Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pungli di Pelabuhan Batam Center, Ombudsman Kepri Minta Perketat Pengawasan Pelayanan Publik
    3 jam lalu
    Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
    3 jam lalu
    Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
    3 jam lalu
    Lintasan Telaga Punggur–Tanjung Uban Jadi Rute Paling Ramai Saat Lebaran 2026
    3 jam lalu
    Oknum Pegawai Imigrasi Batam Dicopot setelah Kasus Pungli terhadap Wisman
    3 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    3 jam lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    3 jam lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    1 hari lalu
    Debut Manis Herdman, Timnas Menang 4-0 Atas Saint Kitts
    2 hari lalu
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    2 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Serial

Nelayan Perairan Laut, Kini Air Tawar

Teluk Duriangkang yang Kini Tawar (bagian 2 - Selesai)

Editor Admin 2 tahun lalu 3.1k disimak

KETIKA proyek bendungan dimulai tahun 1992, masyarakat Duriangkang dihadapkan pada perubahan besar. Mereka harus pindah dan mengubah cara hidup yang sebelumnya bergantung dari laut di teluk tenang itu. Bendungan yang akan dibangun, segera membanjiri sebagian besar tempat tinggal mereka, mengubah lanskap dan membawa perubahan mendalam dalam cara hidup.

Oleh : Bintoro Suryo


Tahun-tahun terakhir Duriangkang dihuni sebagai perkampungan orang sebelum ditenggelamkan, sudah ada akses jalan darat yang menghubungkan kampung tua itu dengan wilayah lain di pulau Batam.

Sampai awal dekade 90-an, Badan Otorita Batam di bawah BJ Habibie, telah menyelesaikan banyak ruas jalan aspal penghubung dari satu wilayah ke wilayah lain di pulau ini. Untuk akses darat kampung tua Duriangkang saat itu, bisa dilalui, salah satunya dari seberang markas PBK Duriangkang di jalan Ahmad Yani. Akses lain bisa dilalui melalui ruas jalan menuju Sei Pancur.

Begitu pembangunan Waduk Duriangkang dimulai, warga Duriangkang direlokasi ke sejumlah wilayah. Seperti wilayah Pancur. Namun, banyak juga yang memilih untuk mendiami kawasan Rumah liar (Ruli, pen) kampung Sukajadi (kini menjadi area perumahan The Central Sukajadi dan Bukit Indah Sukajadi, pen) hingga kawasan Jodoh dan Nagoya yang saat itu sedang dikembangkan pemerintah (Badan Otorita Batam/ BP Batam, pen.). Pertimbangan warga adalah akses yang lebih dekat dengan pusat keramaian dan juga lokasi kerja.

Seiring berjalannya waktu, perairan yang dulu laut, kemudian berubah jadi danau besar air tawar. Hingga proses desalinisasi teluk yang dibendung jadi danau air tawar hingga bertahun setelahnya, sempat tidak ada lagi aktifitas kehidupan di sana. Duriangkang sempat sunyi. ekosistem kehidupan alam di sana, perlahan juga mulai berubah.

Bertahun setelah ekosistem alam baru di sekitarnya terbentuk, aktifitas manusia kembali ada. Awal tahun 2000-an misalnya, hutan di sekitar DAM Duriangkang sempat difungsikan sebagai lokasi peternakan liar. Terutama babi. Kondisi itu mengancam sumber air di waduk hasil membendung laut tersebut. Berkali-kali upaya penertiban dilakukan petugas hingga akhirnya wilayah hutan tangkapan air di sana steril.

Meski perubahan besar telah terjadi puluhan tahun lalu, aktivitas nelayan masih tetap terlihat di perairan Duriangkang yang kini jadi tawar. Puluhan tahun lalu, ribuan bibit ikan air tawar disebar. Terutama mujair. Bertahun kemudian setelahnya, itu menjadi berkah. Aktifitas nelayan air tawar bermunculan.

Data dari BP Batam beberapa tahun lalu, jumlah nelayan di waduk tersebut mencapai 400 orang. Untuk menjaga kelestarian wilayah sekitarnya yang kini masuk dalam Daerah Tangkapan Air (DTA), BP Batam juga mengeluarkan kartu pengenal untuk mereka. Tujuannya, demi menjaga suplai dan ketersediaan air baku di Waduk Duriangkang untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat Batam tetap aman.

