Connect with us

Histori

Sejarah Ikan Sarden Dalam Kaleng

Mike Wibisono

Dipublikasi

pada

Ikan sarden segar : © oceanna.org

IKAN sarden dan beberapa jenis ikan lain, terutama yang sudah diawetkan dalam kemasan kaleng, adalah jenis ikan kemasan kaleng yang paling umum dikonsumsi manusia di zaman modern.

Sarden merupakan ikan berminyak berukuran relatif kecil.

Istilah sarden diambil dari nama pulau di Mediterania, yaitu pulau Sardinia di mana ikan sarden pernah terdapat dalam jumlah besar.

Di laman wikipedia disebutkan, ikan “sarden” seringkali tertukar dengan hewan jenis lain, tergantung definisi dari suatu negara.

FAO dan WHO menetapkan 21 spesies ikan yang dapat disebut sarden untuk memudahkan inspeksi dan karantina produk sarden. Terutama untuk sarden yang dikalengkan.

Mamakari, sajian sarden khas Jepang yang sederhana, berupa sarden yang diawetkan dalam larutan cuka

 

Ikan kaya nutrisi

IKAN sarden dikenal sebagai jenis ikan yang kaya vitamin dan mineral.

Satu sajian ikan sarden sudah dapat memenuhi 13 persen kebutuhan vitamin B, 25 persen niasin, dan 150% kebutuhan vitamin B12.

Sarden juga kaya akan mineral fosfor, kalsium, natrium, besi, dan selenium karena sarden dapat dimakan sampai ke tulangnya.

Selain itu, sarden merupakan sumber alami asam lemak omega-3 yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Ikan sarden juga merupakan sumber vitamin D, kalsium, dan protein yang baik.

Ikan sarden tidak berada dalam tingkatan trofik rantai makanan yang tinggi sehingga rendah kontaminan dibandingkan ikan lainnya seperti ikan tuna.

 

Sarden dalam kaleng

KEMASAN kaleng dalam bentuk makanan ikan sejenis ‘’ikan Sarden’’ sekarang, pertama kali dibuat di Amerika oleh ‘’Ezra Dagget’’ dari kota NewYork pada tahun 1819.

Ikan sarden dalam kaleng

Selanjutnya menyusul sekitar tahun 1935, Heinz & Company memasukan masakan saos tomat ke dalam kemasan kaleng dan memproduksinya secara besar-besaran di kota Richmond Victoria.

Saat itu proses pengalengan makanan diawali dengan pemanasan. Tujuannya untuk membunuh bakteri dan jamur yang ikut dalam dalam proses pengalengan makanan dan minuman.

Hingga akhirnya di zaman sekarang, jenis makanan seperti ikan, sayuran dan yang lainnya sudah banyak yang memakai sistem kaleng dan bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama.

Di berbagai negara, ikan sarden diperjual belikan dalam kemasan kaleng. Di pabrik pengalengan ikan, ikan sarden yang telah ditangkap kapal penangkap ikan dicuci di pabrik, kemudian kepalanya dibuang.

Sarden dimasak dengan minyak panas maupun dipanaskan di dalam kaleng dengan uap panas. Setelah itu, ikan yang telah berada di dalam kaleng, direndam dalam campuran minyak yang mengandung bumbu.

Sarden kaleng yang dikatakan berkualitas tidak memiliki kepala dan insang.

Di berbagai tempat, isi perut ikan juga dibuang sebelum dikalengkan, umumnya dilakukan terhadap jenis sarden berukuran besar.

 

Ikan kaleng bercacing

TEMUAN adanya cacing di ikan kalengan merebak dan membuat masyarakat khawatir.

Padahal, jenis makanan ini merupakan jenis makanan yang familiar dikonsumsi. Lantas, apakah ikan bercacing dalam kaleng seperti yang ditemukan, sebenarnya sudah ada sejak dulu?

Fakta-fakta apa saja yang sebaiknya kita tahu tentang produk tersebut?

Produk ikan dalam kaleng yang mengandung cacing : © seruji

Apakah cacing tersebut berbahaya bagi tubuh? Ikan kalengan apa saja yang mengandung cacing?

Melansir dari laman hellosehat, berikut fakta-faktanya :

1. Tidak ada cacing di sarden kalengan, melainkan di beberapa produk ikan makarel kalengan

Seperti dijelaskan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), sebenarnya tidak ditemukan cacing di produk ikan sarden kalengan. Produk yang ada cacingnya ternyata adalah tiga merek ikan makarel kalengan. Tiga merek ikan makarel yang mengandung cacing ini adalah Farmerjack, IO, dan HOKI. Ketiga produk ini telah ditarik dari peredaran karena tidak layak konsumsi.

2. Cacing di ikan makarel kalengan ini sudah mati

Hasil analisis dan temuan Badan POM menyatakan bahwa cacing pada produk-produk ikan makarel kalengan tersebut sudah mati, bukan cacing hidup.

