Connect with us

Pilihan gowest.id

Kura Kura Galapagos yang Muncul Lagi

Mike Wibisono

Published

on

Kura Kura Galapagos : © People.com

ANGGOTA spesies kura-kura raksasa yang tidak terlihat selama lebih dari 110 tahun dan diperkirakan sudah punah, berhasil ditemukan di bagian terpencil Pulau Fernandina di Kepulauan Galapagos oleh tim gabungan Taman Nasional dan Konservasi Galapagos.

Dilansir AFP (h/t Channel News Asia), Jumat (22/2/2019), kura-kura yang diyakini berjenis kelamin betina itu memiliki nama ilmiah Chelonoidis phantasticus, lebih dikenal sebagai kura-kura raksasa Fernandina.

Kura-kura tersebut memiliki cangkang halus dan moncong berwarna merah muda.

Selanjutnya, tim membawa kura-kura berusia satu abad itu ke pusat penangkaran kura-kura raksasa di Pulau Santa Cruz. Nantinya, kura-kura itu akan tinggal di kandang yang dirancang khusus.

“Hewan itu usianya lebih dari 100 tahun dan ia adalah kura-kura yang sangat tua,” kata Washington Tapia dari Galapagos Conservancy, sebuah organisasi nirlaba AS yang memang didekasikan untuk melestarikan Galapagos –kepulauan di pesisir barat Amerika Selatan.

Menurut para peneliti yang dikutip Associated Press, spesies terakhir kura-kura ini ditemukan pada 1906. Sejak itu mereka sering menemukan bekas gigitan pada kaktus dan ada kemungkinan penampakannya pada 2009.

Tanda-tanda ini memberi harapan kemungkinan ada kura-kura besar itu di Galapagos. Namun, penelitian terakhir itu tidak disertai informasi lebih lanjut.

Dari jejak dan kotoran yang ditemukan, para peneliti yakin masih ada beberapa anggota spesies termaksud di kepulauan itu. Jadi kemungkinan mereka telah berkembang biak.

“Mereka butuh kura-kura lain, tapi kura-kura betina menyimpan sel telur dalam jangka waktu lama. Jadi, masih ada harapan,” ujar Stuart Pimm, Profesor ekologi konservasi dari Duke University.

Tidak seperti kebanyakan spesies kura-kura raksasa lainnya, ancaman terbesar bagi kura-kura raksasa Fernandina bukanlah manusia.

Kura-kura ini disebut sangat terancam punah. Para ahli justru berpendapat telah punah akibat letusan gunung yang mengakibatkan aliran lahar di hampir seluruh pulau.

Fernandina adalah pulau terbesar ketiga di Galapagos dan memiliki salah satu gunung berapi paling aktif di dunia, La Cumbre. Kepulauan ini terletak di Samudra Pasifik sekitar 1.000 kilometer (620 mil) dari daratan Ekuador.

Kepulauan Galapagos terkenal karena flora dan fauna yang unik sehingga naturalis Charles Darwin terinspirasi menulis studi tentang evolusi pada 1859, The Origin of Species. Kawasan itu kemudian dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada 1979.

Dengan pemindahan kura-kura Fernandina betina yang baru ditemukan ini, maka tim dari Taman Nasional Galapagos dan Konservasi Galapagos juga bisa melakukan upaya konservasi terhadap spesies ini.

Taman Nasional Galapagos dan Konservasi Galapagos tercatat berhasil membiakkan berbagai spesies kura-kura yang sempat terancam punah melalui upaya konservasi.

Salah satunya menurut National Geographics(22/2) adalah kura-kura Espanola yang tadinya hanya tersisa 14 ekor. Setelah dilakukan konservasi, jumlahnya sudah lebih dari 1.000 ekor.

Selain itu, sebanyak 15 spesies kura-kura Galapagos juga pernah diidentifikasi di sana, dua telah punah dan 12 terancam punah. Kura-kura raksasa”Lonesome George”(Chelonoidis abingdonii) dari Pulau Pinta di wilayah utara Kepulauan Galapagos juga telah tewas pada 2012. Ia merupakan jenis terakhir dari jenisnya.

Tetapi bagi Tapia, penemuan kura-kura raksasa Fernandina lebih dari sekadar kembalinya suatu spesies.

“Kura-kura di Galapagos seperti insinyur ekosistem,” katanya. “Mereka berkontribusi pada penyebaran benih dan membentuk ekosistem. Peran ekologis itu sangat penting.”

Ekspedisi lanjutan rencananya akan dilakukan akhir tahun ini di Pulau Fernandina dengan tujuan mencari lebih banyak kura-kura jenis ini.

Jika ada kura-kura Fernandina lain yang ditemukan, maka peneliti berharap kura-kura ini bisa berkembang biak dan dibesarkan lalu dikembalikan ke habitat mereka di Pulau Fernandina.

Sumber : Time / Channel News Asia / CNN

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *