“SELAMA musim angin pasat, khususnya pasat timur laut yang bertiup kuat, bagian selatan Laut Cina ini mengalami gelombang tinggi dan ganas. Banyak karang yang membentang jauh ke laut dan dasar yang dangkal, bisa menghempas kapal-kapal yang melintas.“
…
“Di kampung kecil tempat kami singgah, ada sekitar delapan orang warganya yang telah berhaji. Orang kaja juga pernah menunaikan ibadah haji. Ia berangkat dengan kapalnya sendiri. Ia meyakini keselamatan perjalanan hajinya berkat hidup taatnya.” (A.L. Van Hasselt/H. J. E. F. Schwartz – De Poelau Toedjoeh In Ei Et Zuidelijk Gedeelte Der Chineeschen Zee)
Oleh: Bintoro Suryo
AREND Ludolf van Hasselt, merupakan seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang lama bertugas di wilayah Sumatra. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Residen di Tapanuli dan kemudian di Riouw (Riau, pen). Dari tahun 1893 hingga 1896.
Saat bertugas di Riouw, ia mengunjungi Kepulauan Tujuh (Kepulauan Anambas, Natuna dan Tambelan) dalam tiga kurun waktu, 1894, 1895 dan 1896 karena ketertarikannya yang tinggi terhadap budaya dan etnologi masyarakat setempat. Ia juga memiliki ketertarikan terhadap kondisi geografi kepulauan Tujuh yang memiliki ratusan pulau di perairan bagian selatan China itu.
Gugus kepulauan yang dinamai oleh para pelaut masa lalu dari tujuh pulau utama yang terdapat di wilayah itu. Perairannya sering kali tidak bersahabat. Terutama saat musim angin Utara.
Bersama dengan stafnya, H. J. E. F. Schwartz yang saat itu menjabat sebagai salah satu Kontroleur di Riouw, mereka mendokumentasikan catatan geografi dan etnologi tentang wilayah ini dalam catatan : “De Poelau Toedjoeh In Ei Et Zuidelijk Gedeelte Der Chineeschen Zee” (Kepulauan Tujuh di Bagian Selatan Laut China).
Ini catatan perjalanan yang menarik. Banyak mengulas kondisi masyarakat yang mendiami wilayah Kepulauan Tujuh pada masa itu, model pemerintahan, budaya hingga topografi serta potensi yang dimiliki.
Wilayah yang beratus tahun dikenal sebagai kawasan kepulauan Tujuh itu, kini terbagi dalam tiga wilayah pemerintahan kabupaten, yakni kabupaten Kepulauan Anambas, kabupaten Natuna serta kepulauan Tambelan yang masuk dalam tata pemerintahan kabupaten Bintan.
Banyak kata, terutama yang diidentifikasi sebagai lokasi dan nama gelar, saya tulis sesuai ejaan asli dalam dokumen. Ini untuk lebih mendeskripsikan suasana saat catatan tersebut ditulis. Alih aksara dokumen, saya bagi dalam beberapa bagian, menjadi sebuah catatan berseri.
Diawali dari bagian ini. Semoga memberi manfaat untuk mengetahui jejak kondisi dan kemasyarakatan di kepulauan/pulau Tujuh pada masa lalu melalui sumber catatan primer.
DI bagian selatan Laut China, antara Semenanjung Malaya dan Borneo, terdapat lebih dari tiga ratus pulau besar dan kecil, yang secara kolektif dinamai Pulau Tujuh. Itu merupakan bagian dari residensi Riouw dan daerah taklukannya.
Pulau-pulau ini terletak antara 105°20′ dan 109°20′ Bujur Timur Greenwich dan melintang dari 1° Lintang Selatan sampai 5° Lintang Utara.
Nama Kepulauan Tujuh diberikan secara tidak pasti pada masa lalu. Mungkin karena hanya tujuh pulau utama yang dihuni dan diatur pemerintahannya: Djemadja, Siantan, Pulau Laut, Boengoeran, Soebi, Serasan, dan Tambelan Besar.
Namun sebenarnya lebih dari tujuh pulau yang berpenghuni. Penduduk asli di wilayah ini hidup kebanyakan dari menangkap ikan. Mereka sering berpindah tempat tinggal, menghuni pulau-pulau berbeda secara temporer.
Serangan bajak laut Ilanun yang ditakuti, sering memaksa penduduk meninggalkan pulau-pulau kecil tempat tinggal mereka dan berkumpul di pulau yang lebih besar dalam kampung-kampung.
Penduduk setempat membagi kepulauan ini dalam tujuh kelompok sesuai nama-nama pulau tersebut. Dalam kronik Melayu disebut Pulau/Kepulauan Tujuh. Dahulu pulau-pulau ini bagian dari Kesultanan Malaka dan sekarang masuk dalam wilayah Kesultanan Riouw-Lingga serta daerah taklukannya.
Daftar pulau berdasarkan data pada tanggal 19 Agustus 1864 adalah sebagai berikut:
Pulau-pulau di Anambas di bawah pemerintahan di pulau Djemadja:
- Pulau Djemadja
- Pulau Impoel
- Pulau Moeboer Besar
- Pulau Moeboer Kecil
- Pulau Damar
- Pulau Repon
- Pulau Tekoejoeng
- Pulau Manghai (2 pulau)
- Pulau Toelai
- Pulau Tjatoe
- Pulau Berhala
- Pulau Danan
- Pulau Panas
- Pulau Pasoe (?)
