Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Upacara dan Pawai Meriahkan HUT ke-81 RI di RW 20 Perumahan Cipta Permata
    8 jam lalu
    3.188 Warga Binaan di Kepri Terima Remisi, 36 Langsung Bebas
    18 jam lalu
    IPAM Duriangkang Alami Gangguan Listrik di Hari HUT RI ke-81
    19 jam lalu
    Pemko Batam Bersiap Evaluasi Izin Tempat Hiburan Malam
    19 jam lalu
    Bareskrim Polri Gerebek Gelper di Batam
    20 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Manajemen Tua Vs Muda: di Dua Toko Grosir Battery
    18 jam lalu
    14 Tim Berlaga dalam Lomba Sampan Naga di Desa Kuala Sempang
    18 jam lalu
    Nindy, Siswi SMAN 2 Tanjungpinang yang Jadi Paskibraka Kepri
    19 jam lalu
    Tentang Orang Hutan; Suku Asli di Batam
    3 hari lalu
    17
    Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 3)
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    20 jam lalu
    Bandar Udara Raja Haji Abdullah, Karimun
    3 hari lalu
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    4 minggu lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    1 bulan lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Serial

Bakri, Kepala Desa Terakhir Air Raja

Air Raja, Pulau Para Transmigran (2)

Editor Admin 1 tahun lalu 994 disimak

PRIA tua itu sedang duduk di depan rumah pelantarnya yang sangat sederhana. Tatapannya penuh ke arah laut di hadapan. Ia seperti tidak mendengar langkah kaki-kaki kami yang menjejak pelantar kayu untuk menghampirinya.

Oleh : Bintoro Suryo


“Assalamualaikum, pak Bakri ya?” tegur saya.

Ia menoleh, seperti bingung, tapi kemudian tersenyum ramah. Pria jelang 60 tahun itu kemudian mempersilahkan kami duduk di kursi-kursi yang ada di teras rumahnya.

“Iya, saya pernah menjadi kepala desa di sini, sampai tahun 2004. Selepas tu, desa ni berubah jadi kelurahan. Yang mimpin lurah”, katanya.

Bakri jadi kepala desa terakhir di pulau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Lobam Laut tersebut. Desa Air Raja yang sekarang berubah jadi kelurahan Air Raja, dulunya bernama desa Lobam Laut hingga tahun 1999.

Pelantar masuk ke rumah Bakri, mantan kepala desa Air Raja. © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

“Kan tahun 1999 itu keluar undang-undang otonomi, kami yang sebelumnya bernama desa Lobam Laut dan masuk wilayah kecamatan Bintan Utara kabupaten Kepulauan Riau, dialihkan ke kotamadya Batam”, katanya menerawang, berusaha mengingat lagi jejak perjalanan waktu saat masih memimpin pulau kecil ini.

Peralihan tata pemerintahan itu menurutnya, sempat ditolak oleh warga di sini, termasuk dirinya. Mereka merasa lebih nyaman bernaung di bawah kecamatan Bintan Utara, kabupaten Kepulauan Riau (sekarang kabupaten Bintan, pen).

Hal itu tidak salah. Hampir seluruh aktifitas sosial, ekonomi hingga pendidikan warga di pulau ini, selalu berhubungan ke Tanjung Uban, bukan pulau Batam.

Beberapa alasan warga lainnya adalah karena kotamadya Batam, walau sudah terbentuk sejak awal tahun 1980-an, tapi relatif lebih banyak dijalankan oleh Badan Otorita Batam. Pembangunan Batam yang sangat pesat kala itu, juga dilakukan oleh Otorita Batam sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, bukan oleh pemerintah kotamadya Batam.

Warga khawatir, perpindahan tata pemerintahan desa Lobam Laut kala itu, justeru membuat masyarakat di sini jadi semakin sulit.

“Yang paling terpikirkan itu soal pendidikan anak-anak di sini, pak. Sudah ada sekolah dasar yang dibangun sejak awal tahun 1990-an, itu menginduk ke kabupaten (Kepulauan Riau), begitu juga SMP-nya”, katanya.

Penolakan warga dan dirinya yang kuat saat itu, membuat pria ini sempat dipanggil oleh camat Bintan Utara kala itu, Tengku Muhtaruddin.

“Bakri, apa pasal kau tak nak begabung dengan kota Batam tu? Ini sudah aturan, desa awak tu masuk wilayah kotamadya Batam sekarang”, kata Bakri menirukan ucapan Tengku Muhtaruddin.

“Saya bilang ke pak Tengku, pak, desa Ngenang saja yang masuk ke wilayah kotamadya Batam sejak belasan tahun lalu (sejak kotamadya Batam didirikan tahun 1983, pen), kondisinya tak ada perubahan. Apatah lagi desa kami yang baru begabung?” kata Bakri beralasan.

Hal lain yang menimbulkan kerisauan hatinya, dengan beralih ke kotamadya Batam, cepat atau lambat, bentuk pemerintahan desa di sana akan segera berubah menjadi kelurahan. Itu berarti, Bakri harus siap menanggalkan jabatan yang didapat dari amanah permufakatan warga yang sudah diembannya sejak tahun 1993 silam.

“Kalau bicara gaji, tak lah pak. Saya jadi kepala desa, tetap saja cari ikan di laut untuk hidup. Saya ni kan asalnya memang nelayan,” ujarnya.

Bakri tahu, jawaban yang disampaikan ke atasannya, tidak akan merubah aturan yang baru dikeluarkan. Ia diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah kotamadya Batam untuk segera bergabung dalam kecamatan Galang yang baru dibentuk sebagai kecamatan baru. Nama desa Lobam Laut pun kemudian berganti menjadi desa Air Raja.

