- Nama : Tengku Muda Sulaiman ibn Sultan Abdul Rahman I Muazzam Shah
- Nama Dikenal : Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah ibni Almarhum Sultan Abdul Rahman I Muazzam Shah
- Lahir : 1823
- Ayah: Sultan ‘Abdu’l-Rahman I Mu’azzam Shah
- Ibu: Encik Ayu Buruk
- Wafat : Daik, 17 September 1883
- Posisi : Sultan Riau Lingga keempat (1857 – 1883).
- Masa Pemerintahan : 1857 – 1883
- Isteri : Raja Perak binti Sultan Ali Ala’uddin Ri’ayat Shah (Raja Ali ibn Daeng Kamboja) Yang di-Pertuan Muda Riau V.
- Anak: 5 orang puteri; Tengku Putri Maimuna, Tengku Wuk, Tengku Tengah, Tengku Andak, dan Tengku Kechil.
SULTAN Sulaiman II Badr ul-‘Alam Shah, dikenal juga sebagai Sultan Sulaiman II adalah Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Lingga, Riau dan daerah taklukannya yang memerintah kesultanan Riau Lingga pada periode 1857 – 1883.
Ia lahir sebagai putra kedua Sultan Abdul Rahman I Mu’azzam Shah dari istrinya, Encik Ayu Buruk, seorang wanita Jawa biasa. Ibunya meninggal pada 1823 saat melahirkannya. Sebelum naik takhta, ia bergelar Tengku Muda Sulaiman.
Pada 7 Oktober 1857, pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai penerus takhta setelah keponakannya (Sultan Mahmud IV Muzzafar Shah) dicopot oleh pemerintah kolonial Belanda. Empat hari kemudian, tanggal 11 Oktober 1857, ia resmi dilantik di Daik, Lingga dengan gelar lengkap Paduka Sri Sultan Sulaiman II Badr ul-‘Alam Shah. Atas jasanya, ia menerima penghargaan Ksatria Kelas 3 Orde Singa Belanda dari Belanda.
Sultan Sulaiman II menikah dengan Raja Perak, putri Sultan Ali Ala’uddin Ri’ayat Shah, Yang di-Pertuan Muda Riau. Raja Perak sebelumnya adalah janda Raja Haji Idris dari Riau. Dari pernikahan ini, ia tidak dikaruniai putra, hanya lima orang putri: Tengku Putri Maimuna, Tengku Wuk, Tengku Tengah, Tengku Andak, dan Tengku Kechil.
Sultan yang Memperhatikan Pangan
SULTAN Sulaiman Badrul Alamsyah II, adalah sultan yang lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat. Di masa pemerintahannya, ia mengupayakan peningkatan bidang ekonomi, termasuk budidaya padi dan sagu.
Berdasarkan catatan seorang ahli Botani Belanda, J.E. Teijsmann dalam kunjungannya ke Daik Lingga pada 1872, ia ikut membantu program sultan untuk sektor pangan. Sultan Sulaiman saat itu memang berniat untuk menggalakkan sistem pertanian dan perkebunan. Terutama pertanian tanaman padi.
Awalnya ia mengupayakan penanaman padi di Lingga yang didatangkan dari Jawa. Program irigasinya memanfaatkan aliran sungai-sungai yang bersumber dari pegunungan Daik dan Sepincan masa itu. Ia juga mendatangkan para pekerja sawah langsung dari pulau Jawa. Namun program tersebut mengalami kegagalan.
Sementara budidaya Sagu yang telah dikembangkannya, berhasil menjadi salah satu komoditi unggulan dari Lingga kala itu, selain hasil hutannya. Budidaya lada dan gambir juga cukup marak diupayakan.
“Budidaya gambir di sini dijalankan oleh orang Melayu, berbeda dengan di tempat lain, di mana kebanyakan dilakukan oleh orang Tionghoa. Orang Melayu menanam tanaman gambir jauh lebih rapat dan tidak teratur dibanding orang Tionghoa. Cara pengolahan gambir mereka juga berbeda dari orang Tionghoa. Orang Melayu tidak membuat balok-balok persegi untuk tempat menanam Gambir mereka, tetapi berbentuk datar persegi yang lebih besar,” catatan JE. Teijsmann tentang aktifitas perkebunan yang digalakkan di masa Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
Keseriusan Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah untuk mengupayakan kemandirian pangan bagi rakyatnya, dicatatkan ahli Botani Belanda, JE. Teijsmann pada dokumen Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874. Keseriusannya dibuktikan dengan ikut langsung dengan rombongan peneliti untuk pemetaan daerah-daerah potensi serta aliran sungai untuk kebutuhan lahan pertanian masa itu.
‘Awalnya, sultan memulai perjalanan ini dengan memakai sepatu bersemir yang rapi. Tapi, beberapa saat kemudian, ia terpaksa melepaskannya dan melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang …” (JE. Teijsmann, 1874)

Sultan Sulaiman II wafat tanpa putra laki-laki pada 17 September 1883 di Istana Kota Baru, Daik, Lingga. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Kerajaan Bukit Cengah, Daik.
Usai kemangkatannya, tampuk pemerintahan negeri Riau Lingga sempat dikelola melalui perwalian oleh cucu keponakannya, Tengku Embong Fatimah binti Sultan Mahmud Muzzafar Shah sampai tahun 1885, sebelum akhirnya diserahkan kepada putera Tengku Embong Fatimah, Abdul Rahman; Bergelar Sultan Abdul Rahman II Muazzam Shah (1885 – 1911).
(ham)


