Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Terapkan WFA, Rabu 25 Maret ASN Pemko Batam Mulai Bekerja Kembali
    2 hari lalu
    Tim SAR Lakukan Pencarian Pria Yang Lompat ke Laut dari Jembatan 5 Barelang
    2 hari lalu
    Bandara Hang Nadim Batam Siaga Lonjakan Penumpang Arus Balik Lebaran
    2 hari lalu
    Remisi Khusus Idul Fitri Diberikan Kepada 1.000 Warga Binaan di Batam
    4 hari lalu
    Walikota Batam Gelar Open House Idul Fitri di Wisma Batam
    4 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    2 minggu lalu
    Aktifitas Kelompok Budidaya Laut Biru di Bintan
    2 minggu lalu
    Bassist God Bless, Donny Fattah Gagola Meninggal Dunia
    3 minggu lalu
    Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 16 Tahun
    3 minggu lalu
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    4 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    4 minggu lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Soe Hok Gie, Aktivis Pemberani yang Lawan Pemerintahan Sukarno

Editor Admin 4 tahun lalu 1.6k disimak

SOE Hok Gie dikenal sebagai pemuda pejuang, aktivis, intektual yang kritis dan idealis. Ia meninggalkan warisan baik perjuangan di atas tanah maupun perjuangan di atas kertas.

Daftar Isi
1. Awal mula Soe Hok Gie menjadi seorang aktivis 2. Perjuangan Soe Hok Gie melawan pemerintahan otoriter Sukarno lewat gerakan mahasiswa 3. Meninggal di pelukan Semeru

Dikutip dari buku Soe Hok-Gie: Biografi Sang Demonstran 1942-1969 karya Muhammad Rifai, Gie–sapaannya– adalah keturunan Tionghoa yang lahir di Kebon Jeruk, Jakarta pada 17 Desember 1942. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara dari ayah yang bernama Soe Lie Piet, seorang sastrawan.

“Saya dilahirkan pada 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk,” ucap Gie seperti ditulis dalam buku tersebut.

Gie ikut berjuang melawan pemerintahan yang otoriter dan mewujudkan pemerintahan yang baru dan bersih.

1. Awal mula Soe Hok Gie menjadi seorang aktivis

Gie berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Sastra. Kemunculan Soe Hok Gie sebagai aktivis gerakan mahasiswa sebenarnya sudah dimulai ketika ia mengikuti ospek mahasiswa dan berkenalan dengan Zaske seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS) dan berbagai aktivis gerakan mahasiswa lainnya.

Menurut Gie, kondisi negara saat itu sedang tidak baik-baik saja, kepemimpinan Sukarno kurang memilik sense of crisis rakyat kecil dan suka pada permainan politik. Kondisi tersebut diperparah dengan beberapa kasus yang menunjukkan kepemimpinan Sukarno cenderung diktaktor dan korup.

Hal Ini berkaitan dengan kebebasan berbicara, berpendapat, dan menuliskan pendapat pribadi melalui media massa, banyak dilakukan penyensoran dan orang-orang yang ditangkap lalu dipenjara tanpa pengadilan yang jelas, termasuk pembubaran partai, yaitu masyumi dan PSI.

Semua hal ini menjadi pertanyaan Gie, karena semua itu menjadikan tugas intelektual bukan sekadar studi saja, melainkan juga melakukan perubahan.

Pada catatan hariannya 14 Januari 1963, menandakan Soe Hok Gie sebagai aktivis gerakan mahasiswa yang memiliki kesadaran dan ingin mengubah keadaan. Isi dari catatan tersebut sebagai berikut.

“Akhir-akhir ini aku giat kembali ke GMS, Aku diserahi tugas untuk mengoordinasi rangkaian seri-seri ceramah yang mempunyai tujuan menanamkan sikap heroik di kalangan pemikir-pemikir muda…”

Sebelumnya, Gie sebenarnya sudah menjadi aktivis bagi etnisnya, China peranakan yang menuntut agar pemerintah menerima program asimilasi. Dari sini lah ia bertemu dengan salah satu pentolan aktivis PMKRI yaitu Harry Tjan Silalahi.

2. Perjuangan Soe Hok Gie melawan pemerintahan otoriter Sukarno lewat gerakan mahasiswa

Meskipun Gie memiliki keyakinan politik yang kuat, ia tidak pernah berusaha meyakinkan atau mempengaruhi mahasiswa lainnya. Soe Hok Gie dan beberapa kawannya juga membidani lahirnya pembentukan kelompok pendaki gunung dan pecinta alam di fakultas, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) yang dibentuk pada November 1964.