- Pulau Minggar
- Pulau Ipan
- Pulau Agam
- Pulau Naga
- Pulau Dara
Pulau-pulau di Anambas di bawah pemerintahan di pulau Siantan :
- Pulau Siantan
- Pulau Masabang
- Pulau Mariam
- Pulau Batoe Belah
- Pulau Telaga Besar
- Pulau Kelong
- Pulau Menawan
- Pulau Linggai (3 pulau)
- Pulau Batoe Nawas
- Pulau Pahat (2 pulau)
- Pulau Moeboer
- Pulau Mentaoer
- Pulau Matak
- Pulau Doerai
- Pulau Temoeang Besar
- Pulau Temoeang Kecil
- Pulau Mendjalin
- Pulau Selai
- Pulau Tamberoe
- Pulau Gampang
- Pulau Tjatoe
- Pulau Mentala
- Pulau Menjilin
- Pulau Sagoe Dampar
- Pulau Serantas
- Pulau Sedadap
- Pulau Sematjan
- Pulau Antoe
- Pulau Boeloe
- Pulau Pandjang
- Pulau Pengiding
- Pulau Semasin
- Pulau Gantai
- Pulau Mapo
- Pulau Mangkian
- Pulau Pandjang
- Pulau Pengalak
- Pulau Njaroean
- Pulau Akar
- Pulau Pengoetoes (3 pulau)
- Pulau Nawan
- Pulau Semisa
- Pulau Pendjantai
- Pulau Oetjing
- Pulau Manoek
- Pulau Tabin
- Pulau Manderajoe
- Pulau Mati Anak
- Pulau Sampa
- Pulau Tilan
- Pulau Saina
- Pulau Basin
- Pulau Belajang
- Pulau Njitas
- Pulau Loejong
- Pulau Baba
- Pulau Maso
- Pulau Gonting
- Pulau Antanioe
- Pulau Noenoesa
- Pulau Pendjaoel
- Pulau Djangkat
- Pulau Soei Dalam
- Pulau Soei Luar
- Pulau Oennjoet
- Pulau Telojan
- Pulau Boean
- Pulau Telibang
- Pulau Pantai Baru
- Pulau Temiang (3 pulau)
- Pulau Ajer Aboe (15 pulau)
- Pulau Piling
- Pulau Ritau
- Pulau Bawah
- Pulau Mala
- Pulau Repong
- Pulau Soera
Pulau-pulau di Kepulauan Groot Natoena dengan pusat di pulau Boengoeran (Bunguran) Besar:
- Pulau Boengoeran
- Pulau Pandjang
- Pulau Pandak
- Pulau Boenga
- Pulau Samberajoe
- Pulau Boetoen
- Pulau Seloean
- Pulau Sedoea*
- Pulau Semama
- Pulau Batu Bilis
- Pulau Limoes
- Pulau Seminggoe
- Pulau Sebai
- Pulau Penganak
- Pulau Seloeat
- Pulau Djali
- Pulau Karang Tengah
- Pulau Sedanau
- Pulau Pasir
- Pulau Semasong
- Pulau Seroengoes
- Pulau Kern Bang
- Pulau Batang
- Pulau Selantang
- Pulau Serantas
- Pulau Sedadap
- Pulau Sematjan
- Pulau Antoe
- Pulau Boeloe
- Pulau Batu Doejong
- Pulau Lingoeng
- Pulau Semasin
- Pulau Gantai
- Pulau Kemoedi
- Pulau Senoea
- Pulau Timoer Badak
- Pulau Midai
- Pulau Setai
Pulau-pulau di wilayah Natuna Utara:
- Pulau Laoet
- Pulau Sekatoeng
- Pulau Sengat
- Pulau Imoeng
- Pulau Sebetoel
- Pulau Semioen
Pulau-pulau di wilayah Natuna Selatan:
- Pulau Soebi
- Pulau Soebi Ketjil
- Pulau Panjang
- Pulau Mambot
- Pulau Sebidang
- Pulau Tembelai
- Pulau Djapoe
- Pulau Dengajak
- Pulau Toedang
- Pulau Bakau
- Pulau Kerdau
Pulau-pulau yang didiami oleh para Bajak Laut:
- Pulau Serasan
- Pulau Sempadi
- Pulau Tebeian
- Pulau Semoeloe
- Pulau Perhantoean
- Pulau Peanjamoek
- Pulau Seraja
- Pulau Sedoea
- Pulau Ganting
- Pulau Perajoen
- Pulau Merindam
- Pulau Moeri
- Pulau Besar
Pulau-pulau dengan pusat pemerintahan di pulau Tambelan:
- Pulau Tambelan
- Pulau Doemdoem
- Pulau Mandariki
- Pulau Sendoelang
- Pulau Sendoelang Ketjil
- Pulau Ganting
- Pulau Bandara
- Pulau Oewi
- Pulau Selantang
- Pulau Boengin
- Pulau Serindik
- Pulau Pandjang
- Pulau Lintang
- Pulau Niboeng
- Pulau Tamban
- Pulau Lasoei
- Pulau Benoa
- Pulau Betoeng
- Pulau Kepala Tambelan
- Pulau Bedoea
- Pulau Lipi
- Pulau Nangka
- Pulau Manggigirang
- Pulau Djangkoelan
- Pulau Pengiboe
- Pulau Kajoe Ara
- Pulau Tokong Kemoedi
- Pulau Kepajang
- Pulau Tokong
- Pulau Boetoen
- Pulau Antabar
- Pulau Penaoe
- Pulau Gadis
- Pulau Njaroe
- Pulau Panggegah
- Pulau Pedjamoe
- Pulau Pinang Seratoes
- Pulau Anak Awoer
- Pulau Pengiki
- Pulau Pedjantan
- Pulau Partoebela
KEPULAUAN ini, sejauh yang kami tahu, belum banyak dipublikasikan di Belanda maupun di wilayah Hindia Belanda, selain catatan R.C. Kroesen dan tulisan E. Netscher.
Kami ingin mengulas lebih jauh tentang data dan informasi yang belum pernah dipublikasikan. Oleh karena itu, di halaman berikut, kami rangkum apa yang kami catat saat mengunjungi Poelau Toedjoeh tahun 1894, 1895, dan 1896.
Peta kami tentang pulau-pulau ini masih sangat tidak lengkap dan kurang akurat. Di peta nomor 10 dalam atlas Stemfoort dan Ten Siethoff, misalnya. Ada beberapa pulau yang sebenarnya tidak ada, dan bentuk maupun letak banyak pulau lain tidak tepat.
Pengetahuan kami tentang kondisi geografis kawasan kepulauan ini, sebagian besar berkat informasi dan kerja orang asing, terutama dari para pelaut Prancis dan Inggris.
Pada April dan Juli 1895, Admiralty Inggris mengeluarkan dua peta tentang Kepulauan Anambas, satu skala 1:175.000 dan satu lagi skala 1:72.650, hanya untuk kelompok utara. Pengukuran peta ini dilakukan pada tahun 1893 oleh perwira kapal survei H.M. Egeria dengan izin pemerintah Hindia Belanda. Kapal itu dipimpin Commander A. Moslyn Field.
Berdasarkan peta tersebut dan peta lama lainnya, kami buat peta ringkas skala 1:2.000.000 yang kami lampirkan di dokumen ini.
SELAMA bertahun-tahun, Poelau Toedjoeh rutin dikunjungi pejabat kami dengan kapal perang atau kapal pemerintah.
Betapa banyak yang sebenarnya bisa dilakukan untuk memperdalam pengetahuan tentang kepulauan ini. Setiap kunjungan, sebenarnya memberikan kesempatan berharga bagi para ahli melakukan berbagai penelitian. Jika kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik, kita tentu sudah bisa tahu banyak hal tentang flora, fauna, kondisi tanah, topografi, juga tentang masyarakat dan bahasanya.
Seperti misalnya peta Inggris terbaru yang memberikan gambaran tentang Kepulauan Anambas yang berada dalam wilayah pemerintahan di pulau Djemadja dan Siantan. Peta itu menunjukkan bahwa banyak selat dan jalur yang dianggap tidak bisa dilalui kapal, namun ternyata aman. Banyak juga tempat berlabuh yang sebelumnya dianggap tak terjangkau, bisa dijangkau dengan wawasan pengetahuan yang lebih baru.
Kekeliruan peta, biasanya terjadi pada penulisan nama-nama tempat. Terutama nama lokal yang banyak berubah. Sesuatu yang juga sering terjadi di banyak peta laut Inggris.
Kita berharap kelompok lain dari Poelau Toedjoeh ini, bisa segera dibuatkan peta yang setara, bahkan lebih baik lagi. Bukan oleh Inggris, tapi oleh para perwira laut Belanda.
Untuk pelayaran di wilayah selatan yang rawan topan, penting bagi kita memilih waktu yang tepat untuk berlayar dalam setahun.
Selama angin pasat, khususnya pasat timur laut yang bertiup kuat, bagian selatan Laut Cina ini mengalami gelombang tinggi dan ganas. Banyak karang yang membentang jauh ke laut dan dasar yang dangkal bisa menghempas kapal-kapal yang melintas. Selain itu, banyak pulau sulit dijangkau karena dihantam ombak besar yang terkadang sangat kuat akibat topan.
Waktu yang paling cocok untuk berlayar ke wilayah ini adalah pada masa pergantian musim. Ini bukan berarti saat musim monsun selalu buruk. Misalnya perjalanan dengan kapal pemerintah Flamingo pada Februari 1896 bisa sangat lancar. Tapi, peluang cuaca baik dan tenang sangat kecil. Jadi bulan April hingga Mei adalah bulan paling sesuai untuk mengunjungi pulau-pulau yang terpencil di wilayah perairan ini.
Perjalanan Menuju Poelau Toejoeh dari Riouw
UNTUK mempermudah perjalanan ke gugusan paling barat dari Poelau Toedjoeh, kami perlu menunggu pasang naik di sekitar perairan Riouw (Tanjungpinang, pen.) yang mengalir ke utara. Saat pasang naik siang hari tiba, kapal uap kami meninggalkan tempat berlabuh dengan tenang. Kami melaju cepat melewati Selat Riouw.
Tiga jam setelah berangkat, kami tiba di Pan-rif dan menyeberangi Selat Singapoer menuju mercusuar besar di pulau Batu Horsburgh (dekat Singapura, pen) di pintu masuk selat. Setelah itu kami mengarah ke timur laut laut menuju perairan tenang selebar delapan mil.
Keesokan paginya, saat fajar, kami melihat Pulau Tokong Malangbiroe dan Pulau Repon. Keduanya bagian dari Pulau Damar, yang setengah jam kemudian kelihatan. Pulau itu berupa batu karang curam dengan pinggiran hijau pohon rendah. Pada waktu-waktu tertentu, biasanya dua kali setahun, orang Melayu dari Djemadja datang ke Batu Damar untuk mengumpulkan telur burung.
Kami terus menuju Batu Damar sampai batu itu berposisi di utara laut di kompas dan Tanjung Lelan—yang di peta laut salah disebut sebagai Djiboeng atau Djibang—yang merupakan sudut selatan Pulau Djemadja, tampak di arah timur laut ke utara.
Kemudian, kami berlayar menuju sudut itu. Dua jam kemudian kami melewati Tanjung Lelan, setelah sebelumnya melewati batu karang curam yang menjulang dari dasar laut.
Dari tanjung itu, terlihat sudut barat daya Pulau Djemadja, yaitu Tanjung Dajang yang di peta laut disebut Rapan. Tanjung Njoeloer di pantai timur dan tanjung timur Djeboeng juga mulai terlihat. Dari Tanjung Lelan, kami berlayar cukup dekat di sepanjang pantai timur Djemadja. Kami bisa mengamati wilayah pesisir itu sampai tempat kami berlabuh, yaitu di Teluk Koewala.
Baik bagian pantai selatan yang bisa kami amati dengan teropong dari kapal, maupun yang kami lewati, hampir semuanya terjal dan berbatu besar. Sekelilingnya merupakan bongkahan batu besar. Saat angin musim barat daya bertiup, ombak tinggi bisa menghantam dan pecah dengan keras di batu-batu tersebut.
Hanya di beberapa tempat ada pantai kecil berpasir putih, dan di baliknya kami melihat kebun kelapa di pantai dan lereng bukit. Di antara kelapa itu ada gubuk sederhana milik penduduk setempat.
Kami melewati Teluk Tiroe dan Teluk Diroe, teluk yang terlalu berbatu sehingga sulit memberikan manfaat besar bagi lalu lintas kapal. Sekitar dua jam setelah kami berlayar melewati Tanjung Lelan, kami berlabuh di Teluk Koewala, teluk ketiga di pantai timur.

Semua teluk ini, termasuk teluk keempat yaitu Teluk Djeboeng yang terletak di selatan Tanjung Djeboeng, mengarah terbuka ke laut di bagian timur. Jadi, saat angin tidak bersahabat, kapal besar yang tidak bisa masuk jauh ke teluk, tidak memiliki tempat berlabuh yang aman.
Kapal kecil dan kapal dagang dari penduduk pribumi, biasanya melakukan manuver di perairan sempit dekat terumbu dan batu karang yang muncul, untuk dapat berlabuh dengan aman dari terpaan gelombang dan angin. Letaknya di balik tanjung-tanjung tempat pegunungan itu yang menjorok ke darat.

Di teluk Koewala, di sisi selatan, juga ada tempat berlabuh yang baik.
PULAU Djemadja, pulau terbesar dan terpenting di kelompok Anambas bagian Barat, menurut cerita penduduk lokal, namanya berasal dari sebuah pulau kecil di dekatnya.
Pulau ini adalah pegunungan massif dengan gunung curam yang terdapat di hampir di seluruh bagian pulaunya. Pegunungan itu seperti menjulang langsung dari laut. Seperti pulau lain di Poelau Toedjoeh, pegunungan kapur dan granit memainkan peranan penting dalam susunan struktur tanahnya.
Dari kapal terlihat di kejauhan, di semenanjung utara, ada Gunung Datoeq. Salah satu puncak tertinggi. Di baratnya berdiri Gunung Serimboen, dan di timur ada Gunung Selesei serta Gunung Toedjoeh yang tingginya lebih dari 1500 kaki. Semua gunung ditutupi hutan hingga puncaknya. Tapi ada beberapa dinding tebing tegak yang terbuka.
Sementara di sepanjang pantai dan lereng curam serta di antara bongkahan batu, tumbuh pohon kelapa yang ditanam penduduk setempat. Kelapa-kelapa ini menghasilkan buah yang menjadi bahan utama kopra, komoditas utama daerah ini.
Tidak ada sungai yang penting untuk transportasi perahu besar di sini. Sungai utama yang dikenal adalah Sungai Seloeboeng yang bermuara di Teluk Koewala, Sungai Ajer Pasir, dan Sungai Matan yang bermuara di lekukan pantai sisi timur laut.
Sungai-sungai kecil ini akan kami pelajari lebih lanjut saat menjelajah ke bagian pedalaman.
Kampung Koewala dan Penduduknya
TAK lama setelah tiba di Teloek Koewala, kami berjalan-jalan di kampung Koewala atau Maras, yang terletak di ujung teluk dan dikelilingi tanaman kelapa. Dari laut, kampung ini hampir tidak terlihat. Kami naik perahu kecil dari kapal pemerintah. Tiga perempat jam kemudian, kami sampai di kampung kecil itu.
Kampung ini hanya terdiri dari sekitar sepuluh rumah. Yang terlihat menonjol adalah rumah kepala desa dan Datoeq Matara, yang nampak paling besar.
Sedikit lebih jauh ke darat, ada sekitar enam rumah lainnya. Sementara di beberapa titik lain di lekukan teluk serta di lereng gunung yang agak curam dan dikelilingi kelapa, ada gubuk-gubuk sederhana, tersembunyi di antara hijau pepohonan.
Saat berjalan di kampung, langsung terlihat saluran air dari bambu belah, batang iboel atau pinang, yang dipasang di tiang tinggi. Saluran ini mengalirkan air jernih dari lereng gunung ke rumah-rumah penduduk. Air kemudian ditampung dalam tong, seperti pot besar yang terbuat dari tanah. Air tampungan tersebut, digunakan untuk kebutuhan minum, rumah tangga dan mandi warga.
Dengan cara ini, para wanita tidak perlu repot membawa air yang berat dan memakan waktu di lereng-lereng gunung.
