nyata

Perubahan arsitektur dan isu internasional membuat tantangan dan masalah yang dihadapi oleh negara-negara juga berubah.

Peristiwa serangan Menara Kembar WTC di New York pada bulan September 2001 membuat pertentangan ideologi antara liberalisme dan komunisme bukan lagi menjadi topik utama.


Terorisme dan radikalisasi menjadi tantangan yang banyak dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia.


 

DALAM beberapa tahun terakhir, tidak hanya kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika yang diguncang oleh aksi terorisme, tetapi Eropa yang selama ini dikenal aman juga diwarnai serangan teror.

Orang-orang yang terlibat aksi teror diyakini telah mengalami radikalisasi pemikiran sehingga memiliki pemahaman yang salah untuk menyikapi ketidakadilan yang mereka rasakan dan lawan.

Perkembangan teknologi digital pada dekade 2000-an juga diadopsi oleh teknologi di bidang informasi dan komunikasi.

Radikalisasi juga menggunakan medium teknologi informasi dalam menyebarkan paham-pahamnya.

Data dari lembaga pengkajian komunikasi digital “We are Social” yang dirilis pada tahun 2016 menunjukkan dari total populasi 259,1 juta orang, pengguna internet aktif 88,1 juta orang.

Sementara itu, pengguna aktif media sosial di Indonesia tercatat 79 juta orang.

Dengan kondisi ini menunjukkan ancaman radikalisasi melalui medium komunikasi digital juga mengintai Indonesia.

We are Social juga mencatat 326,3 juta warga Indonesia menggunakan pola komunikasi berbasis pergerakan aktif (mobile connections) dan 66 juta di antara menggunakan sistem itu untuk mengakses media sosial.

Pancasila dan Era Digital

Banyak kalangan yang percaya salah satu pola yang efektif untuk mencegah maraknya upaya radikalisasi di kalangan warga Indonesia melalui penguatan pemahaman sekaligus menjalankan lagi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa salah satu cara mencegah agar paham radikal dan terorisme tidak tumbuh subur di Tanah Air adalah dengan mempertahankan nilai-nilai keindonesiaan

Suhardi mengatakan era globalisasi dan teknologi informasi yang sudah begitu canggih membawa perubahan hampir di semua bidang, baik ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya, yang memiliki sisi positif dan negatif. Salah satu dampak negatif adalah terkikisnya nasionalisme.

“Di tengah reduksi nasionalisme yang terjadi saat ini adalah masuknya paham-paham yang bermacam-macam, termasuk paham radikal. Ini yang tidak boleh terjadi. Perubahan nilai sosial ini jangan sampai dibawa menjadi tidak baik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa jaringan teroris di Indonesia masih ada dan terus berkembang. Oleh karena itu, masyarakat wajib mewaspadai keberadaan teroris serta gerak-geriknya.

“Teroris sekarang beraksi dalam kelompok kecil. Masyarakat harus terus waspada. Apalagi, saat ini menjadikan seseorang sebagai pelaku teror tidak perlu lagi pergi mengenyam pendidikan di Afghanistan atau di tempat lainnya seperti yang dilakukan kelompok teror yang dahulu,” ujar Kepala BNPT dalam paparannya.

Dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, kata dia, saat ini generasi baru teroris cukup diasah secara intensif melalui media sosial dengan memanfaatkan internet.

Suhardi mengatakan bahwa sekarang ini kalau mau membaiat seseorang cukup melalui chatting saja, seperti yang terjadi di Medan beberapa waktu lalu, pelaku cukup dicuci otaknya melalui dunia maya, tidak perlu harus datang ke tempat pembaiat.

Sementara itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan bahwa munculnya gerakan radikalisme karena bangsa Indonesia mengabaikan nilai-nilai luhur kebangsaan.

Menurut Zulkifli, gerakan radikalisme hingga terorisme menjadi ancaman serius di Indonesia maupun di dunia.

Ia memaparkan setelah 18 tahun era reformasi bergulir, ternyata demokrasi di Indonesia masih sebatas demokrasi prosedural yang justru melahirkan kesenjangan sosial yang makin tinggi.

Kesenjangan sosial inilah, katanya, yang menjadi salah satu indikator lahirnya gerakan radikalisme dan terorisme.

“Mereka yang tidak mendapatkan keadilan, baik dalam konteks sosial maupun ekonomi, kemudian mengekspresikan kekecewaannya melaui tindakan ekstrem dan gerakan radikal,” katanya.

Tantangan yang dihadapi Pancasila hari ini jauh berbeda dengan tantangan 10 s.d. 20 tahun yang lalu.

Meski paham komunisme masih dilarang untuk dikembangkan di Indonesia, dengan situasi internasional yang ada, ancaman radikalisasi dan terorisme juga tidak bisa dianggap sepi.

Mengajak masyarakat untuk memahami dan menjalankan lagi nilai-nilai Pancasila menjadi penting, tentunya dengan pola yang kekinian.

Bukan dengan pendekatan satu arah dan penyeragaman pola penerapan serta pemahaman Pancasila, melainkan dengan menggunakan medium-medium komunikasi digital, media sosial, dan hal-hal kreatif lainnya yang memikat, khususnya kalangan muda.

Dengan tantangan yang ada saat ini, bisa jadi kesaktian Pancasila sekali lagi diuji. ***

Kaitan era digital, g30s pki, kesaktian pancasila
Admin 2 Oktober 2016 2 Oktober 2016
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Sebagian Besar Jabodetabek Diprediksi Hujan
Artikel Selanjutnya Artis Instagram, Nih! Pakai Barang Seadanya, Tiru Artis Dunia

APA YANG BARU?

Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
Statistik 11 jam lalu 110 disimak
Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
Sports 11 jam lalu 111 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 14 jam lalu 144 disimak
KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
Artikel 14 jam lalu 131 disimak
Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
Artikel 15 jam lalu 151 disimak

POPULER PEKAN INI

Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
Documentary 7 hari lalu 465 disimak
Walikota Batam Enggan Jawab Saat Ditanya Ada Orasi Politik di Pawai MBG Siswa
Artikel 5 hari lalu 428 disimak
Akomodasi Keluhan Warga, Pemko Batam Alihkan Proyek TPS ke 140 Bin Kontainer
Lingkungan 3 hari lalu 421 disimak
Pakar Hak Anak Soroti Pawai Dukungan MBG di Batam
Pendidikan 7 hari lalu 388 disimak
Ikan Lepu (Lion Fish)
Rupa 6 hari lalu 371 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?