Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pemko Batam Susun RKPD 2027 Melalui Forum Musrenbang 2026
    5 jam lalu
    Komisi I DPRD Batam Fasilitasi Penyelesaian Masalah Lahan Perumahan Marchelia II
    21 jam lalu
    Penumpang Speed Boat Karunia Jaya Jatuh di Perairan Coastal Area Karimun
    22 jam lalu
    Bupati Bintan Komitmen Dukung Penguatan Ekraf Produk Fesyen Lokal
    1 hari lalu
    Perang di Timur Tengah Tidak Pengaruhi Rencana Jadwal Umrah dari Kota Batam
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    1 minggu lalu
    Sambut Lebaran 2026, Bandara Hang Nadim Batam Berikan Potongan Tarif 50%
    2 minggu lalu
    Kabupaten Karimun Siap Jadi Tuan Rumah Popda Kepri 2026
    2 minggu lalu
    Progres Persiapan Pembangunan Sekolah Rakyat di Bintan Terus Berjalan
    2 minggu lalu
    Pengaturan Jam Operasi Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan di Batam
    2 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    7 hari lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    4 minggu lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    2 bulan lalu
    Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Batam 2025
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 minggu lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 minggu lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    1 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    2 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
BenarNews.org

FAO: 2021-2022 Indonesia Alami Penurunan Deforestasi, Aktivis: Angka itu Tidak Berarti Banyak

Editor Admin 2 tahun lalu 359 disimak
Foto yang diambil pada 5 Maret 2021 ini menunjukkan pembukaan hutan untuk proyek pemerintah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. © F. Galih/AFP Disediakan oleh GoWest.ID

GREENPEACE sebut deforestasi hutan alam dalam konsesi nikel justru meningkat pada 2016-2022, hingga 600%.

Daftar Isi
Data yang tidak berarti banyakTerlalu lambatJangan fokus pertumbuhan ekonomi semata

INDONESIA mengalami penurunan laju deforestasi sebanyak 8,4% pada tahun 2021-2022, menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yang merupakan rekor terendah sejak tahun 1990an.

Meskipun tak menampik data penurunan, sejumlah pemerhati lingkungan mempertanyakan data itu dan komitmen pemerintah terhadap konservasi dan kelestarian hutan di Indonesia.

Dalam publikasi tentang Keadaan Hutan Dunia 2024, FAO – mengutip dari data pemerintah Indonesia, menunjukkan penurunan deforestasi sebesar 8,4% pada 2021-2022 di mana itu merupakan rekor terendah di Indonesia sejak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mulai mencatat laju deforestasi tahunan pada 1990.

“Secara keseluruhan, angka tersebut menurun hampir 90% selama periode tersebut,” demikian disebutkan dalam laporan yang diterbitkan awal minggu ini.

Namun capaian tersebut mendapatkan respons dari sejumlah pemerhati lingkungan yang mempertanyakan data tersebut dan komitmen pemerintah dalam mencegah kerusakan hutan di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan upaya menggenjot investasi.

Citra satelit yang disediakan oleh Planet Labs PBC ini menunjukkan perbandingan kelebatan hutan di wilayah Lelilef Sawai, Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, antara tahun 2016 (kiri) dan 2024 (kanan) setelah terjadi deforestasi untuk pembangunan industri nikel di area tersebut. [Planet Labs PBC via AP]

Data yang tidak berarti banyak

JURU Kampanye Hutan Greenpeace Iqbal Damanik mengatakan meskipun data pada tahun itu menunjukkan penurunan namun ancaman terhadap tutupan hutan alam yang tersisa masih tinggi.

“Data itu terlihat rendah karena memang belum ada pembukaan lahan baru dan konsesi baru dalam produksi sawit,” kata Iqbal kepada BenarNews, Kamis (25/7).

“Ini terjadi karena berbagai isu seperti bisnis melambat karena pandemi, harga pasar komoditi, atau perlambatan ekonomi dunia,” kata dia.

Menurut dia, jika melihat data Kementerian sejak 2001, secara statistik angka deforestasi 2022 dibandingkan 2021 turun sebanyak 8,4% tersebut tergolong kecil, yaitu 117.000 hektar sejak 2001.