Rumah-rumah yang semuanya dibangun di atas tiang ini terlihat terawat dengan baik. Bangunannya sederhana, banyak terbuat dari kayu yang kuat. Atapnya dari daun roembia atau daun sagu. Dindingnya dari kulit batang pohon atau papan. Yang paling sederhana, biasanya menggunakan dinding dari tangkai daun sagu, biasa disebut pelepah roembia.
RUMAH Orang Kaja yang kami kunjungi setelah berjalan-jalan, lebih besar dan dibangun dengan biaya lebih besar dibanding rumah bawahannya. Tetapi tata letaknya cukup mirip. Rangkanya dari kayu balau dan resak, jenis kayu bagus yang banyak terdapat di hutan. Lantai ruang utama, dinding, dan langit-langit dari papan meranti yang berasal dari Singapura, atapnya dari kayu besi sirap dari Sambas, total biaya termasuk ongkos kirim sekitar $7 per 1000 keping.
Catatan: Kayu balau, juga dikenal sebagai bengkirai atau yellow balau, adalah kayu keras yang berasal dari hutan-hutan di Indonesia, Malaysia, serta Filipina. Dikenal dengan warna kuning kecoklatan dan daya tahan tinggi terhadap cuaca, air, serta serangga. Kayu ini padat, kuat, dan memiliki kekerasan yang tinggi, membuatnya ideal untuk konstruksi berat. Sementara Kayu resak adalah jenis kayu dari genus Vatica yang termasuk dalam keluarga meranti (Dipterocarpaceae). Dikenal memiliki kekuatan serta ketahanan yang sangat baik terhadap elemen alam seperti air, panas, dan serangan serangga.
Tiang utama rumah menembus sampai ke tanah dan bertumpu pada batu penyangga atau balok kayu, dengan tiang tambahan mendukung lantai setinggi sekitar enam kaki.
Melalui tangga kayu di samping bangunan, kami sampai di beranda. Pintunya membuka ke ruang depan yang panjang, biasa disebut serambi. Ruang ini biasa digunakan untuk menerima tamu dan telah diperindah sebelum kedatangan kami. Lantainya merupakan kayu niboeng yang ditutupi tikar buatan kampung. Sementara di bagian tengah ruangan, ada meja bundar dengan taplak merah dan lampu minyak dengan kap porselen. Kursi ayun dan kursi biasa disusun mengelilinginya.
Di bagian belakang rumah ada dipan kayu berlapis kain, dinding belakang dihiasi jam serta beberapa lukisan Jepang warna-warni dari Singapura. Di atas pintunya ada kaligrafi Al-Quran berbingkai emas sebagai hiasan.
Pintu serambi diberi tirai kain kuning bermotif bunga merah besar untuk menghalangi pandangan ke ruang tengah rumah, ruang tidur dan tempat tinggal wanita dan gadis. Lantai ruang ini sekitar 1,5 kaki lebih tinggi daripada serambi dan ruang ketiga yang merupakan tempat penyimpanan serta dapur. Ruang ketiga berlantaikan papan niboeng dan tidak terpisah dari ruang utama. Dari sini ada pintu kecil ke beranda terbuka yang dibangun dari kayu dari niboeng. Bentuknya memanjang di samping rumah, biasanya digunakan untuk pekerjaan rumah tangga dan pengeringan pakaian. Di sana juga ada tempat penampungan air yang dialirkan dari lereng gunung.
Untuk penerangan ruangan, terdapat jendela kecil tinggi di dinding luar ruang dalam. Di dinding luar serambi, dibuat lubang panjang dan sempit dengan jeruji kayu, yang juga memungkinkan orang di dalam melihat ke luar.
Ruang di bawah rumah terbagi menjadi beberapa kandang untuk unggas dan kambing.
Ini tentu tidak sehat, karena dari celah lantai, naik asap bau dari kandang-kandang itu, yang juga merupakan tempat pembuangan sampah, air kotor, dan kotoran lain yang dibuang lewat lantai.
Kami jelaskan detail bangunan dan perabotan rumah ini agak panjang karena ini jadi tipe rumah kepala dan orang kaya di seluruh Poelau Toedjoeh.
Soal perabotan, kami tidak jelaskan karena sama dengan suku Melayu lain.
Sistem Pemerintahan Pribumi
DI serambi, kami duduk membahas berbagai hal. Sementara orang kaja, imam, dan penduduk yang sempat ikut jalan-jalan bersama kami, duduk di tikar di depan kami.
Tuan rumah kami adalah kepala bagian selatan Djemadja dan pulau-pulau sekitarnya. Bagian utara pulau dan pulau kecil di sekitar lainnya dikuasai kepala lain yang juga bergelar orang kaja, bertempat tinggal di Mampo.
Kepala orang kaja yang terakhir di kampung ini, wafat tahun 1895. Saat kunjungan kedua kami di bulan Februari 1896, posisinya belum ada yang menggantikan. Kedua orang kaja (di Djemadja dan Mampo, pen.) ini punya gelar kehormatan Maharadja kampung dan Pahlawan kampung. Namun gelar tersebut tidak memberi hak istimewa khusus. Mereka diresmikan dan diberi surat tugas oleh Jang Dipertoewan Moeda Riouw di pulau Penyengat.
Seperti kepala adat lain, mereka punya sedikit kekuasaan hukum dan bertugas menarik pajak kepala (hoofdgeld). Namun pengawasannya lemah, sehingga banyak uang negara tidak masuk ke kas keuangan.
Kekuasaan hukum mereka hanya untuk pelanggaran kecil dan sengketa ringan. Mereka menerima honor dari “hoenoes” (denda) dan kecil-kecil hingga maksimal $25, yang dibagi dengan imam kampung.