Seorang pemancing di pinggiran Waduk Duriangkang, Batam. © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Secara umum saat ini, luas daerah tangkapan air (DTA) di Duriangkang mencapai lebih dari 7.000 hektar dengan luas permukaan 1.200 hektar. Waduk Duriangkang juga menopang 70 persen kebutuhan air bersih di Kota Batam.

Saya dan keluarga sempat mengunjungi kembali lokasi Duriangkang beberapa waktu kemarin. Seperti melihat ke masa lalu. Jejeran perahu nelayan, lumayan ramai. Mereka menggunakan alat tangkap jaring untuk meraih rezeki di teluk yang sekarang tawar itu. Beberapa yang lain menggunakan joran pancing, tapi lebih didominasi oleh penghobi.

Kami menyusur jalan setapak yang dipenuhi kebun-kebun di Duriangkang. © F. bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

“Ikan apa yang banyak di sini, bang”, tegur saya ke salah satu pemancing di bibir danau.

“Mujair”, katanya.

“Gak takut buaya, mancingnya dekat sekali ini”, tanya saya.

Informasi tentang keberadaan buaya-buaya, marak terdengar beberapa tahu ini di sana.

Saat ini, waduk Duriangkang digunakan sebagai penyuplai utama kebutuhan air bersih warga Batam. Waduk Duriangkang dikelola oleh SPAM BP Batam, namun sebelumnya, pengelolaan pernah dikerjasamakan selama 25 tahun dengan PT. ATB Batam. Waduk ini telah menjadi sumber vital dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk Batam, mencerminkan transformasi besar dari perairan menjadi sumber air yang penting bagi wilayah ini.

Hutan di sekelilingnya, yang sebagian dijadikan lahan kebun oleh warga, sebenarnya merupakan daerah tangkapan air. Berfungsi juga sebagai hutan kota yang memberi suplai oksigen bagi warga yang mendiaminya.

Hampir sebagian besarnya sudah terjamah aktifitas manusia. Tapi, masih cukup layak bagi kita yang ingin mencari suasana lain di perkotaan yang padat seperti Batam.

Kisah hidup di perairan Duriangkang mencerminkan perubahan dan adaptasi dalam kehidupan masyarakat seiring dengan pembangunan bendungan. Dalam beberapa dekade terakhir, perairan Duriangkang telah berubah menjadi sumber air yang sangat berharga bagi warga Batam.

(*)

Selesai

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com

Kaitan batam, Dam, Duriangkang, History, hutan, sejarah, waduk
Admin 8 Desember 2023 8 Desember 2023
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya 2 Pelajar SMA di Tanjungpinang Jual Pacar yang Masih SMP ke Pria Hidung Belang di Batam
Artikel Selanjutnya Seorang Ibu Tewas Terlindas Truk di Turunan Bukit Daeng, 2 Anaknya Selamat

APA YANG BARU?

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 3 jam lalu 92 disimak
Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
Lingkungan 3 jam lalu 87 disimak
Pungli di Pelabuhan Batam Center, Ombudsman Kepri Minta Perketat Pengawasan Pelayanan Publik
Artikel 3 jam lalu 97 disimak
Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
Artikel 3 jam lalu 96 disimak
Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
Artikel 3 jam lalu 95 disimak

POPULER PEKAN INI

Akhir Maret ini SPPG Batam Mulai Distribusikan Kembali MBG ke Sekolah
Artikel 3 hari lalu 304 disimak
Diskominfo Batam Sosialiasikan Larangan Penggunaan Medsos Anak Dibawah 16 Tahun
Artikel 3 hari lalu 299 disimak
Kantor Imigrasi Batam Tindak Lanjuti Keluhan Pemerasan Kepada WNA di Pelabuhan
Artikel 4 hari lalu 294 disimak
Terapkan WFA, Rabu 25 Maret ASN Pemko Batam Mulai Bekerja Kembali
Artikel 6 hari lalu 291 disimak
Volume Air Waduk Menurun, BP Batam Pastikan Layanan Air Bersih Tetap Terjaga
Artikel 3 hari lalu 241 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?