KABUPATEN Bintan dipilih menjadi lokasi pertama penerapan Water Sanitation and Hygiene (WASH) di Indonesia. Lokasinya di tiga desa, yaitu Desa Busung, Kuala Sempang, dan Pengujan.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, secara resmi meresmikan Program WASH di Kantor Desa Busung, Bintan, Senin (19/6/2023). Program WASH merupakan inisiasi tim Safe Water Garden bekerja sama dengan Global Water Partnership, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan mendapatkan hibah dari Tauw Foundation untuk membangun fasilitas sanitasi di 58 kepala keluarga di tiga desa tersebut.
“Persoalan sanitasi dan air bersih merupakan hal mendasar yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, sehingga butuh perhatian secara khusus dalam penanganannya,” kata Ansar.
Ia menyebutkan pemerintah juga telah memberikan dukungan dan mendorong upaya peningkatan kualitas hidup melalui berbagai program kesehatan, dimana sanitasi dan air bersih menjadi hal pertama yang ditangani terlebih dulu.
Ansar mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan penerapan WASH tersebut. Ia sekaligus mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan.
“Saya mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam mensukseskan kegiatan ini. Apalagi Bintan jadi tempat pertama menerapkan WASH se-Indonesia. Jadi, selalu perhatikan kebersihan dan kesehatan,” ucapnya.
Program WASH berhasil menghasilkan fasilitas yang meliputi sistem sanitasi berupa septic tank, wastafel dapur, tandon air, dan water filter.
Program ini telah menghasilkan dampak yang positif dengan terpasangnya 48 unit Safe Water Garden (SWG), lima tandon air, 51 wastafel dapur, 46 toilet, dan 58 filter Nazava.
“Sebanyak 216 warga dari 58 kepala keluarga telah terdampak positif oleh program ini, serta munculnya 13 usaha mikro baru,” kata Pendidi SWG sekaligus pemilik Loola Adventure Resort, Marc Van Loo.
Marc mengungkapkan pendanaan program ini tidak sepenuhnya menggunakan dana penyandang program, namun juga menggandeng Dana Desa sebesar 50 persen. Hal ini menunjukkan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam memajukan program ini.
“Meskipun program serupa biasanya didanai sepenuhnya, namun melibatkan Dana Desa sebagai salah satu sumber pendanaan memberikan peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat lokal,” ujarnya.
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat, SWG juga mengadakan pelatihan kepada enam orang sebagai trainer yang akan melanjutkan pembinaan WASH di desa-desa lainnya.
Dengan adanya para trainer WASH, lanjut Marc, desa-desa lain yang ingin menerapkan Program WASH bisa mendapatkan pengetahuan dari trainer yang telah dilatih.
“Kami ingin program ini terus dilakukan secara berkelanjutan, maka dari itu dilakukan juga pelatihan untuk enam orang trainer yang sekarang telah paham tentang program WASH ini,” ujar Marc.
(*/pir)


