NILAI tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (14/4). Mengacu pada data Bloomberg, rupiah turun 22 poin atau sekitar 0,13 persen menjadi Rp 17.127 per dolar Amerika Serikat (USD).
Pelemahan kurs ini mulai dirasakan berpengaruh terhadap dunia usaha. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menjelaskan bahwa dampak rupiah melemah tidak sama bagi semua pelaku usaha. Menurutnya, importir cenderung akan terbebani, sedangkan eksportir justru lebih diuntungkan karena perhitungan hasil ekspor menjadi lebih menarik.
Di sisi lain, Bob menilai kurs yang lebih rendah sebenarnya dapat menjadi peluang untuk mendatangkan investasi, terutama yang berorientasi ekspor. Namun, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak berujung pada kenaikan biaya produksi di dalam negeri, khususnya bila masih ada komponen biaya yang bergantung pada dolar AS.
Bob juga menyoroti adanya penggunaan dolar pada beberapa layanan domestik, seperti layanan di sektor pelabuhan. Ia menilai praktik tersebut perlu dibenahi agar beban yang muncul saat rupiah melemah tidak makin memperberat pelaku usaha.
Lebih jauh, Bob mengungkap kekhawatiran terkait dampak lanjutan pada ketenagakerjaan. Ia menyebut tanda-tanda pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terasa, terutama di tengah tekanan global serta derasnya arus produk impor.
Ia menegaskan perlunya langkah cepat untuk memastikan pekerja terdampak PHK dapat segera kembali bekerja. Bob juga meminta pemerintah lebih berpihak kepada industri dalam negeri yang memberi dampak luas bagi perekonomian.
Selain itu, Bob mempertanyakan mengapa penggunaan produk impor tetap meningkat meski sebelumnya pemerintah mendorong konsumsi produk dalam negeri. Ia mendorong agar belanja dan dukungan lebih diprioritaskan pada sektor yang memiliki efek berganda besar, termasuk industri yang terhubung dengan rantai pasok hingga UMKM, mempekerjakan tenaga kerja dalam jumlah besar, serta memiliki orientasi ekspor.
(ham/msn)


