Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
    1 hari lalu
    Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
    1 hari lalu
    Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
    2 hari lalu
    Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
    2 hari lalu
    Hadiri Halal Bihalal di Bengkong, Wako Batam Janjikan Pelebaran Jembatan
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
    1 hari lalu
    Bosnia Herzegovina Gagalkan Italia ke Piala Dunia 2026
    3 hari lalu
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    6 hari lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    6 hari lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    7 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Serial

“Bayan yang Sepi dan Rohana yang Menyendiri”

Hidup Sunyi Wanita Tua Pulau Boyan (1)

Editor Admin 1 tahun lalu 950 disimak
Daftar Gambar 1/8
boyan-26-768×431-1
boyan-8-768×434-1
boyan-27-768×428-1
boyan-10-768×429-1
boyan-11-768×424-1
boyan-12-768×427-1
boyan-15-768×439-1
boyan-25-960×972

KAMI merapat pelan di sebuah pulau kecil nan sepi di seberang Batam. Cuma ada beberapa Kepala Keluarga (KK). Di pulau ini, tidak ada pelantar pelabuhan umum yang biasa digunakan untuk berlabuh atau menambatkan sampan. Tekong yang membawa kami berusaha mencari tambatan di beberapa rumah warga yang semuanya menjorok ke laut, untuk memudahkan kami naik ke darat. Orang menyebutnya pulau Boyan. Pulau keramat yang jarang disinggahi karena dianggap mistis.

Oleh : Bintoro Suryo


DI sebuah rumah, ada perempuan tua dengan seorang anaknya yang masih kecil. Mereka duduk di teras kayu rumah yang berbahan papan. Tekong meminta kami naik ke darat, dari teras rumah warga ini.

Pemandu Sampan kami, Arif saat mencari lokasi tambatan di pulau Boyan. Photo : © bintorosuryo com/ disediakan oleh GoWest.ID

Saya duluan, disusul Domu dan kemudian Rizka. Kami naik menggunakan tangga-tanggaan dari kayu hutan yang sengaja dibuat di bagian bawah rumah berbentuk panggung itu.

Rizka saat naik di pelantar rumah warga di pulau Boyan. Photo : © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

“Siapa nama yang tadi nak ditemui, bang?” Tanya tekong pembawa kami.

“Ena, Ena. Nama yang tertulis di artikel begitu”, kata Domu menyebut sebuah nama yang didapat dari salah satu artikel tentang kunjungan tim sejarah pemerintah kota Batam beberapa waktu lalu ke pulau ini.

Domu melakukan penelusuran data singkat menggunakan mesin pencari google dalam perjalanan menuju pulau ini, tadi. Tidak banyak artikel yang membahas tentang pulau Boyan di sekitar perairan Batam.

Tapi, ada beberapa yang menarik. Artikel-artikel tersebut hampir seragam, menjelaskan tentang kunjungan tim Sejarah dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Batam beberapa waktu. Dalam artikel disebutkan tentang cerita singkat pulau Boyan yang merupakan pos pemantauan tentara Belanda di zaman kolonial. Artikel tersebut juga mengutip keterangan wawancara dari seorang wanita bernama Ena di pulau ini.

Pada artikel dijelaskan, di tahun 1960, wanita bernama Ena mulai menetap di Pulau Boyan bersama suaminya. Ia mengaku masih melihat bekas-bekas bangunan peninggalan Belanda yang ada di Pulau Boyan. Seperti terowongan, penjara, tempat meriam, dan bekas rumah.

Pulau yang sekarang dianggap mistis ini, dulunya menjadi markas Belanda. Katanya, terdapat lubang tempat persembunyian juga di pulau ini.

“Tak ada pula yang namanya Ena di sini. Saya dah tinggal puluhan tahun, sejak kecil di sini”, kata Farida, wanita tua yang kami temui itu.

Kami bertiga berpandangan satu sama lain. Tapi rasanya tetap ada yang bisa kami temui, untuk menggali cerita di pulau kecil yang menarik ini.

“Kalau Rohana ada. Dia asli orang sini, suku laut. Sejak orang tuanya meninggal, dia hidup sendiri. Masih perawan, perawan tua. Dia lebih tau banyak soal pulau ni”, terang Farida saat kami memintanya untuk menjelaskan tentang pulau Boyan.


PULAU Boyan, pada posisi yang berhadapan langsung dengan daratan Batam, ada pulau Tengah yang menjadi pulau terdekatnya. Sementara pada sisi yang berseberangan, kita bisa melihat pulau bernama Teluk Sepaku.

Pulau ini cuma dihuni kurang dari 12 Kepala Keluarga (KK). Rata-rata bersuku bangsa Melayu dengan mayoritas merupakan suku laut yang memutuskan untuk tinggal menetap puluhan tahun lalu di situ.

