BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang mata memandang, flat-flat baru, mencakari langit, telah atau sedang dibangun. Jalur kereta MRT sedang dikerjakan. Google menyebut, proyek pemukiman baru ini, berjumlah 42 ribu.
Oleh: Sultan Yohana
TENGAH, dulunya kawasan perkebunan tua yang telah diambilalih pemerintah. Sinyal HP saja, di sini agak lemah, karena lokasi ya yang agak terpencil.
Begitu turun dari bus, saya melewati sederet flat kinyis-kinyis untuk menuju alamat penjual lensa yang sedang menunggu. Ini kawasan benar-benar masih baru. Playground baru. Jalan setapak baru. Bahkan beberapa tong sampah, plastiknya belum dilepas. Tapi yang menarik, nyaris sepanjang mata melihat, flat-flat sudah terisi penuh. Itu bisa dilihat dari jendela-jendela rumah yang telah berserakan gantungan jamuran. Atau anak-anak yang main di playground. Pasangan-pasangan muda mendominasi. Kawan saya, sepasang suami istri muda, tinggal di sini, setelah menunggu flatnya selesai dibangun sekitar 2 tahun.
Padahal Tengah, bisa dibilang “dusun”-nya Singapura.
Kenapa begitu cepat sebuah kawasan baru di Singapura terisi penuh? Yang berarti rumah-rumahnya terjual dengan mudah. Tidak menjadi proyek “ghost town” atau “kota hantu” sebagaimana proyek-proyek serupa di Johor, China, bahkan Batam yang kini banyak perumahan baru minim penghuni. Padahal rumah di sini tak murah. Sebuah flat empat kamar bisa dijual seharga Rp7 miliar.
Jawabannya mudah. Karena perumahan dibangun berdasarkan permintaan. Bukan dibangun dulu, baru dipasarkan. Flat-flat ini, yang diperuntukkan untuk warga negara mereka, juga, mudah dan murah mendapatkannya. Sepanjang seorang WN Singapura BELUM punya rumah, mau bekerja, menyisihkan sebagian uangnya sebagai dana pensiun (CPF), sudah menikah (atau minimal 35 tahun jika lajang): mereka bisa mengajukan diri untuk kepemilikan rumah. Angsuran tiap bulannya? ITU bahkan lebih murah ketimbang angsuran membeli mobil Avanza di Indonesia.
Orang-orang tak kaya di Singapura, memang mendapat prioritas utama, dan diurus negara. Bukan sebaiknya.
Tidak ada “kota hantu” di Singapura. Setiap perumahan yang baru, dengan segera terisi penuh. Di manapun dibangun. Itu karena sebelum membangun, mereka sudah memikirkan semuanya hingga 100 tahun ke depan. Bukan merencanakan pembangunan setiap punya presiden baru.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


