Hubungi kami di

Khas

Pengabdian 25 Tahun | Malam ini Layanan ATB Berakhir, Fokus Pengembangan Bisnis Baru

iqbal fadillah

Terbit

|

Ilustrasi. ATB Building. Photo : Dok.

HARI ini Sabtu, 14 November 2020 tepat pukul 00.00 malam nanti, konsesi pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam antara PT Adhya Tirta Batam (ATB) dan BP Batam berakhir.

Sepanjang masa kerjasama konsesi, ATB sebagai mitra BP Batam telah menunjukan dedikasi yang besar selama 25 tahun mengabdi, dan membuahkan pencapaian gemilang untuk Batam.

ATB telah menyerahkan pengelolaan SPAM kepada BP Batam dalam kondisi excellent, dengan predikat pelayanan air bersih terbaik di Indonesia.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada pelanggan yang turut mendukung kami selama ini,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jum’at (13/11) kemarin sore.

Menurut Maria, sejak ATB dipercaya untuk melayani kebutuhan air bersih kota Batam mulai tahun 1995. Perusahaan terus membenahi diri agar mampu memberikan pelayanan air terbaik kepada kota Batam.

“Maklum saja, beban yang diletakan di pundak ATB cukup berat. Perusahaan ini harus mampu menjadi salah satu penopang bertumbuhnya investasi dengan layanan air bersih yang berkualitas” tutur Maria.

Ia juga menjelaskan, pada perjalanannya ATB berkembang menjadi perusahaan air bersih terbaik di Indonesia dengan menerapkan Smart Water Management System. ATB adalah perusahaan air bersih pertama di Indonesia yang menerapkan konsep perusahaan pintar pada tahun 2010.

Aplikasi teknologi dan berbagai pembenahan dilakukan secara masif di berbagai lini. Hingga akhirnya perusahaan mampu mencetak sejumlah pencapaian yang belum mampu dicapai oleh perusahaan air bersih manapun di Indonesia.

Saat ini, cakupan area pelayanan ATB telah mencapai 99,5 persen denggan 296 ribu pelanggan. Dengan cakupan area seluas itu, ATB mampu meningkatkan kontinyuitas suplai hingga 23,7 jam dan kebocoran hanya 14 persen.

“Kami menyerahkan pelayanan air bersih ini dalam kondisi paling Excellent,” ujar Maria.

Selain itu, sejumlah pelayanan yang tidak bisa diselesaikan di akhir masa konsesi ini juga turut diserahkan kepada BP Batam. Diantaranya adalah permohonan sambung baru yang meningkat tajam di 2 bulan belakangan ini.

Menurut data yang dipaparkan Maria, setidaknya ada 3.037 permohonan sambung baru yang masuk dalam dua bulan terakhir. Padahal di waktu normal, rata-rata permohonan sambung baru hanya 661 permohonan setiap bulannya.

Rata-rata permohonan sambung baru berasal dari pengembang perumahan dan calon pelanggan rumah tangga. Mereka sengaja mengajukan permohonan sambung baru di masa injury time ini dan berharap mendapat sambungan air bersih sebelum masa konsesi ATB berakhir.

Perusahaan berusaha untuk melayani setiap permintaan yang masuk semaksimal mungkin. Beberapa langkah dilakukan agar mempercepat proses pelayanan. Namun menurut estimasi waktu, tidak semua permohonan sambung baru dapat dilayani.

BACA JUGA :  Kasus Jiwasraya Berskala "Gigantic", Ada Dugaan Kongkalikong

Jika ada permohonan sambung baru yang belum sempat dieksekusi hingga akhir konsesi, maka ATB akan menyerahkan tindaklanjutnya kepada BP Batam.

“Kami akan serahkan kepada BP Batam dan akan ditindaklanjuti oleh BP Batam,” jelasnya.

Fokus Pada Pengembangan Bisnis Baru

Setelah konsesi dengan BP Batam berakhir, ATB akan fokus kepada pengembangan bisnisnya di tempat lain. Seperti diketahui, perusahaan ini telah mencanangkan program “ATB For Indonesia” sejak tahun 2019 silam.

Program ATB For Indonesia ini merupakan sebuah sarana ATB untuk mengembangkan sayapnya di sejumlah wilayah di Indonesia. Seperti diketahui, ATB sendiri telah memililiki bisnis di beberapa daerah seperti Umbulan, Lampung, Palembang dan kota-kota lainnya.

Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara juga tengah menjajaki kerjasama dengan ATB. Pemerintah Kabupaten Samosir menilai, kehadiran ATB sebagai perusahaan pengolahan air di Samosir akan turut mendorong pertumbuhan wilayah tersebut.

Pemkab Samosir telah melakukan survei terhadap sejumlah perusahaan pengolahan air yang ada di Indonesia. Menurut Bupati Pemkab Samosir, Rapidin Simbolon hasil survei menunjukkan bahwa ATB merupakan perusahaan terbaik, dengan sistem pengelolaan paling efisien yang ada di Indonesia.

Sebagai kawasan strategis nasional, kebutuhan air bersih di Samosir tidak hanya untuk penduduk setempat. Kota yang berada di tengah danau Toba ini dikunjungi sekitar 1 juta turis setiap tahunnya, dan akan terus bertambah seiring pengembangan kawasan Danau Toba.

“Saat ini Pemkab Samosir tengah menyusun regulasi yang dibutuhkan agar kerjasama ini dapat berjalan dengan baik. Kita tinggal menunggu waktu,” papar Maria.

Selain itu, Pemerintah Provinsi dan DPRD Kepulauan Riau juga telah meminta secara khusus agar ATB terlibat dalam perbaikan kualitas pengelolaan dan pelayanan SPAM di pulau Bintan. Mereka menganggap ATB telah berhasil menunjukan kinerja yang sangat memuaskan selama menjadi operator pengelolaan air di Kota Batam. Bahkan, sejak mengusung konsep Smart Water Management System, pengelolaan air di Batam telah jauh mengungguli kota-kota lain.

Tim pansus menargetkan di masa 4-5 tahun mendatang permasalahan air bersih di Tanjung Pinang dan Bintan bisa diselesaikan. Masukan dari ATB sebagai perusahaan air yang efisien, bisa membantu pemerintah Provinsi mengatasi kesulitan air yang saat ini baru terlayani sekitar 40 persen pelanggan.

Upaya perbaikan pelayanan air bersih harus segera direalisasikan. Tim pansus meminta agar PDAM Tirta Kepri segera bertindak cepat dan berkomunikasi intens untuk menentukan format dan regulasinya. (*)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook