Terhubung Dengan Kami

Khas

“Para Siswa Yang Menyeberangi Sungai Untuk Sampai ke Sekolah”

nien bagaskara

Dipublikasi

pada

KONDISI pendidikan di Indonesia masih belum merata. Ada ketimpangan antara kondisi di kota dan desa. Apalagi di daerah tertinggal.

Di daerah terpencil di pelosok Tanah Air, misalnya. Masih banyak dijumpai infastruktur pendidikan yang memprihatinkan. Padahal salah satu kemajuan bangsa bisa dilihat dari kemajuan pendidikannya.

Kondisi memprihatinkan bisa dilihat dari perjuangan para siswa sekolah dasar yang letaknya berada di daerah pegunungan, misalnya. Di SD Negeri 1 Campoan, Desa Campoan, Kecamatan Mlandingan, di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, para siswanya harus gigih untuk bisa mengkuti pelajaran.

Para siswa di sekolah dasar itu harus menempuh jalan setapak dan memutar serta melewati tebing yang curam dan juga menyeberangi sungai dengan arus deras.

Di sekolah dasar yang letaknya antara 35 kilometer hingga 40 kilometer dari Kota Situbondo ini para siswa setiap hari harus berjalan sejauh lebih dari 1 kilometer dari rumah ke sekolah.

Mereka terpaksa menyeberangi sungai selebar sekitar 10 meter dengan arus sangat deras. Sungai merupakan akses jalan satu-satunya menuju sekolah. Sedangkan akses lain harus memutar lebih jauh, yakni sekitar 3 kilometer.

Karena itu perjalanan menuju sekolah yang berbahaya dan bisa mengancam nyawa pelajar SD ini sudah menjadi hal yang biasa demi menuntut ilmu.

“Sebenarnya takut terseret arus sungai, tapi bagaimana lagi tidak ada jalan lain untuk ke sekolah. Teman-teman semua memang berangkat bersama-sama dan saling membantu saat menyeberang sungai,” kata Nur Faizah, salah satu siswa, seperti dikutip dari Antara, Jumat (3/2).

Satu-satunya jembatan untuk menuju sekolah dasar itu tidak bisa digunakan lagi karena sudah putus akibat diterjang banjir bandang pada dua tahun silam (2015). Kendati sempat dibangun jembatan dengan berbahan bambu oleh masyarakat desa setempat, beberapa kali juga hanyut akibat banjir.

Tidak heran, seragam sekolah pelajar SD ini selalu basah karena terkena air saat sampai ke sekolah. Bahkan, seluruh siswa menggunakan sandal jepit pergi ke sekolah karena setiap hari pulang dan pergi menyeberang sungai.

Dari foto yang sempat didokumentasikan, terlihat para pelajar SD tersebut saling membantu ketika menyeberang sungai, beberapa siswa kelas VI berusaha menggendong adik kelasnya menyeberang sungai.

Tak terkecuali guru sekolah. Selain mengajar, mereka juga perlu mengawasi saat anak didiknya menyeberang sungai dan bahkan menggendong siswa yang masih kecil karena khawatir terbawa arus sungai.

Salah seorang guru SDN 1 Campoan, Ahmad Faesoli di laman Antara mengatakan, jumlah siswa sekolah dasar itu keseluruhan 28 orang, mulai kelas I hingga kelas VI.

“Saya kasihan sama anak-anak setiap hari pergi dan pulang sekolah menyeberang sungai, kadang murid-murid saya mengeluh capek setelah sampai di sekolah,” katanya.

Ia bercerita, suatu ketika pernah ada kejadian seorang guru yang sedang menyeberang sungai, terseret air yang tiba-tiba deras dan permukaannya naik, mirip seperti banjir bandang. Untunglah si guru bisa menyelamatkan diri meskipun sempat terseret sekitar 10 meter.

Selama ini, kata dia, para guru pengajar sekolah dasar dan kepala desa setempat sudah mengajukan kepada Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk membangun jembatan sebagai akses jalan anak-anak menuju ke sekolah.

Dengan dibangunnya jembatan, selain memudahkan akses pelajar SD ke sekolah, juga dapat membantu masyarakat satu dusun di desa setempat melakukan aktivitas setiap hari.

Pelajar SD itu tidak cukup berjuang pergi dan pulang sekolah menyeberangi sungai serta melewati jalan setapak di tebing yang curam, konsentrasi belajar siswa juga tidak dapat maksimal selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sebab, tepat di depan ruang kelas sekolah mereka berhadapan dengan kandang sapi yang mengeluarkan bau tidak sedap.

Letak sekolah yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk ini juga membuat pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak terkait kondisi lingkungan sekitar sekolah, dan kandang sapi maupun kandang kambing di depan maupun samping sekolah menjadi pemandangan setiap hari.

Selama ini hanya sebagian kecil wali murid sekolah dasar itu, yang mengantarkan putra dan putrinya ke sekolah, sedangkan sebagian besar wali murid lainnya memasrahkan kepada guru sekolah.

Sehingga beberapa guru sekolah membagi tugas atau piket untuk berjaga di sekitar sungai pada pagi hari saat anak didiknya berangkat ke sekolah dan menyeberang sungai.

Para orang tua (wali murid) sangat berharap kepada pemerintah kabupaten untuk segera membangun jembatan. Selain itu juga akses jalan setapak yang biasa dilewati pelajar SD setempat juga perlu diperbaiki karena licin saat hujan dan khawatir mereka terpeleset dan jatuh ke sungai. ***

Advertisement
Klik untuk memberi komentar

Advertisement

Kami di Facebook

Rupa Rupa

Inspirasi19 jam lalu

Dulu Gagal, Sekarang Beromset Rp.2 Juta Sekali Produksi

BERANI berkreasi serta berinovasi hingga menghasilkan satu produk bernilai jual, menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan oleh kaum milenial...

Histori20 jam lalu

Dokumentasi Bersejarah Mendur Bersaudara

JIKA saat ini kamu bisa melihat foto Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi, maka sudah patutnya kamu berterima kasih pada sosok...

Ide1 hari lalu

Fungsi Lain Mie Instan Selain Bikin Kenyang

SEPERTI kita tahu, mie instan termasuk menu favorit banyak orang termasuk anak kost di akhir bulan. Selain harganya yang terjangkau...

Ide1 hari lalu

Meniru Kebiasaan Orang Sukses, Ternyata Mudah, Kok!

SEPERTINYA, kita sering membayangkan betapa nikmatnya berada dalam posisi mereka yang sukses. Punya segalanya, prestasi segambreng, dan hidup bahagia. Tetapi,...

Pilihan gowest.id3 hari lalu

Avenger : Endgame Dalam Kacamata Ilmu Pengetahuan

FILM Avengers: Endgame yang memecahkan sejumlah rekor pada pekan perdana pemutarannya, dikupas dua ilmuwan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi) dari...

Histori4 hari lalu

Tanjung Bemban, Kampung Raja Raja Part. 2

TANJUNG Bemban adalah salah satu kampung tua yang ada di Batam. Kampung yang terletak di wilayah Batu Besar itu, punya...

Pop & Roll4 hari lalu

Pacar Baru Luna Maya

Pasca putus dari Reino Barack, Luna Maya diketahui belum juga memiliki kekasih barunya. Luna hanya sempat dikabarkan dekat dengan sejumlah...

Hidup Sehat5 hari lalu

Apa Itu Monkey Pox (Cacar Monyet) ? Seberapa Berbahayakah?

VIRUS Monkey Pox (cacar monyet) dilaporkan sudah sampai di Singapura. Negeri jiran yang sangat berdekatan dengan Batam. Mulai banyak pihak...

Histori7 hari lalu

Tanjung Bemban, Kampung Raja – Raja (Part. 1)

TANJUNG Bemban adalah salah satu kampung tua yang ada di Batam. Kampung yang terletak di wilayah Batu Besar itu, punya...

Histori7 hari lalu

Kisah Kartini Menemukan Islam

SURAT bertarikh 6 November 1899 dalam Habis Gelap Terbitlah Terang itu menandaskan betapa Kartini gundah dengan agamanya. Berikut kutipannya: “Sebenarnya agamaku,...