Namun demikian data deforestasi justru naik bila angka 2023 dibandingkan dengan angka 2022, yaitu naik sebanyak 134.000 ha. “Ini angka fluktuatif saja,” tambahnya.

Berdasarkan data Greenpeace, data deforestasi terhadap hutan alam di dalam konsesi nikel justru terus meningkat sejak 2016 hingga 2022 bahkan angkanya hampir 600%.

“Deforestasi akan terus ada selama masih ada hutan alam yang belum terlindungi yang ditetapkan sebagai area deforestasi terencana atas nama pembangunan,” kata Iqbal.

Data Greenpeace yang diolah dari data pemerintah per September 2023 mencatat ada 362 izin pertambangan nikel dengan luas 933.727 hektare, yang sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia.

Di beberapa lokasi telah terjadi pembukaan lahan dan deforestasi di dalam izin konsesi nikel seluas 116.942 ha, masing-masing terjadi di Pulau Sulawesi 91.129 ha (20% dari total deforestasi Pulau Sulawesi) dan di Kepulauan Maluku (Provinsi Maluku Utara dan Maluku) seluas 23.648 ha (8% dari deforestasi Kepulauan Maluku).

Hal senada disampaikan Dwi Sawung, Juru Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI, yang menilai angka yang dirilis FAO wajar saja jika dibandingkan dengan perusakan hutan yang terjadi di era 1990an.

“Jadi bukan sekedar angkanya tapi di mana lokasinya. Misalnya tambang, meski kecil luasannya tapi bisa langsung menghancurkan ekosistem yang ada di situ,” kata Dwi kepada BenarNews.

“Ini bisa memperparah krisis iklim, mencemari laut, mengancam punahnya keanekaragaman hayati, dan melanggar hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal.”

Dampak langsungnya, ujar dia, bisa menjadi bencana alam yang masif. Dia menambahkan saat ini pemerintah cenderung mengubah aturan tata ruang demi melanggengkan rencana pembangunan infrastruktur.

“Harusnya bukan sekedar turun lagi tapi zero deforestasi,” kata Dwi.

Di latar belakang tampak perusahaan pertambangan dan pemurnian nikel, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera, Maluku Utara, yang oleh kelompok pemerhati lingkungan disebut melakukan deforestasi untuk operasinya. Foto diambil pada 8 Juni 2024. [Achmad Ibrahim/AP Photo]

Terlalu lambat

PAKAR Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian mengatakan posisi pengurangan laju deforestasi memang telah lama ditargetkan namun baru dirasakan hasilnya sekarang.

“Saya malah berharap lebih besar lagi dari 8,4 persen tadinya. Indonesia terlalu lambat kalau soal lingkungan hidup. Selama ini laju perusakan tinggi banget dan memang sudah saatnya menghentikan itu,” kata dia kepada BenarNews.

Menurut dia beberapa upaya yang selama ini dilakukan semua pihak untuk melestarikan lingkungan dinilai berhasil seperti program penanaman pohon sehingga pulau Jawa dan Sumatra bisa hijau kembali.

“Ke depannya kalau bisa terjadi penurunan terus-menerus. Indonesia punya banyak sekali bahan bakar yang tidak merusak lingkungan seperti panas bumi, energi laut tapi masih terlihat kalem sekali dan tidak berambisi sama sekali dalam hal ini,” kata dia.

Peneliti utama di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF) Daniel Murdiyarso menilai reboisasi dan penghijauan skala besar berperan penting dalam meningkatkan penyerapan karbon.

“Satu-satunya tindakan yang paling penting untuk mempertahankan dan meningkatkan penyerapan karbon hutan adalah dengan menghentikan emisi dari deforestasi dan degradasi,” kata Daniel kepada BenarNews.

“Penghitungan global ini menggarisbawahi pentingnya konservasi berkelanjutan terhadap kawasan lindung dan pemulihan sektor lahan terdegradasi, terutama di daerah tropis,” kata Daniel.

Dia menyarankan penelitian di masa depan harus memasukkan karbon tanah, termasuk lahan gambut dan bakau, yang menyimpan karbon 3-5 kali lebih tinggi dibandingkan hutan dataran tinggi.

“Pesannya jelas untuk melakukan tindakan dengan hati-hati, dan tidak menganggap remeh kapasitas karbon hutan,” Daniel.