Kasus besar harus dibawa ke wakil atau amir yang berada di Sedanau. Amir tersebut menjadi wakil Jang di pertoewan Moeda serta bisa mengadili kasus yang masuk kewenangannya. Jika bukan kewenangannya, kasus pidana dikirim ke pulau Penyengat (pengadilan resmi). Sengketa perdata juga diserahkan ke sana. Banding selalu dibolehkan ke Jang di pertoewan Moeda dari keputusan kepala kampung maupun maupun wakil/ Amir.
Penduduk yang dipimpin orang kaja dibantu kepala bawah dengan gelar pengoeloe. Mereka biasanya berasal dari orang Melayu Kelantan dan Trengganu, beberapa orang Jawa, Bugis, Banjar. Sementara ‘Orang Laoet’ dipimpin oleh kepala batin. Seperti yang ada di Teloeq Kramoet, pulau Moeboeh.
Total penduduk di wilayah ini sekitar 1200 jiwa, termasuk 13 orang Cina (7 di kampung Koewala dan 6 di kampung Padang).
TAK jauh dari rumah orang kaja, orang Cina tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi pagar tinggi dari bambu niboeng demi keamanan. Rumah itu juga merangkap sebagai toko (kedei) yang menjual bahan pokok, perlengkapan rumah tangga, piring porselen, peralatan tanah liat, besi, tembaga, kertas, alat tulis, buah, dan makanan ringan untuk semua kebutuhan penduduk. Di dalam pagar juga ada tempat penyimpanan sagoe, kopra, dan hasil laut yang dibeli.
Salah satu orang Cina tersebut adalah pemimpin bagi yang lain. Bersama rekannya dari Singapura, mereka memiliki usaha perdagangan itu. Sedangkan yang lain adalah karyawannya.
Demikian juga dengan orang Cina di kampung Padang. Perahu layar tongkang milik perusahaan, berkapasitas sekitar 30 koyan, berlayar di antara kedua toko itu dan Singapura. Tempat perdagangan juga berlangsung dengan kapal layar besar milik orang kaja.
Penduduk Melayu tinggal di pesisir dan beberapa lainnya di pedalaman dalam kampung kecil dan dusun. Mereka menjalani kehidupan bertani dan melaut tanpa takut lagi ancaman dari para perompak Ilanoen.
Meskipun sesekali perompak masih muncul, secara umum keamanan orang dan harta cukup terjamin di sini maupun di pulau-pulau lain.
Namun, kondisi kesehatan di pulau-pulau tersebut banyak yang kurang baik. Demam, sakit perut, dan beri-beri sering terjadi dan kadang menimbulkan korban banyak.
Keyakinan, Budaya dan Mata Pencaharian
SELURUH penduduk di kampung Teloek Koewala menganut agama Islam. Tapi Orang Laoet kurang mengikuti aturan Islam. Orang Melayu lebih taat karena terus didorong oleh Jang di Pertoewan Moeda yang sangat taat terhadap agama. Banyak yang pergi haji ke Mekah jika mampu secara keuangan.
Di kampung kecil tempat kami singgah, ada sekitar delapan orang warganya yang telah berhaji. Orang kaja juga pernah menunaikan ibadah haji. Ia berangkat dengan kapalnya sendiri. Ia meyakini keselamatan perjalanan hajinya berkat hidup taatnya.
Dalam adat, bahasa, dan pakaian, penduduk Melayu mirip dengan orang di kepulauan Riau-Lingga. Mereka terutama bercocok tanam kelapa dan sagu, menangkap ikan terutama jenis tamban, dan membuat perahu kecil dengan kayu melimpah dari hutan. Daun pandan juga dipintal jadi tikar cantik, dan beberapa pandai besi membuat golok, parang, kapak, dan alat-alat lain dengan baja impor dari Singapura. Pandai besi ini kebanyakan orang Banjar.
Jika tanahnya memungkinkan, mereka menanam padi ladang. Tapi hasilnya jauh dari cukup untuk konsumsi.
Dahulu, sagu lebih utama. Tapi sejak harga tepung turun dan penanaman sagu makin luas di daerah dekat Singapura, penduduk di sini mulai memperbanyak tanaman kelapa untuk menghasilkan kopra. Dari kampung Koewala ini, ada sekitar 1000 pikoel kopra diekspor setiap tahun.
Nanti kita akan bahas lagi soal pertanian, penangkapan ikan, dan industri. Sekarang catat saja bahwa Orang Laoet hampir sepenuhnya berusaha di penangkapan ikan serta mengumpulkan hasil laut.
Perjalanan ke Kampung Seloeboeng
SETELAH diskusi di rumah orang kaja selesai, kami meminta bantuannya menyiapkan keperluan perjalanan ke pantai utara yang rencananya akan kami lakukan pagi berikutnya.
Ia setuju dan pagi-pagi kami menuju ke darat. Beberapa kolek, sampan, dan djoekoeng—perahu kecil dangkal—sudah siap mengantar kami dan rombongan menyusuri sungai Seloeboeng yang bermuara lewat dua mulut sungai, Maras dan Seloeboeng, menuju kampung Seloeboeng yang lebih tinggi.
Kami mendayung ke cabang sungai Maras di selatan, yang mulutnya berpasir tapi dalam di belakangnya, melewati rawa rendah bervegetasi bakau. Di kanopi pohon bakau terlihat burung Koentoel putih bersih mengintip dengan leher melengkung waspada ke arah perahu kami. Sementara beberapa lainnya berjalan anggun di pantai mencari moluska yang tersisa saat air surut. Kami melewati cabang-cabang bakau yang rantingnya kadang bertemu jadi tirai daun berkilau diterpa matahari pagi.