Aktifitas melaut nelayan di sekitar perairan pulau Air Raja . © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Ada masa transisi lima tahun bagi desa Air Raja sebelum akhirnya berubah sepenuhnya menjadi kelurahan. Bakri yang sudah menjabat sebagai kepala desa di sana sejak tahun 1993, diminta untuk mempersiapkan peralihan tata pemerintahan di desanya.

Masa peralihan lima tahun, jadi masa sulit baginya dan juga warga di pulau Air Raja. Koordinasi jadi lebih jauh. Termasuk soal pendidikan. Apalagi, sebagian besar warga di pulau itu sebenarnya merupakan transmigran asal pulau Jawa dan hasil bedol desa salah satu wilayah di Lobam, Bintan. Jumlahnya mencapai 280 KK.

“Sulit sekali kondisinya saat peralihan itu, ada dijanjikan gaji, tapi baru bisa diambil satu setengah tahun kemudian”, lanjutnya.

“Tahun 2004, desa Air Raja resmi berubah menjadi kelurahan Air Raja dan masuk ke wilayah kerja pemerintah kotamadya Batam. Saya kemudian diberhentikan secara hormat sebagai Kepala desa di wilayah ini”, katanya.

Kantor kelurahan Air Raja. © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Sejak itu, ia menjalani hari-harinya sebagai nelayan, tanpa embel-embel Kepala Desa lagi.


BAKRI bukan warga asli pulau Air Raja. Ia datang ke pulau ini tahun 1991, bersama ratusan KK desa Lobam di pulau Bintan yang diikutkan dalam program nasional transmigrasi. Mereka dikategorikan sebagai transmigran lokal dan bergabung bersama kurang lebih 150 Kepala Keluarga (KK) transmigran asal pulau Jawa dan ditempatkan di pulau ini.

Saat itu, total ada 280 KK yang menempati pulau ini. Infrastruktur seperti rumah, jalan, sumber air bersih hingga lahan dan peralatan berusaha sudah disiapkan pemerintah.

“Jadi, desa di sini merupakan pemindahan dari desa lama kami di Lobam. Dinamakan desa Lobam Laut”, jelas Bakri.

Usia Bakri saat itu baru 23 tahun. Dua tahun kemudian, ia didaulat warga untuk menjadi kepala desa di wilayah ini. Belum ada fasilitas sekolah, namun infrastruktur sosial sudah disiapkan pemerintah sebagai bagian program transmigrasi yang dijalankan.

“Saya ni lahir tahun 1967, tapi baru mulai sekolah dasar tahun 1981. Dari desa saya di Lobam (Bintan, pen), ke Tanjung Uban, jaraknya 18 kilometer. Pulang pergi 36 kilometer. SMP pun saya bersekolah di Tanjung Uban.

Mengingat sulitnya mendapatkan akses pendidikan kala kecil, saat jadi kepala desa, Bakri berusaha mengupayakan agar bisa berdiri sekolah di pulau tempat tinggalnya yang baru ini.

SD Negeri di pulau Air Raja. © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

“Alhamdulillah, SD berdiri awal tahun 90-an di pulau ini. Kemudian saya minta ke pak camat, agar kalau bisa, ada juga SMP kelas jauh dari Tanjung Uban di sini. Beberapa tahun kemudian berdiri. Guru-gurunya didatangkan dari Tanjung Uban bergantian, kami warga yang menjemput dan mengantarnya tiap hari”, kenang pria ini.

Sekarang, walau tidak lagi menjabat sebagai aparatur di desa yang berubah menjadi kelurahan itu, Bakri ikut bersyukur. Fasilitas pendidikan mulai tingkatan dasar hingga lanjutan atas, sudah ada di pulau Air Raja.

Hari-hari pria itu sekarang lebih banyak dihabiskan di laut.

(*)

Bersambung, Selanjutnya : Para Transmigran Yang Menghentikan Usaha Rumput Laut - Air Raja, Pulau Para Transmigran (3-Selesai)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com

Kaitan Air raja, batam, kepri, kepulauan riau, pulau, Transmigrasi
Admin 23 Maret 2025 23 Maret 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Permudah Layanan Paspor, Imigrasi Tanjungpinang Terapkan “Si Comel” 
Artikel Selanjutnya ‘Mahkamah Keluarga’ Sempat Muncul pada Penanda Lokasi Google Map

APA YANG BARU?

Upacara dan Pawai Meriahkan HUT ke-81 RI di RW 20 Perumahan Cipta Permata
Artikel 8 jam lalu 248 disimak
Manajemen Tua Vs Muda: di Dua Toko Grosir Battery
Catatan Netizen 18 jam lalu 164 disimak
14 Tim Berlaga dalam Lomba Sampan Naga di Desa Kuala Sempang
Budaya 18 jam lalu 143 disimak
3.188 Warga Binaan di Kepri Terima Remisi, 36 Langsung Bebas
Artikel 18 jam lalu 146 disimak
Nindy, Siswi SMAN 2 Tanjungpinang yang Jadi Paskibraka Kepri
Pendidikan 19 jam lalu 152 disimak

POPULER PEKAN INI

Ada Pekerjaan Pembersihan Pipa Distribusi, Berikut Beberapa Wilayah Terdampak
Artikel 6 hari lalu 609 disimak
Barelang Jadi Prioritas Pusat Pertumbuhan Ekonomi Melalui Program Transmigrasi Patriot
Artikel 4 hari lalu 324 disimak
Daerah Dilarang Pesta Hari Jadi Daerah
In Depth 3 hari lalu 310 disimak
Tentang Orang Hutan; Suku Asli di Batam
Histori 3 hari lalu 289 disimak
Cuaca Batam “Panggang” 33°C Sepekan, BMKG Ingatkan: Waspada Karhutla!
Artikel 6 hari lalu 272 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?