“Untuk melindungi penyerap karbon, diperlukan kebijakan pengelolaan lahan untuk membatasi deforestasi, mendorong restorasi hutan, dan meningkatkan praktek pemanenan kayu.”

Jangan fokus pertumbuhan ekonomi semata

PAKAR perubahan iklim dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa mengapresiasi pencapaian ini mengingat laju deforestasi tahun 1990-1998 berkisar antara 2 juta hingga 3,5 juta hektar lahan per tahun.

“Ini menggembirakan. Artinya Indonesia sudah melihat kondisi hutan tidak hanya soal perubahan iklim tapi soal biodiversity, pengelolaan tata air di aliran sungai dan mitigasi bencana, sehingga ada moratorium,” ujar Mahawan.

Dia menekankan pada pemerintah untuk tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi saja sehingga aspek lingkungan ditinggalkan.

“Sumber daya alam dipaksa terus, pembangunan harus dengan good practices,” kata Mahawan.

Beberapa dampak positif capaian ini antara lain mendapatkan kepercayaan dunia kepada Indonesia, terutama dalam menangani hutan hujan tropis, berkaitan dengan upaya pengendalian perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.

“Ini penting untuk posisi Indonesia dalam transformasi pembangunan global menuju pembangunan berkelanjutan,” ujar Mahawan.

“Dampak positif nasionalnya adalah keyakinan bangsa untuk menghadapi dan mencapai target perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya.”

Menteri Kehutanan Siti Nurbaya menyambut baik atas hasil tersebut dan menyebut jika pendekatan Indonesia dalam mengelola sumber daya alam dan mengimplementasikan aksi iklim dilakukan secara sistematis dan terintegrasi

“Kami mengapresiasi kabar baik bahwa ada penurunan deforestasi yang signifikan di beberapa negara. Sebagai contoh, deforestasi diperkirakan telah menurun sebesar 8,4% di Indonesia pada tahun 2021-2022,” ujar Siti.

“Namun, pekerjaan kita bersama masih jauh dari selesai,” imbuhnya.

Siti mengungkapkan jika Indonesia kembali menetapkan target iklimnya yaitu pengurangan emisi Indonesia sebanyak 47,3%pada 2020, 43,8%pada tahun 2021, dan 41,6% pada 2022.

Kaitan Deforestasi, hutan, indonesia
Admin 27 Juli 2024 27 Juli 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Bahas Perkembangan Batam, BP Batam Gelar Forum Tematik Bakohumas 2024
Artikel Selanjutnya Tonggak Sejarah Pendidikan: “TK Mawar dan Gelora Semangat Kemerdekaan”

APA YANG BARU?

Pemko Batam Susun RKPD 2027 Melalui Forum Musrenbang 2026
Artikel 5 jam lalu 44 disimak
Komisi I DPRD Batam Fasilitasi Penyelesaian Masalah Lahan Perumahan Marchelia II
Artikel 21 jam lalu 35 disimak
Penumpang Speed Boat Karunia Jaya Jatuh di Perairan Coastal Area Karimun
Artikel 22 jam lalu 143 disimak
Bupati Bintan Komitmen Dukung Penguatan Ekraf Produk Fesyen Lokal
Artikel 1 hari lalu 118 disimak
Perang di Timur Tengah Tidak Pengaruhi Rencana Jadwal Umrah dari Kota Batam
Artikel 1 hari lalu 130 disimak

POPULER PEKAN INI

Pemko Batam Gelar Safari Ramadhan di Masjid Al-Ishlaah, Berikan Bantuan Rp40 Jt
Artikel 6 hari lalu 463 disimak
Pembatasan Minimarket di Batam; Pro dan Kontra di Kalangan Pengusaha
Artikel 6 hari lalu 289 disimak
Mudik Gratis Batam-Belawan 2026, Kuota 250 Kursi
Artikel 7 hari lalu 262 disimak
Nasabah Kehilangan Rp4,3 Miliar dalam 40 Menit
Artikel 6 hari lalu 258 disimak
Berikan Kelapa Utuh di Menu MBG, SPPG Seri Kuala Lobam Bintan Dapat Teguran
Artikel 5 hari lalu 246 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?