Antara akar bakau yang semakin terlihat saat surut, bangau abu-abu mengejar ikan dan cacing, kadang suara riak dayung membangunkan burung kecil perintjat yang melesat cepat dari semak. Kadang terdengar peluit burung Tioeng, atau béjo (burung Jawa), dari pucuk tertinggi pohon, berganti desir dan gemerisik daun saat sekelompok monyet abu-abu melompat menyingkir dari tepian sungai, mengawasi kami dengan penasaran dan ekspresi lucu sesaat.
Seekor burung raja-udang yang indah bertengger tenang di ranting dekat permukaan air, lalu terbang cepat saat perahu mendekat. Sekitar 50 meter ia berhenti, menunggu kami, lalu terbang mengikuti sampai kami melewati sebuah tikungan. Saat itu ia merasa saatnya membiarkan kami lewat.
Setelah mendayung sekitar tiga perempat jam, kami melihat pucuk pohon kelapa dan sagu yang menandakan kami sudah dekat dengan sebuah kampung. Tak lama kami turun dari perahu dan mengikuti jalan yang melewati semak belukar lebat, lalu rawa yang ditumbuhi berbagai rumput, tempat kami sering terbenam lumpur sampai mata kaki, menuju kampung Seloeboeng.
Kampung kecil ini terdiri dari sekitar lima rumah, terletak di tengah kebun sagu di bagian tertinggi dari rawa. Di dekat rumah ada pohon kelapa dan kebun kecil tempat tumbuh bahan masak dan sirih.
Jam delapan pagi kami meninggalkan Seloeboeng dan melanjutkan perjalanan melewati rawa-rawa di antara pohon sagu. Kami segera sampai di Koembik, yang memiliki enam rumah dan juga dibangun di lahan kering di hutan sagu. Di sini juga kebun kelapa, sayuran, dan tanaman penting lainnya seperti tjabé.
Jalan kami terus melewati tanah berawa dan berlumpur, di mana kami melihat pohon keloebi, palm rawa tanpa batang dengan daun berduri, dan buahnya yang bisa dimakan, tempaja, yang dikonsumsi penduduk sebagai camilan. Setelah menyeberangi sungai Seloeboeng dengan arus berpasir lebar dan air jernih sampai lutut, kami masuk jalur hutan yang cukup sulit.
Cuaca cerah memberi kehidupan di hutan; suara merdu burung dara hijau poenei terdengar di mana-mana, diiringi dengung burung pergam abu-abu besar, dan sesekali suara peluit tajam burung tioeng yang sedang menyantap buah ara merah, semacam jenis ficus yang banyak tumbuh di sini.
Kami perlahan naik ke bukit curam Selingga, penuh hutan lebat kaya kayu berkualitas seperti resak, balau, meranti, berlian, tjengal, tempinis, medang, dan lainnya. Jalan jarang dilalui karena banyak liana (tanaman merambat) yang menggantung antar pohon dan harus dipotong agar bisa lewat. Salah satunya disebut akar-koenjit oleh penduduk, yang bagian dalamnya kuning cerah dan digunakan untuk membuat pewarna kuning pada benang dan daun pandan, bahan tikar indah khas Poelau Toedjoeh yang populer sebagai oleh-oleh.
Setelah menuruni sisi lain bukit Selingga, kami menyeberangi anak sungai Seloeboeng yang disebut sungai Pantei, lalu mendaki punggung bukit Gunung Tinggi yang sama curam dan berhutan. Dari sini kami melihat pemandangan luas teluk besar di utara Tanjung Djeboeng dan pulau batu di teluk itu.
Saat menuruni Gunung Tinggi, jalan berubah menjadi ngarai dan kami harus memanjat batu besar di sepanjang aliran sungai Ajer Pasir. Dari Selingga sampai kaki Gunung Tinggi, lanskapnya berupa hutan lebat, basah, dan gelap yang masih alami.
Tidak ada manusia tinggal di hutan ini, dan satwa yang terlihat sedikit meski pelanduk, monyet abu-abu, tupai warna-warni, dan tikus lumrah ditemui. Menariknya, di pulau besar ini tidak ada babi hutan, beda dengan pulau lain yang banyak ditemui.
Kami menyusuri sungai Ajer Pasir menuruni sisi kanan dan kiri sampai dekat kaki gunung, lalu ke arah utara laut-timur laut.
Tak lama kami tiba di dataran berpasir dan berlumpur yang membentang dari kaki gunung ke laut, melewati hutan yang baru ditebang dan dibakar untuk persiapan sawah dan ladang dengan rumah petani di sana.
Dekat rumah di pinggir hutan, ada benda aneh yang menarik perhatian, sebuah jebakan monyet yang dibuat rapi. Terbuat dari ranting lurus yang ditancapkan ke tanah, diperkuat kayu horizontal, dan ditutup ranting kuat yang diikat rapat. Bentuknya kotak. Tingginya lebih dari tinggi manusia. Di tengah atas kotak, ada lubang untuk memasang kotak tanpa tutup dan dasar. Di dalam jebakan ada buah untuk menarik monyet. Jika monyet meloncat ke dalamnya, mereka terperangkap dan tidak bisa keluar.
Selain jebakan ini, perang melawan monyet juga dengan jerat dan senapan angin karena monyet menyebabkan kerusakan besar di kebun kelapa dan ladang. Tikus, tupai, dan kumbang juga merusak tanaman, tapi selain senjata api, cara melawan hewan ini cuma dengan menggantung duri atau memasang pelindung kaleng di batang kelapa agar tidak bisa dipanjat, dan membuat alat pengusir bising di pohon.
