INDUSTRI galangan kapal di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) masih kekurangan tenaga kerja, terutama untuk skill welder atau tukang las.
Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasyid. Menurut dia, kekurangan tenaga kerja pada perusahaan yang bergerak di sektor galangan kapal karena masih minimnya kemampuan para pencari kerja terhadap skill yang dibutuhkan oleh galangan kapal.
“Salah satunya untuk tenaga kerja yang punya skill welder atau tukang las,” kata Rafky, dikutip dari Antara, Kamis (26/10/2023).
Untuk itu, ia mendorong Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) hingga lembaga pelatihan kerja (LPK) swasta agat lebih banyak menggelar pelatihan di bidang welder untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja di sektor galangan kapal.
“Ketika yang dilatih itu dia kan tidak bisa langsung jadi, itu membutuhkan waktu 3-6 bulan masa pelatihan. Jadi kami harap akan lebih banyak lagi pelatihan-pelatihan serupa,” kata Rafky.
Bahkan, lanjut dia, karena kekurangan tenaga kerja welder menyebabkan beberapa pesanan yang tertunda hingga dua tahun pengerjaan.
Rafky menyampaikan pihaknya juga mengimbau perusahaan yang berada di bawah naungan Apindo untuk dapat memberikan upah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh pekerja.
“Pengusaha harus paham bahwasanya kalau memang pekerja wajar diberikan upah tinggi karena dia punya skill bagus dan dia cocok dengan perusahaan, kinerja yang juga bagus ya berikan. Jangan dicoba ditekan karena karyawan itu adalah aset,” kata dia.
Sebelumnya, Apindo Kota Batam juga menyebutkan sektor manufaktur elektronik menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak di Kota Batam.
Menurut Rafky lebih dari 60 persen serapan tenaga kerja pada sektor manufaktur elektronik. Dengan tingginya serapan tenaga kerja pada sektor manufaktur, pihak pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian lebih agar dapat menjaga dan meningkatkan perekonomian di Kota Batam dari sektor tersebut.
“Jadi kalau pemerintah ingin menekan pengangguran sebenarnya ya itu cukup dengan mendorong sektor ini (manufaktur) jangan sampai turun. Ketika sektor manufaktur itu tetap meningkat, maka itu juga dia akan menyerap tenaga kerja yang banyak,” tutup Rafky.
(ade)


