PEMUDA di samping saya ini, Asyik, 18 tahun, adalah yang termuda di grup sepakbola Minggu kami. Seusia anak sulung saya. Ia ramping, pandai menggocek, dan punya stamina yang baik, meski larinya yang lunak, tidak secepat saya, yang tahun ini berusia 48 tahun.
Oleh: Sultan Yohana
BAGAIMANA orang seusia saya masih bisa berlari lebih cepat dari Asyik? Sepiring menu makan siang inilah kuncinya: sebutir alpukat, pisang, telur ceplok bertabur dikit garam, serta taburan bijih selasih. Juga, tentu saja, atas kehendak Semesta.
Murah, dan bahan-bahannya tak diimpor!
Usia bukanlah alasan untuk kita, menghentikan kenikmatan-kenikmatan yang sebelumnya enjoy kita lakukan. Usia tidak hanya sekedar angka! Lebih dari itu, banyak sedikitnya angka itu juga bisa menunjukkan, seberapa banyak nilai dan kebaikan-kebaikan yang bisa kita peras dari umur yang dianugerahkan pada kita. Seberapa banyak kebaikan-kebaikan Semesta yang bisa kita panen.
Banyak yang mengatakan, kian tua usia, harusnya kian mendekatkan diri dengan Tuhan! Pemalas yang bodoh pasti menelan mentah-mentah nasihat ini! Tapi jika Anda kerap berkunjung ke rumahsakit – sebagaimana saya yang 11 tahun menjadi wartawan kriminal – Anda pasti tahu, Tuhan justru enggan didekati dengan kebodohan dan kemalasan.
Come on, kawan! Percayalah, satu-satunya ketakutan negara/pemerintah otiriter tanpankeadilan seperti Indonesia adalah punya rakyat yang sehat jasmani, dan memakai sehat jasmaninya untuk belajar apa saja. Termasuk belajar untuk tidak ditipu negara, serta politikus-politikus busuk itu!
Sebagai rakyat kecil-mungil nan sipil, sudah saat kita menghentikan/mengurangi kritik pada negara! Karena mereka memang tuli! Tidak punya rasa malu! Tidak bermoral! Saatnya, kini, kita MENGHUKUM mereka! Menghukum dengan cara menjadi sehat! Menjadi pintar! Menjadi mandiri!
Perlawanan terhadap negara bengis tidak hanya melalui demonstrasi dan angkat senjata semata. Menjadi sehat, pintar, dan mandiri, bagi saya, adalah perlawanan terbesar yang paling mungkin dan penting yang bisa dilakukan seorang individu, mengingat kondisi ini bisa membuat Anda bisa mengetahui apa saja permainan bengis yang sedang dimainkan negara.

Orang sehat, pintar, dan mandiri, cenderung bisa menahan diri untuk tidak terlena, terjebak aneka permainan busuk negara. Mereka tidak terlena dengan bantuan-bantuan sosial yang menjebak itu. Mereka tidak terperdaya dengan aturan-aturan busuk yang diselundupkan wakil rakyat di undang-undang kita. Mereka cenderung bisa menjaga nafsu untuk tidak diperdaya konsumerisme (yang ini adalah hasil akhir dari oligarkhi yang kerap memperalat negara).
Orang sehat, pintar, dan mandiri, mampu menabung. Bisa membelikan anak-anak mereka buku berkualitas, atau keperluan pendidikan yang lebih baik. Mampu menyeleksi berita-berita buruk. Cenderung tidak mempercayai begitu saja apa kata orang. Semua situasi baik yang bisa didapat dari orang sehat, pintar, dan mandiri inilah, yang paling DITAKUTKAN negara yang pemerintahnya bengis seperti Indonesia.
Berapa pun usia Anda, ayo menjadi sehat jasmani dan rokhani! Bukan menjadi manusia paruh baya yang sakit-sakitan, lalu tiap hari curhat di media sosial sambal memaki-maki apa saja yang dia bisa!
Bukan menjadi manusia paruh baya yang sakit-sakitan, lalu tiap hari curhat di media sosial sambal memaki-maki apa saja yang dia bisa!
Oh ya, foto kami berdua, terambil pada Minggu (4/1), sepakbola pertama di tahun 2026.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