Organisasi ini merupakan perwujudan reaksi menentang nilai-nilai dan perilaku sejumlah mahasiswa yang bergaya hidup boujuis urban. Klub ini juga sebagai bentuk penolakan terhadap ideologi dan politik yang dipenuhi kemunafikan.

Setelah kasus 30 September 1965, Soe bergabung dengan PPI dalam berbagai serangan terhadap bangunan PKI, mulai dari menempelkan poster-poster anti PKI di berbagai wilayah dan gedung-gedung dan aksi-aksi perusakan lainnya.

Pada awal 1966, Gie mendengar rencana kampanye baru untuk menentang kenaikan tarif bis dan harga minyak, akhirnya ia mendukung gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), ia pun ikut serta dalam aksi-aksi yang diselenggarakan oleh KAMI.

Namun, Gie tidak sekadar ikut, tetapi melakukan aksi dan gerakan menggunakan strateginya sendiri. Inilah yang membuktikan Gie berperan sebagai salah satu tokoh penggerak gerakan mahasiswa 66.

Selain itu, Gie juga giat menyerukan suara perjuangan mahasiswa dengan tulisannya di beberapa surat kabar yang menyulut semangat mahasiswa dalam aksi dan membuat pemerintah kalang kabut dengan, tulisannya juga membuka mata rakyat tentang bobroknya pemerintahan zaman itu, Sukarno.

3. Meninggal di pelukan Semeru

Walaupun tubuhnya kecil, Gie termasuk orang yang kuat dan ulet. Karena hobinya, ia ingin merayakan ulang tahunnya pada 17 Desember di puncak Gunung Semeru.

Namun takdir berkata lain, tubuh Gie mengalami kejang-kejang dan menggigil akibat menghirup gas beracun dan mematikan, hal serupa juga dialami Idnan Lubis, temannya. Mereka meninggal dalam pelukan Semeru sehari sebelum ulang tahun Gie yang ke 27.

Awalnya, Gie dikebumikan di Pemakaman Menteng Pulo berdampingan dengan sahabatnya Idhan Lubis. Namun, keluarga Gie mengalami masalah yang mengharuskan jenazahnya dipindahkan ke bekas makam kolonial di Tanah Abang.

Masalah kembali muncul ketika pada 1975, Pemerintah Jakarta mengumumkan akan membongkar pemakaman lama di Tanah Abang, tempat Gie dimakamkan. Akhirnya keluarga memutuskan untuk mengkremasi tulang belulang Gie dan abunya disebarkan di tempat favoritnya, yaitu di Lembah Mandalawangi, dekat Gunung Pangrango.

(*)

Sumber : IDN TIMES | buku Soe Hok-Gie: Biografi Sang Demonstran 1942-1969

Kaitan Angkatan 66, Soe Hoek Gie, soekarno
Admin 20 November 2021 20 November 2021
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Killeney, Kedai Kopi Berusia 109 Tahun itu
Artikel Selanjutnya “TOGETHER” | XPLORING BATAM PART 12 (WISATA COMMUNITY BASE TOURISM)

APA YANG BARU?

Terapkan WFA, Rabu 25 Maret ASN Pemko Batam Mulai Bekerja Kembali
Artikel 2 hari lalu 107 disimak
Tim SAR Lakukan Pencarian Pria Yang Lompat ke Laut dari Jembatan 5 Barelang
Artikel 2 hari lalu 109 disimak
Bandara Hang Nadim Batam Siaga Lonjakan Penumpang Arus Balik Lebaran
Artikel 2 hari lalu 111 disimak
Remisi Khusus Idul Fitri Diberikan Kepada 1.000 Warga Binaan di Batam
Artikel 4 hari lalu 242 disimak
Walikota Batam Gelar Open House Idul Fitri di Wisma Batam
Artikel 4 hari lalu 244 disimak

POPULER PEKAN INI

BMKG Perkirakan Cuaca Batam Cerah Saat Hari Raya Idul Fitri
Artikel 6 hari lalu 457 disimak
Jelang Perayaan Idul Fitri Pemkab Bintan Tuntaskan Penyaluran THR ASN dan Insentif non ASN
Artikel 4 hari lalu 327 disimak
Walikota Batam Salat Id Bersama Masyarakat di Dataran Engku Putri
Artikel 5 hari lalu 320 disimak
Lakalantas Dekat Simpang Bandara, Pengendara Motor Terlindas Truk
Artikel 5 hari lalu 314 disimak
Malam Takbiran Hutan di Sungai Harapan Terbakar
Artikel 5 hari lalu 311 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?