Pulau Boyan, photo © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Jika ditempuh dari pulau Buluh, waktu yang kita butuhkan untuk sampai hanya sekitar 10 menit saja dengan perahu bermesin tempel, seperti yang kami gunakan.

Kenapa bernama pulau Boyan?

Kami tidak melihat ada jejak warga keturunan Boyan (Bawean, pen) di pulau kecil ini. Rata-rata penghuninya adalah suku laut. Informasi yang kami peroleh, dahulunya pulau ini bernama Bayan.

Namanya mungkin diambil dari sejenis burung yang dulu banyak terdapat di wilayah ini. Bayan atau Nuri bayan atau burung Betet, adalah kelompok satwa yang lumayan banyak terdapat di Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Umumnya, mereka merupakan satwa yang familiar di wilayah Kepulauan Riau.

Mereka dikelompokkan dalam dua familia: Psittacidae (Bayan sejati) dan Cacatuidae (kakaktua). Macam karakteristik Bayan terdiri dari paruh bengkok kuat, tubuh tegak, lengan kuat, dan jari kaki zygodactyl.

Bayan yang hidup di pulau-pulau sekitar perairan Batam, pada umumnya berwarna dasar hijau, dengan warna cerah lain. Mereka biasa hidup berkelompok. Pulau yang kami singgahi ini, mungkin salah satu habitat hidup mereka di masa lalu. Namun, kami tidak menjumpai lagi kelompok satwa itu di sepanjang perjalanan berkeliling di pulau ini kemudian.

“Karena pengucapan dari orang-orang sekitarnya, lambat laun, mungkin, berubah menjadi Boyan”, kata pemandu boat pancung kami, Arif.

“Ayo, bang. Kita ke tempat Bu Rohana, di sana”, ujarnya lagi.

Kami menuruni lagi tangga-tangga kayu yang mulai lapuk di depan rumah Bu Farida. Sang tekong kemudian membawa kami menyusur pesisir pulau ini, kemudian merapat di sebuah rumah lain.

Kondisinya tidak bisa dibilang lebih baik daripada rumah Bu Farida. Bangunan kayu yang berdiri di atas laut itu terlihat sudah sangat reyot. Tiang-tiang kayu penyangga yang jadi topangan rumah juga sudah banyak yang lepas karena termakan usia.

“Nah, ini rumahnya bang. Naik lah”, kata sang tekong kepada kami.

Seperti tadi, kami mulai memanjat tangga-tangga kayu tua yang langsung terhubung ke rumah yang disebutkan milik Rohana tersebut. Seorang wanita tua yang kini hidup sendirian.

Rizka di depan rumah milik Rohana di pulau Boyan. Photo : © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Rohana menyambut kami begitu berada di teras pelantar rumahnya. Ia anak bungsu dari orang suku laut pertama yang mendiami pulau ini. Namanya pak Panjang. Beberapa tahun lalu, sang ayah berpulang, menyusul ibunya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Rizka dan Rohana, photo : © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

“Saya buta huruf, pak. Tak tau membaca dan menulis. Jadi tak tau berapa umur sekarang ni”, katanya usai kami berkenalan.

Rizka langsung tersentuh melihat kondisi wanita yang kini hidup sendirian itu.

“Bagaimana ibu bisa hidup sendirian begini? Listrik pakai apa? Air gimana?” tanyanya.

“Sudah terbiasa, nak. Ibu biasa mengayuh sampan sendiri, menombak (ikan, pen). Kalau ada hasil, pergi ke pulau Buluh, jual. Uangnya buat beli beras. Terkadang, ada saudara yang kunjungi ibu. Itu, si Giak (saudara angkat perempuannya, bersuku Tionghoa, pen) baru datang dari Bertam, pakai sampan”, katanya.

Orang yang disebut Giak baru tiba saat kami mengunjungi Rohana. Ia mendayung sendiri sampan koleknya dari pulau seberang, tempat tinggalnya yang sekarang. Ah Giak sedang menyeduh kopi di bagian belakang rumah. Sepintas, penampilannya mirip lelaki. Berpotongan rambut pendek dengan pakaian yang juga mirip lelaki.

Untuk penerangan di rumah Rohana saat malam, wanita ini ternyata menggunakan lampu colok (sejenis lampu obor dengan sumbu berbahan bakar minyak, pen). Ia menggunakan solar agar api sumbu bisa menyala lama, bukan minyak tanah seperti pada umumnya.

“Minyak tanah mahal, nak. Pakai solar saja”, terangnya ke Rizka.

Suasana di dalam rumah Rohana yang sederhana. Photo : © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Di rumahnya yang sederhana, hanya ada radio tua kecil sebagai temannya memecah kesunyian. Radio itu peninggalan sang ayah. Rohana suka mendengarkan siaran radio berbahasa Melayu dari negeri Jiran Malaysia. Lokasi yang berdekatan, membuat siaran radio dari negeri tetangga itu bisa ditangkap dengan sangat baik di sini.

Beruntung juga, aturan siaran digital untuk radio belum diterapkan penuh. Orang masih bisa menyimak siaran radio melalui kanal frekuensi FM seperti bertahun-tahun sebelumnya.

Saya menebak usia wanita ini menjelang 50 tahun. Atau, setengah abad lebih sedikit. Sepanjang usianya hanya dihabiskan di pulau kecil ini. Rohana yang merupakan suku laut, lahir dan besar di pulau Boyan. Ia terbiasa tinggal bersama orang tuanya sebelum ini.

Sampai sebelum ayahnya, pak Panjang meninggal, ayah Rohana itu adalah orang tertua yang tinggal di pulau ini bersama ibunya. Kini, keduanya dimakamkan di bagian agak ke dalam dari pulau itu. Rohana yang merawat makam kedua orangtuanya.

Saudara-saudaranya yang lain, memilih keluar dari pulau Boyan setelah berkeluarga. Ada yang tinggal di pulau Buluh, Bertam dan juga pulau Batam.

Ah Giak, saudara angkat Rohana sedang mengunjunginya. Photo : © bintorosuryo.com/ disediakan oleh GoWest.ID

Ia juga memiliki satu saudara angkat perempuan yang diadopsi orangtuanya sejak kecil dan sempat lama tinggal bersamanya di pulau Boyan atau Bayan. Berketurunan Tionghoa. Namanya Ah Giak. Itu tadi, wanita yang sedang menyeduh kopi di dapur rumah.

Ah Giak yang kini tinggal di pulau Bertam lah yang sering mengunjunginya tiap pekan. Kadang membantu kehidupannya dengan membawakan sejumlah barang kebutuhan pokok. Sehari-hari, ia lebih banyak hidup dalam kesendirian.

“Pulau ni dah dibeli orang, katanya. Kami dibilang cuma menumpang saja”, ujar Rohana sedih.

Rohana menyebut pernah didatangi beberapa orang yang memberitahu bahwa pulau yang ditinggalinya sejak lahir itu sudah dibeli orang. Ia menyebut sebuah nama, tapi saya lupa mengingatnya (mungkin nanti di dokumenter video, ada rekamannya). Sewaktu-waktu nanti pulau akan dikembangkan, ia harus bersiap-siap meninggalkannya.

“Saya dan keluarga buta huruf, mana lah tau surat tanah atau segala macamnya tu”, katanya saat ditanya apakah memiliki surat kepemilikan dari orangtuanya.

“Tak tahulah, nak tinggal dimana nanti. Dah sebatang kara begini. Kesian bapak dan mamak (makamnya, pen) nanti”, lanjutnya sedih.

(*)

Bersambung, Selanjutnya : “Mushala yang Terabaikan, Menerobos Hutan Lebat pulau Boyan” - Hidup Sunyi Wanita Tua Pulau Boyan (2)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini pertama kali terbit di : bintorosuryo.com

Kaitan batam, Buluh, Humaniora, kehidupan, Kepulauan, pulau
Admin 23 Maret 2025 23 Maret 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya “Menyigi Layanan Rumah Sakit di Batam”
Artikel Selanjutnya KPK Jemput Paksa Syahrul Yasin Limpo

APA YANG BARU?

Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
Budaya 1 hari lalu 162 disimak
Pemeriksaan Dugaan Pungli , Kepala Imigrasi Batam Dicopot
Artikel 1 hari lalu 144 disimak
Sindikat Pencurian Fasilitas Publik di Batam Dibekuk
Artikel 1 hari lalu 136 disimak
Polresta Barelang Ungkap Pencurian Dengan Pemberatan Sarana Fasum di Batam
Artikel 2 hari lalu 144 disimak
Pemko Batam Siap Laksanakan Kebijakan WFH 1 Hari Dalam Sepekan
Artikel 2 hari lalu 132 disimak

POPULER PEKAN INI

Mulai Hari Jum’at (3/04/2026) Jalan Gajah Mada (Area Hotel Vista) Ditutup Sementara
Artikel 2 hari lalu 333 disimak
Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
Artikel 5 hari lalu 276 disimak
Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
Artikel 6 hari lalu 260 disimak
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 6 hari lalu 257 disimak
Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
Artikel 6 hari lalu 251 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?