Cacing yang ditemukan adalah jenis cacing parasit Anisakis sp. Dalam jurnal Clinical Microbiology Reviews, dikatakan bahwa cacing ini memang banyak ditemukan pada ikan laut, termasuk ikan makarel yang dikemas dalam kaleng. Jika dikonsumsi oleh manusia meski dalam keadaan sudah mati, cacing ini bisa menimbulkan masalah kesehatan.

3. Apa akibatnya kalau terlanjur makan cacing di ikan kalengan?

Dilansir dari jurnal Foodborne Pathogens and Disease tahun 2010, ada dua hal yang mungkin terjadi bila Anda mengonsumsi cacing di sarden atau makarel kalengan, baik cacing mati maupun hidup. Yang pertama adalah gangguan pencernaan, dengan gejala mual, muntah, dan diare. Akan tetapi, beberapa orang yang makan cacing dari ikan laut mungkin saja tidak merasakan gejala pencernaan apa pun.

Hal kedua yang mungkin terjadi adalah reaksi alergi terhadap cacing Anisakis. Kemungkinan munculnya reaksi ini juga telah diperingatkan oleh Badan POM, sehingga akhirnya produk-produk tersebut ditarik dari pasaran.

Cacing di sarden atau makarel ini berpotensi menyebabkan reaksi alergi karena mengandung zat kimia tertentu sejenis protein yang memang tidak ramah bagi manusia. Akibatnya, ketika dimakan sistem kekebalan tubuh (imun) Anda akan menganggapnya sebagai serangan zat asing yang berbahaya bagi tubuh. Reaksi alergi yang terjadi bisa bersifat ringan hingga serius.

Gejala-gejala reaksi alergi ringan terhadap cacing ini antara lain hidung berair, kulit badan dan area di sekitar mulut gatal-gatal, serta mata gatal dan berair. Sedangkan reaksi alergi serius yang mungkin terjadi yaitu syok anafilaktik. Syok anafilaktik ditandai dengan kesulitan bernapas dan tekanan darah menurun drastis. Jika tidak mendapat penanganan darurat, kondisi ini bisa menyebabkan kematian.

Bila Anda baru saja mengonsumsi ikan makarel kalengan dan mengalami gejala-gejala di atas, segera cari bantuan medis.

 

 

Lanjutkan
Advertisement
Klik untuk memberi komentar

Advertisement

Kami di Facebook

Rupa Rupa

Hidup Sehat3 jam lalu

Mewaspadai Kanker Serviks, Sadanis dan Payudara Klinis dengan Sosialisasi

CANCER Information & Support Center (CISC) Batam mengadakan kegiatan sosialisasi  pemeriksaan kanker serviks, Sadanis dan Payudara Klinis di Puskesmas Tiban...

Otto Keren!3 hari lalu

Setelah Jimny, Suzuki Luncurkan Hustler

SUZUKI telah merilis Jimny terbaru untuk pasar domestik di Jepang. Kini, Suzuki juga telah menyiapkan Suzuki Hustler Tough Wild sebagai...

Film Film Film3 hari lalu

Buffalo Boys, Produksi Infinite Studio yang Tampil di Fantasia International Film Festival 2018

FILM Buffalo Boys sukses memukau penonton dunia. Film produksi Screenplay Infinite Films ini diputar secara world premiere di Fantasia International...

Inspirasi2 minggu lalu

Online Shop, Cara Bertahan di Era Digital

USAHA Online shop merupakan alternatif pilihan yang ada bagi pelaku usaha konvensional agar tetap dapat bertahan di era digital seperti...

Pop & Roll3 minggu lalu

“Beautiful Girls” di Piala Dunia 2018

MAGNET perhelatan piala dunia menarik banyak orang untuk menyimaknya. Bukan hanya melalui layar kaca televisi atau perangkat telepon pintar! Tapi...

Pilihan gowest.id3 minggu lalu

Menghasilkan Uang dari Waktu Luang

KAMU punya waktu luang? Selain bisa dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak, nggak ada salahnya jika mencoba peluang-peluang bisnis berikut ini. Waktu...

Bincang3 minggu lalu

Angka Perceraian di Batam Melonjak

ANGKA Perceraian di Kota Batam kembali menunjukkan angka yang fantastis. Pelemahan ekonomi yang saat ini sedang dialami di Kota Batam...

Otto Keren!4 minggu lalu

Sensasi Berkendara di Mobil Listrik BMW

MOBIL listrik hadir menjanjikan pengalaman berkendara yang baru dan berbeda dibanding kendaraan konvensional (berbahan bakar bensin atau Diesel) seperti yang...

Pop & Roll4 minggu lalu

5 Emoji yang Sering Disalah Arti

SAAT ini warganet pasti sudah tidak asing lagi dengan aplikasi perpesanan WhatApp. Setiap hari, aplikasi ini digunakan oleh banyak orang...

Hidup Sehat4 minggu lalu

Seruput Kopi untuk Turunkan Resiko Penyakit Jantung

SEBUAH penelitian menyebut resiko penyakit jantung bisa turun bila minum kopi tanpa pemanis atau gula. Baru-baru ini sebuah penelitian mengaitkan...