PEMERINTAH melalui Bulog Kepri menyebut hanya dapat menyediakan beras medium untuk masyarakat. Hal ini menyebabkan kebutuhan beras premium di Batam terpenuhi oleh pasokan dari luar daerah. Meskipun harga eceran tertinggi (HET) beras di Batam relatif stabil, situasi ini tetap rentan terhadap fluktuasi pasokan dari luar.
Guido XL Pereira, Kepala Bulog Batam, menyatakan bahwa tugas Bulog adalah mengelola cadangan beras pemerintah (CBP) yang semuanya terdiri dari beras medium.
“Bulog berfungsi sebagai operator. Kami fokus pada stabilisasi pasokan beras medium. Sayangnya, untuk beras premium, kami belum bisa memenuhi permintaan karena terbatasnya pasokan dari daerah,” ungkapnya.
Guido menambahkan bahwa beras premium yang beredar di Batam umumnya tidak berasal dari sumber lokal. Geografi Batam yang minim pertanian menyebabkan ketergantungan pada pasokan beras dari luar.
“Kita harus akui, Batam tidak memiliki sawah. Wajar jika beras premium didatangkan dari luar,” jelasnya.
Meski demikian, Bulog menjamin stok beras medium tetap aman. Saat ini, terdapat sekitar 3.193 ton beras di gudang Bulog Batam, ditambah 242 ton di Karimun. Stok ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam selama 4–5 bulan dan Karimun selama 2–3 bulan.
“Jadi untuk akhir tahun dan tahun baru, masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Guido.
Namun, pasokan beras premium yang tidak melalui Bulog membuat dinamika harga pasar menjadi lebih sensitif. Guido mengungkapkan bahwa harga beras premium sangat dipengaruhi oleh biaya pengiriman dan ketersediaan dari luar daerah.
“Jika ongkos kirim dari Jawa atau Medan naik, harga beras premium tidak akan sesuai HET,” tambahnya.
Guido menekankan bahwa sulit bagi pedagang luar untuk menjual beras premium sesuai HET, mengingat mereka juga mencari keuntungan. Akibatnya, distribusi beras premium menjadi lebih tidak teratur dan sukar untuk diatur.
“Pengusaha pasti ingin untung. Menjaga harga sesuai HET itu sulit,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan dari pemerintah pusat sering kali tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Contohnya, pembatasan distribusi beras di Karimun sebelumnya yang menyebabkan cadangan beras menipis.
“Jika barang tidak tersedia, harga pasti akan naik,” katanya.
Bulog menambahkan bahwa masyarakat Batam lebih memilih beras premium ketimbang medium, sehingga pasar beras premium tetap mendominasi. Ini membuat operasi pasar yang diadakan oleh TNI-Polri terkadang harus mendorong penjualan beras medium agar harga bisa distabilkan.
Meski demikian, Guido menegaskan bahwa untuk beras medium, pemerintah telah menjamin ketersediaan dan stabilitas harga. “Yang penting adalah memastikan stok aman. Tugas kami jelas, menjaga pasokan dan melakukan stabilisasi. Sedangkan untuk beras premium, itu merupakan tanggung jawab distributor,” tutupnya.
(dha)