Kampung Lain di Djemadja
KITA melanjutkan perjalanan ke pantai utara melewati dataran berpasir yang ditumbuhi semak dan berbagai jenis tanaman Nepenthes, di antara mana tumbuh subur leké, sejenis umbi-umbian yang patut disebutkan.
Tanaman ini memiliki daun bercangap dalam dan batang seperti herba setinggi sekitar satu meter, dengan bunga berwarna cokelat yang indah. Umbinya sebesar kelapa dan diparut menghasilkan tepung bergizi dan lezat.
Setelah berjalan sekitar lima tiang batas, kami akhirnya tiba di kampung kecil Sedarat, yang terletak di pantai selatan sebuah teluk luas. Dari sini menghadap barat laut, terlihat kampung Mampo yang dibangun di punggung deretan bukit yang menghubungkan daerah pegunungan massif dengan gunung di semenanjung barat laut, dikelilingi kebun kelapa yang luas, serta kampung Padang di utara, yang juga memiliki kebun kelapa memanjang di sepanjang pantai.

Foto yang diambil di Sedarat ini memperlihatkan pemandangan daratan di seberang teluk, juga menggambarkan pantai dan jenis kolek yang digunakan di daerah ini, yang akan kita bahas nanti.
Pinggiran gelap di kaki pegunungan adalah kebun kelapa milik kampung Mampo dan Padang.
Berbeda dengan pantai selatan dan timur yang curam, berbatu, dan dikelilingi tebing, pantai utara—setidaknya bagian yang kami kunjungi—memiliki pantai pasir putih lebar dengan lereng landai yang menurun ke laut. Namun ke arah utara dan timur laut, pantainya terbuka penuh dan tidak menawarkan tempat jangkar yang aman.
Sementara karang-karang di teluk yang muncul saat air surut, membuat navigasi berbahaya. Saat angin timur laut kencang dan ombak ganas menghantam pantai, tidak ada perahu yang berani keluar.
Dermaga Sebagai Alternatif Hubungan antar Kampung
PANGKALAN Garam, dermaga di teluk bagian timur laut Mampo yang kami capai setelah berjalan tiga perempat jam di sepanjang pantai, ditinggalkan dan dermaga pantai baratlah yang dipakai untuk ke kampung Mampo saat itu. Kedua dermaga ini tersambung ke kampung dengan jalan setapak yang teduh oleh pohon kelapa.
Penduduk bagian utara Djemadja mencari nafkah sama seperti di pantai selatan, tapi lebih fokus ke budidaya roembia karena rawa di dataran tersebut lebih luas.
Sekitar setengah jam ke utara, terdapat kampung Padang, di dekat muara sungai Matan yang bisa dilayari perahu kecil sejauh sekitar satu jam ke hulu, tempat kampung yang sama namanya berdiri.
Pulau kecil Ajam di dekat Tanjung Djeboeng di teluk Mampo, memiliki batu pilar setinggi lebih dari delapan meter. Dalam perjalanan pulang, kami kembali lewat jalan yang sama di kaki Gunung Tinggi, lalu menyusuri aliran sungai Seloeboeng untuk melihat air terjun indah Deradja (aroeng Deradja), yang terdiri dari empat anak air terjun berurutan, tapi hanya dua air terjun atas yang terlihat pada gambar di bawah.

Air terjun ini mengalir dari sebuah cekungan ke bebatuan yang menjorok keluar, kemudian mengisi cekungan lain yang cukup luas. Lalu jatuhan air tersebut diteruskan oleh Sungai Seloeboeng.
Di kedua sisi air terjun, tepi sungai ditumbuhi pepohonan besar yang sebagian meneduhkan air yang sangat jernih, makin menambah keindahan tempat ini.
Air yang mengalir turun dengan riuh dan berbuih, tertampung dalam cekungan oval dari batu kapur dengan berbagai ukuran. Karena kedalamannya, cekungan itu memantulkan warna biru gelap.
Kami mencoba dengan tongkat sepanjang 2,5 meter namun tidak menyentuh dasar cekungan.
Cekungan pertama kecil, tapi cekungan kedua dan ketiga, yang masing-masing berjarak 4 dan 7 meter lebih rendah dari yang pertama, sekitar 15 meter lebar dan 4 meter panjang. Banyak ikan kecil dan besar bermain di air segar itu.
Setelah melewati kampung Koembik, Seloeboeng, dan Koewala, kami kembali ke perahu.
Menuju Kelompok Kedua Kepulauan Tujuh
KEESOKAN paginya, kami berlayar meninggalkan Teloeq Koewala ke arah timur, melewati Pulau Telaga dan Linai. Menuju kelompok kedua Kepulauan Poelau Toedjoeh, yaitu Kepulauan Anambas Besar.
Nama ini tidak dikenal penduduk pribumi. Mereka terbiasa menyebutnya sebagai kelompok pulau Siantan, sesuai nama pulau utama di sana.
Pada pukul delapan, kami melewati puncak Telaga di barat daya ke barat, ujung Linai di timur laut 5/8 utara, ujung Nosso di utara 6/8, dan pulau Telibang di tenggara 8/4 timur. Pulau Linai dilewati dan selanjutnya kami berlabuh di Teluk Tupenier tepat pukul 10 pagi, berlabuh di perairan dalam dekat kampung Terempa, tempat utama dan terbesar di seluruh kepulauan itu.
(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com


